Cerpen : Syahdu Part 10

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah mungil nan cantik berlantai dua. Ainun turun dari mobil, matanya berkeliling.

Rumah bercat biru langit, minimalis namun terlihat nyaman dengan banyak pot-pot mini yang menggantung di teras rumah. Ainun tersenyum puas karena halamannya cukup luas. Dari pintu rumah ke pintu gerbang jaraknya sekitar empat meter. Di sisi rumah terdapat beberapa pohon yang baru tumbuh, benteng di kanan dan kiri yang menjadi pembatas dengan rumah tetangga sekitaran dua meter. Ainun menghela napas, udara yang masuk ke paru-parunya pun terasa segar.

Saat Ilham membuka pintu, Ainun masuk terlebih dahulu.

“Assalamu’alaikum,” ucap Ainun.

“Wa’alaikumussalam.” Ilham menjawab tepat di telinga Ainun, membuat gadis itu berjengkit kaget.

Tawa Ilham menguar sejenak, membiarkan Ainun mengamati setiap perabotan rumah. Kaki Ainun berjalan ke dapur, semuanya terlihat lengkap, seperti kompor, rak piring, wastafel, kulkas, hingga wajan dan beberapa piring yang tersusun rapi di tempatnya, begitu juga dengan seluruh ruangan yang ada di lantai satu rumah ini, semuanya lengkap.

Ainun berjalan ke halaman belakang. Membuka pintu kaca bening berukuran sedang. Lagi-lagi ia tersenyum puas saat melihat halaman belakang yang cukup luas, beralaskan rumput hijau yang agak basah. Ia sedikit berjalan ke sebuah pintu, membuka pintunya, ternyata dapur yang ia masuki tadi, di depan pintu dapur terdapat bangku dari kayu yang dikanannya terdapat kolam ikan berukuran kecil.

“Bang?”

“Ya?” sahut Ilham dari ruang tamu.

“Lahan di sebelah selatan masih kosong, Bang, dipasang ayunan kayaknya bagus.”

“Boleh.” Ilham memegang puncak kepala Ainun dari belakang. “Mau tambahin apa lagi?”

Ainun berpikir sebentar. “Itu aja kayaknya.” tutur Ainun berjalan ke dalam rumah, Ilham mengikutinya dari belakang. “Kamarnya di mana, Bang?”

“Kamar siapa?”

Ainun menahan lidahnya untuk tidak berdecak. “Kamar Ainun. Di mana?”

Ilham menyipit, “gak ada kamar buat kamu.” jeda sejenak. “Adanya kamar untuk kita.”

“Di mana?”

“Apa?”

“Kamarnya.”

Source

“Kamar siapa? Bertanya itu harus jelas.”

Ainun menghela napas, membuangnya perlahan. Menahan diri untuk tidak meninju perut lelaki di depannya. Kadang ia heran dengan sikap suaminya sendiri. Kadang manis, kadang juga dingin. “Kamar kita di mana?”

“Kamar kita?”

Ainun benar-benar diuji.

“Di atas, yuk!”

Di lantai dua lebih mengutamakan privasi, terlihat tidak banyak barang yang ditempatkan di sana. Ainun membuka sebuah pintu.

“Suka?”

Ainun mengamati lagi. Tak jauh berbeda dengan kamarnya di rumah Ayah. Hanya saja, kamar ini lebih santai, tidak semeriah kamarnya yang banyak dihiasi berbagai macam foto-foto narsis. Ranjangnya juga besar, Ainun membayangkan dirinya yang akan berguling ke kanan dan kiri, pastinya menyenangkan. Sisi yang membuat Ainun jatuh hati pada pandangan pertama adalah kaca besar yang langsung menghadap letak tenggelamnya matahari. Kamar ini akan terbias warna jingga jika senja sudah tiba. Indah.

“Ainun suka.”

“Alhamdulillah.”

Ainun mendudukkan dirinya di atas ranjang, mengundang Ilham untuk duduk di sampingnya. “Sebelumnya, Ainun gak pernah nyangka Bang Ilham bakalan bawa Ainun dari rumah Ayah secepat ini.”

Ilham tersenyum tipis. Ia ingat drama tadi pagi di rumah Ayah. Di mana Asmara dan Akbar menghasut Ainun agar tidak pindah. Kadang ia merasa lucu sendiri, rumahnya dengan rumah Ayah tidak terlalu jauh, hanya berbeda kecamatan saja.

“Kamu siap ‘kan memulai hidup baru dengan Abang?”

Ainun mengangguk. “Jazaakallah khair, Bang, sudah menyiapkan segalanya dengan matang.”

Ilham mengangguk, mengusap punggung tangan Ainun, mengecupnya singkat. “Tetap di sini, ya, walau pun kamu sendiri tau Abang gak bisa seromantis oppa-oppa Korea itu.”

Ainun tergelak. Ingatannya melayang pada malam kemarin, ia memaksa Ilham menyaksikan drama Korea yang diberikan Asmara. Kadang Ainun merasa keterlaluan terhadap suaminya sendiri.

Suasana menjadi syahdu, apalagi saat ini, Ilham sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Ainun. Mengahapus jarak hingga napas keduanya beradu hembus.

Namun didetik berikutnya, Ilham harus menahan diri karena telinganya menangkap suara deru mobil di halaman rumah.

“Siapa?” tanya Ainun heran.

“Mungkin Ayah sama Bunda, atau Abi sama Ummi, bisa juga keempatnya.”

Malam sudah memeluk bumi, menampilkan bulan dan bintang-bintang yang bersinar lembut memanjakan mata.

Setelah asar tadi, Ayah, Bunda, Abi, dan Ummi pamit pulang. Ainun kira tidak akan ada tamu dadakan, nyatanya salah, para sepupunya datang memeriahkan suasana. Menggelar tikar sederhana di taman belakang, hingga menjelang maghrib mereka pamit pulang tanpa mau repot-repot membereskan sisa makanan yang berserakan. Benar-benar cerdik sekali mereka itu, setelah merampok isi kulkas, mereka pergi begitu saja.

Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas berbenahnya. Ainun menyibak gorden, senyumnya mengembang saat mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu. Lelaki berpeci putih lengkap dengan baju koko serta sarung.

Ainun menyambut Ilham dengan senyum penuh, mencium tangannya sebagai tanda baktinya menjadi seorang istri.

“Kenapa senyum-senyum kayak gitu?” tanya Ilham heran

Ainun menggeleng, menyembunyikan senyum yang jelas-jelas terpatri di bibir mungilnya. Entah kenapa, hari ini ia bahagia sekali.

Senyum yang tercetak jelas itu membuat Ilham menyimpan tangannya di kepala Ainun, yang langsung ditepis begitu saja.

“Bang Ilham apa deh!” sergah Ainun saat Ilham mulai membacakan ayat kursi.

“Abang cuma jaga-jaga aja.”

Source

Ainun memukul lengan suaminya. Ilham hanya terkekeh, membawa Ainun menuju halaman belakang. Duduk di atas tikar yang belum digulung.

“Udahan senyum-senyumnya, horor tau!” Ilham menyenggol lengan Ainun yang bersentuhan dengannya, ia tersenyum jenaka saat bibir gadis itu mencebik.

“Ainun gak senyum-senyum, kok. Sok tau!” elak Ainun dengan keadaan pipi yang sulit didefinisikan.

Ilham memutar bola matanya, kedua lensung pipit Ainun terlihat jelas. “Enggak apa enggak?”

“Enggaakkk!”

Ilham tergelak. Ia memeluk tubuh itu erat, membawanya untuk berbaring di sisinya. Menatap hamparan bintang di langit yang amat luas milik-Nya. Kenapa rasanya bahagia sekali? Aahh …

Ilham mengatur napas, berusaha menghentikan tawanya. Mengelus lembut kepala yang bersandar di dadanya. Hatinya menghangat, seharian ini ia dibanjiri rasa bahagia. Atau bukan seharian ini saja. Tapi semenjak bersama dengan Ainun.

“Mau kan mencintai Abang karenaNya?” bisik Ilham tiba-tiba

Ainun mengulum senyumnya. Melingkarkan tangannya dipundak Ilham. Sejak hari pernikahan itu, Ainun mencoba mencintai suaminya hanya karena-Nya.

“Abang juga mau, kan, mencintai Ainun hanya karenaNya?”

Ilham terdiam sejenak, ia mencium puncak kepala Ainun lama. Tentu saja ia mau. Sudah sejak lama Ilham menantikan ini. Berdua dalam ikatan yang syahdu hanya karena-Nya.

Mereka terdiam menikmati waktu yang tentram. Bermain dalam pikiran masing-masing.

Ainun sudah menguap, matanya menahan kantuk yang menyerang, tapi telinganya dengan setia mendengar detak jantung Ilham yang berirama merdu. Tak lama, matanya terpejam diiringi embusan angin malam yang menusuk, namun tak mengganggu lelapnya, sebab tubuhnya berada dalam rengkuhan hangat kekasih halalnya.

“Abang ambil cuti lagi, jadi besok gak akan masuk kantor. Mungkin hari Senin mulai kerja.”

Hening …

“Ai?” panggilnya. Ilham menunduk, tangannya sukses mendarat di keningnya sendiri karena yang diajak bicara malah terlelap, mendengkur halus di atas dadanya. Ilham terkekeh geli karena tak menyadari sejak kapan Ainun tidur. Pantas saja sedari tadi ia bicara gadis ini tak menjawab sedikit pun, biasanya sering menimpali.

Ilham mengangkat tubuh itu pelan, merengkuhnya menuju kamar, lalu merebahkannya perlahan di tempat tidur, Ainun masih terlelap, tak bergerak sedikitpun. Ilham tak lupa membuka khimar Ainun perlahan, melipatnya lalu menyimpannya di nakas, lalu menarik selimut sampai ke pinggang, tangannya mengusap pipi yang sering merona karenanya, ia mengecup kening istrinya sekilas, menatap mata yang selalu bersinar itu. Lagi-lagi rasa hangat itu memeluk hatinya.

Allah begitu baik padanya, dengan ingatan Ainun yang tak utuh, mereka tetap saja merasa bahagia. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

“Jangan diketawain terus, Ainun ‘kan baru belajar.”

Ilham tak mampu menyembunyikan gelaknya sendiri, bibir Ainun sudah mengerucut. Sedari tadi, gadis itu sibuk membentuk dasi agar rapi. Berulang kali mencoba, berulang kali juga dirinya gagal. Ilham tidak akan berangkat ke kantor, pemasangan dasi ini khusus permintaan Ainun karena pikirannya sudah terkontaminasi dengan drama Korea.

Sepulang dari masjid subuh tadi, Ilham langsung diberondong dengan pertanyaan bagaimana cara memasang dasi dengan baik dan benar. Alasan Ainun hanya satu, ia melihat pemain wanita memasangkan dasi ke lawan mainnya, dan ia penasaran, ingin mencoba. Duh!

“Coba ulangi dari awal.”

Ainun menghela. Ia memposisikan ujung dasi yang lebar di sebelah kanan, dan yang kecil di sebelah kiri.

“Tarik dasi yang lebar ke ujung kiri.”

Ainun mengikuti intruksi, wajahnya sangat serius. “Terus?”

“Ujung dasi yang lebar balikkin ke arah kanan, lewati bagian bawah dasi yang kecil.”

Ainun mengangguk. Ia paham sekarang. Setelahnya, ia mulai melilitkan ujung yang lebar ke ujung yang kecil. Sementara Ilham sama sekali tidak memperhatikan kegiatan Ainun yang menyita seluruh konsentrasi gadis itu. Netranya hanya tertuju pada wajah di depannya. Buncahan hangat mulai mengalir, arusnya sangat menyenangkan untuk dirasa.

“Selesai!” Ainun menepuk pelan dada di depannya. Kepalanya terangkat, “Bang Ilham?” keningnya berkerut, karena yang dipanggil malah melemparkan senyum lembut. Tangannya meraih kening suaminya. Lelaki itu berdecak.

“Abang masih sehat.”

Ainun terkekeh.

“Ketawa kamu jelek. Jelek banget.”

Mata Ainun membola, tangannya melayang, menarik jenggot Ilham yang hanya beberapa helai itu. Lelaki itu meringis kecil. “Tambah jelek pas nontonin drama-drama itu.”

“Bang Ilham!”

Ilham sedikit menunduk, mensejajarkan netranya dengan Ainun. “Coba ngaca.”

Mata Ainun mendelik, hendak berbalik namun pundaknya ditahan Ilham. “Mau ke mana?”

“Katanya suruh ngaca!”

“Ngaca di sini,” tunjuk Ilham pada dua matanya, “lihat sendiri, jelek ‘kan?”

“Itu mata! Bukan cermin!” sungut Ainun, menghempaskan lengan Ilham hingga lelaki itu tergelak.

Ilham memang tidak pandai membuat Ainun terpesona. Niatnya ingin seperti lelaki di drama Korea itu, di mana biasanya si lelaki membuat wanita kesal, dan entah bagaimana prosesnya kedua lawan jenis itu akan bertatap mata, saling menelisik wajah, hingga keduanya beradegan romantis.

Ah, Ilham jadi ingat lirik lagu yang sedang populer. Jadilah diri sendiri.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *