Cerpen : Syahdu Part 16

Menghindar, adalah salah satu cara pengecut yang kini ditempuh Ilham. Sejak malam itu, Ilham makin tenggelam dalam sikap diamnya. Jika pagi telah tiba, ia bergegas pergi ke kantor dan pulang ketika bulan telah nampak di langit malam.

Ilham bukannya tak menyadari ketidaknyamanan Ainun terhadap sikapnya.

“Kalau kamu penasaran, kenapa hanya di bagian itu?” tanyanya malam itu. “Abang sudah bilang akan menceritakan semuanya, ‘kan? Tapi bagaimana reaksi kamu? Kamu belum siap. Dan sekarang, kenapa malah bertanya tentang dia?” setiap kalimatnya terdengar dingin, seolah tanpa emosi. “Apa kamu gak penasaran dengan kisah kita kenapa memilih untuk menikah?”

Lelaki mana yang tak marah ketika wanitanya lebih memilih topik lain untuk dibahas saat mereka tengah bersama?

Ilham adalah lelaki pencemburu. Rasanya untuk Ainun terlampau besar. Jadi tak akan heran jika dadanya tiba-tiba terasa sesak saat nama lelaki lain meluncur dengan manis dari bibir istrinya. Berlebihan? Iya. Tapi tidak semua orang bisa meraba apa yang tengah dirasakannya. Rasa takut kehilangan, hingga trauma pada hari itu membuatnya jadi begini, seperti orang kehilangan akal saat hujan disertai petir menyapa bumi.

“Pokoknya Bang Ilhan tenang, Ainun pergi cuma sebentar, setelah itu pulang lagi ke rumah.”

Kalimat itu terus terngiang. Kata sebentar itu nyatanya tak pernah terlukis dengan nyata, malah tergantikan oleh penantian yang semakin panjang.

Ilham melafalkan istighfar, pikirannya sudah berkelana sangat jauh.
Jam menunjukkan angka sembilan saat Ilham keluar dari kantor. Langkah kakinya terseok menyedihkan. Pekerjaan hari ini benar-benar menguras seluruh energi dan waktunya. Bahkan seharian ini, ia mengabaikan pesan beruntun yang dikirim Ainun.

Ada buncahan berlebih ketika menyusuri jalanan menuju rumah. Selalu saja begitu. Karena waktu seperti inilah waktu emasnya. Sepulang dari kantor, Ainun pasti menunggu di ruang tamu, senyum merekah akan ia temui saat membuka pintu. Pelayanan yang lainnya pun Ilham nikmati dengan senang hati. Tutur kata lembut istrinya, matanya yang penuh binar. Ah … ia jadi ingin segera sampai di sana. Bertemu bidadarinya. Sedikit canda selalu bisa menguapkan lelahnya.

Namun sepertinya, pil pahit harus ia telan malam ini. Ilham menepuk keningnya sendiri, merasa bodoh karena beberapa hari ini ia mengabaikan Ainun. Rasa kecewa harus ia telan baik-baik. Apalagi saat matanya disugihi pemandangan yang luar biasa. Keadaan rumah yang seperti tidak dibenahi. Ilham berdecak karena kertas-kertas origami berserakan di karpet, laptop milik Ainun masih menyala terang, air yang tumpah di sana-sini.

Keadaan ruangan yang lainnya pun tak kalah membuat emosinya tersulut. Ruang tv yang biasanya terlihat nyaman kini entah harus didefinisikan seperti apa. Masuk ke dapur, rahangnya makin mengeras. Meja makan yang tumpah ruah oleh berbagai sisa sayuran, kursinya yang tidak tertata rapi, piring kotor di mana-mana, juga isi kulkas yang acak-acakan.

Astagfirullah …

Kalimat istighfar menemaninya menuju kamar. Dengan rasa kesal yang masih meluap, geraman kecil lolos dari bibirnya karena kondisi kamar pun menyakitkan mata.

Source

“Assalamu’alaikum.” suaranya sedikit dingin. Ilham berdecak karena istrinya meringkuk seperti janin dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. “Hari ini kamu gak ke mana-mana, kan?” ia membuka pintu kamar lebar-lebar yang terasa panas, padahal ac menyala dengan setianya. Tangannya membuka dasi juga jas hitamnya.

“Kenapa rumah bisa acak-acakan kayak kapal pecah? Seharian ini kamu di rumah, kan?” ia malah berjalan menuju kamar mandi, membersihkan tubuh dan mengambil wudhu. “Ainun?” sedari tadi tak ada jawaban yang biasanya menimpali.

Di balik selimut, Ainun menggigit bibir. Sebotol air hangat dirapatkan menyentuh perutnya. Ah, selalu saja begini.

“Ayo bangun dulu sebentar.” Ilham menyibak selimut. “Kamu gak biasanya begini.”

Mungkinkah ini salah satu pembalasan dendam? Lelah diabaikan membuat Ainun berlaku demikian?

Ainun bergeming dalam duduknya. Perutnya benar-benar seperti dililit, sulit untuk dijelaskan, namun rasanya sakit sekali.

Alis Ilham terangkat, termenung sesaat menyadari tak ada rona di pipi istrinya. “Kamu sakit?” suara dinginnya berubah menjadi nada khawatir.

“Kenapa perutnya?” tanya Ilham lagi saat Ainun menekan-nekan perutnya dengan wajah meringis. “Magh?”

Ainun menghela, berusaha menekan emosinya yang entah kenapa seperti dipancing. Matanya terus mengawasi Ilham yang membuka beberapa laci, suara-suara itu membuat perutnya seolah semakin dililit.

“Atau ini gara-gara makan cabe waktu itu?”

Ainun meringis lagi, ingin sekali menimpali Ilham yang terus berucap. Apa hubungannya dengan cabai yang ia makan dua hari yang lalu?

“Makanya, jangan suka khilaf kalau makan pedes.”

“Obat sakit perutnya di mana, ya? Perasaan Abang simpan di sini.” Ilham bermonolog sendiri. Ia berbalik, matanya membola saat Ainun berguling sambil meringis. Dilihat dari raut wajahnya, istrinya benar-benar kesakitan.

“Itu benaran sakit?”

“Iyalah, Abang!” Ainun kembali meringis, dia berusaha duduk. “Ini tuh bukan sakit perut biasa.”

“Mana ada sakit perut luar biasa?” Ilham berkacak pinggang, beringsut mendekati Ainun. “Bolak-balik kamar mandi?”

“Nggak.”

Ilham menggaruk kepala. “Kamu tunggu di sini, Abang ke apotek dulu.”

“Gak usah, nanti juga sembuh sendiri.”

“Pokoknya tunggu sebentar!”
Setengah jam berlalu, deru mobil yang memasuki halaman dan suara ketipak langkah sepatu membuat Ainum mengangkat kepala. Ilham datang terpogoh-pogoh dengan menenteng plastik putih berlogo salah satu apotek di dekat kompleks.

“Nih, buruan minum obatnya. Tadi orang apoteknya bilang gak perlu makan dulu, langsung minum gak papa.”

Source

Ainun mendengus. “Ainun gak butuh obat itu, Abang ….”

“Kamu sampe meringis gitu bilang gak butuh obat. Jangan sok kuat!” sela Ilham. “Buruan!”

Aduh, Allah … suaminya ini ….

“Ainun itu bukan sakit perut yang mencret-mencret! Tapi sakit perut karena datang bulan!” pekiknya.

Ilham melongo.

Suasana hening untuk beberapa saat, hingga Ilham menatap nanar pada dua botol obat yang ia simpan di atas nakas.

“Beneran itu gak papa, ‘kan?” cicitnya pelan. “Maksudnya, gak dikasih obat gak bakalan kenapa-napa? Abang lihat kayaknya sakit banget.”

“Bunda bilang nanti sakitnya hilang sendiri, siklus bulan lalu juga begini.”

Ilham beringsut duduk, “tapi kamu kesakitan begitu t-.”

“Jangan lebay!” potong Ainun. Matanya memicing, kemana sikap Ilham yang selama dua hari ini mengabaikannya?

Ilham menghela napas, membuangnya perlahan. “Kalau setiap bulannya begini kamu sanggup?”

“Ya mau gimana lagi? Namanya juga perempuan, ini wajar.”

“Rasanya sakit banget?” Ilham masih kepo.

“Banget. Kayak dililit. Tapi Bunda bilang kalau sudah menikah rasa sakitnya bisa berkurang, bahkan bisa hilang.”

“Kita sudah menikah, ‘kan?” tanya Ilham heran. “Kenapa rasa sakit itu belum hilang?”

Pipi Ainun bersemu. “Maksudnya Bunda itu bakalan hilang kalau ….” Ainun mengangkat jari telunjuk dan jari tengah, lantas menggoyangkannya di depan wajah Ilham.

“Kalau apa?”

Ah, Ilham telmi.

“Kalau kita melakukan hal yang cuma bisa dilakukan orang yang sudah menikah!”

O-hohoh. Ilham bergidik geli.

Satu cubitan di pinggang membuat Ilham tergelak, ditambah pipi Ainun yang sudah bersemu merah. Ah, mereka memang belum pernah menginjak ke arah sana.
Pagi ini lebih baik dari pagi kemarin. Tak ada lagi kebisuan berkat kekonyolan Ilham kemarin malam. Suasana mencair seiiring waktu, menumbuhkan kembali bunga yang sempat layu.

“Perutnya udah gak sakit lagi, ‘kan?”

“Iseng deh!”

Ilham terkekeh melihat bola mata istrinya berputar. Sebagai suami yang baik, ia hanya berusaha menjalankan tugasnya dengan baik pula. Salah satunya menanyakan kondisi istrinya. Lalu, letak kesalahannya di mana?

“Buruan berangkat, kemarin-kemarin juga berangkatnya pagi-pagi buta begini.”

“Suka nyindir deh.”

Kali ini Ilham yang memutar bola mata, Ainun yang melihatnya terkekeh geli. Agak aneh melihat ekspresi suaminya yang begitu.

Tok-tok-tok.

“Biar Ainun yang buka,” ucapnya karena Ilham belum selesai menyantap sarapannya.

“Sia-,” belum sepenuhnya bertanya, kini Ainun mematung.

“Assalamu’alaikum.” lelaki itu menunduk sopan.

“Wa’alaikumussalam.”

Astagfirullah. Bisa jadi bencana ini.

“Siapa, Ai?”

Ainun menoleh, tersenyum kikuk pada Ilham yang makin mendekat. Dibukanya pintu lebar-lebar hingga menampakkan sosok lelaki itu.

Bisa Ainun rasakan hawa dingin mulai menjalar di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *