Cerpen : Syahdu Part 17

“Sia-,” belum sepenuhnya bertanya, kini Ainun mematung.

“Assalamu’alaikum.” lelaki itu menunduk sopan.

“Wa’alaikumussalam.”

Astagfirullah. Bisa jadi bencana ini.

“Siapa, Ai?”

Ainun menoleh, tersenyum kikuk pada Ilham yang makin mendekat. Dibukanya pintu lebar-lebar hingga menampakkan sosok lelaki itu.

Bisa Ainun rasakan hawa dingin mulai menjalar di sekitarnya. Apalagi saat Ilham menyipitkan mata.

“Maaf ya, Bang Ilham,” cicit Ainun, merasa bersalah sekali. “Ainun gak minta ijin dulu sama Bang Ilham.”

“Apa itu?” tunjuknya pada bungkusan yang di bawa si lelaki.

“Oh, ini pesanan atas nama Mbak Ainun Ash-Shiddiqiyah.”

“Kamu pesan apa?”

“Jilbab,” gigi Ainun yang berderet rapi nampak seketika di depan mata Ilham, “jangan marah, ya? Ya? Ya?” ia mengamit lengan Ilham, sementara si kurir mengarahkan matanya ke langit-langit. Canggung.

“Berapa, Mas?”

“200 ribu sudah termasuk ongkirnya, Mas.”

“Murah, ‘kaaann ….” seru Ainun sumringah sekali saat bungkusan itu berpindah tangan padanya. Apalagi saat Ilham mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dari dompetnya, makin bahagialah Ainun.

“Jadi ini alasan kamu nyuruh Abang berangkat pagi-pagi?” selidik Ilham saat si kurir pamit undur diri dan mereka kembali masuk ke dalam rumah.

Lagi, Ainun menunjukkan sederet giginya. “Kan Ainun gak mau nyusahin Bang Ilham, kalau kayak barusan jadinya Bang Ilham yang harus bayar. Ainun jadi gak enak.”

Hallah!

Ilham sudah paham betul dengan kalimat yang seperti ini. Dulu, sebelum menikah, Azkiya juga sering beralibi macam Ainun.

“Gak marah, ‘kan?”

“Unfaedah.”

Source

Ainun terkikik. Menyebalkan sekali dirinya ini. “Nanti kalau pesan lagi pakai uang Ainun deh.” ucapnya menyadari ekspresi Ilham yang kembali datar. “Janji.”

Ilham menurunkan kelingking Ainun yang mengacung. “Uang suami itu milik istri.”

“Kalau uang istri?”

“Ya milik istri.”

Bibir Ainun melengkung sempurna, “jadi besok-besok, Ainun boleh pesan lagi? Kan uang Ainun banyak.” ia makin merapatkan kaitannya di lengan Ilham.

“Pakai dulu yang ada,” ucap Ilham lembut, “semua barang yang kamu punya nantinya kena hisab lho.”

Ah, iya.

“Tapi kalau sesekali boleh, ‘kan?”

Ilham mengangguk, “selama bermanfaat dan gak mubadzir, Abang gak akan larang.” ia tersenyum geli ketika Ainun memeluknya erat. “Udahan, ah, Abang mau berangkat.”

Ainun mendongak, tatapan matanya memancarkan keheranan. Lengan kokoh Ilham merangkum tubuhnya. “Katanya udahan?”

Kedua sudut bibir Ilham yang terangkat menempel di puncak kepala Ainun. “Hari ini belajar masak, ya? Abang antar ke restoran.” ujarnya mengurai rengkuhan.

“Gimana kalau ternyata Ainun gak semahir dulu, terus malah diomelin?”

Ilham menunduk, mensejajarkan netranya dengan Ainun, “gak akan ada yang berani marahin istrinya Abang,” bisiknya lembut, “di sana, kamu bosnya.”

Aish!
Flashback;

Jemari Ainun mengetuk-ngetuk meja. Orang yang ditunggunya tak muncul juga. Matanya berkeliling, suasana restoran cukup lengang, menilik jam istirahat para pegawai kantoran belum sampai di tempatnya.

“Kenapa gak kasih suratnya sama Santi?”

Ainun berjengkit, kepalanya menoleh ke belakang. “Santi gak masuk.”

Tak mau berurusan lebih lama, Ainun menyerahkan surat pengunduran dirinya. Ia melihat Ilham menghela, gurat wajah yang tegas itu terlihat lelah.

“Bang Ilham kapan berangkat ke Madinah?”

Ilham mengangkat kepala, lantas menunduk kembali. “Tiga minggu lagi.”

“Ainun gak pernah tau Bang Ilham dapat beasiswa di sana.”

“Kamu gak perlu tau.” Ilham berlalu ke ruangannya, sementara Ainun duduk kembali di tempat semula, bibirnya sukses mengerucut.

Kedua mata Ainun berkeliling lagi. Nantinya, ia akan merindukan tempat ini. Perihal pengunduran dirinya memang bukan karena jadwal kuliah, tapi karena perasaan lelaki itu yang berhasil mengacaukan semuanya. Termasuk perasaan Ainun sendiri.

Jika bukan sepupu, mungkin Ainun akan dengan senang hati mengetahui perasaan Ilham terhadapnya. Siapa yang tak mau dengan Ilham? Lelaki tampan dengan usahanya yang terbilang mapan. Tapi sekali lagi, Ainun harus memikirkan status mereka yang berada dalam satu keluarga besar. Ini tidak mudah baginya, ada berpuluh pasang mata yang nantinya akan menolak hubungan mereka.

Source

“Ini uang pesangon untuk kamu.”

Ainun mengerjap, sosok Ilham sudah duduk di depannya, menyerahkan amplop cokelat.

“Kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa balik lagi ke sini.”

“Ainun gak akan pernah balik lagi.”

Sombong sekali. Tapi itulah Ainun. Ego mengalahkan segala rasanya yang lain.

“Itu terserah kamu,” ucap Ilham tenang, “kalau gak ada keperluan lagi, kamu bisa pergi.”

Ainun benci ini. Benci ketika tak bisa meraba maksud dari ucapan Ilham. Hendak beranjak, notifikasi ponselnya berbunyi.

Ilham memerhatikan dalam diam. Wajah masam di depannya terganti dengan senyum manis. Ini yang membuat Ilham mati-matian harus menjaga mata juga rasanya. Senyum Ainun mampu memporak-porandakan hatinya. Sejak dulu, dulu sekali.

Ainun beranjak, tanpa mengucap sepatah kata pun ia melangkah dengan senyum yang tak pudar. Mata Ilham mengikuti gerakan Ainun, bibirnya tersenyum kecut ketika melihat siapa yang tengah berdiri di depan pintu restorannya.

Dia lagi.

Ini yang membuat Ilham makin mantap mengambil beasiswa di Madinah.

Mungkin setelah ini Ilham akan menata kembali hatinya. Melupakan Ainun adalah salah satu cara baginya agar tidak melukai perasaan Abi. Tekad melupakan itu makin kuat ketika cintanya bertepuk sebelah tangan.

Bagaimana pun, Ilham tetaplah putra sulung Abi. Sekuat apapun dirinya berusaha, jika ridho Abi tidak bisa diraihnya, tentu usahanya akan sia-sia, bukan? Apalagi jika gadis itu tak pernah memandang dirinya sebagai lelaki yang memiliki cinta, lengkap sudah derita hatinya.

Niat itu harus ia jalankan, apalagi ketika melihat Ummi yang menangis tergugu di depannya. Kemana hatinya saat itu? Mengapa keras kepala sekali? Mengapa sore itu ia tak mengurungkan niatnya saat melihat raut khawatir di wajah Ummi? Mengapa bisa seegois ini? Kemana perginya Ilham yang selalu patuh?

Duhai, Allah … keluarkan dirinya dalam lingkaran membingungkan ini.

“Sudah ada perubahan?”

Ilham menoleh, tersenyum tipis pada Abi yang berjalan menghampirinya dengan tangan yang membawa dua cangkir teh madu hangat.

“Ilham sedang berusaha.”

Abi menghela napas, “dulu, Abi dan Om Ahmad sering sekali menghabiskan waktu bersama. Om Ahmad itu orang yang mengerti, lebih paham dari Abi. Tapi Abi tidak bisa menjamin kalau kamu mulai bicara, Om Ahmad akan bersikap seperti apa.”

Ilham termenung menatap teh madu yang diberikan Abi.

“Abi, Om Ahmad, dan Om Yusuf dibesarkan dengan cara yang keras. Opa tidak akan segan-segan menampar atau mengusir anak-anaknya jika berbuat kesalahan fatal.”

Ilham makin termenung. Apa maksud ucapan Abi? Ingin mengatakan bahwa rasanya pada Ainun itu sesuatu yang fatal?

“Abi tidak melarang kamu untuk jatuh cinta, tapi tolonglah, pikirkan kebaikan keluarga besar kita. Lihat bagaimana Om Ahmad menyayangi kamu sama seperti Om Ahmad menyayangi anak-anaknya.”

Source

“Jadi menurut Abi perasaan ini aib?”

Abi meneguk salivanya,”bukan.” ditatapnya Ilham, “kamu sudah berusaha sebaik mungkin dalam menjaga hati kamu. Tapi jika gadis itu Ainun, ini rumit, Bang. Apa kamu siap dengan segala resikonya?”

“Tapi Abi, setidaknya beri Ilham kesempatan untuk mengutarakan niat Ilham pada Om Ahmad.”

Ilham menelan kalimat itu bulat-bulat. Cukup sudah dirinya menyakiti hati kedua orang tuanya.

“Mulai malam ini, lihat ke depan, jangan ingat ucapan kamu sore itu. Anggap saja Abi tidak tahu perasaan kamu, dan anggap saja Ummi tidak pernah menangis karena kamu.”

Mau tak mau Ilham mengangguk. Mungkin ini yang terbaik. Berpura-pura amnesia mungkin lebih baik.

“Ummi ada di kamar,” ucap Abi, “katakan pada Ummi kesungguhan kamu untuk melupakan Ainun.”

Ilham mengangguk, berjalan sebisa mungkin menuju kamar Abi, ia mengetuk pintu, namun beberapa saat tak ada jawaban.

“Ummi?”

Dengan perasaan tak menentu, Ilham melangkah masuk. Rasa bersalahnya kian menggunung melihat Ummi yang bergelung lemah dibalik selimut. Ini karenanya, karena keegoisannya.

“Ilham minta maaf,” diraihnya tangan Ummi, dikecupnya beberapa kali dengan bibir yang tiada henti mengulang maaf.

“Ilham minta maaf.”

Ummi hanya terdiam. Mata sendunya menatap Ilham.

“Gak usah minta maaf, Bang,” satu kalimat membuat kepala Ilham terangkat, “perasaan kamu itu fitrah, siapa yang bisa memilih untuk jatuh cinta?”

“Ilham akan melupakan Ainun.”

“Jangan gegabah.” Ummi mengubah posisinya menjadi duduk, dengan kedua tangan yang masih digenggam Ilham. “Ummi mengerti perasaan kamu untuk Ainun sudah lama, proses melupakan tidak akan semudah yang kamu pikirkan, Ilham.”

“Ilham akan coba. Demi Ummi, demi Abi.”

“Pikirkan diri kamu sendiri. Ummi pikir Ainun memang pantas dicintai, dia shalihah.”

“Tapi kami sepupu, Ummi.”

“Tapi kalian bukan mahram.”

Ilham mengusap wajahnya. “Bagaimana dengan Ummi? Dengan Abi?”

Ummi terkekeh kecil, “Ummi gak papa, Bang. Abi pun begitu, beliau hanya ingin menguji kamu.”

“Abi gak setuju, Ummi, Abi gak akan kasih restu.”

Ummi terkekeh lagi, melihat mata Ilham yang terlihat resah, “kamu itu terlalu pesimis, tunjukkan pada Abi kalau kamu sungguh-sungguh. Jika disini pun kamu sudah menyerah, bagaimana di tempatnya Ainun?”

Source

Ilham menghela napas, “lalu dengan Om Ahmad?”

“Mereka itu orang baik, mereka akan ngerti.”

“Caranya buat mereka ngerti?”

“Minta pada Allah.”

Ah, benar.

“Lalu dengan Ainun?”

Lagi-lagi Ummi terkekeh. “Minta pada Allah.”

Flashback off.

Akbar terpogoh-pogoh memasuki ruangan Ilham, matanya liar mencari, namun sosok adik ipar tak juga ia temukan.

“Kamu lihat Ilham?”

Seorang pegawai yang tengah berjalan melewati ruangan Ilham berhenti sejenak, “baru saja keluar, Pak.”

Aish!

Benar saja, Ilham sudah melajukan mobilnya saat Akbar tiba di parkiran.

Ilham mengemudikan mobilnya menuju restoran. Sepuluh menit yang lalu, Bunda meneleponnya, mengabarkan kalau Ainun jatuh pingsan si restoran, entah karena apa, tapi Ilham khawatir sekali.

Ponsel di saku jasnya bergetar, ia memberhentikan mobil di pinggir jalan.

Pesan dari Ainun.

  • Kata dokter Ainun gak papa, Bang Ilham gak usah nyusul. Ainun mau langsung pulang sama Bunda.

Ia mengembuskan napas lega. Ponselnya bergertar lagi.

  • Tapi pulangnya bawa apel, ya? Itu saran dari dokter.

Ilham meneguk salivanya. Gadis itu selalu saja membuatnya kalang kabut seperti ini. Ia keluar dari mobil, berhubung sekitar empat meter dari mobilnya terdapat kedai buah.

Ia memilah beberapa apel hijau dan merah.

“Apel ini mengandung nutrisi yang sudah sangat terbukti bisa mencegah adanya penyakit.”

Kepala Ilham menoleh ke kiri, ia mendapati Ari tengah berjongkok di depan anak laki-laki. Sejak kapan lelaki itu ada di sekitarnya?

“Beberapa kandungan di dalamnya seperti mineral, kalsium, vitamin, fosfor, dan masih banyak lagi. Mengkonsumsi buah apel setiap hari dipercaya bisa memperbaiki adanya kerusakan pada jaringan otak.”

Anak kecil itu mengangguk-angguk, menerima apel yang diberikan Ari, lantas berlari riang setelah mengucap terimakasih. Ilham tersenyum tipis saat Ari beralih pandang melihatnya.

Canggung? Tentu saja, bagaimana pun, lelaki itu pernah … ck, lupakan!

“Apa kabar, Bang?”

“Alhamdulillah.” jika tidak ingat dengan ‘almuslimuuna ikhwah’ maka Ilham benar-benar tidak akan pernah menyambut uluran tangan lelaki itu.

Dua lelaki, yang dulu pernah berjuang untuk mendapatkan hati yang sama kini berhadapan. Jika Ari selalu mengangkat kedua ujung bibirnya, lain hal dengan Ilham.

“Anggur juga salah satu obat untuk penderita amnesia, Bang.” Ari mengambil buah anggur yang menggantung menggemaskan di depannya.

Mata Ilham memicing, sedikit curiga pada Ari yang menuturkan manfaat anggur dengan sangat ramah.

“Anggur akan memperbaiki sel tubuh yang rusak dan mengurangi gejala amnesia karena di dalamnya terdapat kandungan antioksidan yang cukup tinggi dan sangat baik jika dikonsumsi secara rutin untuk penderita amnesia.”

“Apel saja, Mas?” pegang buah menghentikan tatapan mata Ilham pada Ari.

“Iya.”

Source

“Tambah anggur sekalian, Bang? Biar saya yang bayar.”

Ilham kembali memicing. Apa lelaki itu pikir ia tidak bisa membayar?

“Mau ditambah anggurnya, Mas?”

Ilham mengangguk, sebenarnya risi membiarkan buah berwarna ungu itu masuk bersama apel yang telah dipilihnya. Tapi ini demi kebaikan Ainun, hati bersihnya masih mengingatkan.
Ainun memijat pelipisnya. Ilham tengah mengantarkan Bunda dan Ummi ke depan rumah. Di meja, ada plastik hitam yang Ainun yakini berisi buah apel.

“Apelnya mau dijus, atau dipotong kayak biasa?” Ilham menghampiri, duduk di atas karpet.

“Itu apa, Bang? Anggur, ya?” Ainun mengambil alih plastik di tangan Ilham.

“Jangan dimakan!”

Ainun urung memasukkan anggur ke dalam mulutnya.

“Abang cuci dulu semuanya.” Ilham beranjak ke dapur, mencuci apel dan anggur secara bergantian. Ia tersentak saat dua lengan memeluknya dari belakang.

“Tadi pas pulang muka Bang Ilham kusut banget, kenapa?”

Bisa Ilham rasakan punggungnya menghangat. Ia berbalik menghadap Ainun, mengecup kening istrinya sekilas. “Mikirin kamu.”

“Sampai segitunya.”

Ilham terkekeh. Ia berbalik lagi, mengambil buah-buahan dan menatanya di keranjang meja makan.

“Ainun mau anggurnya, ya?” ia duduk manis di samping Ilham.

“Abang tiup dulu.”

Ainun bergidik geli, “ngapain ditiup-tiup segala?”

“Takut ada jampenya, ‘kan bahaya.”

“Su’udzan ih.”

Ilham hanya terkekeh, sambil berdoa dalam hati agar anggur yang tengah dikunyah Ainun benar-benar telah bersih dari pengaruh Ari. Walau bagaimana pun, buah itu telah disentuh Ari, dan Ilham tak rela ada kontak secara tidak langsung antara lelaki itu dangan istri manisnya.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *