Cerpen : Takdir Part 01

PROLOG

Menikah adalah hal yang lumrah dan bagi manusia merupakan fitrah. Menikah adalah misteri Tuhan, tiada yang tau kapan dan dengan siapa di pertemukan. Banyak hal yang dapat terjadi, bahkan yang sudah terencana saja, bisa hancur dan kembali menjadi mimpi. Semua sudah diatur oleh-Nya. Tinggal kita, mau menerima atau tidak, bisa menunggu atau tidak.

PART 01

Langit hitam kembali menyelimuti sore tatkala Asma keluar dari kantor tempatnya bekerja. Wanita berhijab itu tengah mengetikkan sesuatu dilayar handphone. Sesaat setelahnya, memasukkan kembali kedalam tas.

Sejak menunggu selama 15 menit, pandangannya tak pernah menghilang menyapu jalan. Mengenai cuaca hari ini, Asma cepat-cepat memakai jaket yang dibawanya. Matahari itu kini tak nampak lagi, sekarang sudah habis dimakan segerumbulan awan hitam yang menyatu. Suasana remang bak malam menambah keadaan yang tak lazim untuk menunggu berlama-lama. Daun-daun pohon sekitar pun silih berganti menari mengikuti alunan sang bayu. Juga suara guntur semakin menggelegar, memekakkan telinga. Asma membenarkan posisinya, kini bersandar ke dinding. Sesekali menjawab jika ada pegawai yang bertanya atau sekedar menyapa.

Wanita berwajah manis itu menggembungkan pipi mengetahui orang yang telah menuntutnya berdiri cukup lama tak kunjung menyetorkan muka. Ditambah lagi cuma dia yang belum mendapat jemputan, membuat Asma semakin geram. Dia mengelus-elus dada, mencoba memberi pengertian kepada dirinya untuk sabar. Asma semakin rajin mencek handphonenya, barangkali mendapat pesan dari yang di sana. Namun nihil, tidak ada balasan. Hampir saja emosinya menyulut. Dan ini bukan tanpa alasan, menunggu memang tidak menyenangkan. Asma menarik nafas dan membuangnya perlahan. Mulutnya komat-kamit membaca istighfar.

Di detik berikutnya, langit itu runtuh, luruh dengan hujan yang deras, menumpahkan segala isinya yang menjadikan Asma semakin terguncang. Bagi beberapa orang, hujan adalah rahmat. Berbeda dengan wanita itu, hujan baginya dapat membawa pengaruh yang tak sama. Asma tidak membenci hujan, hanya menghindarinya. Akan hadir sesuatu hal yang buruk jika dia terkena hawa yang sangat dingin. Seperti sekarang, dia berusaha menghangatkan tubuhnya sendiri dan mendekapnya erat. Sampai di rasakannya sebuah sentuhan di tangan kanannya. Seseorang menariknya masuk kedalam Kantor. Tidak ada perlawanan, dia pasrah.

“Kamu gak papa ‘kan Asma?” di ambilnya kursi terdekat lantas menyuruh Asma duduk.

Asma terdiam. Kepalanya yang tadi menunduk, perlahan mendongak. Alisnya menanjak sebelah. Membikin orang yang berdiri dihadapannya menggaruk kepala yang tak gatal. Laki-laki yang merupakan atasannya itu membungkuk di hadapan Asma dan tersenyum kecil.

Source

“Asma gak papa?” ulangnya.

Anggukan lemah yang diberikan Asma membuat Riyan tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya. Berbagai pertanyaan segera menghampiri otak Asma. Ada apa dengan laki-laki itu?

Dia lebih tua dari Asma. Dimata Asma sendiri, Riyan adalah laki-laki yang tampan, pribadi yang baik, murah hati, penyayang, dan juga taat agama. Semasa Asma bekerja di sini, dia adalah atasan yang tegas, bijaksana serta ramah dengan semua karyawannya. Beruntunglah perempuan yang akan memilikinya. Dia dapat menjadi imam yang baik untuk rumah tangga yang di ridhoi Allah.

“Ini selimut untukmu.”

Tanpa sadar, Riyan datang kembali dan menyodorkan selimut kepada Asma. Kejadiaan yang tak terduga ini menjadikan Asma membuka mulutnya; ternganga, bingung mau merespon apa.

“Pakailah, saya tidak bermaksud apa-apa,” titah Riyan kemudian mengambil bangku dan duduk tak jauh dari Asma.

Punggung tangan Asma mengusap lembut lehernya di balik hijab. Canggung rasanya menatap balik manik Riyan yang indah itu. Asma mengamati selimut di tangannya. Hujan semakin deras dan angin semakin meraung. Asma belum berani mengangkat wajah. Kerutan didahi Riyan semakin bertambah dalam, heran mengapa wanita itu masih diam.

“Pakailah Asma, nanti kamu kedinginan.”

Tanpa basa-basi, Asma membalut tubuhnya dengan selimut. Asma menatap Riyan dengan tatapan kosong. Alih-alih ikut bertanding saling memandang. Riyan yang sadar diperhatikan mendadak kikuk. Netranya segera tertuju ke arah lain.

“Tadi kamu saya panggil tidak menyahut, terus melamun padahal hujannya deras dan hawanya dingin sekali. Jadi, terpaksa dari kamu saya seret. Sudah tidak ada cara lain.” dia terkekeh memberi jeda, “Sekarang musim pancaroba. Makanya kamu harus hati-hati, jaga kesehatan kamu. Saya itu takut kalau kamu sakit. Apalagi saya tau kamu alergi suhu dingin.”

Source

Salah tingkah, itulah yang terjadi pada Riyan. Merasa dirinya yang salah berucap. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal lagi. Dibandingkan dengan berkutat dengan komputer. Dia pasti akan memilih itu daripada ini. Riyan tetaplah Riyan. Semuanya telah terjadi. Secara diam-diam sebenarnya dia mempunyai perhatian besar pada wanita berlesung pipit di depannya. Ironis, Riyan mendadak jadi patung saat tak sengaja bertemu mata.

Debaran yang diberikan pesona Asma pun masih sama, dari awal Riyan mengenal dan memilih wanita itu menjadi pemilik hatinya dengan sembunyi-sembunyi.

“Tidak ingin sakit karena aku pasti gak kerja ya?” batin Asma geli.

Asma tersenyum tipis. Tangannya bergerak merogoh Handphone saat notifikasi berdering. Nama Fakhrul tertera di sana. Laki-laki berstatus pacarnya itu pasti menunggunya di luar. Refleks, Asma segera bangkit.

“Ada apa Asma?” tanya Riyan mengintimidasi.

Asma mengembalikan selimut yang sudah dilipatnya sehabis bernego apakah dia harus mencucinya atau tidak.

“Mas Fakhrul sudah menjemput,” jawab Asma.

“Oh,” balas Riyan singkat.

Entah apa yang datang dalam dirinya. Riyan tau ini bukan haknya. Wanita itu telah memiliki. Pantaskah jika Riyan menyelipkan cemburu?

“Aku memilih mencintaimu dalam diam. Karena di dalam keheningan, aku tidak menemukan penolakan,” ujar Riyan dalam hati. Hati Riyan berdesir melihat punggung itu menjauh meninggalkannya sendiri di ruang administrasi.

Jadi, apakah ini namanya ‘cinta yang terbalas?’ Ah tidak, Allah maha membolak-balikkan rasa. Masih ada harapan, ‘kan? Intinya, tiada yang tahu takdir di kehidupan yang fana ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *