Kehilangan Yang Tak Mudah

Aku sering berpikir bahwa kenangan masa kecil adalah kenangan terindah yang bisa kuingat. Tak ada rasa gundah, gelisah, maupun takut untuk menghadapi esok hari itu akan seperti apa? Senang dan sedih dihari itu terasa lebih jujur dan apa adanya.

Seiring bertambahnya usia, pemikiran polos itu mulai berubah. Bahkan rasa bahagia dan sedih itu bak sebuah drama. Seakan-akan hidup ini adalah sebuah sandiwara untuk membuat sebagian orang bahagia.

Bukan! Sepertinya bukan karena itu.

Pada kenyataannya, semua ucap dan perbuatan terkadang hanya kamuflase untuk menciptakan kesan baik di mata sebagian orang. Seakan-akan aku berusaha untuk menutupi kebohongan yang kuciptakan sendiri untuk menyempurnakan alibi dalam hidup.

Yah, hidupku dulu seperti sebuah kebohongan. Entah karena aku merasa kesepian atau hanya cara polosku mencari sebuah perhatian.

Berlahan tapi pasti aku mulai belajar bagaimana harus menyikapi dunia ini dengan terbuka. Aku mulai mengkoreksi diri dan membuang sedikit demi sedikit kepalsuan dalam diriku.

Aku selalu mengatakan pada diriku sendiri “Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja”. Namun pada dasarnya aku begitu tertekan, seperti ada beban besar yang harus aku pikul sendiri.

Aku kira aku sudah berubah, namun kebohongan tak pernah bisa disembunyikan. Terlebih di depanmu.

Kehilangan Yang Tak Lagi Mudah

Aku selalu mengatakan “Aku baik-baik saja”, agar kamu tidak khawatir dengan apa yang kurasakan. Namun kamu selalu mengerti ada yang kusembunyikan dalam hati. Entah bagaimana kamu bisa mengetahuinya, padahal aku sudah terlatih sebagai pembohong profesional sejak lama.

Seperti minggu kemarin, kepekaan indramu sungguh luar biasa. Padahal aku tidak banyak bicara dan mencoba menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya dengan menyibukkan diri dengan anak-anak. Namun kamu bisa mengendus perasaanku seperti bagaimana kamu memergokiku merokok hanya dengan mengendus aroma badanku.

“Kenapa mas?” kamu mulai melontarkan pertanyaan sederhana, namun pertanyaan tersebut menjadi sangat sulit untuk menjawabnya.

Kamu mulai membaca kekhawatiran yang kurasakan, Aku dilema untuk menyampaikan berita buruk yang kudapatkan, sedangkan kita sudah siap-siapuntuk pergi jalan-jalan sesuai yang sudah kita rencanakan.

Aku sudah sebisanya tidak menjawab pertanyaan yang kamu lontarkan, namun kediamanku membuatmu semakin penasaran untuk mengetahuinya.

Wajah penasaranmu membuatku tidak bisa berbuat apa-apa, maka dengan berat hati aku ceritakan berita tersebut. Berita tentang berpulangnya sahabat karib bahkan sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Aku tahu kamu juga sekaget yang kurasakan. Namun demi kebahagiaan kita bersama, aku mencoba menyembunyikannya agar kita tetap dalam rencana itu. Aku sudah menyakinkanmu aku baik-baik saja, karena nanti setelah pulang aku bisa pergi ke rumah temanku itu.

Namun kembali kamu menangkap kegelisahan yang aku rasakan. Kamu menghampiriku dan mengatakan “Pergilah mas, Liburan bisa di waktu yang lain, biar aku yang urus anak-anak”.

Aku tersenyum karena kamu bisa mengerti apa yang aku rasakan. Sebab kegelisahan yang kurasakan belum pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan aku binggung bagaimana menyikapi perasaan ini.

Aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi. Bukan berarti aku tak pernah ditinggalkan, karena kehilangan itu fitrah kita hidup di dunia ini.

Dia memang bukan anggota keluargaku, namun kebersamaan kita terlalu dekat. Mendengar kabar kepergianmu sungguh membuatku sangat kehilangan. Terbayang bagaimana seringnya waktu kita bertemu dan bagaimana pengalaman perjalan yang kita lewati bersama.

Memang sudah lama tidak terdengar kabar darimu, aku tahu kesibukanmu saat ini yang membuat kita jarang bertemu. Terakhir kita ketemu adalah pas perjalanan ke wali 9 tempo dulu, dan itulah perjumpaan kita terakhir kalinya.

Andai saja aku tahu kalau secepat ini, Ah sudahlah.

Kehilangan seseorang yang dekat dengan kita memang berat, tak pernah mudah untuk menjalani apalagi untuk merelakan dan mengikhlaskan dia pergi. Seakan-akan ada lubang dalam hati yang tidak mungkin bisa terisi lagi. Namun semua itu harus dihadapi, bukan?

Antara meninggalkan dan ditinggalkan? Suka atau tidak, kita akan tetap mengalaminya, kalau tidak ditinggalkan yah meninggalkan, entah itu sekarang, besok, minggu depan maupun masa yang akan datang.

Aku semakin mengerti bahwa “Waktu” adalah hal yang paling berharga yang kita punyai di dunia ini. Aku ingin memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya, terlebih untuk keluargaku.

Selepas pulang dari rumah almarhum temanku, aku langsung memeluk istriku yang sedang tertidur. Dia kaget dengan sikapku, terlebih dia mencium bau rokok pada badanku. Dia mencubitiku karena hal itu, namun aku tidak mengubrisnya. Aku memeluknya erat-erat dan membenamkan kepalaku di lengannya. Dia mulai berhenti mencubitiku dan menepuk-nepuk dengan mesra.

Engkau adalah pengisi lubang dalam hatiku, dan seterusnya akan seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *