Cerpen : Syahdu Part 14

Satu kata untuk cuaca hari ini, mendung. Langit yang tadi pagi berwarna biru berubah menjadi kelabu. Ainun sudah kembali dari Roudhotul Jannah sejak satu jam yang lalu. Kini, ia tengah menyibukkan diri dengan buku-buku yang tempo hari diberikan Ilham. Menatanya di rak buku, juga sedikit membenahi letak posisi beberapa berkas yang menyatu dengan buku fiksi. Ruang perpustakaan ini merangkap sebagai ruang kerja. Ada satu meja dan satu kursi formal, sedangkan di dekat jendela yang menghadap ke samping rumah terdapat dua kursi baca.

Sebenarnya, keinginan dalam hati Ainun sudah memberontak kuat untuk menyentuh laptop, namun Ainun ingat dengan kilasan mimpinya akhir-akhir ini yang terbilang aneh, mirip seperti drama. Ainun tidak menceritakan detail mimpinya seperti apa pada Ilham, ia hanya mengatakan kalau mimpinya itu seperti adegan drama. Dan tentunya, Ilham makin melarang Ainun untuk melanjutkan tontonannya. Mau atau tidak, Ainun harus patuh.

Selesai menata, Ainun memilih satu buku dengan judul yang menarik, ia duduk nyaman di kursi baca, sedangkan jendela di depannya dibiarkan terbuka lebar hingga menampakkan tetesan air dari langit yang turun perlahan. Semilir angin menyapa permukaan kulitnya, dingin namun terasa menyejukkan.

Gemercik air, dedaunan yang bergesek seirama membuat matanya menjadi berat. Buku dipangkuannya terabaikan begitu saja saat matanya tertutup sempurna.

Sedangkan di tempat lain, hujan lebat membuat seorang lelaki gelisah. Berkali-kali ia mensugesti dirinya sendiri jika hujan bukanlah bencana, hujan ini berkah. Kedua tangan kokohnya yang berada di atas meja kini bergetar, tubuhnya juga seolah kehilangan tenaga. Ilham tak mampu beranjak dari kursi, kakinya seperti dipasung.

Satu jam yang lalu ia sempat berkirim pesan dengan Ainun, dan istrinya itu mengatakan telah sampai di rumah. Jadi seharusnya, Ilham tak gelisah seperti ini.

Ainun baik-baik saja. Pasti.

Tapi gelisah dalam hatinya tak mampu ia bendung. Derasnya air yang turun di balik jendela benar-benar membuatnya tak tenang. Ilham mengatur napas, memejamkan matanya sesaat. Ah! Ia menyerah. Ilham meraih kunci mobil dan melangkah lebar keluar dari ruangannya, mengabaikan sapaan beberapa pegawai, juga teriakkan Akbar yang memanggil namanya. Ilham mendadak tuli, semua indera di tubuhnya hanya terpusat pada Ainun.

Ia menerobos hujan, tak peduli dengan bajunya yang basah kuyup seketika. Yang penting, ia sampai di rumah dan memastikan Ainun baik-baik saja, begitu batinnya terus berucap.

Mobil dilajukan dengan kecepatan sedang. Berkali-kali Ilham berdoa dalam hati agar selamat sampai tujuan. Jalanan yang licin, juga kondisi lalu lintas yang padat merayap membuatnya harus pandai menginjak pedal rem dan gas bergantian.

Kuda besi yang dikendarainya telah sampai di depan rumah. Ilham setengah berlari, matanya berkeliling mencari sosok Ainun. Menuju dapur, tak ada. Kamar juga tak ada. Ia berusaha tenang, matanya melihat ruang kerja yang terbuka. Tanpa menunggu lama, ia masuk ke dalam sana. Napasnya berembus lega ketika mendapati Ainun yang tengah terpejam damai.

Seharusnya tak berlebihan seperti ini.

Source

Ilham mengusap wajah, segera menutup jendela. Tetesan air di rambutnya jatuh membasahi kerah baju. Digenggamnya tangan Ainun, mengusapnya pelan, sekedar meyakinkan dirinya sendiri kalau Ainun ada di depan matanya dan baik-baik saja.

Ainun menggeliat pelan. Merasa tidurnya terusik, ia membuka mata. Keningnya mengernyit. “Katanya pulang jam lima? Ini masih jam satu.” ucapnya heran ketika melihat penunjuk waktu di pergelangan tangan kirinya.

Ilham hanya tersenyum tipis. “Tadi ngapain aja di RJ?”

Ainun menyandarkan kepalanya di bahu sofa, ekspresinya tidak menunjukkan keheranan sama sekali terhadap pertanyaan Ilham. “Lihat anak-anak yang sakit, mereka kena flu. Rania bilang awalnya yang sakit cuma dua orang, tapi sekarang hampir semua anak-anak kena.”

Lagi, Ilham hanya tersenyum tipis. “Dibawa ke dokter?”

“Gak perlu. Di sana ‘kan ada Kak Ari, katanya juga dia calon dokter, udah buka praktik sendiri. Padahal Ainun bingung, memangnya yang belum lulus kuliah bisa buka praktik, ya?”

“Tadi ketemu Ari?”

Ainun mengangguk.

“Ngobrol apa?”

“Banyak.” Ainun tak menyadari rahang Ilham yang mengatup. “Ternyata Kak Ari jago urus anak-anak, kayak dekat gitu sama mereka. Tadi juga pas giliran periksa gak ada yang nangis. Setau Ainun, waktu di rumah sakit, dan lihat anak-anak masuk ruang periksa mereka nangis-nangis.”

Ilham melepaskan genggaman tangannya dan beranjak.

“Bang Ilham mau ke mana?”

“Balik ke kantor.”

“Di luar ‘kan hujan, Bang, gak mau temenin Ainun di rumah, gitu?”

Ilham berbalik, menatap Ainun yang tengah tersenyum jenaka padanya. “Gak.” ia melengos lagi.

Ainun mencebik, tubuhnya menggeliat lagi. Ia menyimpan buku, memposisikannya di rak dan mengikuti langkah Ilham yang masuk ke dalam kamar.

“Katanya mau balik ke kantor?” tanyanya saat Ilham tengah memakai kaos rumahan.

“Kamu ngapain ketemu sama Ari?”

Ainun mengernyit. “Bang Ilham kenapa?”

“Kamu ngapain ketemu sama Ari?”

Source

Ainun menggaruk pipi. “Cuma kebetulan, gak sengaja.”

“Kebetulan yang menyenangkan?”

“Memangnya kenapa sih kalau Ainun ketemu Kak Ari?”

Ilham keluar kamar, perutnya mendadak minta diisi.

“Bang?”

Lelaki itu tak menoleh sama sekali. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa potong sosis. Diambilnya mentega dan mulai sibuk sendiri, mengabaikan Ainun yang menatap bingung di sisinya.

“Ainun ‘kan cuma tanya. Kalau Bang Ilham gak mau jawab ya udah.”

Barulah Ilham menoleh. “Lapar gak?”

Ah! Lelaki ini benar-benar sulit dimengerti.

“Nih!” Ilham memberikan satu buah jeruk nipis dan pisau. “Potong yang rapi.”

Ainun mulai memotong, membelahnya menjadi dua. “Apalagi?”

“Olesin menteganya ke sosis.” Ilham mengomando, tangannya terlipat di dada. “Jangan sampai belepotan.”

“Yang ini juga?” Ainun menunjuk tiga potong sosis di atas piring. Ilham mengangguk.

Tubuh lelaki itu bersandar di tembok, memerhatikan Ainun dari belakang. Matanya menatap kilatan di jari manis Ainun. Ari tahu kalau Ainun sudah menjadi istrinya, dan lelaki itu pun tak akan berani mengganggu. Tapi mengapa hati Ilham selalu saja panas mendengar nama itu meluncur di bibir Ainun?

Ia maju beberapa langkah, lengannya bergelayut di leher Ainun.

“Jangan ganggu kalau gak mau bantu!”

Bibir Ilham berkedut. Ia sadar diri kalau sikapnya selalu menyebalkan, terlihat sok misterius dengan segala kediamannya. Tapi inilah dirinya, Ilham hanya senang memendam segala sesuatunya sendirian. Termasuk dalam hal mencintai istrinya ini. Kapan dia pernah menyatakan cintanya pada Ainun? Tidak pernah.

“Masak yang enak.”

“Abang tau sendiri kalau Ainun gak bisa masak. Mungkin dulu mahir, tapi ‘kan sekarang beda.”

Ilham terkekeh, menurunkan lengannya ke perut Ainun. “Nanti kalau gak enak, kamu yang Abang makan.” ucapnya yang sekali lagi terdengar menyebalkan.

Ainun berbalik. “Kalau Ainun dimakan, nanti Bang Ilham hidup sama siapa? Memangnya bisa hidup tanpa Ainun?”

Lelaki itu bergeming. Ucapan istrinya memang ringan dan tidak bernada serius, namun entah kenapa terkesan seperti belati tajam yang menghujam dada.

“Ya ‘kan? Jadi, selagi Ainun ada di sini, di depan mata Bang Ilham, jangan nyebelin, jangan sok misterius, jangan suka kasih kode yang gak jelas, Ainun gak ngerti.” jadilah Ainun menumpahkan kata sepanjang jalan kereta, membuat Ilham makin bergeming. “Kalau misalnya Ainun ada salah, ya bilang salah. Atau ada sikap Ainun yang gak Bang Ilham suka, tinggal bilang. Nanti Ainun perbaiki semuanya.”

“Kamu marah?”

Telapak tangan kanan Ainun menepuk kening. Memangnya ia seperti orang yang tengah emosi? Nada suaranya terdengar tinggi?

“Di sini yang gak peka itu Bang Ilham atau Ainun sih?”

“Kamu.”

Aish! Kesabaran Ainun diuji, apalagi saat ibu jari Ilham menyentuh kening, mata, hidung, dan bibirnya bersemayam di pipi. Ainun tersipu. Namun bibirnya mengerucut, mengundang Ilham untuk mendekatkan wajah, membagi embusan napas di saat suara gemercik hujan masih terdengar.

Ilham merapatkan bibir, berusaha menahan tawa saat mata Ainun mulai tertutup. “Ngapain tutup mata?” ucapnya geli.

Ainun mengerjap saat matanya terbuka. “Iseng banget!”

Ilham terkekeh. “Mau?”

“Apa?”

Ilham mendekatkan lagi wajahnya, ia menanamkan satu sentuhan lembut di bibir Ainun. Wanita itu meradang, hendak memberi tinju, namun suaminya itu sudah mengambil langkah seribu dengan kekehan yang tak mereda saat sosoknya menghilang di balik pintu.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *