Cerpen : Syahdu Part 09

Akbar memicing saat melihat Ainun terkekeh-kekeh kecil di meja makan. Kadang matanya beralih pada Ilham yang terlihat khusyuk dengan jatah makan siangnya. Akbar selalu takjub dengan kekuatan cinta dalam pernikahan, begitu dahsyat. Menyatukan perbedaan, menguatkan persamaan.

Ilham dan Ainun jelas dua manusia dengan segala sifat yang bertolak belakang. Ah, kadang juga Akbar masih tak percaya jika lelaki yang menjadi adik iparnya adalah sepupunya sendiri. Orang yang sedari kecil telah hidup bersama sebagai keluarga. Benar adanya jika dunia ini benar-benar sempit.

Saat banyak lelaki yang meminang, pilihan Ainun jatuh pada Ilham. Begitu pula sebaliknya, saat banyak wanita yang mendamba, pilihan Ilham jatuh pada Ainun. Jika diingat kembali, kapan Ilham pernah menunjukkan ketertarikannya pada Ainun? Kapan Ilham pernah terlihat mencuri-curi pandang pada Ainun?

Aah, kepala Akbar pening seketika. Kenapa juga ia harus berpikir mengenai sesuatu hal yang sudah menjadi ketetapan Allah?

“Kenapa?” Ilham mengangkat kepala, menoleh pada Ainun yang masih terkekeh-kekeh.

Ainun hanya menggeleng, kejadian di gazebo tadi masih menggelitik perutnya. “Sudah dihapus ‘kan, Bang?”

“Apanya?”

“Aah, Bang Ilham.” gadis itu terkekeh lagi, meninggalkan semburat merah di wajahnya sendiri. “Nanti kalau mau lagi bilang sama Ainun.”

Akbar terbatuk, punggungnya ditepuk-tepuk Bunda. Pasangan di depannya sedang membicarakan apa?

“Gak usah, yang tadi sudah cukup.”

Telinga Akbar memerah, ia menoleh pada Bunda. “Abang udah selesai, Bun, mau berangkat sekarang?”

“Mau kemana?” tanya Ainun.

“Ke rumah Tante Rumi. Kalian berdua jaga rumah, kalau mau keluar kunci aja, Bunda bawa kunci cadangan.”

Akbar buru-buru beranjak. Semeja dengan pasangan baru bukan hal yang baik untuk dirinya sendiri. Coba saja bayangkan, tadi itu Ilham dan Ainun membicarakan apa? Telinganya yang suci hampir saja ternodai.

“Berarti gak dihapus, kan?” Ainun kembali melayangkan tanya setelah Akbar dan Bunda pergi.

“Bukannya gak dihapus, tapi gak bisa kehapus, hp Abang eror. Layarnya gak bisa disentuh.”

Ainun bersidekap, menimpan sendok makannya. “Mana lihat?”

“Gak usah, hpnya juga ada di kamar.”

“Ainun ambil.”

Source

“Gak usah!” buru-buru Ilham memegang pergelangan tangan Ainun. Sepertinya mulai sekarang, Ilham harus memasang pin disetiap aplikasi ponselnya. “Makanan kamu belum habis tuh.” tunjuknya pada sepiring nasi yang masih utuh.

Bibir Ainun mengerucut, ia tak punya selera untuk makan.

“Kalau punya foto, usahakan jangan diunggah ke sosial media.”

“Kenapa?”

“Cantiknya kamu hanya untuk Abang, orang lain gak berhak menikmati.”

Aiihh, merah sudah pipinya.

“Bisa bersanding dengan kamu itu bukan hal yang mudah. Abang harus berusaha, rela hidup susah, rela diusir dari rumah karena kamu, Ainun Ash-Shiddiqiyah.”

Ainun terpaku. Itu kalimat yang romantis andai Ilham berkata sambil memandangnya, tapi faktanya? Lelaki itu tidak menoleh sama sekali, kepalanya tetap menunduk menatap sepiring nasi. Timbullah pertanyaan di benak Ainun, apa sepiring nasi beserta oseng ayam itu lebih manis dibanding dirinya?• Tadi kamu titip apa?

Ainun berdecak mendapat satu pesan dari Ilham. Suaminya pergi keluar setelah jamuan makan siang.

° Apel, Abang, Ainun mau apel.

Ting! Satu pesan kembali masuk.

• Merah atau hijau?

Aduh! Ainun mengetukkan ponsel ke kepalanya sendiri.

° Terserah, yang penting apel.

• Oke, Ai.

Tunggu! Ai?

° Bang Ilham udah rilis panggilan sayang buat Ainun?

Terkirim. Gadis itu terkekeh, hatinya berbunga.

• Panggilan sayang apa? Tadi itu belum selesai ngetik.

Aish!

“Pintu depan kenapa gak dikunci?”

Ilham memasuki ruang keluarga dengan sebuah plastik berisi apel hijau di tangan kanan. Yang ditanya tak menjawab, mata Ainun terlalu fokus pada tayangan di laptop putihnya.

“Ainun.”

Masih tak menoleh. Ilham menggelengkan kepala. Dilihatnya tayangan apa yang menyita perhatian Ainun. Kelima jarinya sontak menutupi wajah.

“Ngapain nonton begituan?”

“Seru, Bang Ilham. Bikin tegang.” tak sadar, Ainun menggigit kuku-kukunya sendiri. “Mau kemana?” tanyanya saat Ilham beranjak.

“Tidur. Mumpung belum asar.”

“Kok tidur?”

“Ya terus ngapain?”

Source

“Temenin Ainun nonton.”

“Abang gak suka nonton.”

“Tapi ‘kan istrinya Bang Ilham suka nonton, sebagai suami yang baik, Bang Ilham harus mendukung hobi istri.”

Istri, ya? Ilham terkekeh tanpa suara mendengar kata itu dari bibir Ainun.

“Hobinya kamu unfaedah.”

Bibir Ainun mengerucut.

“Ngapain coba kamu nonton yang kayak gitu tapi matanya ditutupin?”

“Serem tau!”

Ilham terkekeh, membiarkan lengan kirinya menjadi sandaran kepala Ainun.

“Judulnya apa?”

“Train To Busan. Film zombie, ini juga dikasih Azkiya.”

Aduh, adiknya itu!

“Kok serem?”

“Namanya juga zombie.”

“Setau Abang zombie itu pahlawan dalam Islam. Bukan mayat hidup yang suka ngejar-ngejar manusia untuk dijadikan mayat hidup lagi.”

Fokus Ainun terpecah, menatap Ilham tak mengerti. “Bang Ilham ngelindur, ini jelas-jelas zombie, ya rupanya begini.”

“Bukan. Zombie itu adalah seorang pahlawan islam dari Brazil, Abang pernah baca sejarah tentang Zombie, pernah juga diakusiin ini dengan teman-teman kajian.”

“Kok bisa zombie jadi pahlawan islam?”

“Gimana, ya, jelasinnya.” Ilham berpikir sebentar demi merangkai kalimat yang mudah dipahami Ainun. “Sekitar tahun 1550 masehi, agama islam mulai masuk ke Brazil. Saat itu orang-orang Portugis memasukkan budak-budak Afrika ke Brazil sebagai pegawai di kebun tebu. Mayoritas budak Afrika ini beragama islam, hingga saat itu banyak muslim yang ada di Brazil.” jeda sejenak, Ilham melihat reaksi Ainun yang mulai tertarik, sedangkan tayangan zombie di laptopnya terabaikan begitu saja. “Tahun demi tahun, pemeluk agama islam semakin banyak. Bahkan, para penduduk pun mulai menjadi mualaf. Ketika posisi islam di Brazil mulai menguat, Pasukan Salibis mulai menghabisi para pemeluk agama islam, mereka menghabisi saudara seiman kita sampai ke akar-akarnya. Dan mereka menganggap program mereka telah berhasil. Islam telah dilumatkan. Pada tahun 1643, muncullah seorang pahlawan islam. Dengan gagah berani mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di Brazil setelah sebelumnya bergerak mendakwahkan islam ke penjuru Brazil dan mengajak para tokoh, dan pimpinan itu untuk masuk islam, nama pahlawan itu adalah Zombie.”

Ainun terkejut. “Zombie?”

“Iya, Zombie. Salibis yang mengira islam di Brazil telah mati tersentak. Rupanya islam belum mati. Zombie telah menghidupkan islam kembali di bumi Brazil. Dan karenanya, Pasukan Salibis menjadikan Zombie sebagai target. Dan rupanya Zombie tidak hanya dimusuhi pada waktu itu. Namanya pun dihancurkan di abad modern ini.” Ilham menjeda lagi. “Seperti di film yang kamu tonton itu.”

Ainun termangu. “Jadi sebenarnya, Zombie itu saudara kita, Bang?”

Ilham mengangguk. “Almuslimuuna ikhwah. Meski pun beda suku, warna kulit, negara, bahasa, jenis kelamin, bahkan beda jaman, kita dipersaudarakan dalam naungan islam. Indah, ya?”

Ainun mengukir senyum, makin mengeratkan pelukannya di tangan Ilham. “Kalau kisah cinta kita, indah gak, Bang?”

“Indah lah!” Ilham menjawab cepat, “karena apa? Karena hubungan kita juga dinaungi oleh sejuknya pernikahan dalam islam, Ai.”

Ai? Lagi?

“Tuh, kan! Berarti yang tadi itu bukan karena gak selesai ngetik!”

Ilham tergelak, lengannya sudah dijadikan samsak oleh Ainun.

Aiih, Bang!

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *