Cerpen : Syahdu Part 12

“Dulu Ainun pernah pacaran gak?”

Ilham tersedak es krim cokelat yang diberikan Ainun, matanya memicing. “Gak pernah!”

“Masa sih?” Ainun menyimpan kotak es krim, lantas meraih ponselnya, berkaca di sana. “Ainun ‘kan manis, Bang, masa gak pernah pacaran?”

“Mana manis? Jelek begitu.”

“Jelek tapi dinikahin.” nyinyir Ainun dengan bola mata berputar.

“Ya justru itu, kamu jelek makanya Abang nikahin. Kalau bukan sama Abang ‘kan mana ada yang mau.” Ilham menyuapkan kembali es krim ke dalam mulutnya. “Lagi pula, tau dari mana kamu istilah pacaran begitu?”

“Azkiya. Tadi dia telepon, katanya begini,” Ainun berdeham sebentar, “Kak Ainun, tanyain gih sama Bang Ilham mantan pacarnya Kakak yang hampir mirip oppa Korea itu.” ia menirukan ucapan Azkiya. “Memangnya bener ya, Bang, Ainun punya mantan pacar yang mirip oppa Korea?”

“Gak ada!” tegas Ilham, wajahnya kusut. “Mana ada oppa-oppa yang mau pacaran sama kamu. Sekali lagi, kamu itu jelek. Jelek banget.” bahunya dipukul, ia meringis.

Kesal, Ainun menarik hidung Ilham. “Bang Ilham kalau becanda bawa-bawa fisik, gak boleh tau!”

“Siapa yang becanda?” tanya Ilham, suaranya sengau. “Kamu jelek, itu fakta.”

Cubitan Ainun makin kencang, dan Ilham makin meringis. “Memangnya Abang gak jelek apa?” tangannya melepas hidung Ilham, ia memalingkan wajah. Benar-benar kesal.

“Menurut kamu Abang jelek?”

“Jelek banget!”

Ilham terkekeh kecil. “Ai?”

Ainun berdecak, “apalagi?!” ia hampir saja berteriak pada lelaki di sampingnya.

Akhirnya, tanpa bisa ditahan, tawa Ilham meledak, menguar ringan. Ainun sampai terpaku melihat tawa yang lepas itu. Sebelumnya, Ainun tak pernah melihat gelak tawa Ilham yang meledak seperti saat sekarang ini.

“Aduh, afwan, ya.” Ilham mengusap setitik air matanya, menarik Ainun dalam dekapan lengan kanannya, bibirnya sampai di ubun-ubun Ainun, menciumnya berkali-kali dengan tawa yang belum mereda. “Abang nyebelin banget, ya? Bibir kamu sampe monyong-monyong begitu.”

Ainun makin mengerucutkan bibir, mengundang bibir Ilham untuk mencecap rasa manis di sana. Aiiih, Bang! Ainun sampai dibuat merona. “Apaan sih, Abang?!”

Ilham kembali tergelak. “Halal ini.”

“Jauh-jauh!” tangan Ainun menjauhkan wajah Ilham di depannya. Lelaki itu tak tahu efek dari kelakuannya sendiri. “Jangan-jangan Bang Ilham ya, yang punya mantan?!” tanyanya tiba-tiba.

Ilham tersentak, menatap wajah Ainun yang memasang ekspresi penuh curiga. “Kok mikirnya sampai sana?”

Ainun mencebik, membenahi kepalanya yang bersandar di bahu Ilham. “Ya cuma tanya aja, kali-kali ada nama lain di masa lalu Abang.”

“Abang gak punya mantan.”

“Masa?” kedua alis Ainun bertaut, “kata Asmara, cowok ganteng ceweknya banyak.”

Ilham tergelak lagi, lebih keras dari sebelumnya. “Jadi Abang ini ganteng atau jelek?” pipinya menempel di ubun-ubun Ainun setelah tawanya mereda.

Source

“Coba ngaca!”

Ilham dibuat bungkam. Biasanya ia yang bicara seperti itu. Aah, beginikah rasanya senjata makan tuan?

“Bukannya Abang ge-er, Ai, tapi perasaan Abang mengatakan kalau Abang ini ganteng. Lee Min Ho lewat!”

“Dih, narsis!” Ainun mendelik, sementara Ilham terkekeh lagi. “Sedari dulu, cuma kamu satu-satunya perempuan di hidup Abang.”

Ainun yakin pipinya semerah tomat, namun ia kembali mendelik. “Masa?”

Ilham berdecak. “Ngeyel kamu!”

“Kalau ternyata Ainun bukan satu-satunya?”

Ilham mengeratkan rengkuhannya. “Cuma kamu.” ucapnya lembut. “Jalan keluar, yuk? Kamu harus banyak-banyak mengalihkan pikiran dari drama-drama itu.”

“Males, ah! Lagi pula ‘kan dramanya seru, gak monoton.”

“Ayolah.”

Ainun mengendikkan bahu. “Di luar panas, Bang, banyak polusi kalau kata Bunda.”

“Bilang aja kamu males!”

“Ya, kan udah bilang.”

“Ayolah, Ai.”

“Maleeesss.”

Ilham melingkarkan lengannya di leher Ainun yang sudah berbaring nyaman di dadanya. “Kita renungi ciptaan Allah yang ada di luar sana. Pasti banyak banget yang bisa kita bahas, ya, kan?”

“Bang. Ainun. Males.”

Ilham yang mulai kehabisan ide menunduk, tangannya menjepit hidung Ainun hingga istrinya itu menepis berkali-kali namun gagal.

“Gak bisa napas!”

“Abang lepasin kalau kamu mau jalan.”

“Maksa!”

Ilham mengendikkan bahu, tangannya masih menjepit hidung Ainun. “Ayolah, mumpung cuti Abang belum habis.”

“Gak mau! Abang jalan aja sendiri. Ainun mau di rumah, nonton drakor.” Ainun menyamankan posisinya.

“Masa kamu nolak pahala, Ai? Pahala kamu ngalir kalau menyenangkan hati suami.”

“Ainun bukannya nolak, Bang Ilham.”

“Terus kamu bilang gak mau itu apa artinya kalo bukan nolak?” Ilham mendongakkan kepala Ainun dengan ibu jari yang menyentuh dagu. “Aduh, kita baru nikah seminggu ‘kan? Masa gak ada romantis-romantisnya?” tanyanya dengan ekspresi penuh tanya. “Mau ya jalan sekarang?”

Ainum menggeleng. Ilham berdecak, tetapi bibirnya mencium gemas pipi Ainun yang mengembung, tangannya juga mengunci tangan Ainun yang mencoba memberontak. “Ya udah kalau gak mau jalan, kita gini aja sampe dzuhur, lanjut ke asar, maghrib, terus isya, sampe subuh, deh.”

Ainun menahan napas, menjauhkan wajah Ilham yang berada di depan wajahnya. Dekat sekali, tak ada jarak yang merentang. Dan kini, lelaki itu menariknya berbaring di sofa hingga mereka berhimpitan. Tangan Ainun mencoba memberontak, namun tenaga yang dimiliki Ilham mampu melumpuhkannya dengan mudah. Sekarang Ainun tahu, sependiam apa pun Ilham, jika keinginannya tak dituruti akan jadi begini.

“Iya deh, jalan.” ucapnya serupa bisikan.

“Jalan apa, ya?”

Aduh! Ainun ketuk kepala lelaki di depannya boleh tidak, ya?

Source
Ainun masih berkeliling toko buku, ia belum menemukan pilihan yang sesuai. Sedangkan Ilham entah ke mana, lelaki itu menyuruh Ainun mencari sendiri buku yang hendak dibaca.

Jemari Ainun menyusuri setiap rak bergenre fantasi, matanya tiba-tiba tertarik pada sebuah buku dengan warna biru yang mendominasi. Baru saja ingin melihat, ada tangan lain yang lebih dulu mengambil buku itu. Ainun mendongak.

“Ainun?”

Kening Ainun berkerut, mencoba mengingat siapa sosok yang menyapanya. Ia pernah bertemu dengan sosok ini saat di rumah sakit beberapa minggu yang lalu. “Kak Ari?” tebaknya.

“Ingat?”

Ainun mengangguk, “tapi beneran Kak Ari ‘kan?”

Lelaki berkacamata itu mengangguk. “Alhamdulillah, saya kira kamu gak akan ingat.”

Ainun tersenyum kecil.

“Mau buku ini juga?” tanya Ari, mengacungkan buku di tangannya.

“Tadinya sih iya, tapi gak jadi deh.”

“Kenapa? Kalau mau ambil aja.”

Ainun menggeleng. “Gak usah, itu buat Kak Ari, Ainun bisa cari yang lain.”

“Gak papa,” Ari menyodorkan buku, “biar saya yang cari lagi.”

Ainun menggeleng kikuk. Ia berulang kali mengatakan tak lagi tertarik pada buku itu, hendak berbalik, namun mantayaa bertemu dengan Ilham. Lelaki itu malah menatapnya dingin dengan beberapa buku di tangan.

“Ayo pulang!”

Ainun mengangguk, berucap salam pada Ari sebelum mengikuti langkah Ilham menuju meja kasir. “Kamu ingat sama dia?” tanya Ilham, Ainun tak menyadari rahang suaminya yang mengatup menahan amarah.

“Iya. Kak Ari sempat jenguk Ainun di rumah sakit.”

“Masnya orang yang amanah, ya.” ucap si mbak kasir tiba-tiba. “Adiknya ngobrol berdua dengan yang bukan mahram langsung diajak pulang. Salut saya.”

Mata Ilham menajam. Adik katanya?

“Jaman sekarang, jarang sekali ada kakak yang sebaik Mas, mau belanjain adiknya sebanyak ini pula.”

Bibir Ainun merapat, berusaha sebisa mungkin agar tidak tergelak.

“Jadi berapa, Mbak?” tanya Ilham acuh pada setiap perkataan wanita di depannya. Mbak kasir menyebutkan harga, Ilham langsung membayar dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.

“Eh, makasih ya, Mbak. Suami saya memang begitu.” ucap Ainun melenggang pergi sambil terkikik geli, sementara wajah penjaga kasir tadi berubah pias.

“Makanya, kalau punya istri itu digandeng, jangan ditinggal sembarangan!” seru Ainun menyusul langkah Ilham.

Lelaki itu tak menoleh sedikit pun. Wajahnya dingin, ekspresi yang mulai dihapal Ainun jika suaminya itu enggan bersuara.

Mereka berjalan beriringan, Ilham masih enggan membuka suara. Terlihat sekali dari air mukanya yang mengeras.

“Ainun lapar, mampir seb-.”

“Kita langsung pulang!”

Bibir Ainun mengerucut sebal. Salah siapa meninggalkannya sendiri? Salah siapa yang sedari tadi menjaga jarak dengannya seolah mereka ini bukan pasangan halal? Salah siapa?

Kadang Ainun tak mengerti dengan pemikiran Ilham yang terlalu rumit. Tadi mereka baik-baik saja, bahkan lelaki itu bersikap manis sekali padanya. Sekarang? Rasanya Ainun ingin berteriak kencang di telinga Ilham agar tak bersikap membingungkan seperti ini.

Hingga sampai di basement dan masuk mobil, Ilham masih diam. Ainun jengah, ia lebih memilih membuka buku yang tadi dipilihkan lelaki batu itu.

Mobil bergerak, membelah jalanan yang lumayan lengang. Ainun sesekali mencuri padang, ia menghela, menutup kasar bukunya.

“Bang Ilham kenapa sih?”

Ilham hanya menoleh dengan alis terangkat, lalu terfokus lagi pada jalanan di depannya.

“Bang,” Ainun mengguncang lengan kokoh itu, “masa marah?”

“Marah kenapa?”

Ainun berdecak dengan respon Ilham yang terlalu santai, padahal ia bisa melihat dengan jelas wajah Ilham yang merah padam. Bukankah itu ciri-ciri tengah emosi?

“Ainun gak tau Bang Ilham marah kenapa,” ia kembali membuka buku, “mungkin karena Ainun ketemu Kak Ari?”

“Ngapain harus marah?”

“Nah, itu!” Ainun membalikkan halaman selanjutnya. “Ngapain Bang Ilham marah?”

Bibir Ilham menipis.

“Toh, Bang Ilham lihat sendiri kami gak ngapa-ngapain.”

Ilham menoleh pada Ainun yang menutupi wajahnya dengan buku. Ia menepikan mobil di bawah pohon rindang. “Apa Abang gak boleh cemburu?”

Ainun menatap lambat suaminya setelah menurunkan buku yang sedari tadi hanya dibolak-balik halamannya.

“Maaf kalau sikap Abang seperti ini, sulit dimengerti,” Ilham meraih tangan Ainun, menimang sebentar sebelum menatap pemiliknya, “kamu memang gak ngapa-ngapain tadi, tapi tetap saja, Abang marah.”

Dada Ainun berdegup kencang. Yang tengah berbicara padanya adalah Ilham, kan?

“Rasanya sulit dijelaskan melihat kamu dengan Ari tadi.” ucap Ilham, menatap lekat wajah Ainun.

Sementara Ainun buru-buru memalingkan wajahnya yang terasa panas. Matanya menatap taman yang ramai dengan anak-anak kecil yang berlari riang ke segala arah, ia melepaskan genggaman Ilham dan mulai membuka kaca jendela. Ini taman kompleks yang dekat dengan rumah Ayah. Kepalanya sedikit melongok ke luar.

Matanya tak bisa lepas dari taman itu, telinganya seolah tak mampu mendengar suara apa pun, kepalanya seperti dihantam dengan pukulan yang keras. Ainun mengerjap, mengusap-usap telinga dan memejamkan matanya yang mulai berkunang-kunang. Aneh, dirinya seperti dititahkan untuk terus memperhatikan suasana taman.

Source

“Kenapa? Pusing?”

Ainun menoleh, menggeleng linglung.

“Kok pucat?” tangan Ilham, mengusap pipi Ainun yang kehilangan rona merahnya.

Lagi, Ainun hanya menggeleng. “Ainun mau pulang.” tiba-tiba matanya terasa panas.

“Kamu kenapa?”

“Ainun mau pulang.”

Ilham mengangguk, menyalakan mesin mobil dan kembali melanjutkan perjalanan. Sesekali diliriknya Ainun yang gelisah dalam duduknya.

Ia membukakan pintu mobil untuk Ainun setelah sampai di rumah. Istrinya hanya tersenyum tipis, berusaha melangkah dengan kokoh. Namun Ilham bisa melihat ada yang aneh dengan Ainun. Tapi apa?Aku melihatnya lagi.

Gadis yang mirip sekali denganku berlari, menjauh dari rumah Abi. Entah bagaimana prosesnya aku bisa sampai menemukan gadis itu lagi. Berulang kali benakku bertanya. Ada apa sebenarnya?

“Ainun!”

Aku tersentak. Kedua bola mataku menatap tak percaya pada Bang Ilham yang mencoba menyusul langkah gadis itu. Tapi sepertinya, gadis itu tak mau mendengar, langkahnya makin cepat.

“Tunggu sebentar!”

Akhirnya, gadis itu menghentikan langkah. Ada embusan angin yang membelai halus setiap inci wajahnya. Aku hanya termenung, menyaksikan mereka yang berhadapan dengan jarak yang merentang.

Bang Ilham menunduk, begitu pula dengan gadis itu. Aku mendekat, sekedar memperjelas penglihatanku sendiri. Bisa kulihat, mata gadis itu menatap tanah dengan sorot kecewa, sedang Bang Ilham sendiri berubah resah.

“Ainun dengar semuanya.”

Gadis itu mendongak, membuka suara lebih dulu. “Bang Ilham masih waras, kan?”

Ingin rasanya aku merobek mulut gadis itu, berani sekali berbicara lancang pada suamiku.

“Maaf.”

Aku beralih pandang, menatap Bang Ilham yang masih menunduk.

“Kita ini sepupu, Bang Ilham!”

Gadis itu meradang. Bisa kulihat dari sorot matanya yang berkilat tajam.

“Lupakan Ainun!”

Bang Ilham mendongak, rahangnya mengatup. Ia marah.

“Kamu bicara seperti itu seolah kamu yang berkuasa atas rasa ini. Lupa dengan adanya Allah yang menciptakan segalanya termasuk rasa yang kini hadir?”

“Tapi kita sepupu, Bang Ilham. Apa kata orang?”

“Kamu juga melupakan kalau sepupu itu bukan mahram.”

Gadis itu menghela napas, kulihat matanya mulai berembun. “Sebesar apa pun Allah memberikan rasa itu, tolong lupakan Ainun. Ini untuk kebaikan kita, kebaikan Bang Ilham juga Ainun.”

“Bukan hanya kamu yang resah dengan rasa ini.”

“Kalimat yang bagaimana lagi agar Bang Ilham sadar dan mengubur rasa itu?”

Bang Ilham bergeming.

“Tolong jauhi Ainun, jangan pernah menampakkan diri lagi di depan Ainun. Ainun muak dengan Bang Ilham!”

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *