Cerpen : Syahdu Part 08

Hujan mengguyur kota Kembang dengan derasnya. Semilir angin bisa dirasakan melalui celah jendela kayu, membelai kulit tanpa permisi. Beberapa kali Ainun merapatkan tubuh dengan selimut, mencari kehangatan sebisa mungkin, tubuhnya jelas tidak terbiasa dengan dingin yang menusuk seperti ini.

Tempat di sampingnya juga bergerak beberapa kali. Ainun berbalik, tak sadar kalau tidurnya membelakangi Ilham. Matanya beradaptasi dengan cahaya lampu yang terpasang rapi di langit-langit kamar.

Ainun mengernyit, kening Ilham sudah bercucuran keringat, bola matanya bergerak seolah gelisah, bibir tipis itu pun tampak pucat. Bergegas Ainun mengambil posisi duduk, tangannya sigap menyentuh kening Ilham.

“Bang Ilham kenapa?”

Yang ditanya malah menggelengkan kepala, tubuhnya menggigil. Ini jelas bukan keadaan yang baik. Seingatnya, Asmara pernah mengalami gejala yang sama dengan Ilham, seminggu yang lalu. Saat itu Ainun melihat Bunda meletakkan handuk kecil di kening Asmara, Bunda juga mengatakan kalau Asmara demam.

Ainun meletakkan tangan di kening Ilham untuk kedua kalinya. Tidak panas. Suhunya normal. Tapi kenapa bisa menggigil seperti ini?

“Abang gak papa.” seolah paham, Ilham hanya tersenyum tipis, menyingkirkan tangan Ainun. “Ayo tidur lagi, subuh masih lama.”

“Badan Bang Ilham menggigil.”

“Gak papa.” Ilham malah merapatkan selimut, matanya berusaha tak memandang ke arah jendela kayu.

Jelas Ainun tak bisa abai, “Ainun kompres, ya?”

“Gak usah. Ayo tidur lagi.”

Ilham gelisah, Ainun bisa melihat itu. Matanya ikut beralih pandang pada jendela kayu yang sedari tadi tirainya sedikit terhempas angin. Jujur, tiba-tiba benaknya berkecamuk. Ilham tidak sedang melihat ‘sesuatu’ yang asing, kan? Kuduknya merinding, dilafalkannya kalimat istighfar berulang kali. Ah, kenapa jadi mencekam seperti ini?!

“Kenapa malah bengong?” Ilham mengusap-usap punggung tangan Ainun, seolah ingin melebur seluruh gelisahnya. Ainun berbalik, tidur menghadap Ilham.

Source

“Jangan lihat ke sana terus.” tangan Ainun menutup mata Ilham. “Kesannya jadi horor.”

Ilham meneguk salivanya, kembali mengenyahkan tangan Ainun. Matanya menatap lekat netra Ainun. “Kalau hujan jangan keluar.” ucapnya tiba-tiba, napasnya naik-turun memburu. Masih gelisah.

“Iyalah, Ainun juga tau.”

“Jangan ceroboh.” mata Ilham berembun. “Semuanya yang kamu lakukan harus dipikirkan baik-baik.”

Ilham meracau, tangannya melingkar di leher Ainun, mendekatkan gadisnya. “Abang takut.” ucapnya sumbang.

“Takut kenapa? Ada apa memang?” Ainun sudah panas dingin, rasanya tatapan Ilham pada jendela kayu itu jelas tak bisa diartikan. Terkesan ambigu.

Alih-alih menjawab, Ilham malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ainun. Air matanya sudah keluar. Ya, Ilham trauma. Bayang-banyag Ainun yang bersimbah darah saat kecelakaan itu terus menari tak mau pergi. Hujan dan angin kencang seperti ini seolah menjadi pengingat bagi Ilham.

“Jangan pergi lagi. Jangan ceroboh.” berulang kali Ilham mengucap kalimat yang sama, tak menghiraukan Ainun yang terus memanggil namanya. “Kamu gak tau rasanya jadi Abang itu seperti apa.”

Sedang Ainun tak mengerti sama sekali setiap kalimat yang meluncur bebas dari bibir suaminya. Tangannya hanya bisa mengelus pelan punggung Ilham yang sedikit bergetar. Bingung menggelayut, namun Ainun tak mau bertanya. Ilham sedang kalut, begitu pikirnya.

“Ingat pesan Abang, jangan pergi ke mana pun saat hujan.”

“Kenapa?”

Ilham melepas wajahnya di tempat hangat itu. “Abang gak mau kehilangan kamu untuk kesekian kalinya.”

Ainun tak mengerti, namun kepalanya mengangguk. Tangannya mengusap wajah Ilham yang sudah basah sempurna. “Bang Akbar bilang, pantang buat laki-laki nangis di depan perempuan.”

Ilham membersit hidungnya, lantas terkekeh. “Laki-laki juga manusia, punya rasa, punya air mata. Kalau rasanya terusik, air matanya akan keluar. Sama seperti perempuan.”

“Berarti waktu bilang itu Bang Akbar sok tegar, ya?”

Ilham terkekeh lagi, “bisa jadi.”

“Kenapa?” tanyanya saat Ainun mulai memberi jarak.

“Ainun gak mau jadi guling hidupnya Bang Ilham lagi, sesek.”

“Kamu sendiri tau kalau Abang gak bisa tidur tanpa guling.”

“Di belakang Bang Ilham ada guling, coba tengok.”

Dengan sengaja, Ilham menendang guling berwarna biru gelap itu hingga tergeletak sempurna di bawah ranjang. “Yah, jatuh.” ucapnya polos.

“Tinggal ambil.”

“Kenapa harus ambil yang jauh kalau ada yang dekat?”

Bibir Ainun mengerucut. Tubuhnya sudah ditarik Ilham agar lebih dekat. Ainun tak mau munafik, ia merasa aman dan nyaman jika dekat dengan Ilham seperti ini.

Source
Siang ini mereka sudah kembali ke Jakarta, ke rumah Ayah lebih tepatnya. Sebenarnya Ilham ingin mengajak Ainun menjelajahi kota Bandung, namun apalah daya saat penawarannya ditolak mentah-mentah. Bukan Ainun tak ingin, tapi sorot mata Ilham yang masih kosong sejak kemarin malam jadi pertimbangannya.

“Besok Ainun udah boleh ke restoran, kan?” Ainun menurunkan buku, bisa dirasakannya semilir angin mengusap wajah. Suasana di gazebo memang terasa nyaman sekali.

“Mau apa?”

“Kerja lah, ‘kan sekarang Ainun sudah tau Bang Ilham itu siapa.”

Ilham menaruh ponsel di atas meja, dirinya dengan Ainun duduk berhadapan, hanya dipisahkan meja kecil yang tingginya sekitar 30cm. “Memangnya kamu sudah bisa masak?”

Ainun menggeleng, polos sekali. “Tapi ‘kan bisa belajar dulu sama Bang Ilham.”

“Belajarnya sama Bunda atau Ummi, besok Abang sibuk.”

Bibir Ainun mengerucut. Sepertinya Ilham sudah normal, terbukti dari sifatnya yang kembali flat.

“Besok Abang juga harus ke kantor.” bisa Ilham lihat, bibir Ainun sedikit menggerutu kecil. Ia hanya terkekeh tanpa suara.

Kepala Ainun tertunduk, matanya fokus pada buku yang di simpan di atas meja. Tangan gadis itu menyangga pipi, menyebabkan bibirnya maju beberapa mili. Ilham meraih ponsel, menekan fitur kameranya. Beberapa kali ia memperbesar gambar hingga wajah Ainun memenuhi layar datarnya.

Gadis itu masih menunduk. Sesekali mengernyitkan kening. Karena gemas, Ilham menekan tombol bulat di tengah layar, hingga …

Cekrek!

Kepala Ainun terangkat. “Bang Ilham suka selfi?”

Ilham mati kutu, wajahnya kikuk. Aduh, bodoh! “Oh, itu, nggak.”

“Coba lihat!”

Belum sempat menghindar, ponsel canggihnya sudah berpindah tangan. Ah, Ilham merasakan wajahnya memanas, apalagi saat mata Ainun mengerling jahil padanya.

“Bang Ilham ngapain sih fotoin Ainun diam-diam begini?” bibir Ainun terkekeh, “mau jadi …,” ia mencoba mengingat sesuatu yang pernah dikatakan Asmara, “paparazi?!”

Wajah Ilham sudah merah. Tangannya maju hendak mengambil ponsel, namun ternyata Ainun lebih gesit. Gadis itu menyembunyikan ponsel Ilham di belakang tubuhnya dengan tawa yang menguar ringan.

“Sini, Ainun.”

“Lihat dulu sebentar, kali aja ada foto yang lain.”

Ilham meneguk ludah. Salah tingkah? Oh, jelas!

“Mau foto Ainun yang lain gak? Biar Ainun kirim, kemarin-kemarin Ainun diajarin selfi sama Rara, kali aja Bang Ilham mau koleksi sebagiannya,” jemarinya lincah mengotak-atik ponsel milik Ilham, “semuanya juga gak papa ‘kan, ya?” bibirnya terkekeh lagi, kedua tangannya sibuk dengan dua ponsel, bola matanya tak henti menyipit karena tawa.

“Gak usah!” Ilham keki, diambilnya ponsel secara paksa dari tangan Ainun hingga gadis itu menengadah. “Abang gak suka koleksi foto apa pun.” ia berlalu dengan rasa malu yang menggunung. Dilihatnya galeri yang sudah penuh dengan foto Ainun. Dan bibirnya sendiri telah berkhianat karena melengkungkan senyum. Aish!

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *