Cerpen : Syahdu Part 18

Kepala yang berdentum hebat membuat Ainun terusik. Perlahan tapi pasti, kedua matanya terbuka, mengerjap berulang kali. Di sampingnya, Ilham masih terlelap dengan dengkuran halus. Wajah tampan yang menghadap ke arahnya terlihat letih. Ainun mengukir senyum, tentu saja Ilham kelelahan, sepanjang hari tadi ia tak henti melayangkan pertanyaan. Terkadang, Ainun merasa jahat dengan suaminya ini.

Ainun jadi teringat dengan ayat dalam surah ar-rahman yang disebutkan berulang-ulang.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Seharusnya Ainun mengucap beribu syukur bersuamikan seorang lelaki seperti Ilham. Meski pun sikapnya yang terkadang berlebihan dalam segala hal, namun suaminya ini penyabar sekali. Mana pernah Ilham menolak permintaan Ainun. Mana pernah Ilham membentaknya meski pun Ainun sadar diri jika sikapnya terkadang kekanakan dan keterlaluan.

Hal yang sering diterima Ainun adalah tatapan datar Ilham. Lelaki itu tidak akan memulai pembicaraan jika emosinya sudah sampai di ubun-ubun, atau jika Ainun bertemu dengan Ari.

Ari?

Iya, Ari. Melalui lelaki itu, Ainun dibuat paham bagaimana bentuk kecemburuan Ilham. Terasa kekanakan memang, tapi Ainun senang-senang saja dengan semua itu. Bukankah cemburu tanda cinta?

Ia menggeliat dan beranjak duduk. Perihal jatuh pingsannya tadi siang, entah bermimpi atau apalah itu, Ainun ditunjukkan kepada suatu kejadian. Ia termenung. Mungkinkah itu potongan dari ingatannya? Atau hanya halusinasi biasa?

Tekadang Ainun bingung, dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mengapa suatu kejadian yang menghampiri mimpinya terkesan sangat nyata? Tapi jika mimpi, mengapa dirinya seolah berperan sebagai gadis jahat yang ingin sekali menyakiti Ilham?

Argh!

Ainun enggan memikirkan itu lagi. Ia memilih keluar kamar, melangkah menuju ruang kerja. Mungkin membaca buku akan membuat kantuknya kembali datang. Ia mengeluarkan sebuah kardus berukuran sedang dari kolong meja kerja suaminya.

Ini buku-buku yang ia bawa dari rumah Ayah, ingat Ainun. Ia belum sempat membereskannya ke dalam rak.

Dikeluarkannya buku-buku itu, menatanya di rak yang masih memiliki ruang yang cukup.

Selesai membereskan, Ainun mengambil satu buah album foto, satu buku bersampul cokelat dengan nama ‘Ainun’ yang menghiasi latar buku tersebut.

Ia turun ke lantai dasar, membuat susu hangat dan menyalakan televisi. Dibukanya album foto yang sempat ditunjukkan Bunda padanya saat awal-awal keluar dari rumah sakit. Terkadang Ainun terkekeh kecil melihat dirinya dalam versi mungil. Manis. Kedua lesung pipitnya selalu nampak di setiap lembaran foto itu.

Semua potret itu membuktikan kalau Ainun hidup di tengah-tengah orang yang menyayanginya.

Selesai menamatkan album foto, Ainun beralih pada buku berikutnya.

Orang sepertinya tidak akan mencari orang sepertiku. Karena kami berbeda. Kami tidak akan dipertemukan di Jabal Rahmah seperti kisah Adam dan Hawa, tidak akan dipertemukan dalam kisah cinta seromantis Ali dan Fatimah. Tapi harapku meyakini, jika kami akan dipertemukan di suatu tempat dalam keadaan yang tepat.

Source

Ainun mengusap pelipisnya. Kapan ia menulis kata-kata seperti itu?

15 Mei 2016.

Aiih … jika dihitung, saat itu ia masih berumur 18 tahun.

Jakarta, 19 Agustus 2016.

Kamu itu seseorang yang tak asing, namun karena lisanmu kemarin sore, entah mengapa, aku tak lagi mengenal dirimu.

Ada banyak yang ingin aku katakan. Namun semuanya tertelan begitu saja menjadi sesuatu yang amat-sangat riskan untuk dibicarakan.
Berawal dari sebuah surat yang tak sengaja kutemukan di pertengahan bukunya yang kupinjam dan kejadian kemarin sore, semuanya berubah. Dirinya, dan diriku. Aku terlalu enggan memikirkan, namun sialnya, bayangnya dan setiap katanya masih tersimpan apik di ingatanku.
Dia, Ilham Ash-Shiddiq. Bukan orang bodoh. Dia orang terpelajar. Dia orang yang paham agama. Lantas, dengan kejadian itu, kesan pintar dan segala tahu lenyap begitu saja dalam benakku.

Ainun termenung. Surat? Kejadian?

Tangannya menggaruk pipi.

📑📑
Jakarta, 20 Agustus 2016.

Jangan bangga dengan kekasihmu, siapa tahu dia adalah orang yang akan menyakitimu di lain waktu. Jangan bangga dengan setiap sisi tubuhmu yang berhasil dia sentuh, siapa tahu jodohmu akan membencimu karena hal itu. Jangan bangga dengan limpahan perhatian yang dia berikan padamu, siapa tahu kamu bukan satu-satunya wanita yang menjadi prioritas umatanya.
Marahlah ketika dia menyentuhmu, memandangmu, atau merayumu, sebab harga dirimu akan jatuh di hadapan masa depan jika dirimu saja malah membiarkan. Islam menjagamu, memuliakanmu, maka dari itu, tunjukkan rasa pedulimu pada agamamu.
📙📙📙

Ainun terkikik. Bijak sekali dirinya saat itu, kenapa berbanding terbalik dengan masa sekarang? Ia membuka lembaran selanjutnya.

📑📑📑
Jakarta, 22 Agustus 2016.

Hari ini aku mengajukan surat pengunduran diri. Sulit rasanya, sebab bagaimana pun, aku terlampau nyaman bekerja di restoran milik Bang Ilham. Namun aku harus fokus pada misiku, membuat lelaki itu jera karena telah menaruh hati padaku.
📙📙📙

Ainun menegang.

Mengundurkan diri dari restoran milik Ilham.

Kenapa seperti kejadian dalam mimpinya tadi? Ia menunggu Ilham, memberikan surat pengunduran diri, berbicara dengan nada yang tidak mengenakkan, setelah itu, ia pergi dengan Ari.

Apa mungkin …

“Abang kira kamu tidur sambil jalan.”

Ainun berjengkit. Sontak ia menoleh pada Ilham yang terlihat menahan kantuk.

“Kamu kenapa kayak kaget begitu? Nonton zombie lagi, ya?”

Ainun menggeleng kikuk. Tangannya bergerak menyembunyikan buku bersampul cokelat di balik punggung.

“Abang ngapain tidur di sini?” ia mengguncang tubuh Ilham yang mulai terlelap di sofa, “pindah, Abang.”

Ilham hanya bergumam tidak jelas, kakinya ditekuk.

“Bang Ilhaaaam,” Ainun menarik-narik pelan telinga Ilham.

Source

Ilham menyembunyikan wajahnya dengan bantalan sofa.

“Ya udah, tidur di sini, ya? Pintu kamar Ainun kunci.”

Ilham berbalik, istrinya sudah berlalu dengan langkah lebar menuju kamar. “Jangan coba-coba, Ainun.”

Ia beranjak, melangkah tak kalah lebar. Sampai di depan pintu kamar, mereka malah berebut gagang pintu. Dari tenaga, jelas Ilham lebih dominan, dengan mudah ia membuka pintu setelah mendekap Ainun terlebih dulu.

“Curang!” seru Ainun. Ia mencoba menjauhkan diri hanya dengan tangan kiri, sementara kanannya tetap menjaga buku di balik punggung.

“Sssttt!” tangan Ilham membekap mulut Ainun. Kedua matanya mengarah ke jendela.

“Jangan berisik,” dengan suara pelan, Ilham menatap istrinya dengan pandangan yang ambigu, “nanti dia datang.”

Mata Ainun membulat, mencuri pandang ke arah jendela. Ia tersentak saat Ilham berlari dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, lelaki itu tertawa terbahak-bahak.

“Abang!”

Gelak tawa Ilham makin terdengar walau terhalang selimut. Ia mengaduh saat beberapa pukulan mendarat di tubuhnya.

“Kamu mukul pakai apa, sih?”

Mata Ainun kembali membulat, segera ia sembunyikan buku hariannya di bawah bantal.

“Pakai tangan lah!”

Ilham membuka selimut, menahan tawa ketika melihat ekspresi kesal di wajah istrinya. “Kok kayak dipukul pakai buku tebel, ya?”

“Sakit.”

Dih, Ainun bergidik melihat Ilham memegang kepalanya sambil meringis.

“Sakit, Ai.” Ilham masih mecoba menggapai perhatian Ainun. Tapi istrinya itu malah bergidik lagi lantas berbaring. Gak peka! Ingin sekali Ilham meneriakkan kalimat itu sekencang-kencangnya. Kesal diabaikan, Ilham berbalik, tidur memunggungi Ainun.

Sementara Ainun terkikik tanpa suara. Mana ada sejarahnya yang dipukul tangan dan kepala yang merasakan sakitnya? Dasar modus!

“Tadi Ainun mukul tangan, kok,” ujarnya sembari memeluk Ilham dari belakang. “Kalau mukulnya di kepala, dan Bang Ilham hilang ingatan kayak Ainun ‘kan bahaya.”

Telinga Ilham memerah. Pertanda kalau dirinya dilanda malu.

“Nanti siapa yang bakalan cemburu lihatin Ainun s-”

“Jangan mulai!”

Ainun terkikik lagi. Hal baru yang paling menyenangkan bagi Ainun adalah menggoda Ilham seperti ini.

“Ngomong-ngomong ini udah jam tiga,” tutur Ainun. “Sekarang, mendingan Bang Ilham ambil wudhu, sholat malam, terus doain Ainun supaya makin sayang sama Bang Ilham.”

Ilham berbalik, memeluk Ainun dan mencium keningnya lama.

“Tanpa diminta, Abang selalu doain yang terbaik untuk kamu.”

Ainun terharu. Hal seperti ini yang makin membangkitkan semangatnya untuk mengingat segala hal di masa lalu.

Source

Sedari tadi Ainun mencari surat yang dimaksud buku hariannya. Berkali-kali membuka laci meja kerja Ilham, namun ia tak menemukan apa pun selain berkas-berkas perusahaan.

Sebenarnya Ainun sudah sangat penasaran dengan lembaran berikutnya di buku harian, namun ia tahan sebisa mungkin karena Ainun harus mencari petunjuk secara berurutan.

Lelah mencari, Ainun memilih duduk di kursi kerja suaminya, menempelkan punggung di sana, sekedar meredakan pegal yang mulai datang menyapa.

Jika bertanya pada Ilham perihal semua itu, Ainun hanya takut suaminya akan bersikap berlebihan lagi. Apalagi semua kejadian di mimpinya belum tentu benar, meski ada beberapa petunjuk yang hampir mirip dengan tulisannya di buku harian. Namun tetap saja, itu semua tidak bisa menjadi acuan.

Kalau pun Ainun mau, ia bisa menanyakan segalanya pada Ilham. Tapi dirinya lebih senang mencari sendiri, ada sensasi memuaskan ketika menemukan sesuatu hal yang sangat dicarinya.

Ainun membuka buku bersampul cokelatnya. Hingga matanya sampai pada satu kalimat.

‘Berawal dari sebuah surat yang tak sengaja kutemukan di pertengahan bukunya yang kupinjam dan kejadian kemarin sore, semuanya berubah.’

Aah, buku Ilham yang sempat dipinjamnya. Tanpa mau menunggu, Ainun beranjak ke rak tempatnya menaruh buku-bukunya kemarin malam. Mata Ainun semangat menjelajah, tak sulit menemukan apa yang dicari, sebab buku itu terlihat asing dengan buku-bukunya yang lain.

‘Sejarah Peradaban Mesir Kuno.’

Ainun kembali duduk di tempat semula. Membuka halaman pertengahan hingga sebuah kertas putih terpampang di sana. Segera ia baca dengan degub yang entah sejak kapan berubah riuh.

📑📑📑
‘Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Aku hamba Allah, yang memikul sejuta mimpi di pundakku, yang menaruh sejuta harap di pelupuk mataku, yang menyimpan setitik cinta di hatiku.

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Pernahkah kamu jatuh cinta? Pernahkah merasakan perasaan itu hingga membuatmu sesak bernapas dan membuatmu serasa mengelilingi dunianya saja?

Aku pernah…

Bodoh sekali bukan rasanya? Ditarik tanpa sadar, hingga pada akhirnya semakin dekat pada dia, namun nyatanya makin jauh pada Dia?

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Bolehkah aku bertanya? Bagaimana rasamu jika ternyata ada seseorang yang selama ini mencintaimu dalam diam? Bagaimana rasamu jika seseorang itu adalah yang paling dekat denganmu? Yang setiap harinya berusaha untuk tidak menatapmu? Bagaimana rasamu? Bagaimana reaksimu?

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Marahkah kamu jika aku mengatakan bahwa namamu terukir dalam hatiku? Marahkah kamu jika aku selalu menyebut namamu dalam sejuta doaku? Marahkan kamu jika aku selalu mengenang bayangmu?

Marahkah kamu jika seorang Ilham Ash-Siddiq menaruh hati padamu? Pada Ainun Ash-Siddiqiyah?

Marahkah?’

Source

Ainun terpaku. Sebuah pengakuan yang terbilang manis. Tapi kenapa saat itu dirinya malah murka pada Ilham?

Senyum terpatri di bibirnya, rasa penasaran makin memuncak. Kenapa dulu ia sangat murka dengan perasaan Ilham padanya? Bukankah itu hal yang wajar mengingat mereka tak memiliki hubungan sepersusuan yang mengikat? Tak ada salahnya, ‘kan?

Ainun merebahkan kepalanya di meja. Matanya langsung disuguhkan foto Ilham yang tersenyum tipis. Aiih, tampan sekali suaminya ini. Ainun terkekeh. Rasanya bodoh jika dulu sempat mengabaikan Ilham.

Ah, iya, jam berapa sekarang?

Ainun mengernyit melihat penanda waktu di meja tidak bekerja sama sekali. Jari telunjuknya mengetuk pelan. Dibongkarnya bagian belakang, keningnya makin mengernyit. Pantas saja tak bekerja dengan baik, di sana bukan baterai yang Ainun temui, melainkan kertas lusuh yang warnanya hampir menguning.

Niat awal ingin membuang kertas lusuh itu, namun hatinya berteriak agar ia membuka. Aneh.

📑📑📑
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertama, kuhaturkan beribu terimakasih pada Allah yang telah memberiku tenaga untuk meluapkan segala gundahku di hari ini.

Aku di sini, ingin sedikit bercerita mengenai perjalananku. Lebih tepatnya, ini tentang kisah cintaku.

Aku, Ilham Ash-Shiddiq. Anak sulung dari dua bersaudara. Kepribadianku? Orang-orang mengatakan aku pendiam. Suaraku jarang terdengar, bukan karena aku ingin menjadi bisu, namun aku hanya takut, ketika suara ini mulai keluar, bukan kemanfaatan yang aku ucapkan.

Ada beberapa bencana hati yang pernah aku alami. Pertama, ketika aku mulai menyadari hati ini telah memilih satu nama.

Ainun Ash-Shiddiqiyah.

Nama kami hampir sama? Itu benar, karena aku dan Ainun berasal dari keluarga besar yang sama. Dididik oleh cara yang sama, juga diberi kasih sayang dengan rasa yang sama. Terkadang aku berpikir, kenapa harus Ainun? Kenapa bukan gadis yang lain saja?

Aku pun bingung. Entah kapan rasa padanya mulai tumbuh, merekah, dan berbunga. Hanya saja yang kuingat, saat bertemu dengannya, mata ini malu untuk menatap. Saat bertukar kata, bibir ini kelu untuk berucap. Sejak saat itu aku mulai takut untuk bertemu dengan Ainun, rasanya hatiku tak karuan, dadaku berdegup lancang menyebut namanya. Entah sampai kapan akan begini. Namun aku selalu berharap, semoga apa yang kuucapkan tentangnya akan menjadi syair dalam setiap doaku.

Bencana kedua, ketika aku mengutarakan rasa ini pada Abi.

Harapanku terhempas jauh saat itu, kukira Abi akan mendukung, tapi nyatanya tidak. Seumur hidupku menjadi putra Abi, baru kali itu aku melihat kemurkaan Abi. Sampai-sampai, Ummi yang menyaksikan membanjiri kedua pipinya dengan air mata.

Perasaan resah juga bersalah merayap ke dalam hatiku saat itu juga. Abi menganggap, rasaku pada Ainun merupakan kesalahan fatal. Aku mencoba meyakinkan, namun Abi tak mau dibantah. Melupakan Ainun, adalah perintah Abi padaku.

Saat itu aku tak mau menyerah, namun hati ini remuk seketika saat melihat Ainun berdiri kaku di depan pintu. Matanya memerah, pertanda jika saat itu Ainun tengah menangis. Ainun berlari, menjauh dariku dengan tangisan yang terasa jelas di telinga.

Apa yang lebih menyakitkan saat ia berhenti dan menatapku tajam? Ya, Ainun tak menerima perasaanku. Dengan tegas juga dingin, ia menitahkanku untuk menjauh, pergi darinya dan mengatakan ia muak melihatku.

Hancur? Sangat. Jika diibaratkan kaca, hatiku sudah jatuh berkeping-keping. Dua penolakan aku dapatkan di hari yang sama.

Source

Lantas bagaimana aku melanjutkan cerita hidupku?

Aku berusaha berdiri tegak, meski Abi menumbangkanku berkali-kali. Aku tak peduli, karena menurutku, rasaku pada Ainun bukan suatu aib yang harus ditutupi.

Bencana ketiga datang tak lama setelahnya.

Ainun mengundurkan diri dari restoran. Dia berdalih ingin fokus pada kuliah, namun aku bisa menebak dengan tepat, dia ingin menjauh dariku, dia tak ingin lagi melihatku, atau mungkin saat itu dia mulai membenciku.

Pada saat itu, aku menyerah. Terlampau sakit dengan kenyataan yang ada di depan mata. Terlebih saat Ainun memilih lelaki lain. Tak bisa kujelaskan lagi bagaimana keadaan hatiku saat itu. Aku hanya sibuk menutup mata juga mengurus keberangkatanku ke Madinah.

Madinah bukan pelarianku, tapi Madinah merupakan kota suci yang menjadi saksi bisu bagaimana aku memendam rinduku.
📙📙📙

Pandangan Ainun mulai kabur. Kilasan-kilasan peristiwa yang pernah mengampiri mimpinya berputar acak. Kedua tangannya memegang erat sisi meja.

Sakit sekali. Seperti ditusuk lalu dihantam dengan keras. Kakinya seolah melayang, meninggalkan pijakannya. Dengan lirih Ainun mengucap istighfar berkali-kali.

Tubuh Ainun tersentak. Kesadaran mulai ia dapatkan kembali. Matanya mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar.

Benar-benar aneh. Menit berikutnya Ainun malah merasakan keringanan di tubuhnya, sebuah beban yang teramat besar seolah berhasil diangkat.

Suara deru mobil yang memasuki halaman memberikan efek lain pada tubuhnya. Tegang. Ainun tahu itu Ilham, tapi kenapa rasanya ada buncahan senang juga sedih secara bersamaan?

Ia melangkah, menuruni tangga, matanya langsung bertemu dengan mata Ilham saat tiba di lantai dasar. Kenapa dengan dirinya? Dengan hatinya? Rasanya, Ainun ingin berlari dan memeluk tubuh Ilham. Sebenarnya, kesakitan macam apa yang telah ia torehkan di hati suaminya? Mengapa lelaki itu masih mau menerimanya dengan tulus? Masih mau menemaninya dengan lapang? Mengapa?

Dan mengapa pula, Allah hanya memberikan separuh ingatan yang hilang itu?

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *