Cerpen : Syahdu Part 07

Ilham mengucek mata berkali-kali. Malam ini entah untuk keberapa kalinya ia terbangun. Matanya memang tak bisa terpejam jika berada di tempat baru. Sedangkan Ainun yang berada di sampingnya sudah tertidur lelap dengan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya.

Ilham mengubah posisi, tubuhnya menghadap Ainun. Terkadang ia mengukir senyum saat jemarinya mulai bermain di wajah gadis yang beberapa jam lalu telah menjadi pendamping hidupnya. Perlahan tapi pasti, Ilham mendekatkan wajah hingga hidungnya bertemu dengan hidung Ainun. Tanpa pikir panjang, dikecupnya bibir Ainun. Ah, begini saja detaknya sudah berdendang ria. Buru-buru Ilham menjauhkan wajah saat Ainun menggeliat.

Bukan, Ilham bukan pengecut yang melakukan suatu tindakan secara sembunyi-sembunyi. Ia hanya merasa Ainun masih membatasi geraknya jika mereka tengah bersama. Tapi itu wajar, bukan? Mereka tak pernah sedekat ini sebelumnya.

Sedangkan dalam pejamnya, Ainun merasakan sesuatu mengusap setiap inci wajahnya, terasa lembut dan menyenangkan. Ia juga merasakan sesuatu yang hangat berembus di wajahnya, bibirnya seolah bersentuhan dengan sesuatu yang kenyal. Ainun menggeliat, membuka matanya perlahan dan mendapati Ilham yang tengah menatapnya dengan kedua tangan lelaki itu menangkup di kepala.

Sejenak ia merasakan keterkejutan yang luar biasa. Kalau saja Ainun tak mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, mungkin ia tak akan segan berteriak dan menendang lelaki di depannya.

“Bang Ilham kenapa belum tidur?” tanyanya setelah sebagian kesadarannya terkumpul dengan baik.

“Di sini gak ada guling, ya?” Ilham malah balik bertanya, “Abang gak bisa tidur kalau gak peluk guling.” itu alibinya. Lebih tepatnya sebuah kode, semoga saja Ainun paham maksudnya.

Ainun membenahi bantal, “kalau di kamarnya Ainun gak ada. Mungkin di kamarnya Rara ada, mau Ainun ambilkan?”

Ah, Ainun tak peka. Ilham hanya menggeleng dan menggaruk kepalanya.

“Malam ini peluk bantal aja, ya, Bang?” Ainun menyerahkan bantal yang sedari tadi menopang kepalanya. Sontak saja Ilham menggeleng tegas. “Gak papa, besok Ainun carikan guling.”

Ya, Allah … Harusnya Ilham to the point!

Ilham mengembalikan bantal Ainun, menyuruh Ainun kembali tidur seperti semula.

“Kayaknya Bang Ilham gak ngantuk, ya? Ainun buatkan susu hangat, mau?”

Ilham kembali menggaruk kepala, kenapa jadi merepotkan Ainun seperti ini? Ia mengerjap saat Ainun menyibak selimut. “Mau ke mana?” tangannya menahan Ainun.

“Bikin susu hangat.”

Source

“Gak usah,” gemas karena sedari tadi kodenya tidak ditangkap dengan baik, Ilham malah menarik Ainun berhimpitan dengannya di tengah ranjang, “Abang cuma mau tidur sambil peluk guling.”

Jantung Ainun berdebar gila, kesadarannya hampir melayang karena Ilham tak membiarkan tubuh mereka berjarak sedikit pun. “Tapi Ainun ‘kan bukan guling.” cicitnya.

“Mulai sekarang kamu jadi guling hidupnya Abang.”

Aish! Pipi Ainun bersemu, embusan napas Ilham di pipi makin menambah warna merah di wajahnya. Kantuk yang sedari tadi menyerang kini sirna entah kemana. “Ainun gak bisa napas.”

Ilham menaruh telunjuknya di lubang hidung Ainun, “ini bisa?”

“Maksudnya sesek.”

Bibir Ilham sudah berkedut, raut Ainun terlihat menggemaskan di matanya. Ia sedikit menjauh, melepaskan Ainun dari dekapannya. Kepalanya menengok jam dinding, “baru jam satu, tidur lagi.”

Ainun mengubah posisi menjadi telentang. Kantuknya sudah hilang. “Tentang kita kedepannya, Bang, Ainun gak bisa masak, nanti Abang makan apa?”

“Makan nasi.”

“Ainun serius.” gadis itu menepuk-nepuk sendiri pipinya.

“Abang memang makan nasi, kamu juga, kan?”

“Maksud Ainun lauknya, Bang Ilham.”

Tangan Ilham terulur menutup mata Ainun. “Coba bayangin masak perkedel jagung, kamu jago bikin itu.”

“Ainun gak bisa bayangin apa pun, semuanya kosong, bentuk makanan yang disebutin Bang Ilham aja Ainun gak tau.” Ainun melepas tangan Ilham dari wajahnya. “Dokter bilang, Ainun ini amnesia ret-apa, sih?” keningnya sampai berkerut. “Ret-”

“Retrograde?”

“Nah, itu!” Ainun menjentikkan jari. “Selain gak bisa mengingat masa lalu, Ainun juga gak akan bisa membayangkan masa depan. Memangnya Bang Ilham tetap mau hidup dengan perempuan yang gak punya bayangan apa pun untuk masa depan?”

“Buat apa Abang datang ke rumah Ayah tiga hari yang lalu kalau Abang sendiri gak siap untuk segalanya?”

Ainun melirik Ilham. “Dokter juga bilang proses penyembuhan untuk Ainun butuh waktu yang panjang, atau bahkan, ingatan itu bisa aja gak pernah kembali.”

Ilham tersenyum tipis. “Kita ‘kan punya Allah, Nun. Kita bisa minta apa pun sama Allah, termasuk minta ingatan kamu lagi. Apanya yang perlu dikhawatirkan?

Ainun termangu. Kenapa sosok Ilham di matanya terlihat begitu dewasa dan bijak?

“Cukup taat pada Allah, maka hilangnya ingatan kamu gak akan jadi beban.”

“Bantu Ainun untuk kembali taat, Bang.”

Ilham mengangguk. “Kita belajar sama-sama.”

Ainun beranjak duduk. “Sebenarnya ada yang aneh dengan diri Ainun.” matanya seolah menerawang ke depan. Ilham ikut duduk. “Ainun lupa segalanya, Ainun lupa siapa diri Ainun sendiri, tapi kenapa Ainun gak pernah lupa dengan bacaan sholat dan hapalan Ainun?”

Source

Mata Ilham menatap Ainun. “Maksudnya?”

“Ya, begini,” tubuh Ainun menghadap ke arah Ilham, “bacaan sholat, dzikir, dan hapalan Ainun tetap utuh. Dua hari setelah sadar dari koma, Ayah tes hapalan Ainun karena Ayah heran Ainun sholat tanpa banyak tanya gimana tata cara dan sebagainya, dan Ayah bilang semuanya utuh. Setiap waktu sholat malam Ainun selalu kebangun.”

Ilham termangu. Sulit sekali untuk dipahami. “Boleh Abang tanya sesuatu?”

Ainun mengangguk.

“Kenapa kita diperintahkan membunuh cicak?”

“Setau Ainun, dulu cicak membantu meniup api yang akan membakar nabi Ibrahim.”

Ilham meneguk ludah, “kamu tau surah yang gak pakai bismillah?”

Ainun mengangguk. “Surah At-taubah.”

Masya Allah. Allah tunjukkan kekuasaan-Nya melalui musibah yang menimpa Ainun. Ini maunah, salah satu kemampuan luar biasa yang Allah berikan kepada seorang mukmin untuk mengatasi kesulitan di luar akal pemikiran manusia.

Ilham tak bisa berucap. Kebesaran Allah benar-benar ditunjukkan di depan matanya sendiri. Ia mengulurkan tangan untuk merengkuh Ainun, sekedar memastikan bahwa mukmin yang Allah pilih adalah istrinya.

“Abang gak tau harus bersikap bagaimana selain bersyukur sebanyak-banyaknya pada Allah.”

Ainun memejamkan mata, mencoba menikmati peran barunya.

“Rencananya, nanti siang Abang mau ajak kamu ke Bandung.” ucap Ilham, melepas rengkuhannya. “Mau?”

“Mau ngapain?”

“Main, sekalian lihat sayuran yang mau dikirim ke restoran.”

“Jadi dalam rangka sambil menyelam minum air?”

Ilham terkekeh, “nggak lah, Nun, Abang gak bisa kalau menyelam sambil minum air, takut keselek.”

Ainun melongo. Ilham ini melucu atau apa? Rasanya garing sekali.

Ainun tidak tahu kemana Ilham membawanya. Yang pasti, di depannya ini, adalah tempat yang bisa dikategorikan indah. Warna hijau yang mendominasi membuat mata Ainun tak bosan memandang. Ada kicauan burung yang ikut menemani setiap langkahnya di pematang sawah. Rasa lelah akibat perjalanan jauh terbayarkan sudah.

Ilham berjalan di depannya, sesekali lelaki itu menengok ke belakang, memastikan istrinya masih dalam keadaan baik-baik saja di tengah licinnya lumpur yang mereka jadikan pijakan.

“Nantinya, ini akan dijadikan kebun. Nggak semuanya, sih, paling seperempatnya.” Ilham mengangkat jari telunjuknya pada jejeran keranjang berisi tomat di sebelah timur tempat mereka berdiri. “Itu hasil panen bulan ini. Mau lihat?”

Ainun mengangguk. Matanya tertumbuk sekilas pada ujung jilbab birunya yang sudah bercampur dengan warna lumpur yang kecokelatan.

“Jadi lahan ini milik siapa?”

“Partner bisnis Abang.”

Source

“Abang sering ke sini?” Ainun menerima uluran tangan Ilham untuk naik ke pijakan tanah yang lebih tinggi.

“Gak terlalu sering, yang pastinya sebulan sekali Abang sempatkan berkunjung ke sini.” jawab Ilham. “Coba kamu lihat pagar di ujung sana.” tunjuknya pada pagar kayu yang berderet sepanjang berpuluh meter. “Itu akan dijadikan peternakan sapi.”

“Terus apa lagi?”

Ilham berjongkok, mengambil beberapa buah tomat yang ranum, “macam-macam. Kalau gak salah juga akan dijadikan perkebunan buah dan sayur.”

Ainun ikut berjongkok, senyumnya melengkung kala menerima satu buah tomat berukuran besar dan terlihat segar.

“Lahan seluas ini nantinya akan menjadi sesuatu yang berguna. Bukan untuk pasokan kebutuhan di restoran aja, tapi juga yang mengelolanya pun harus merasakan guna dan manfaatnya dengan ada lahan ini.” jelasnya. “Nah, lihat bukit itu.” tunjuknya. “Di sana, nantinya akan dibangun beberapa villa.”

“Partner bisnis Abang mau bikin desa ini jadi tempat wisata?”

Ilham mengangguk. “Setau Abang begitu, tapi dia bilang bukan cuma tempat wisata aja, sih. Tapi lebih ke tempat pembelajaran. Bulan kemarin, mahasiswa dari kota banyak yang KKN di sini, lho.”

“Di sini, potensinya besar. Mau dijadikan apa pun pasti jadi kalau serius mengelolanya.” lanjutnya.

Mereka melanjutkan langkah menuju batu besar yang dinaungi pohon rindang. Ainun duduk di sana. Matanya masih asik menjelajah pemandangan alam yang begitu asri. Berbanding terbalik sekali dengan tempat tinggalnya di Jakarta. Ah, tempat hijau ini mengingatkannya pada kediaman Opa dan Oma di Jogja.

“Kalau ada kesempatan lain, Abang ajak lagi ke sini.” Ilham membuka suara, tangannya membenahi khimar Ainun yang diterpa angin. Diraihnya jemari Ainun untuk kembali melanjutkan langkah. Dan sisa hari itu, mereka habiskan untuk banyak belajar dengan alam. Entah itu menanam, memetik, atau sebagainya.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *