Cerpen : Syahdu Part 13

Ilham mencelupkan sapu tangan ke dalam baskom berisi air hangat, lalu meletakkannya di kening Ainun. Sedari tadi suhu badan istrinya tak mau turun. Bahkan sekarang, Ainun menangis dalam tidurnya.

“Ai?” ia menepuk pelan pipi Ainun, mencoba membangunkan. “Istighfar.” lirihnya. Ibu jarinya mengusap alis Ainun, sekedar menghilangkan kerutan di sana.

Kedua mata Ainun bergerak, terbuka perlahan. Kepalanya berdentum keras. Sakit sekali rasanya.

“Istighfar.”

Ainun melafalkan istighfar saat kesadaran mulai ia dapatkan. Tangannya bergerak mengusap wajah, menatap sendu pada Ilham yang mengusap rambut hitamnya.

Hanya mimpi.

Mimpi yang terasa nyata.

“Dari tadi ngingau terus.” Ilham melepas kompresan, mencelupkan dan meletakkannya lagi di kening Ainun. “Badan kamu panas.” beritahunya saat Ainun masih saja terlihat kebingungan.

Ainun beranjak duduk, tangannya meraba kening. Panas. Ia meringis saat dentuman di kepalanya makin terasa. “Pusing.” ucapnya sambil menekan-nekan puncak kepala.

Tangan Ilham terulur, mengenyahkan tangan Ainun. Ia mendekat, merangkum puncak kepala Ainun lantas dibacakannya sebuah doa. “A’udzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadzir.” dilafalkannya doa tersebut hingga tujuh kali. Ilham mendapat pengetahuan tersebut semasa kuliah dulu di salah satu kajian.

—Utsman bin Abu Al-Asy’ash Ats-Tsaqafi mengadukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ada sesuatu yang sakit ditubuhnya sejak dahulu ia masuk islam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa di atas, sambil memerintah dengan meletakkan tangan di bagian sakit pada badannya.—

“Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari kejelekan yang aku dapatkan dan aku waspadai.” Ainun membacakan arti dari doa tersebut dengan wajah yang sesekali menahan sakit.

“Aamiin.”

Bibir Ainun tersenyum tipis saat Ilham mengecup keningnya. Tentang mimpi anehnya tadi, ia merasakan ngilu di hatinya. Melihat raut Ilham yang seolah putus asa mampu menghantam dadanya tanpa ampun.

“Bang Ilham belum tidur?”

Ilham menggeleng, “Abang baru selesai nonton bola, pas masuk kamar lihat kamu menggigil tapi badannya panas, ya udah Abang kompres.” itu hanya alasan. Dan lagi, Ilham tak mampu mengatakan kekhawatirannya sendiri tentang Ainun. Payah.

“Ainun udah baikan, doa tadi manjur.” tawanya berderai hambar, bahkan tawa itu tak sampai ke matanya. Ainun terlalu sibuk mengalihkan rasa sakit di kepala.

“Ya udah, tidur lagi.”

Source

Ainun kembali berbaring, tangannya menepuk sisi kiri ranjang yang masih kosong. Ilham mengerti, ia pun membaringkan tubuhnya.

“Barusan mimpi apa?”

“Gak tau.” Ainun merapatkan selimut. “Mimpinya aneh, kayak drama.”

Ilham mencebik, tubuhnya sudah dimiringkan menghadap Ainun. “Sampai nangis begitu.”

“Nangis?”

“Iya.”

Mata Ainun menatap langit-langit kamar. Ada ketakutan yang mulai merayap perlahan. Tapi Ainun bingung untuk mengartikan ketakutan itu sendiri. “Tadi sebelum tidur Ainun lupa gak ambil wudhu.”

“Gak tilawah juga.” tambah Ilham.

Ainun ikut memiringkan tubuh, menatap wajah Ilham. Lantas memeluknya erat. Sedangkan Ilham mematung. Degupnya berpacu amat cepat.

“Kok diem?” Ainun mendongak, tangan jahilnya mengelus jenggot Ilham yang hanya beberapa helai itu.

“Kamu kenapa? Lagi sakit jadi aneh begini.”

Bibir Ainun mengerucut, namun kembali memeluk erat tubuh Ilham. “Ainun sayang sama Bang Ilham.”

“Iya, Abang tau.”

“Tau dari mana? Kan Ainun baru bilang.”

“Dari mata kamu. Jika seorang perempuan jatuh cinta, matanya akan bersinar,” Ilham mengusap dua mata Ainun, “seperti ini.”

Pipi Ainun sudah bersemu, meninggalkan rona malu-malu di wajahnya. “Kalau laki-laki jatuh cinta?”

“Dia akan berbuat apa pun untuk wanitanya.”

“Sama seperti Bang Ilham.” ucap Ainun.

“Memangnya Abang berbuat apa?”

“Banyak. Salah satunya tetap memperjuangkan Ainun dengan ingatan yang hilang ini. Bukankah itu salah satu bentuk cinta?”

“Masa sih?” Ilham bertanya dengan ekspresi yang menyebalkan. “Alasan Abang menikahi kamu karena gak ada yang mau sama kamu, Ainun. Kamu ‘kan jelek.”

“Ada ya, yang jelek tapi tidurnya selalu diliatin?”

Skak mat! Ilham ketahuan.

“Yang diam-diam kasih perhatian?” lanjut Ainun. “Yang jadi dingin saat si jelek dekat dengan yang lain?” bibirnya terangkat, tersenyum mengejek. “Udah, Ainun tau kalau Bang Ilham cinta sama Ainun.” ucapnya percaya diri. “Gak perlu bilang, karena setiap perlakuan Bang Ilham sudah mencerminkan semuanya. Jazaakallah khair untuk cinta yang tak kasat mata.” ia terkekeh kecil dengan ucapannya sendiri. Tangannya mulai mengalung di leher Ilham, ia mendekatkan wajah hingga napasnya beradu embus.

Hanya itu saja, selebihnya tak ada pergerakan yang lebih berani. Ainun terlalu malu untuk memulai.

Mata mereka bertemu pandang, mulai mengembangkan rasa yang sedari dulu hadir menemani. Ilham merasakan dadanya melonjak kegirangan, namun ia tetap pada ekspresi biasanya.

“Kalau besok panasnya belum turun, kita ke dokter, ya?”

Ainun mengangguk, menaikkan selimut hingga pundak. Perlahan tapi pasti, kantuk mulai menyerang, membuat matanya kembali tertutup.

Ilham menunduk, napas Ainun sudah berembus teratur, dengkuran halusnya juga sudah terdengar. Bibir Ilham mengecup kening Ainun.

“Syafakillah, Shalihah,” bisiknya dengan senyum hangat yang terpatri.

Pagi-pagi sekali, rumah Ayah sudah ramai dengan kehadiran pasangan baru. Suasana makin riuh saat Ainun terus menempel pada Ilham, membuat semua orang yang melihatnya mengundang bibir untuk berkomentar.

“Lemnya manjur, Bunda.” sindir Asmara, ia terkekeh geli saat Ainun memutar bola mata. “Nanti beliin juga buat Bang Akbar.” kini Akbar yang mendelik.

“Gak bisa beli, Dek, lem yang seperti itu gak dijual sembarangan.”

Aiih, Bunda menimpali dari dapur.

“Belinya pakai mahar ya, Bun?”

Source

“Iya.” jawab Bunda, kedua tangannya membawa bakul yang berisi nasi goreng hangat.

“Tuh, Bang! Buruan!” kompor Asmara, gadis remaja yang satu ini memang paling senang mengompori Akbar.

“Buruan apa?” tanya Akbar, dia sudah keki setengah mati pagi ini.

“Nikaaah!”

Ilham merapatkan bibir, berusaha keras untuk tidak tergelak. Bukan apa-apa, di hadapannya ada Ayah yang tengah menikmati teh hijau hangat buatan Ainun.

“Nikah itu gak segampang kamu ngomong simsalabim!”

“Juga gak serumit yang Bang Akbar pikirin.” timpal Ainun.

Lagi, Akbar hanya bisa mendelik. Ia jadi korban pagi ini karena kedatangan Ilham dan Ainun. Padahal, kemarin ia mendapatkan kabar dari Ilham kalau Ainun tengah sakit. Tapi sekarang, gadis yang katanya sakit itu terlihat ceria, bahkan bisa meledeknya tanpa ampun.

“Assalamu’alaikum!”

Suara salam dari ruang tamu mengalihkan perhatian semua orang. Akbar beranjak.

“Siapa?” tanya Bunda setelah Akbar kembali duduk di kursinya dengan wajah kusut.

“Pagi, Tante.”

Ah, Faris. Lelaki itu menyalami Ayah dan Bunda bergantian, di belakangnya ada Farhan yang mengikuti.

Ayah melihat penunjuk waktu di pergelangan tangan kirinya. “Masih jam enam, kalian kepagian.”

Faris terkekeh. “Ada misi khusus, Om.”

Kening Ayah berkerut. “Misi apa?”

“Kabur dari Mami.”

Farhan menepuk kening. Sepanjang perjalanan, ia sudah memberitahu Faris agar tidak bicara macam-macam.

“Duduk, sini duduk.” entah kenapa, Akbar menyilakan kembaran itu mengisi kursi yang masih kosong.

“Memangnya kalian buat salah apa sampai harus kabur dari Mami kalian?” tanya Bunda.

Faris menunduk, seolah mengheningkan cipta atas nasibnya yang sedari dulu tak pernah berubah. Ia mengangkat kepala, matanya mendramatisir keadaan yang tiba-tiba hening. “Mami mau melancarkan rencana perjodohan lagi, Tan. Ini semua karena keberhasilan Papi menikahkan Raffa dengan Rania.”

Akbar terbahak sambil mengelus-elus dada. Untung saja Ayah dan Bunda tidak pernah berpikir sampai sana. Jika sampai terjadi, ia akan kelabakan sendiri karena tidak memiliki sekutu untuk menolak rencana perjodohan.

“Memangnya sudah ada kandidat yang pas?” tanya Ayah setelah kekehannya mereda.

“Alhamdulillah belum, Om. Maka dari itu, selagi bisa, Farhan dan Faris akan terus menghindar.”

Bunda menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir. “Coba dilihat dulu calonnya, kalau gak cocok ‘kan bisa bilang.”

“Kalau cocok, Bunda?” tanya Asmara, ia mendapatkan pelototan dari Faris.

“Bisa dilanjutkan ke jenjang berikutnya.”

“Wiiih,” remaja itu terkikik, “kenapa Bunda gak minta cariin buat Bang Akbar?”

“Memangnya Abang mau?” kini Ainun yang bertanya.

“Ya nggaklah!” tukas Faris secepat kilat. “Bang Akbar punya kandidat sendiri, Tan.”

Perhatian Ayah sukses tertuju pada Faris yang tersenyum jenaka. “Siapa, Ris?”

Akbar memberi peringatan lewat isyarat mata, namun Faris abai. Atau lebih tepatnya, ia sengaja membeberkan semuanya. “Teman Faris waktu SMA, Om. Cantik, pinter, top pokoknya.” ia terkikik. “Ilham juga tau, Om.”

Ilham terbatuk, kaget karena Faris menyertakan namanya.

“Abang gak pernah bilang.” Ainun menyipitkan mata.

“Kamu gak pernah nanya.”

Bibir Ainun sudah mengerucut. Mana pernah dirinya berpikiran sampai sana? “Nanti cerita ya, Bang. Ainun mau tau.”

“Iya, Ai.”

Semua mata membulat. Ai?

“Diiiiih, Bang!” Faris heboh sendiri, ia menepuk kencang pundak Farhan yang sedari tadi diam tanpa kata. “Jadi pengen nikah, kan!”

Ilham mendunduk, telinganya yang merah menjadi pertanda kalau dirinya sedang dilanda malu.

“Ai–Nun?” Akbar mengerling jahil.

Sementara Ainun menutup wajah. Malu juga rasanya. Apalagi godaan-godaan itu tak ada habisnya. Ia merasakan panas disekujur tubuhnya. Tak mampu menahan malu, Ainun beranjak, memberikan cubitan kecil di paha Ilham hingga suaminya mengaduh. Dan itu, makin membuat suasana di ruang makan semakin riuh tanpa henti.

“Jadi menurut lo, Ham, nikah itu gampang?”

Sepertinya, topik di meja makan tadi belum usai. Buktinya, Farhan, Faris, beserta Akbar datang berbondong-bondong memenuhi ruang kerjanya.

Ilham menggaruk kepala. “Nikah itu rumit.”

“Tapi lo bahagia ‘kan nikah sama Ainun?” tanya Akbar cepat.

Bahagia? Tentu saja. Ia bahagia karena menikah dengan gadis yang dicintai juga mencintainya. Perihal kerumitan dalam pernikahan memang nampak kenyataannya. Bagaimana tidak? Mereka yang asalnya tak perlu memusingkan perasaan orang lain dituntut untuk lebih peduli. Peduli pada perasaan pasangannya sendiri.

Ilham, merasakan kerumitan itu sendiri. Dirinya harus lebih sabar menghadapi Ainun dengan segala tingkah konyol istrinya itu, begitu pula dengan Ainun. Ilham harus lebih peka terhadap Ainun, tidak boleh mengabaikan sekecil apa pun ketidaknyamanan yang dirasakan Ainun. Bukankah kerumitan-kerumitan itu menjadi rumus awal pernikahan?

Rumit yang menyenangkan ketika dua manusia sama-sama mau belajar untuk memahami.

“Lo lagi mikir atau tidur?” Farhan angkat suara. Ia juga perlu pendapat Ilham untuk menerima perjodohan yang Mami tawarkan.

Ilham terkekeh, menutup laptopnya. “Gue gak bisa jawab kayaknya, menilik usia pernikahan yang baru seminggu.” ketiga lelaki di depannya mengembuskan napas. Resah sepertinya. “Kenapa gak tanya Raffa?”

“Aaah, tanya sama dia kayak lo nonton film India.” jawab Faris. “Bukannya kasih jawaban, dia malah hobi banget ceritain kisah cintanya itu.”

Source

“Bukannya bagus? Jadi ada sedikit bayangan.”

“Iya, sih,” lirih Faris, “terkadang gue iri sama dia, kenapa bisa terima perjodohan tanpa pikir panjang? Mana endingnya bahagia pula.”

“Mungkin karena Raffa meniatkan segala urusannya karena Allah. Kita yang di sini ‘kan gak pernah tau apa yang terjadi di dalam rumah tangga Raffa sama Rania.”

“Saran gue sih, jangan nikah karena dikejar umur, atau karena desakan orang lain.” lanjut Ilham. “Menikah itu adalah ibadah terlama. Prosesnya panjang, kita gak boleh gegabah memilih pasangan. Kalau ada nama yang mampu meyakinkan, sebaiknya diperjuangin. Meski kita sendiri belum tau apakah Allah berkehendak menjodohkan atau nggak, yang penting usaha.”

Akbar terdiam. Yang penting usaha. Kata-kata itu terus menyelinap dalam dirinya, mencari celah kosong untuk selanjutnya bersemayam apik di tempat yang tepat, yaitu hati.

“Lo sendiri, menikah karena pilihan hati, bagaimana rasanya?” Farhan bertanya.

“Alhamdulillah.” Ilham mengukir senyum, pikirannya terlempar jauh pada setiap detik yang telah ia lalui bersama Ainun.

“Meski pun ingatan Ainun gak akan pernah kembali?” tanya Akbar, penuh kehati-hatian.

“Ya, tetap alhamdulillah.” jawab Ilham, penuh syukur. “Allah tetap berkenan menyatukan kami, dan itu sudah luar biasa. Memangnya, di antara kalian semua ada yang pernah berpikir pernikahan gue sama Ainun akan tetap berlangsung meski sempat tertunda beberapa waktu? Gak ada, kan?”

“Ini semua sudah cukup.” lanjutnya, kembali membuka laptop.

Rasanya tak ada lagi yang perlu ditanyakan. Ketiga lelaki itu sudah mendapatkan jawaban. Jangan menikah karena dikejar umur, atau desakan orang lain.

Mereka pamit undur diri, membiarkan Ilham kembali sendiri di ruang kerjanya.

Tak selang berapa lama, notifikasi whatsappnya berbunyi.

( • Bang Ilham, Ainun ijin pergi ke Roudhotul Jannah, ya? )

Ilham menimang sebentar.

( • Dibaca tapi gak dibalas. )

Ia terkekeh.

( • Ini pesan, Bang Ilham, bukan novel. Boleh ‘kaaan?? )

( • Bang Ilhaaaam???? )

Ilham yakin, di sana, bibir Ainun sudah mengerucut sebal.

( • Cuma sebentar kok, Ainun cuma ke sana sekali, itu pun awal-awal keluar dari RS. )

( • Jangan-jangan Bang Ilham gak bisa baca, ya? )

Runtuyan pesan terus masuk, namun Ilham hanya membaca dan terkekeh geli.

( • Ainun hitung sampai tiga, ya? )

Ilham makin terkekeh. Ada-ada saja istrinya itu.

( • Satuuu )

Lewat satu menit.

( • Duaaa… )

( • Bang Ilham! Hampir tiga ini. Boleh gaaaaaa? )

( • Tiiiiiiiggaaaa …. )

( • Oke, Ainun marah sama Bang Ilham! )

Ilham masih terkekeh.

( • Empaat! )

Akhirnya ia tergelak. Seperti orang yang kurang waras, tertawa lepas karena sebuah pesan via whatsapp. Namun apa pedulinya?

( ° Katanya sampai tiga? )

Notifikasinya berbunyi lagi.

( ° Iya, boleh. )

( • Gara-gara Abang, Rania jadi ngomel sama Ainun. Memangnya Bang Ilham gak tau apa kalau moodnya ibu hamil itu gampang berubah? )

( • Pokoknya setelah pulang, Bang Ilham harus beliin sate Padang. Ainun gak mau kena omelnya Bang Raffa gara-gara istrinya ini ngamuk. )

( ° Kok jadi Abang yang kena batunya? )

( • Bang Ilham balas pesannya lama, Rania jadi kesel. Sekarang, malah Ainun yang harus bujukin Rania supaya jadi pergi ke Roudhotul Jannah. Dasar! )

Ilham terkekeh. Ah, jadi rindu Ainun, kan?

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *