Cerpen : Syahdu Part 21

Langit mulai berubah warna menjadi jingga, di ujung barat, matahari sudah tenggelam dengan damai.

Saat itu, Ainun sedang berada di toko buku, memilah-milih buku mana yang akan ia beli dan dibawa pulang. Sudah dua jam berada di sana, tapi tak ada satu pun buku yang mampu memikat hatinya.

Ia menghela napas gusar. Sia-sia rasanya datang kemari, tak ada hasil yang dibawa. Jika pulang sekarang, ia malas mendengar lantunan tawa dari Akbar. Pasalnya, kemarin malam ia menceritakan semuanya. Bagaimana ceritanya dan Ilham dimulai, ia juga menceritakan bagaimana ia menjauhi Ilham dan menghindar dari lelaki itu. Dan sekarang, ia malah menaruh hati pada abang sepupunya. Bukannya membantu, Akbar justru terbahak menertawakannya, begitu juga dengan orangtua dan adiknya. Padahal apanya yang lucu? Hatinya sedang patah saat ini, tapi ia malah disembur dengan tawa oleh keluarganya sendiri. Ainun menjadi sebal, apalagi Ayah malah mengungkit kembali maksud kedatangan Ari malam itu, padahal sudah jelas kalimat yang kemarin luar dari bibir Ainun. Ia menolak.

Jikalau tahu akibatnya akan begini, Ainun jadi malas berada di rumah, dan akhirnya, ia selalu menghindar saat obrolan keluarganya dimulai.

Kepalanya menoleh kearah samping kanan, ia tertarik pada sebuah buku bersampul biru, Ikhlas Melepasmu. Saat hendak mengambilnya, ada tangan kokoh yang juga hendak mengambilnya.

Ainun terkesiap saat melihat siapa orang yang berada di sampingnya.

Ilham!

“Eh?” Ilham menarik tangannya, ia juga terkesiap saat Ainun hendak mengambil buku yang akan diambilnya juga.

Niat awal ingin melepaskan diri dari gadis ini, kenapa malah bertemu kembali?

Ainun menundukkan pandangannya. Allah … kenapa harus lelaki ini?

“Kamu mau bukunya? Ambil saja.” Ilham mundur selangkah dari tempatnya berdiri. Mencoba menepis rasa yang kian memeluk hatinya. Dia sudah memilih laki-laki lain, Ham! Hatinya mengingatkan

“Buat Bang Ilham saja. Ainun bisa cari buku yang lain,” tuturnya.

Ilham tersenyum tipis, ia tahu kalau Ainun menginginkan buku itu juga. Ia mengucapkan salam lalu melenggang pergi, berusaha menekan hatinya yang makin berirama merdu, namun juga berdendang kian pilu.

Ainun mematung, ia mengambil buku yang diserahkan Ilham. Matanya sudah memanas, sikap lelaki itu sudah sangat jelas membuktikan kenyataan jika kata maaf tak pernah tersedia untuknya. Wajah dingin lelaki itu juga tertangkap jelas matanya. Ia menghela napas, lalu berjalan ke kasir untuk membayar bukunya.

Sementara Ilham berdiri di luar toko buku, menyembunyikan dirinya di balik pohon. Ia mengamati Ainun yang baru saja keluar dengan wajah sendu. Kenapa gadis itu?

Ilham tetap mengamati, mengikuti dari belakang. Menjadi penguntit memang tak baik, tapi keadaan gadis itu membuatnya melakukan hal bodoh seperti ini.

Ainun berjalan menunduk. Bukan hatinya saja yang saat ini tengah patah, namun semangatnya pun sama. Bagaimana harinya setelah ini? Setelah Ilham pergi jauh darinya?

Ainun menghela, ketukan langkah di belakangnya terasa mengganggu. Ia berbalik. Kosong. Tak ada siapa pun. Ainun kembali melanjutkan langkahnya. Lagi-lagi, suara ketukan langkah itu terdengar lagi. Ainun berbalik. Kosong lagi.

Hanya perasaannya saja atau ia sedang diikuti seseorang? Kedua kakinya melangkah lebar, hampir berlari kecil, dan suara langkah itu tetap mengikutinya. Kontan Ainun berbalik, matanya terbelalak mendapati Ilham yang hampir tersandung kakinya sendiri.

“Bang Ilham!” ia memekik kuat, antara senang juga kesal.

Ilham hanya meringis. Malu. Harga dirinya seakan jatuh ke tanah, pecah menjadi kepingan kecil.

Mereka diam tanpa kata. Mungkin saat ini, degup keduanya berdetak seirama. Ainun memegang erat-erat paper bag berisi buku, sekedar mengalihkan gelisahnya.

“Kamu ngapain berhenti tiba-tiba?”

Ilham tahu itu pertanyaan yang sangat bodoh.

“Bang Ilham sendiri ngapain ikutin Ainun?”

Ilham menggaruk telinga. “Siapa yang ikutin kamu? Jangan ge-er.”

Ainun mendengus, hendak berbalik namun matanya menangkap sosok lain.

“Kak Ari ….”

Ilham menegang, tubuhnya berbalik. Lelaki yang dimaksud Ainun berdiri tegap di depannya. Marah, cemburu, kesal, semuanya tercampur menjadi satu. Apalagi saat kedua mata Ainun menatap lekat lelaki itu.

“Jangan merasa terganggu begitu,” ujar Ari, ia mendekat. Tangannya terulur. “Saya Ari.”

Ilham berdeham, menerima jabat tangan Ari. “Ilham,” kenalnya singkat.

Ari mengangguk kecil. Ia sudah tahu tentang Ilham dari Akbar. Perihal ada apa antara Ainun dengan Ilham pun ia mengetahui. Tatapan Ilham padanya sangat tidak bersahabat, mungkin karena lelaki itu menganggap dirinya sebagai saingan?

Sebenarnya, ingin sekali Ari tertawa keras. Ya, menertawakan sikap Ilham yang begitu kentara sekali jika dirinya mencintai Ainun. Sikap dinginnya, adalah bukti penjagaan diri. Ari paham itu, karena ia juga seorang lelaki.

Source

“Bang Akbar bilang, Bang Ilham ada di rumah Bunda saat malam itu?”

Mereka. Ainun, Ilham, dan Ari sudah duduk di sebuah cafe. Jika Ainun memilih meja yang berbeda, lain halnya dengan Ilham dan Ari yang duduk berseberangan.

Ilham tersenyum tipis.

“Pergi tanpa pamit sama saja dengan pecundang.” kini Ari yang melayangkan senyum tipisnya. “Harusnya kita bersaing secara sehat,” ujarnya lagi.

Tubuh Ilham menegang. “Apa maksud kamu?”

“Kita mempunyai rasa untuk gadis yang sama, Bang Ilham.”

Ari terkekeh kecil melihat gurat keras di wajah Ilham. “Sekarang saya sadar, rasanya kurang pantas jika terus mendekati Ainun dengan cara yang salah.” matanya sesekali beralih pada Ainun yang ia terka sedang gelisah dalam duduknya.

“To the point, saya gak suka bertele-tele.”

Ari terkekeh lagi, Ilham ini tipe yang tak mudah diraih. Ia bangkit, mengulurkan tangan untuk yang kedua kalinya. Sedangkan Ilham menatap tak mengerti, namun tetap menerima uluran itu.

“Saya menyerah,” ujar Ari. “Jalan untuk Bang Ilham terbuka lebar saat ini.” Ari tersenyum kecil, melepas jabat tangannya lalu beranjak pergi, mengabaikan Ilham yang masih diam membeku, juga mengabaikan Ainun yang menatap kepergiannya dengan rasa penasaran.

Ya, Ari menyerah. Saat kata penolakan malam itu meluncur di bibir Ainun, ia sadar diri dengan segala kekurangannya. Selama ini, kenyamanan yang ada hanya ia rasakan sendiri, mungkin Ainun juga merasakannya, tapi itu hanya setitik, sebongkah lainnya tersimpan apik untuk Ilham.

Ilham hanya menatap punggung Ari tanpa kata. Apa maksud lelaki itu?

Matanya beralih pada Ainun, gadis itu mengerjap saat mata mereka bertemu.

“Bisa jelaskan semuanya?”

Ainun menunduk saat Ilham berdiri di sampingnya.

“Jawaban apa yang kamu kasih malam itu?”

Ainun makin menunduk. Ia seperti terintimidasi.

“Ainun!”

Sekarang, suara lelaki itu benar-benar dingin. Ia mendongak, lantas bangkit. “Bang Ilham gak perlu tau apa pun,” ujarnya tak kalah dingin.

Ia melangkah pergi. Dadanya terasa panas. Sedang hatinya ngilu saat nada dingin itu Ilham tujukan untuknya.

“Kamu kasih jawaban apa, Nun?” Ilham mengejar, saat ini, ia tak mau kehilangan harapan.

“Bang Ilham gak perlu tau!” teriak Ainun. Langkah kakinya terhenti, kedua matanya menatap tajam Ilham.

“Kenapa?” Ilham menarik napas panjang. “Kenapa Abang gak berhak tau?”

“Kita bukan mahram!”

Kini Ilham mematung. Kalimat yang sering dirinya ucapkan kini diucapkan pula oleh Ainun.

“Bang Ilham gak berhak tau apa pun tentang Ainun!” tegas Ainun.

“Kenapa kamu gak terima Ari, Nun?” malah pertanyaan lain yang ia layangkan. “Kenapa?” tubuh Ilham sudah mengeluarkan keringat dingin. “Apa ada yang lain?”

“Iya.”

Pukulan keras kembali menghantam dada. Siapa lagi lelaki itu?

“Siapa?” volume suaranya menurun, mengalun seirama bersama daun yang bergesek dibelai angin.

“Orang bodoh! Orang tolol!” Ainun kesal karena Ilham tak bisa menebak. “Dia laki-laki bodoh! Pengecut!” matanya berkaca-kaca.

Kedua kakinya berlari kencang tanpa mau berhenti sedetik pun.

Tubuh Ilham kaku bagai batu. Siapa lelaki bodoh yang dicintai Ainun?

Ainun masih berkutat dengan laptopnya di bawah naungan pohon mangga yang tengah berbuah lebat. Suasana taman kampus tak seramai biasanya, mengingat waktu adzan asar sudah berkumandang satu jam yang lalu.

Ainun melirik ponselnya yang sedari tak berhenti berbunyi. Pesan whatsapp juga panggilan telepon, baik dari Bunda maupun Akbar benar-benar diabaikannya.

Hari ini, adalah hari yang sangat tidak diharapkan Ainun. Pasalnya, kemarin Ilham datang ke rumah, berbincang dengan Ayah dan Bunda entah mengenai apa, yang pasti, kalimat yang ia dengar dari hasil mengupinya adalah; lelaki itu akan berangkat hari ini, selepas isya.

Perihal kejadian kemarin sore, Ainun masih menyimpan setitik harap. Ya, ia berharap lelaki itu mau berjuang kembali untuknya. Lagi pula, jika lelaki itu mulai bicara pada Ayah, jelas tak akan ada masalah, Ayah sudah tahu, dan Ayah sama sekali tidak mempermasalahkan hubungan sepupu yang ada di antara mereka.

“Siapa pun lelaki yang datang kemari, bermaksud mulia ingin meminang, selama ia paham akan ilmu agama, mampu membimbing, Ayah tidak akan menolak. Ayah ingat perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda; “Jika seorang (datang) kepadamu untuk melamar (anak perempuanmu), yang (ia telah) engkau ridhai agama dan akhlaknya, maka (segera) nikahkanlah ia. Jika tidak, (maka) akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.”.”

Ainun masih ingat setiap kalimat yang Ayah ucapkan saat ia mengatakan memiliki rasa yang sama dengan Ilham. Bahkan saat itu, Ayah tak keberatan jika Ilham datang ke rumah, bertamu sebagai lelaki yang ingin meminang putrinya.

Tapi kini, Ainun harus menelan rasa kecewa berkat egonya yang seluas langit.

Ainun menutup laptop setelah menghela napas panjang. Ia membereskan barang-barangnya. Beranjak dan berjalan melewati gerbang kampus, hingga kakinya berhenti di depan masjid berkubah emas.

Warna jingga di ujung barat nampak memesona, keindahannya menyatu dengan kubah yang tinggi menjulang.

Ainun kembali melangkah, menaiki beberapa undakan tangga. Sebelum memasuki masjid, ia kembali mengecek ponselnya. Ada berpuluh pesan yang masuk. Tapi pesan dari Akbar dan Bunda lebih mendominasi. Sebenarnya ada satu pesan yang menggelitik ibu jari Ainun agar membukanya.

Dari Ilham.

Source

( Dmn? )

Dimana katanya? Ainun memberengut. Satu pesan, satu kalimat yang sangat singkat.

Ia menjejalkan ponselnya ke dalam tas setelah mengubahnya menjadi mode silent.

Ainun berjalan ke tempat wudhu. Maghrib memang masih lama, masih beberapa jam lagi, tapi tak ada salahnya jika mempersiapkan diri terlebih dahulu.

Setelahnya, ia masuk ke dalam masjid. Membuka buku bersampul cokelat, sekedar menuliskan sedikit kisahnya hari ini.

Adzan sudah berkumandang, Ainun segera memakai mukena, duduk merapat dengan jamaah akhwat yang lain.

Dadanya bertalu mendengar panggilan yang menyeru merdu.

Setelah sholat, berdzikir, dan menambah tilawah, Ainun masih enggan beranjak. Ia tak ingin pulang. Kakinya terlalu berat untuk melangkah menuju rumah. Toh jikalau ia pulang, tak akan ada siapa-siapa di sana. Seluruh keluarganya pasti mengantar keberangkatan Ilham ke bandara.

Ainun melepas mukena, ia akan mampir dulu sebentar ke pedagang kaki lima, sekedar mengisi perutnya yang kosong, setelah itu, ia akan kembali lagi ke masjid ini.

“Ainun.”

Kaki Ainun baru saja menuruni undakan tangga terakhir saat suara itu tertangkap gendang telinganya. Berbalik, lantas bergeming kaku.

“Kalau mau lari dari semua orang, tolong matikan GPS-nya.”

Lelaki itu tersenyum tipis sembari mengangkat dan menggoyangkan ponselnya. Ainun hanya terpaku, dalam hati ia merutuki kebodohannya yang tidak menyiapkan pelariannya dengan matang.

“Gak jadi pergi?” sebuah tanya terlontar. Perih sebenarnya.

“Jadi.”

“Kenapa masih di sini?”

“Semua orang kasih kenang-kenangan untuk Abang,” Ilham menjeda, “kecuali kamu.”

“Apa harus?”

Ilham mengendikkan bahu, kedua tangannya tenggelam di saku celana. Ia datang menemui Ainun hanya ingin sepatah kata saja dari mulut gadis itu. Namun ketika bertemu, mulutnya kelu. Bukan kejujuran yang ia sebutkan, tapi malah basa-basi yang mungkin memuakkan.

“Kayaknya Ainun gak perlu ucapin apa pun atau kasih apa pun,” kata Ainun bagai sembilu untuk dirinya sendiri. Padahal dalam hati? Ia menyimpan beribu kalimat juga lantunan doa untuk keberangkatan lelaki di depannya

Semoga setiap langkah Abang berada dalam jalan dan keridhoan Allah. Semoga setiap deru napas Abang menjadi lantunan dzikir yang akan menenangkan hati. Semoga Allah senantiasa menyertai setiap kedipan mata Abang. Semoga Abang tetap menjadikan Allah sebagai satu-satunya harapan juga alasan untuk segala urusan.

Dan beribu semoga yang lainnya, akan tetap Ainun sebutkan dalam setiap pengaduannya pada Allah.

“Mau ke mana?” Ilham ingin menghadang langkah Ainun yang melewatinya. Namun ada dinding yang teramat tinggi di antara mereka. Dinding penjaga, bukan penghalang. Mereka memang sepupu, tapi mereka bukan mahram. Tetap berdosa jika Ilham tetap kekeuh menghadang langkah gadis itu dengan buncahan dalam dada yang tak terkira sebesar apa bentuknya.

“Bukan urusan Bang Ilham.”

Kalimat lirih yang tersirat tajam makin mengurung kedua kaki Ilham. Tak mampu berbuat apa pun, ia hanya mampu membiarkan gadis itu berlalu menjauh.

Jika Allah mengatakan ini akhirnya, dan takdirnya bukan dengan Ainun, maka Ilham akan berbalik, melepaskan nama itu perlahan.

Walaupun sakit?

Ya, walau pun sakit. Sebab suara dalam hati Ilham mengatakan untuk tak perlu risau mengenai hal ini.

Mengapa harus takut dia berpaling? Padahal Allah sudah menetapkan siapa untuk siapa. Dan kenapa hatinya harus meragu? Padahal Allah sudah menyiapkan segalanya.

Kata orang, patah hati akan membuat nafsu makan berkurang bahkan menghilang. Tapi kata Ainun, patah hati akan membuat badan sehat dan bertambah kuat.

Bagaimana tidak? Sudah dua kali ia memesan nasi goreng di pinggir jalan dan perutnya masih meminta jatah tambahan. Kalau tidak ingat dengan kalimat; ‘makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang’ maka Ainun tidak akan segan untuk kembali memesan.

Diliriknya jam tangan, sebentar lagi isya. Ia harus bergegas kembali ke masjid sebelum rasa malas menyapa dan membuatnya membelokkan langkah menuju rumah.

Setelah membayar, Ainun kembali ke masjid berkubah emas. Ia pikir, Ilham sudah bersiap ke bandara karena jadwal penerbangannya yang sudah terasa di depan mata. Namun nyatanya Ainun salah, lelaki itu berdiri dengan punggung yang bersandar ke mobil.

Selangkah, dua langkah, terasa mendebarkan saat Ainun melewati sosok itu. Rupanya memang tenang, tapi hatinya? Di dalam sana, ada sesuatu yang bergolak, berputar, melayang dan pada akhirnya terhempas. Hatinya terjembab ke dasar jurang.

Source

Sementara Ilham hanya diam tanpa melakukan apa pun. Ia hanya mengamati dari jauh, sedari tadi ia juga mengikuti langkah Ainun. Kebiasaan barunya sangat buruk. Padahal Ilham tahu jelas bagaimana tidak baiknya memperhatikan seorang akhwat.

Cinta membuat rumit segala urusan. Cinta mampu membuat diri kehilangan akal.

Ainun keluar dari masjid. Langkahnya berjalan lembut, menikmati semilir angin dan mendesau merdu.

Matanya terpaku, menatap Ilham yang tengah mengikat tali sepatunya di undakan tangga.

Lelaki itu akan pergi malam ini. Terbang jauh, menapaki tanah baru. Kemungkinannya sangat kecil untuk bertemu lagi.

Ainun tak sadar dengan air mata yang mulai menganak sungai. Ia menghela napas sekuat mungkin.

Sakit sebenarnya, ketika ia ingin berkata namun tak mampu mengutarakan.

Lelaki itu akan pergi, Ainun. Meninggalkan tanah kelahirannya dan menghirup udara di kota suci.

Suara dalam kepala Ainun terus berbunyi.

Siapa yang akan tahu kejadian di detik berikutnya? Kenapa masih menyia-nyiakan lelaki yang jelas baik agamanya?

Ainun mengerjap karena terlalu lama berdiam diri sementara Ilham sudah meninggalkan undakan tangga, sosok itu pergi.

Tiba-tiba hatinya berdesir. Sekarang atau tak akan pernah?

Langkahnya berubah menjadi langkah lebar, menyusul Ilham yang entah melangkah ke mana. Matanya liar mencari. Tubuhnya berkeringat dingin. Ainun tak mau kehilangan kesempatan. Ainun mau lelaki itu.

“Abang!”

Kakinya berlari menuju parkiran. Semoga Allah masih memberinya waktu.

“Bang Ilham!”

Ainun terus memanggil dengan suara yang tidak terlalu keras karena sedari tadi, banyak mata yang memperhatikannya. Ia menarik napas lega saat mobil Ilham masih belum meninggalkan parkiran.

Ilham yang menyadari ada suara yang memanggilnya membuka kaca mobil. Ia melihat dengan jelas bagaimana gadis itu menghela napas saat mata mereka bertemu.

Ia masih duduk di balik kemudi dengan gelisah luar biasa, apalagi saat Ainun membuka mulut lalu mengatupkannya lagi.

“Kenapa?”

Canggung. Rasa itu menguar di sekeliling mereka. Matanya bisa melihat ada gelisah juga di mata Ainun. Gadis itu ingin mengatakan apa?

“T-tentang, tentang kita,” Ainun mendadak kelu. Degupnya berpacu. Bismillaah ….

“Kenapa?”

Baru saja membuka mulut, tapi Ilham sudah bertanya lebih dulu, membuat Ainun urung untuk mengatakan. “Bisa keluar dulu?”

Ilham mengangguk, melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Ia menjaga jarak. Matanya juga dialihkan ke arah lain.

“Ainun akan tunggu kepulangan Bang Ilham dari Madinah.”

Ilham mematung. Entah kenapa dadanya malah berdendang ria.

“Kalau nanti perasaan Bang Ilham masih sama, datanglah ke rumah, temui Ayah. Ainun mau memulai semuanya dari awal.”

Ilham makin bergeming. Syaraf-syarafnya menolak untuk bekerja dengan baik.

“Hati-hati,” tutur Ainun.

Gadis itu berbalik, meninggalkan Ilham yang masih berdiam diri. Ainun melangkah lebar keluar dari halaman masjid, enggan berbalik karena entah mengapa, hatinya menjadi riuh seketika.

“Kalau nanti perasaan Bang Ilham masih sama, datanglah ke rumah, temui Ayah. Ainun mau memulai semuanya dari awal.”

Ilham mengerjap. Perkataan Ainun terus menari-nari di udara, ditemani semilir angin yang menyejukkan dada.

Datang ke rumah, katanya?

Ilham berpikir lebih keras. Sebuah jawaban mendarat mulus di kepalanya. Senyumnya membentuk halus. Ia berbalik, mencari kemana perginya Ainun, tapi gadis itu sudah menghilang entah kemana. Semerbak bunga menguar dalam hatinya, dimeriahkan oleh kupu-kupu yang sudah beterbangan ria dalam perutnya.

Ainun juga menginginkannya atau apa?

Aiihhh …. Gadis itu …. Selalu saja!

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *