Cerpen : Syahdu Part 20

Dua tahun yang lalu ….

Hari ini, entah mengapa nasib kurang baik selalu menyapanya. Mulai dari kemacetan ibu kota yang harus ia rasakan kembali, terlambat masuk tes perusahaan, hingga mobil yang dikendarainya mendadak mogok di depan halte. Beberapa kali mendial nomor Akbar, tapi abangnya itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia resah. Bagaimana tidak? Sedari tadi hujan mengguyur bumi tiada henti, menjebaknya sendiri di tengah orang-orang yang tak peduli akan raut gelisahnya.

Ia menghela napas hingga berulang, meredamkan resahnya yang kian menusuk hingga tulang. Tubuhnya memutar, meraih payung berukuran sedang yang terletak di jok belakang. Turun dari mobil lalu membuka kap yang penuh dengan mesin yang sama sekali tak ia mengerti. Ah … kalau sudah begini, mau tak mau ia harus memanggil tukang bengkel.

“Kenapa?”

Ia tersentak saat memutar tubuh. Seorang lelaki yang selama beberapa hari dihindarinya, kini berdiri tegak tanpa ekspresi dengan tangan kanan yang memegang payung. “Mogok?”

Jantungnya seakan berhenti berdetak, nyalinya mengecil tanpa dikomando. Jujur, ia risi dengan wajah lelaki ini yang seolah bersikap tanpa beban.

Sementara Ilham tak kalah canggungnya, detaknya berpacu dengan napas yang mendadak memburu. Sejak awal melihat sosok itu, ia tak mau memberhentikan kuda besinya. Namun tangan dan hatinya mengkhianati. Sedari dulu, ia tak pernah bisa abai pada gadis yang satu ini.

Ilham berbalik, membuka pintu mobil dan mencabut kuncinya.

“Kamu pulang, sebentar lagi maghrib.”

Ainun termangu, kedua matanya tak lepas dari kunci mobil milik Ilham yang disodorkan padanya.

“Biar Abang yang tunggu tukang bengkelnya.”

“G-gak usah, biar Ainun yang tunggu di sini.”

“Sebentar lagi maghrib.”

Deru kendaraan yang melintas, juga percikan air hujan yang jatuh memberi kesan asing di hati Ainun.

“Terus, Bang Ilham gimana?” tangannya bergerak sendiri, menerima kunci mobil tanpa ragu.

“Abang tunggu di sini sampai tukang bengkelnya datang.”

“Kita bisa pulang bareng, ‘kan?”

Ilham berbalik, melipat payung dan berdiri di halte. Jaraknya dengan Ainun hanya terpisah mobil yang mogok, namun mata Ilham masih melihat sosok Ainun dengan jelas. “Kita memang sepupu, tapi kita bukan mahram. Dan yang paling penting, kita rawan fitnah.”

“Ainun bisa duduk di jok belakang, dan otomatis masih ada j-”

“Abang bukan dia yang bisa mengajak kamu duduk berdua di mobil,” sela Ilham cepat.

Ainun bergeming, hatinya terasa ngilu saat kalimat itu terucap lancar di bibir Ilham. Ya, Ilham memang bukan Ari yang gampang sekali mencairkan suasana, Ilham bukan Ari yang senang sekali mengajaknya berbincang. Mereka, adalah dua lelaki yang berbeda.

“Kenapa masih berdiri?”

Ainun mengerjap. “Apa kita gak bisa seperti dulu lagi?”

Rahang Ilham mengeras. “Maksud kamu apa?”

“Ainun mau kita seperti dulu lagi. Bicara tanpa canggung seperti ini,” ujar Ainun sungguh-sungguh. Ia benar-benar tidak nyaman dengan keadaan yang seperti ini. “Ainun bisa melupakan kejadian itu dan anggap Bang Ilham gak pernah memiliki rasa sama Ainun.”

Ilham tersenyum miring. “Gak perlu repot-repot. Jalani saja kehidupan kamu seperti biasa. Jangan menitahkan untuk merubah apa pun, Abang gak punya kuasa untuk itu,” ucapnya dingin. “Sekarang kamu pulang, jangan buat Abang lebih berdosa karena berduaan dengan kamu seperti ini.”

Source

“Kamu kenapa?” Ari menggoyangkan kelima jarinya di depan Ainun. Sedari tadi ia berbicara, gadis di depannya malah melamun tiada henti. “Ainun!”

Ainun mengerjap, mengusap wajahnya lantas terkekeh tanpa arti. “Kenapa, Kak?”

“Harusnya saya yang tanya begitu,” ujar Ari, kedua tangannya sudah bersidekap di meja. “Kamu ada masalah apa?”

Ainun mengerjap lagi. Kenapa dengan dirinya ini? “Ainun gak papa, tadi malam cuma kurang tidur.”

Ari hanya mengangguk-angguk. “Oh, iya. Nanti malam saya akan datang ke rumah.”

“Ngapain?”

“Ketemu sama Ayah kamu.”

Ainun bergeming. Harusnya ia senang, ‘kan? Bukankah ini yang ditunggunya sejak dulu? Tapi kenapa, lagi dan lagi sejak kejadian di halte itu, hati Ainun seolah terbelah?

“Jangan dulu,” ujarnya pelan. “Ainun masih ragu.”

“Kenapa? Bukannya selama ini kita saling nyaman satu sama lain?”

“Iya,” ia menghela napas. “Tapi kenapa harus secepat ini?” tanyanya. “Maksud Ainun, kenapa tiba-tiba?”

“Tiba-tiba apanya?” kedua alis tebal Ari terangkat. “Bukankah sedari awal kita bertujuan untuk berakhir di pernikahan?”

Ainun mengusap pelipis yang mengucurkan keringat. “Nanti Ainun pikirkan lagi.”

“Kamu berubah.”

Ainun menunduk, menghindari tatapan di depannya.

“Apa yang membuat kamu sampai ragu seperti ini?”

“Ainun!”

Dari jauh, Rania datang dengan langkah lebar. Ia memberikan senyum tipis kepada Ari saat tiba di meja.

“Ayo kita pulang!” Rania duduk, berbisik tegas di telinga Ainun.

“Kenapa pulang?”

“Kita bantuin Bang Ilham beres-beres, tiga hari lagi ‘kan jadwal keberangkatannya.”

Tiga hari lagi.

Kenapa waktu melaju begitu cepat?

“Buruan!”

Ari yang paham, langsung mengangguk ketika Ainun melihatnya sekilas.

Canggung.

Itulah kata pertama yang bisa Ainun rasakan ketika sampai di rumah om dan tantenya.

Sedari tadi, ia mencoba besikap biasa saja. Walau ia tahu pasti, sedari tadi juga Ilham menjaga jarak sejauh mungkin dengannya. Mata tajam Abi yang jeli mampu menerka semua, namun beliau tetap diam tanpa kata.

“Ini disimpan di mana, Tan?”

Ummi menoleh, tersenyum kikuk pada Ainun yang mengangkat kardus sepatu milik Ilham.

“Biar Tante yang simpan.”

Ainun hanya mengangguk, menyerahkan kardus itu kepada Ummi.

“Kamu gak mau ikut?”

Ainun mengerjap. “Kemana, Tan?”

“Duduk dulu sini.” Ummi menepuk ruang di sebelahnya.

Ainun menurut. Ia duduk di sana, menunggu apa yang akan dikatakan wanita paruh baya yang telah melahirkan dan membesarkan lelaki hebat seperti Ilham.

“Kuliahnya lancar, Nun?”

Ainun mengangguk.

“Kemarin Bundamu bilang, setiap pulang kuliah ada yang antar.”

Ainun termangu. Malu sekaligus canggung. Kepalanya mendongak, kedua matanya langsung bertemu Ilham yang berdiri kaku di anak tangga. Seperti biasa, tatapan lelaki itu sulit untuk diterjemahkan.

“Cuma kakak tingkat, Tan,” ujarnya pelan.

Ummi tersenyum hangat, kedua tangannya gesit memasukkan beberapa barang milik Ilham ke dalam kardus. “Memangnya kenapa kalau cuma kakak tingkat? Terkadang, hati gak bisa mengelak, Nun. Mau itu kakak tingkat, atau kakak apa pun, kalau sudah cinta ya cinta.”

Source

Ainun melihat memalui ekor matanya Ilham yang melenggang setelah berdeham kecil.

“Kalau Bang Ilham, Tan, sudah punya calon?” mulutnya lancang, tapi inilah kenyataan, ia ingin diakui sebagai seorang gadis, bukan adik sepupu. Cinta kah?

“Apa, ya.” kepala Ummi melihat langit-langit. “Mungkin lebih tepatnya bukan calon.”

“Maksud Tante?”

“Masih samar-samar. Ilham belum berani datang ke rumah si gadis. Jadi belum bisa dikatakan calon.”

Detak Ainun berpacu.

“Memangnya Bang Ilham sudah bilang sama om dan tante?”

Ummi mengangguk. “Tante suka pilihan Ilham, Nun. Dia shalihah.”

Apa ini sebuah kode? Atau bentuk restu?

“Kamu sendiri, ada kemajuan apa sama kakak tingkat itu?”

Ainun menunduk. Kenapa hatinya berubah resah seperti ini?

“Nanti malam dia mau datang ke rumah, ketemu sama Ayah.”

Ummi hanya tersenyum tipis. “Alhamdulillah,” ujarnya tenang.

Mata Ainun mencuri-curi pandang ke arah dapur. Ilham dan sepupunya yang lain sedang sibuk di sana.

“Tapi Ainun ragu,” ucapnya tiba-tiba. “Ainun sama dia baru kenal beberapa bulan.”

“Ada prosesnya, Nun.”

Iya, Ainun mengerti untuk itu. Tapi suara dalam kepalanya berteriak agar bibirnya mengatakan kalau Ilham juga boleh datang ke rumah, bertemu dengan Ayah, dan berbicara seperti lelaki pada umumnya.

Ainun hanya menyadari, jika dalam hatinya, ada sebongkah rasa untuk Ilham.

“Kok lemes, Kak?”

Ainun tersenyum tipis, menyalami tangan Bunda juga Ayah yang tengah berbincang hangat di teras rumah.

“Kumpulin tenaga buat besok lusa, Ham.”

Itu suara Ayah, beliau menepuk-nepuk bahu Ilham yang datang bersama Akbar.

“Diancam supaya antar pulang Bang Akbar, Om. Ilham gak bisa nolak.”

Di sampingnya, Akbar berdecih.

“Abis dari mana?!”

Asmara berkacak pinggang melihat kemunculan dua kakaknya yang baru keluar dari mobil Ilham, ia kira, mereka pergi jalan-jalan tanpa menyertakannya. “Kok gak ngajakin Rara?!” mulutnya membeo lagi, ia kesal karena tiga orang itu malah masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukannya.

“Pada bisu, ya?!” Asmara mencebik–tak menjawab. Ia malah masuk ke dalam kamar dengan langkah besar–ngambek.

“Tuh!” Bunda berkacak pinggang di depan Akbar juga Ainun, sementara Ilham, ia sudah duduk manis di ruang keluarga.

“Kan baru pulang, Bunda.” Akbar membela diri.”

“Seenggaknya dijawab, Abang! Adikmu itu kalo gak dikasih penjelasan ya begitu.”

Akbar berdecak, ia berjalan menuju tangga, namun berbalik lagi pada Ilham, “sholat maghrib di sini, Ham?”

Ilham mengangkat kepalanya, “kayaknya langsung pulang, Bang.”

“Gak akan keburu,” Ayah ikut berucap, “palingan kalo sampe rumah, waktu maghribnya keburu abis. Lebih baik sholat di sini.”

Ilham berpikir sebentar. Iya juga sih, jarak rumah Akbar ke rumahnya memang dekat, namun tak ada salahnya bukan jika mengambil opsi yang paling aman?

Akhirnya ia mengangguk, “Ilham ambil baju ganti dulu, Om.” ia pamit menuju mobilnya, mengambil baju bersih yang memang selalu ia siapkan.

Ainun hampir terjengkang karena Asmara sudah bergelung di atas ranjangnya saat ia baru masuk. Ia kira, adiknya itu ngambek karena hal tadi, tapi ternyata Asmara malah mengungsi di kamarnya dengan selimut yang sudah menutupi seluruh tubuh.

“Maghrib, Dek! Pamali tiduran kayak begini!” ia menyibak selimut, menarik tangan Asmara, tapi adiknya itu malah acuh. “Kalo gak bangun, Kakak panggilin Bunda, nih!” ia mengancam.

Source

Sedangkan Asmara buru-buru duduk karena Kakaknya membawa nama Bundanya, ia takut. Maka dari itu, ia bangun dengan wajah yang masih ditekuk dalam-dalam.

“Curang! Kakak gak bilang kalo jalan-jalan sama Abang!”

Ainun mendengus, adiknya itu membeo lagi, “siapa yang jalan-jalan? Kakak abis dari kampus, terus mampir ke rumahnya Bang Ilham, bantu beres-beres di sana.” ia malah berkacak pinggang, “kamu cepetan wudhu, gih, bentar lagi maghrib. Kakak juga mau bersih-bersih.”

“Masih lama, Kak, masih lima belas menit lagi.” Asmara ngeyel setelah melihat jam di atas nakas.

“Lima belas menit itu bukan waktu yang lama, bisa dibilang singkat.” Ainun meraih handuk di dalam lemari, “Gini, Dek, siapa yang bakal tahu waktu buat satu menit ke depan? Memangnya kamu mau, waktu kamu berakhir pas banget saat melalaikan sholat. Mau?”

Asmara menggeleng, tapi ia masih enggan beranjak.

“Ya udah, cepetan wudhu, kita sholat jamaah sama Bunda di mushola. Cepet!” Ainun masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan wudhu setelahnya.

“Kok masih diem?!” kecamnya saat Asmara masih duduk di atas ranjangnya–entah apa yang dipikirkan adiknya itu.

Ia geleng-geleng kepala, bergegas memakai mukena dan keluar kamar.

“Abaangg!” tangannya mendobrak kamar Akbar. Ia sukses menjerit karena mendapati Ilham yang tengah mengenakan sarung, dengan cepat, ia menutup kembali pintu, dan tangan kirinya menutup mata. Ia kaget luar biasa. Sementara Ilham tak kalah kagetnya, ia lupa mengunci pintu padahal sudah diingatkan Akbar tadi. Abang sepupunya itu bilang, jika kedua adiknya selalu nyelonong masuk ke dalam kamarnya tanpa mau mengetuk pintu. Dan benar saja, Ainun buktinya!

“Kenapa, Nun?” yang dicari malah muncul dari ujung tangga, keningnya berkerut.

Ainun masih setengah kaget. Jantungnya berpacu cepat. Untung saja saat memakai sarung tadi, lelaki itu memakai celana panjang sebagai dalaman, jika tidak? Masya Allah!

“Kok ada Bang Ilham?” ia malah berkacak pinggang. Jika bertemu dengan lelaki itu di mana ia simpan mukanya?

Akbar hanya melongo, tak menjawab karena dirasa tak penting. Ia lantas terkekeh kecil karena Ilham keluar dari kamarnya dengan muka yang salah tingkah.

“Gak liat, kan, Nun?” tanyanya jahil.

Kini gadis itu yang melongo, wajahnya merona. Ia tak melihatnya, kan? Tapi tetap saja, ia malu! Tangannya mengayun kebelakang, tapi malah mengenai wajah Ilham yang tidak ia ketahui hadirnya, ia melongo lagi, sementara Akbar sudah terbahak.

“Wudhu lagi, Ham!”

Tawanya membahana, meninggalkan dua orang yang sama-sama salah tingkah. Ilham buru-buru masuk lagi ke kamar Akbar, mengambil lagi wudhu. Jantungnya sudah berlompat ria. Ah! Jika begini, ia tak akan menerima tawaran Akbar dan omnya. Kalau begini, ia makin tak bisa menjaga hatinya sendiri.

Sementara Ainun segera mengunci diri di kamar. Kedua tangannya menutup wajah. Malu sekali. Ada rasa asing yang menyelinap dalam dada, menyatu bersama degup yang tak mereda. Duhai, Allah … dinamakan apa perasaannya ini?

“Kak Ainun, katanya mau sholat?”

Ainun mengerjap, ia melupakan kehadiran Asmara di kamarnya.

“Hah? Iya, ini mau kok, ayo!”

“Jadi kedatangan nak Ari ini untuk Ainun?”

Di balik lemari, Ainun meremas ujung khimarnya. Ucapan Ari tadi siang tak main-main, lelaki itu datang bersama tekad yang kuat.

“Abang pamit dulu.”

Ainun menoleh, mendapati Ilham yang berdiri di depannya dengan kedua tangan yang tenggelam di saku celana.

“Kenapa buru-buru?” bibirnya sudah bergetar, Ainun tak mengerti dengan keadaan hatinya sendiri.

“Untuk apa lama-lama di sini?”

“Maaf.”

Bahu Ilham mengendik, ia berbalik dan keluar dari rumah melalui pintu belakang.

Sampai di mobil, kepalanya menunduk. Inikah akhirnya?

Mundur tanpa berjuang. Pergi tanpa jawaban.

Jika hatinya mampu memilih, ia ingin melupakan gadis itu, lalu berpindah ke lain hati. Ke hati yang setidaknya merasakan hadirnya. Tapi tak bisa. Ia terlalu kuat dalam mencintai. Terlalu menenggelamkan hatinya pada gadis itu.

Ilham menyalakan mobil. Menginjak pedal gas kuat-kuat. Melajukan kuda besinya tak tentu arah. Kemana pun, asal bisa melupakan Ainun.

Ia hancur.

Allah … mengapa mencintainya harus sesulit ini? Mengapa Engkau masih menetapkan hatinya pada dia yang sama sekali tak menyadari hadirnya yang mencintai dengan sepenuh hati? Mengapa Allah?

Apakah cara mencintainya salah hingga membuatMu tak meridhoi?

Ilham menginjak rem saat kesadarannya mulai menyapa. Ia pergi terlalu jauh, entah di mana ia berada.

Semilir angin malam menerpa wajahnya, menyejukan setiap pandangan matanya, tapi tidak pernah menenangkan hatinya. Angin terlalu ringan untuk membawa pergi lukanya, terlalu ringan untuk mengangkat semua beban di hatinya.

Ilham menghela napas panjang, menjuntaikan kakinya di kayu pinggir danau. Ia tahu, jika Allah mengatakan semua ini bukan jalannya, maka sekuat apapun ia berusaha, tentulah akan sia-sia. Bukankah Allah sudah mengatur segalanya? Jadi untuk apa ia risaukan perihal jodoh?

Ia menghela napas lagi. Jujur, hatinya masih mengharapkan gadis itu. Membangun rasa cintanya pada gadis itu memang tak sulit, bahkan terbilang mudah, tapi untuk melupakannya? Ia harus membutuhkan waktu berapa lama? Sampai kapan? Entahlah, hatinya pun tak bisa menjawab.

Ponsel dalam saku kemejanya berbunyi.

( • Bagaimana, Bang, sudah kamu katakan semuanya pada Om Ahmad? )

Deg!

Bukan pesan dari Ummi, melainkan dari Abi. Apa maksudnya ini?

( ° Maaf, Bi, benar kata Ummi, kakak tingkatnya Ainun datang malam ini, dia bicara pada Om Ahmad lebih dulu. )

( • Jawaban Ainun? )

Gadis itu sudah pasti menjawab ‘iya’.

( • Di mana kamu sekarang? Kembali ke rumah Om Ahmad! Belum tentu jawabannya sesuai dengan apa yang kamu pikirkan saat ini! )

Kenapa dengan Abinya ini? Mendadak mendukung saat semuanya berada di ujung tanduk.

( • Kamu menyerahkan senjata sebelum berperang! )

Ilham menatap runtuyan pesan yang dikirimkan Abi. Ya, ia memang sudah menyerah, bahkan sebelum perang itu dimulai, sebelum perjuangan itu ia laksanakan.

Kepalanya terasa berat dan pening, ia menaruh ponselnya di saku, mematikannya terlebih dahulu. Biarlah ia dicap sebagai seorang pecundang, tak apa, ia akan mencoba ikhlas.

Tapi mengapa saat ia melafalkan kata ikhlas itu, hatinya terasa ngilu, dadanya berdentum hebat, tak mau berdamai dengan jiwanya sendiri.

Ah, Allah, hari ini banyak sekali keluhan pada dirinya, pada hatinya. Mengapa harus Kau ciptakan cinta bila rasa itu malah menjerumuskannya ke jurang yang tak mampu ia terka?

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *