Cerpen : Syahdu Part 19

Ilham terkejut ketika Ainun berhambur ke pelukannya. Ia merasakan kedua tangan Ainun melingkar erat di pinggang.

“Kenapa?” ia menunduk, mengusap pelan punggung Ainun.

Ainun memejamkan mata. Lelaki ini adalah lelaki terbaiknya.

“Hari ini Ainun mau nginep di rumah Abi,” ujar Ainun, mengurai jarak dan mengusap kedua matanya yang terasa panas.

“Ini bukan hari Sabtu.”

“Gak papa.” Ainun memasang senyum terbaiknya. “Ainun cuma kangen masakan Ummi.”

“Abang bisa masakin kalau kamu mau.”

“Rasanya beda,” ucap Ainun. “Ainun mau ke sana, sekarang.” ini misi selanjutnya. Siapa tahu ia menemukan hal lain di rumah Abi, ‘kan?

“Perasaan Abang, kemarin Ummi sama Bunda antar kamu pulang dan tinggalin masakan di sini.”

“Itu, ‘kan kemarin.”

“Kamu aneh.”

Ainun berdecak, melepas tangannya dari pinggang Ilham. “Pokoknya Ainun mau nginep di rumah Abi, kalau Bang Ilham gak mau gak papa, Ainun bisa berangkat sendiri.”

Ilham mendelik. Dan nanti malam ia akan tidur sendiri, begitu? Hah! Mana bisa!

“Kamu kenapa, sih?” ia masih bertanya, keheranan dalam dirinya terlampau besar.

“Gak papa,” ujar Ainun, “masa Ainun gak boleh kangen sama Ummi?” tangannya mengamit lengan Ilham yang kokoh. Untuk saat ini, Ainun akan memendam semuanya sendiri. Nanti, ia akan mulai bercerita ketika semuanya telah kembali utuh.

“Ada masalah apa?” kejar Ilham saat tiba di kamar.

“Gak ada apa-apa, Bang Ilham.” kekeuh Ainun, tangannya masih bergelayut dengan wajah yang tenggelam di punggung suaminya. “Mandi gih, Abang bau tau!”

Ilham berdecak, membalikkan tubuh dan merengkuh kuat tubuh Ainun. Ia merasakan perutnya dijepit jemari lentik milik istrinya. “Sakit tau.” Ilham menyipit, mengelus perut yang terasa panas.

Bibir Ainun sukses mengerucut. Ia tidak sadar kalau tingkah refleksnya itu mengundang Ilham untuk menyentuhkan bibirnya di sana.

“Buruan mandi!” Ainun menjauh, mendorong bahu Ilham ke dalam kamar mandi. Lelaki itu malah tertawa lepas, sedangkan ia, pipinya sudah terbakar parah.

Ainun mengukir senyum tipis ketika sosok Ilham hilang di balik pintu. Hatinya terus berdoa, semoga saja Allah memudahkan kembali segala urusannya ini. Dan semoga saja, Allah tetap melimpahkan kesabaran di hati suaminya.

Rania masih terisak-isak di sofa dengan kedua tangan yang menutupi wajah. Ainun menghela, selesai bersiap tadi, ia menemukan Rania duduk di teras rumah. Entah apa yang terjadi pada sepupunya ini.

“Kalau dia datang, bilang aku gak ada,” ucap Rania setelah mereda isaknya.

“Dia siapa?

Source

Rania mendengus, dan Ilham yang menyaksikan itu menepuk pelan pundak Ainun. Memberi isyarat agar istrinya tidak bertanya macam-macam.

“Dia siapa?” Ainun masih bertanya hal yang sama, kali ini berbisik pada Ilham dengan raut tidak mengerti.

“Aku gak mau ketemu sama dia.” Rania menangis lagi, membuat Ilham dan Ainun kelabakan. Ada apa dengan ibu hamil yang satu ini?

“Ya udah, kamu diem di sini,” ujar Ainun. “Gak usah ketemu sama dia.” ia duduk, mengusap pelan punggung Rania.

“Nginep boleh?”

Ilham menaikkan alis, menatap protes pada Ainun.

“Iya, boleh.”

“Kalau nginep di sini Rania mau tidur di mana?” bisik Ilham.

“Di kamar kita lah, di mana lagi?”

Ilham meremas rambutnya. “Terus Abang tidur di mana?”

“Di sofa, ‘kan bisa? Cuma satu malam kok.”

Aiih istrinya ini.

“Tapi aku gak mau kalau cuma satu malam. Seminggu, ya?”

“Iya, boleh,” ucap Ainun, ringan sekali. Mata Ilham makin membola. Boleh katanya? “Tapi kamu harus ijin dulu sama Bang Raffa.”

Rania mendengus. Lelaki itu tidak akan memberi ijin.

Ilham menyerah, ia memilih mengetuk-ngetukkan kepalanya ke tembok.

“Dek?”

Ah, pahlawan datang. Ilham menghentikan aktivitasnya, menggiring Raffa untuk masuk ke dalam.

“Aku udah beli.” Raffa mengacungkan keresek di depan wajah Rania. “Sekarang pulang, ya?”

“Gak mau!” Rania membalikkan tubuh, membelakangi Raffa. Sementara Ainun sudah menyingkir dari pasangan itu. “Aku gak mau ketemu Kakak!”

“Jangan begitu,” bujuk Raffa. “Aku udah capek-capek keliling Bandung supaya dapat ini.”

“Jadi Kakak gak ikhlas?!”

Ainun menutup telinga, suara Rania itu, lho!

“Aku hamil juga karena siapa?!”

Ilham menarik tangan Ainun agar sedikit menjauh dari Raffa dan Rania, ia bersandar di tembok, memperhatikan ratu dan raja drama di depannya.

“Ya karena aku lah!”

Ainun terkikik, keningnya disentil Ilham.

“Aku mintanya sederhana, kok, gak macam-macam!”

“Iya, Dek. Maaf ya?”

“Pokoknya aku gak mau ketemu Kakak! Aku mau nginep di sini, seminggu!”

Raffa memutar kepala, matanya langsung menangkap tatapan protes dari Ilham.

“Ya jangan begitu, memangnya kamu gak kasihan sama Ainun dan Ilham? Mereka ‘kan pengantin baru, harus punya waktu untuk berdua. Kalau kamu di sini ‘kan jadinya ganggu. Nanti mereka gak bisa bikin the next Ash-Shiddiq.”

Kini Ilham yang terkikik, lengannya di cubit Ainun. Ilham makin terkikik mendapat sinyal berbahaya yang dikirim istrinya.

“Ash-Shiddiq or Ash-Shiddiqiyah?”

Ainun merona, jemarinya kembali menyerang lengan Ilham.

“Mereka ‘kan masih berusaha supaya seperti kita, Dek. Nanti kalau sudah ada hasilnya, anak kita ‘kan ada temannya. Ya, kan?”

Air mata Rania mengering.

“Pulang, ya? Kamu tau sendiri kalau aku gak bisa tidur tanpa kamu, Dek.”

Dih, Ilham merinding mendengarnya. Ia menarik lagi Ainun keluar rumah. Duduk di teras.

“Memangnya kalau lagi hamil banyak maunya, Bang?”

“Rata-rata begitu.”

“Terus sekarang, kita gak jadi ke rumah Abi?”

“Tunggu sampai mereka keluar.”

Ainun menekuk kedua kakinya, menumpukan dagu di sana. Ilham melakukan hal yang sama, namun tangannya meraih jemari Ainun.

“Kurus.”

Satu kata yang membuat Ainun menoleh. “Nanti kalau hamil juga bakalan berisi.”

“Terus kapan hamilnya?”

Dasar lelaki!

Ainun mendelik. “Kapan-kapan,” ujarnya singkat.

Ilham hanya terkekeh, sembari mendekatkan dirinya pada Ainun. Kepalanya bertumpu di kepala istrinya. Ada satu kalimat yang menemaninya sejak lama, ‘Ilham hanya mencintai gadis ini’.

“MATA GUE!”

Source

Mereka tersentak, menjauhkan diri dengan canggung saat Faris datang dengan kedua mata yang tertutup.

“Rusuh lo!” Ilham berdiri, diikuti Ainun yang berdiri di belakangnya.

“Di sini banyak jomblo kali!” ucap Akbar keras. Ia datang bersama Farhan.

Ketiga lelaki itu membawa satu buah keresek di tangan masing-masing.

“Gak baik umbar-umbar kemesraan di depan umum,” ujar Faris yang masih menutup kedua matanya. “Gak takut mubadzir apa?”

Ainun tersipu, wajahnya bersembunyi di punggung Ilham. Tadi itu, tidak terjadi apa-apa diantara dirinya dengan Ilham. Keluarganya ini memang selalu berlebihan jika mengomentari sesuatu.

“Rania sama Raffa ada di sini, ‘kan?” seperti biasa, Farhan mengalihkan pembicaraan. Tapi matanya tak melihat Ilham, ia sibuk mengalihkan pandangan. Sebenarnya, adegan yang seperti tadi sudah sering ia lihat di sinetron yang tak pernah absen di tonton Mami. Namun sepertinya, ini berbeda, rasanya menyentuh sampai ke ulu hati. Mungkin ini perbedaan melihat antara yang halal dengan yang haram.

“Mereka ada di dalam,” ucap Ilham.

“Bafer bikin lafer! Bafer bikin lafer!” Faris kembali berkata, melalui celah tangan, bisa ia lihat bagaimana Ainun dengan malu-malu mengamit lengan Ilham.

“Makanya nikaaahhh!” yang tengah dicari malah membeo menyebalkan.

Ainun menoleh, kepalanya menggeleng-geleng tak habis pikir. Tadi pasangan itu berdebat sengit, dan sekarang, dengan santainya Rania memeluk lengan Raffa dengan wajah sumringah.

“Kalo nyari jodoh semudah nyari tukang tahu bulat, gak bakalan ada yang jomblo kali!” Akbar curhat.

Ainun menutup mulutnya yang tertawa keras. Sedangkan Ilham sudah mengunci rumah dan mulai memanaskan mobil.

“Kalian mau kemana?” Faris menghadang jalan Rania. Tangannya berkacak pinggang.

“Aku sama Kak Raffa mau jalan. Dedeknya mendadak minta tahu bulat.”

Akbar yang mendengarnya melongo parah.

“Terus ini?” Farhan mengacungkan keresek di tangan.

“Udah gak mau.”

Ketiga lelaki itu menganga hebat. Beginikah perlakuan ibu hamil? Bisa menyuruh dan membatalkan semuanya tanpa merasa bersalah?

“Terus siapa yang mau makan ini?”

Ainun melangkah. “Kebetulan Ainun mau ke rumah Abi, belum sempat beli camilan. Jadi ini semua biar Ainun yang bawa,” ujarnya ringan, mengambil alih semua keresek itu tanpa beban dan masuk ke dalam mobil. Di dalam sana, Ilham sudah terkekeh-kekeh.

Cerdas sekali istrinya ini. Begitu kata hatinya.

Sampai di rumah Abi, mereka langsung di sambut Azkiya yang baru kembali dari tempat les. Ilham yang sudah paham dengan gelagat adiknya hanya bisa mengelus dada ketika Azkiya malah membawa bungkusan yang mereka bawa tanpa sepatah kata pun.

“Padahal gak usah bawa makanan sebanyak ini,” Ummi berkacak pinggang di depan meja makan. “Nanti kalau gak abis jadi mubadzir.”

“Tenang, Mi, ada Azkiya yang ikhlas habisin ini semua.”

Ummi menggelengkan kepala tak habis pikir, apalagi saat Azkiya membuka bungkusan yang semuanya ternyata berisi pisang ijo.

“Kamu …?”

Source

“Bukan, Mi,” ujar Ainun yang sudah bisa menebak ke mana jalan pikiran ibu mertuanya. “Tadi Rania datang ke rumah, nangis di sana, dia kayaknya ngidam pisang ijo. Gak lama Bang Raffa juga datang, bawa pisang ijo dan bujuk Rania. Eh, gak taunya abang-abang yang lain juga datang bawa makanan yang sama.”

“Terus kenapa dibawa ke sini?”

“Ibu hamil yang satu itu berubah pikiran.” kini Ilham yang bersuara, “setelah semuanya datang bawa yang dia mau, dia malah minta tahu bulat.”

Ummi tergelak. Seingatnya, kemarin-kemarin Rania juga bersikap seperti itu. Lebih labil dari biasanya.

“Boleh makan ini kalau sudah mandi dan sholat maghrib.”

Bibir Azkiya mengerucut, semua bungkusan itu sudah di simpan Ummi.

“Kak Ainun jamaah di mushola, ya?”

Ainun mengangguk. Sementara Ilham sudah naik ke kamarnya. Bersiap ke masjid sebab waktu maghrib tinggal beberapa menit lagi.

“Kenapa?” Ilham bertanya karena Ainun membuka pintu kamarnya perlahan.

Kepala Ainun menggeleng. Rasa-rasanya, ia merasa was-was saat hendak membuka pintu, entah kenapa.

“Nanti setelah maghrib langsung pulang gak?”

Biasanya, jika menginap di rumah Abi, selepas sholat maghrib Ilham tak akan bergegas pulang.

“Kayak biasa. Setelah isya baru pulang,” ujar Ilham, kepalanya menoleh. “Kamu kenapa?”

“Nanti Ainun boleh bongkar lemarinya Bang Ilham, ‘kan?”

Ilham bingung. “Mau ngapain? Lemarinya juga hampir kosong, baju-baju Abang sebagian besar udah dipindahin ke rumah kita.”

“Maksud Ainun, Bang Ilham gak akan marah kalau Ainun buka-buka lemari Bang Ilham?”

“Marah karena hal sepele itu unfaedah.”

“Dih, ngomongnya kayak yang iya.”

“Memang iya,” timpal Ilham.

“Tapi buktinya nol tuh!”

“Bukti yang mana?”

“Yang kalau Ainun ketemu Kak Ari,” ujar Ainun tanpa dosa. “Terus kalau Ainun tanyain tentang Kak Ari, Bang Ilham marahnya kebangetan, padahal itu, ‘kan hal sepele.”

“Itu bukan hal sepele!” Ilham keki sendiri. “Suami mana yang gak marah kalau istrinya ketemu dan ngobrol akrab sama cowok lain?!”

Ainun terkikik. “Otak Bang Ilham harus disapu sampai bersih supaya gak mikir yang macam-macam.”

“Otak kamu juga harus dicuci sampai bersih.”

“Supaya apa?”

“Supaya gak terkontaminasi hal-hal yang kotor.”

Ainun tergelak. Bukan maksudnya mencandai Ilham sampai wajahnya berubah masam.

“Salim dulu,” ujar Ainun ketika Ilham membuka pintu.

Lelaki itu berbalik, menunggu Ainun menghampirinya.

“Maaf, ya, lagi-lagi Ainun bikin Bang Ilham kesel,” ucap Ainun pelan.

Ilham hanya mengangguk, menyodorkan tangan yang langsung disambut senang hati oleh Ainun. Senyum tipis terukir di bibirnya, ia memang tidak bisa bersikap dingin yang terlalu pada istrinya ini.

“Jangan keterlaluan,” bisiknya lembut. Kedua tangannya sudah merengkuh tubuh mungil Ainun.

Sedang Ainun hanya terkekeh kecil, wajahnya tenggelam dengan mata terpejam. Ia mendongak, namun matanya terasa berkunang-kunang. Kepalanya menunduk lagi. Kenapa rasa sakit itu ia rasakan lagi? Selalu menusuk tanpa ampun.

“Udahan,” ujar Ilham. “Ai?” kedua tangan Ainun memeluknya erat, lalu setelah sepersekian detik, pelukan itu melonggar.

Ilham merasakan tubuh Ainun yang bertumpu padanya, jemarinya menyentuh dagu Ainun. Matanya membola hebat saat istrinya sudah terpejam dengan darah segar yang mengalir di hidungnya.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *