Cerpen : Syahdu Part 11

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al-Jumu’ah: 9)

Ilham melangkahkan kaki keluar rumah. Bertegur sapa dengan bapak-bapak yang juga akan pergi ke masjid. Ada anak-anak kecil sekitaran berumur lima sampai enam tahun yang digandeng para ayah mereka. Ilham terenyuh, padahal sholat Jum’at tidaklah wajib bagi anak kecil.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sholat Jum’at ialah kewajiban atas setiap individu muslim secara berjamaah, kecuali empat golongan: hamba sahaya, perempuan, anak kecil, dan orang yang sakit.”

Masjid dengan halaman luas telah terpampang jelas di depan mata. Ia mengambil wudhu terlebih dahulu, setelahnya barulah masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat tahiyyatul masjid. Belum banyak jamaah yang datang, menilik jarum jam masih berada di bawah angka sebelas.

Dari waktu ke waktu, jamaah makin tumpah ruah. Masjid yang tadinya terlihat lengang menjadi penuh tanpa tersisa secuil celah pun. Para jamaah melaksanakan sholat Jumat sesuai dengan aturan yang ada.

“Ilham!”

Ilham memutar tubuhnya ke asal suara. Keningnya berkerut karena Akbar memberhentikan motornya tepat di samping Ilham. “Jum’atan di sini?” selidiknya melihat Akbar yang masih mengenakan baju koko lengkap dengan sarung.

“Nggak. Gue disuruh Bunda anterin ini.” Akbar menyerahkan satu bungkus plastik hitam yang entah berisi apa. “Katanya Ainun minta ini.”

Penasaran, Ilham membuka plastik itu. Ada beberapa siung bawang merah dan putih, garam, tomat, jeruk nipis, kemiri, gula putih, dan yang lainnya. Keningnya makin berkerut. “Buat apaan?”

Bahu Akbar mengendik, tanda tidak tahu.

“Gak mau mampir dulu ke rumah?” tanya Ilham saat Akbar memutar motornya.

“Nggak. Gue mesti balik ke kantor.” jawab Akbar. “Tadi Ayah pesen, kalau ada waktu, main ke rumah.”

“Dan jangan lupa,” Akbar berucap lagi ketika Ilham mengangguk, “cepet-cepet kasih keponakan.”

Ilham nyengir, entah harus menanggapi seperti apa. Kepalanya hanya mengangguk kecil lantas menjawab salam yang diucapkan abang iparnya. Ia meneruskan langkah menuju rumah yang tinggal beberapa meter lagi.

“Assalamu’alaikum.” diketuknya pintu. Sebelum berangkat ke masjid, Ilham berpesan agar Ainun mengunci pintu. “Assalamu’alaikum.”

Tidak ada jawaban. Ilham memutar gagang pintu

Ceklek.

Source

Tidak dikunci? Ilham berdecak, apalagi saat masuk ke kamar. Keningnya berkerut mendapati Ainun duduk di ranjang dengan tangan memeluk kaki yang ditekuk. Istrinya itu sesegukkan, sesekali mengusap air mata yang keluar deras.

“Kamu kenapa?”

Ainun menoleh dengan matanya yang merah. “Lee Min Ho jahat, Abang.”

Haishh! Drama lagi.

“Dia usir Jun Ji Hyun dari rumah.” ucapnya pilu, membersit hidungnya dengan tissue. “Gimana kalau Jun Ji Hyun kenapa-napa? Dia ‘kan asalnya dari laut. Kasian, Abang.”

“Mana ada orang yang asalnya dari laut, Ai, memangnya Jujin itu ikan?” Ilham duduk, berucap selembut mungkin meski hatinya dongkol sekali.

“Jun Ji Hyun, Abang.” ralat Ainun.

Ilham menggaruk kepala yang tak gatal sama sekali. “Ya itu, Jun Ji Hyun.”

“Apa aja yang gak mungkin kalau masuk drakor jadi mungkin. Ini buktinya.” tunjuk Ainun pada laptop yang masih menayangkan drama Korea berjudul The Legend Of Blue Sea.

“Itu ‘kan cuma drama.”

“Tapi ‘kan sedih, kayak nyata.” mata Ainun sendu. “Coba kalau Ainun ada di posisinya Jun Ji Hyun, pasti bingung mau ke mana.”

Ilham menghela. Ini profesi barunya, mendengarkan cerita Ainun sambil menepuk-nepuk bahu agar Ainun tenang dan menganggap dirinya paham dengan segala cerita itu. Padahal? Ilham sama sekali tidak mengerti, menyebut nama pemainnya saja membuat lidahnya keseleo. Tapi demi Ainun, Ilham rela melakukan itu semua, meski terkadang ia harus akting tertawa garing saat Ainun menceritakan salah satu adegan yang dianggap lucu.

Sepertinya, mulai saat ini, Ilham harus memperingatkan Azkiya juga Asmara agar tidak memberikan film-film yang lainnya. Kedua remaja labil itulah penyebab Ainun menjadi kecanduan drakor seperti ini.

“Udahan nontonnya.” Ilham beranjak, membuka peci dan sarung. “Abang yakin kamu belum baca Al-kahfi.”

“Masya Allah!” Ainun tersentak. “Ainun lupa!”

“Nah, kan!” seru Ilham tak habis pikir saat Ainun mematikan laptop dan berlari ke kamar mandi. “Gara-gara nonton kamu jadi lalai begitu.”

“Ainun beneran lupa.” bela Ainun, wajahnya sudah basah dengan air wudhu. “Lagi pula baca Al-kahfi di hari Jum’at ‘kan sunnah, Bang.”

“Tapi tetap, kamu gak boleh menyepelekan sunnah.”

“Tap-”

“Kalau banyak tapinya kapan mau menjalankan sunnah-nya?” potong Ilham. Ainun hanya tersenyum jenaka, sudah tahu salah masih saja ngeyel.

“Bang Ilham mau ke mana?” tanya Ainun saat Ilham membuka pintu kamar. Lelaki itu menoleh dengan wajah datarnya. “Korea!”

“Ikuut!”

“Buruan baca Al-kahfi, Ainun!”

Bibir Ainun sukses mengerucut, tapi detik berikutnya ia terkekeh-kekeh, Ilham pasti jengah dengan kebiasaan barunya ini.

Tubuhku serasa ditarik tanpa sadar, terhempas di suatu tempat yang sangat familiar. Aku memegang kepala, sakit sekali rasanya. Kucoba untuk bangkit, namun nihil, tenagaku seolah habis tanpa sisa.

“Ainun pergi sebentar, Bunda!”

Mataku teralihkan, menatap tak percaya dengan apa yang kulihat. Gadis yang tengah tergesa itu mirip sekali denganku. Kuikuti langkahnya dengan kaki yang terasa ngilu, mencoba menggapai wajah yang sama persis namun tak berhasil, jemariku tak mampu menyentuh apa pun.

“Hey! Mau ke mana!”

Aku berteriak lantang dengan harapan agar gadis itu menoleh, atau setidaknya ia sadar dengan kehadiranku di dekatnya. Tapi gadis itu terus berjalan dengan langkah lebar, membuat khimar merah maroonnya melambai-lambai. Aku terus mengikuti, menatap lamat-lamat rupa yang mirip sekali denganku, kulihat bibir gadis itu sedikit bergetar, tangan kanannya menggenggan erat secarik kertas. Rasa penasaran makin menyeruak kala langkah gadis itu terhenti di depan rumah Abi. Mataku membulat, rumah Abi?!

Kedua kakinya terhenti tepat di depan pintu, aku melakukan hal yang sama.

“APA KAMU SADAR DENGAN APA YANG KAMU UCAPKAN BARUSAN?!”

Mataku makin membulat, suara yang sangat kukenal itu seolah berteriak geram. Gadis di sampingku membatu, tangannya yang hendak mengetuk pintu melayang di udara.

“Ilham sadar, Abi.”

Source

Kudengar lagi sebuah suara yang kuyakini itu suara Bang Ilham, suamiku.

“TAPI KALIAN SEPUPU!”

“Tapi kami bukan marham, Bi. Kami gak punya hubungan sepersusuan.”

“BUANG PERASAAN KAMU ITU, LUPAKAN AINUN!”

Suara Abi terdengar lagi. Aku membatu, sama seperti gadis itu.

“Bukankah Abi yang mengatakan pada Ilham, kalau Ilham harus menjadi lelaki sejati, berani mengambil keputusan meski itu ditentang dunia. Lalu apa yang Abi lakukan?”

Hatiku terenyuh. Suara Bang Ilham terdengar lirih namun entah kenapa jelas sekali di telingaku.

“Pengecualin untuk Ainun! Abi mendukung jika perasaan itu untuk gadis lain, tapi tidak jika gadis pilihanmu adalah Ainun. Apa kata orang, Ilham? Apa kamu sanggup menyakinkan Om dan Tante kamu? Apa kamu sanggup meyakinkan Abi dan Ummi?”

Suara Abi menurun, beriringan dengan isak tangis yang kuduga berasal dari bibir Ummi. Allah, ada apa ini?

“Beri Ilham kesempatan, Abi.”

“Lupakan Ainun! Itu satu-satunya kesempatan yang Abi berikan untuk kamu!”

Gadis di sampingku merapatkan bibir, kedua tangannya terkepal erat, sedang matanya terpejam, ada buliran yang merebak tiba-tiba. Aku ingin menyentuh, menenangkan gadis yang kini terisak pilu. Namun tubuhku melayang, kakiku tak lagi menapak dengan baik. Pusaran hitam yang entah datangnya dari mana menyeretku tanpa ampun, membuat semua sendi ini mati rasa.
.
.
“Astagfirullah!”

Ainun membuka mata, jantungnya berdegup kencang. Kedua tangannya mengusap wajah, sedang bibirnya melafalkan istighfar berkali-kali.

Mimpinya aneh sekali.

Matanya beralih pada jam dinding, 14.56. Ah, ia tertidur setelah membaca surah Al-kahfi.

Pintu kamar terbuka. “Baru mau Abang bangunin.” Ilham mendekat, mengusap kepala Ainun, menciumnya sekilas. “Kenapa?”

Ainun menggeleng. Itu hanya mimpi, batinnya. “Ainun tidurnya lama, Bang?”

Ilham beralih pandang pada jam dinding. “Dua jam kurang kayaknya.”

“Bang Ilham ngapain aja?”

“Diem.”

“Diemnya sambil liatin Ainun tidur, ya?” gadis itu memainkan jenggot Ilham, senyum di bibirnya terlihat jahil sekali.

“Ngapain liatin kamu tidur? Unfaedah.”

Bibir Ainun yang mengerucut dikecup sekilas, Ilham memasang ekspresi geli diwajahnya kala bibir itu menjadi garis lurus yang tipis. “Mandi, gih, Abang udah masak.”

“Abang masak sendiri?”

Ilham mengangguk, “tadi selesai sholat Jum’at Bang Akbar datang, titipin bumbu dapur yang kamu minta dari Bunda.”

Ainun menepuk kening, “Ainun lupa!” senyum jenakanya terbit. “Tadinya mau coba bikin ayam geprek.”

“Lain kali kita coba. Buruan mandi, Abang lapar.”

Ainun menyibak selimut, berjalan ke kamar mandi. Kakinya terasa ngilu, sama seperti di mimpi tadi. Ah, itu hanya mimpi, Ainun. Mimpi.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *