Cerpen : Syahdu Part 06

Matahari sudah tenggelam di ufuk barat. Lembayung kejinggaan sudah terganti dengan hitamnya malam. Suara adzan maghrib yang berkumandang merdu membuat orang-orang bergegas menuju masjid.

Suasana kali ini tampak berbeda. Terlihat jelas dari jamaah yang lebih banyak dari biasanya. Tabir hijau yang menjadi pembatas antara jemaah lelaki dan wanita sudah ditutup dengan sempurna, menghalangi pemandangan yang membuat mata memanas karena haru.

Ainun duduk dengan posisi serba tak nyaman. Sejenak menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Menenangkan detak jantungnya yang kian berdebar hebat.

Berbagai tanya tak sempat ia jawab. Ainun tahu, teman-teman yang mulai dikenalnya kembali, yang kini berada di belakangnya mempunyai rasa penasaran yang menggunung tentang akad ini. Siapa yang menyangka, pernikahan yang sempat tertunda akan dilaksanakan malam ini? Sekarang, Ainun merasa kurang dengan segala sesuatu yang ada pada dirinya. Bagaimana jika lelaki itu akan kecewa padanya?

Allah … mantapkan hatinya didetik terakhir ini, sebab di depan sana, ada seseorang yang akan mengucap ijab untuknya. Di depan sana, ada seorang lelaki yang telah sudi berjuang dan menunggu tanpa lelah.

Sementara di depan tabir, berkali-kali Ilham berdeham, mencoba menetralkan suaranya yang sedikit bergetar. Duduk tak kalah gelisah sama seperti mempelai wanitanya. Berkali-kali menghela napas untuk menormalkan pernapasannya yang memburu. Malam ini, adalah malam pergantian statusnya.

Debar gugup di dada tak juga mereda walau bibirnya sudah beratus kali mengucap dzikir yang selalu menenagkan jiwa.

“Itu normal.”

Ilham ingat ucapan Abi sebelum berangkat ke masjid tempatnya akan melaksanakan akad.

“Dulu Abi juga begitu. Semua orang yang menikah pasti akan segugup itu.”

Ilham duduk diantara Ayah dan juga Abi di shaf pertama barisan sholat. Ia akan mengucapkan ijab qobul seusai melaksanakan sholat maghrib. Saat iqomat dikumandangkan, hatinya mulai terasa tenang. Apalagi saat ia menunaikan maghribnya, ketenangan tiada tara itu merayapi hatinya, memantapkan jiwanya.

Source

Sebelumnya, Ilham tak pernah merasa seharu ini.

Setelah selesai melaksanakan sholat, dilanjutkan dengan dzikir, Ilham diminta untuk menempati meja akad. Beberapa pasang mata menatapnya dengan penuh arti, ia hanya bisa membalas dengan senyum kikuk, sebab entah kenapa, bibirnya kaku bagai batu.

Jantungnya semakin berdetak kencang, tangannya mendadak dingin, saat Akbar sebagai pembawa acara mengucapkan salam kepada semua jamaah sholat maghrib. Ilham tersenyum simpul saat Ayah melemparkan senyum menenangkan padanya.

Sementara di balik tabir sana, Ainun menautkan jemarinya penuh resah, namun telinganya mendengarkan khutbah nikah dengan penuh kekhusyuan. Lagi-lagi jantungnya bergetar hebat, saat suara Ayah mengucapkan istighfar sebagai awalan akad.

“Ya, Ilham Ash-Shiddiq aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putriku, Ainun Ash-Siddiqiyah binti Ahmad Ash-Siddiq dengan seperangkat alat sholat, surah al-waqiah dan cincin emas seberat delapan belas gram dibayar tunai.”

“Saya terima nikah dan kawinnya Ainun Ash-Siddiqiyah binti Ahmad Ash-Siddiq dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!” jawab Ilham mantap.

“Bagaimana para saksi, sah?”

“Saaaahh!”

Entah bagaimana harus dijelaskan. Ainun kaku untuk mengatakan buncahan dalam dadanya. Ia hanya mengurai air mata di pelukan Bunda yang selalu menenangkan.

Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha ilallah wallahu akbar.

Suasana bertambah haru saat Ilham membacakan surah al-waqiah sebagai mahar dengan khidmat. Mata Ainun tak henti-hentinya berair, ia merasa seperti mimpi, namun kata-kata lembut yang keluar dari bibir Bunda menyentaknya dan menyadarkannya jikalau ini semua nyata.

Pelukan terasa makin hangat ketika seorang wanita memeluknya erat, mengelus puncak kepalanya dengan senyum indah yang terpatri.

Ainun mengurai pelukan dengan kedua wanita yang memeluknya. Tangannya meraih tangan Bunda, mengecupnya khidmat. Air mata terurai lagi, karena saat ini, Ainun bukanlah anak gadis yang tergantung pada Bunda lagi. Ada lelaki yang siap memberikan pegangan kuat untuknya.

Bunda merengkuh lagi tubuh Ainun. Ada bahagia yang membuat haru.

Ainun beralih tatap, tersenyum simpul pada Ummi. Tangannya tergerak meraih tangan Ummi, mengecupnya khidmat, seperti yang dilakukannya pada Bunda.

“Ainun ikhlas menjadi menantu Ummi?”

Ainun mengangguk, dibalas rengkuhan hangat oleh Ummi yang tak hentinya mengucap syukur dan rasa terimakasih.

Setelahnya, Ainun menyalami para tante dan sepupunya, dilanjut dengan beberapa teman dekat yang telah ia beritahu sebelumnya.

Sejenak matanya beralih pada tabir yang masih tertutup.

Ilham Ash-Shiddiq … adalah lelaki yang tak pernah menyerah untuk memperjuangkannya.

Source
Isya sudah berlalu. Para tamu undangan yang tak banyak sudah berkurang sedikit demi sedikit. Memperlihatkan kesan lenggang di rumah Ayah yang memang luas.

Desiran hangat yang merayapi hati, juga dada yang berdebar tak karuan membuat Ilham makin terlihat kikuk berada di tengah-tengah keluarga. Sebenarnya, sedari tadi Ilham berusaha mencermati setiap cerita yang tertutur hangat dari para sepupunya.

Tentang Ainun.

Em, Ilham sempat bertemu dengan gadis yang tak lain adalah istrinya sendiri. Mereka sudah menandatangani beberapa berkas, dan Ilham sudah menyematkan cincin pernikahannya di jari manis Ainun, doa barokah untuk pernikahan pun sudah ia bacakan di depan penghulu, keluarga, beserta tamu yang hadir.

Setelah ini, apa yang akan mereka lakukan? Sholat dua rokaat, mungkin?

“Om, apa gak sebaiknya Ilham disuruh istirahat?”

Ilham menoleh pada Faris. Senyum kikuk plus malu makin merambati wajah tampan Ilham, membuatnya menghangat dan salah tingkah. Apa angannya yang berkelana ditangkap Faris dengan semudah itu?

“Kalau ada teman-temannya yang datang, biar kami yang menyambut.”

Ayah menimang sebentar dan mengangguk setelahnya. Bibirnya terkekeh kecil menyadari kealfaannya yang tidak langsung mempertemukan kembali menantu dengan putrinya.

“Gih istirahat, kamarnya di lantai dua, pintunya yang ada gambar bintang. Awas salah masuk. Yang sebelah kiri itu kamarnya gue, kalo yang kanan kamarnya Asmara.” beritahu Akbar panjang lebar. Kepalanya sempat diketuk sebentar oleh Faris. “Apaan?” Akbar melotot tak terima.

“Ilham bukan orang baru, dia pastinya hapal betul seluk-beluk rumah ini.”

Faris benar. Ilham hapal betul kondisi rumah ini dengan baik. Tak lama Ilham pamit undur diri, berbekal dengan debar yang tak mereda ia melangkah pelan. Namun langkahnya terhenti sejenak kala Akbar memanggil namanya.

“Ya, Bang?”

“Jangan lupa sholat sunnah.”

Aduh. Ilham memerah. Sementara yang lain tergelak riuh, Akbar yang paling keras suaranya.

“Jangan bilang karena gugup jadi lupa niatnya?” tambah Akbar.

“Sebelum sholat sunnah baca doa barokah dulu kali, Bang!” Faris yang sudah gatal mulutnya ikut memanaskan suasana. “Dipegang ubun-ubunnya, baru di bacain doa, setelah itu baru sholat sunnah dua rokaat.” Faris memeragakkan ucapannya.

Masya Allah …

“Doa barokahnya udah, Ris!” Akbar mengingatkan, “tinggal yang dua roka’at.” senyum jahilnya terbit.

“Setelah sholat sunnah dua rokaat, Bang?” pancing Faris lagi, kedua alisnya diangkat tinggi-tinggi.

“Ya … Tau, deh! Serah mantennya!”

Gelak tawa menguar lagi, kali ini Farhan ikut menyumbangkan gelaknya. Lelaki pendiam itu tak habis pikir dengan tingkah Akbar dan Faris.

“Mending buruan naik, Ham!” titah Farhan yang benar-benar tidak tega dengan sepupunya.

Tanpa diminta dua kali, Ilham melangkah tanpa mau menoleh lagi. Sudah cukup godaan itu baginya. Ilham benar-benar merasa malu. Padahal dulu, jika salah satu temannya menikah, ia akan mencandai seperti itu. Tapi kini, Ilham baru sadar jika dicandai itu membuatnya tak dapat berkutik sama sekali.

Tak terasa, kakinya sudah menapaki undakan tangga yang teratas. Sekarang langkahnya terasa kebas dan berat. Matanya menyapu seluruh objek.

Pintu dengan gambar bintang.

Ilham berdeham kecil ketika menemukan pintu itu. Tak sulit mencarinya sebab pintu tersebut dihiasi banyak bintang berwarna kuning. Terkesan lebih mencolok di banding kedua pintu yang mengapitnya.

Source

Tok-Tok…

Gugup makin mendera. Saat hendak mengetuk lagi, tangannya berhenti di udara karena pintu bergambar bintang itu terbuka dan menampilkan sesosok muslimah berjilbab dan berkhimar lebar. Ilham mengernyit sebentar karena ternyata yang didapatinya bukan Ainun, melainkan Rania juga Azkiya dan Asmara di belakangnya.

“Ngapain, Bang?” tanya Azkiya, rambut kucir kudanya bergoyang seirama dengan kepalanya yang dimiringkan.

Ilham kikuk. Sekarang apalagi ini?

“Kak Ainun masih di dalam.” sekarang Asmara dengan rambut tergerainya ikut berucap. “Masih aman pastinya,” entah belajar dari mana, remaja itu terkikik menyebalkan.

“Kami pamit, Bang.”

Ilham mengangguk dan memberikan jalan pada mereka yang kini terkikik dk belakangnya.

Ilham menghela napas, sepertinya malam ini ujiannya berat sekali. Tak lama, Ilham kembali menatap pintu yang tertutup sendiri itu.

“Assalamu’alaikum,” suaranya pelan, diiringi ketukan pintu yang tak kalah pelan.

Pintu di depannya terbuka, diiringi jawaban salam. Mereka terdiam sejenak, terlebih Ainun yang kontan menunduk ketika mata mereka bertemu pandang. Pipinya memanas saat dirasakannya tatapan Ilham.

Aish! Ainun memejamkan mata sejenak dan membukanya. Mengenyahkan debar yang ternyata sangat menyenangkan.

“Engg–masuk, Bang?” Ainun memberi jalan pada Ilham untuk masuk, lelaki itu mengangguk. Ia membuntuti lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya.

Suaminya!

Ilham duduk di sisi ranjang, mengamati keadaan kamar yang hanya dihias sederhana. Warna putih gading yang mendominasi seolah menegaskan telah terjadinya pernikahan.

“Bang Ilham, mau Ainun buatkan minum?” gugup sebenarnya, tapi Ainun memberanikan diri, lebih tepatnya, ia ingin angkat kaki dari kamarnya sendiri.

“Ini bukannya minum?” Ilham mengangkat segelas susu hangat di atas nakas. Ia mulai meneguk perlahan. “Kenapa?” tanyanya melihat Ainun yang membulatkan mata.

Pipi Ainun bersemu. “I-itu, kan, bekas Ainun.”

Ilham menatap gelas di tangannya. “O-oh, maaf.” Aduh, ia malu. Disimpannya kembali segelas susu itu, matanya beralih pada Ainun yang masih berdiri, “gak mau duduk?”

Duduk, ya? Ainun tersenyum kecil. Ia duduk di samping Ilham, kepalanya menunduk dengan jemari yang berusaha menghangatkan satu sama lain. Tanpa disangka, Ilham membawa tangan kanan Ainun untuk bertaut dengan jemari tangan kirinya sendiri. Ainun menoleh, Ilham tidak memandangnya. Lelaki itu malah terfokus pada jemari mereka yang bertaut.

Dengan begini, Ainun bisa leluasa mengamati wajah Ilham dari samping. Apa yang istimewa dari suaminya? Ilham tampan, sorot matanya selalu tegas dan setajam elang, bibirnya jarang sekali mengulas senyum. Ilham tipikal lelaki yang pendiam. Setahu Ainun, lelaki ini jarang sekali membuka suara jika tengah berkumpul dengan para sepupu. Terkadang Ainun melihat Ilham terkekeh kecil, namun hanya sepersekian detik. Setelahnya? Bibir itu akan kembali pada garis lurusnya.

Ah, berbanding terbalik sekali dengan dirinya yang banyak bicara dan terlalu aktif bergerak. Akan jadi apa kisah pernikahan mereka? Apalagi jika dikaitkan dengan dirinya yang tak mengingat apa pun.

Source

“Kenapa?”

Ainun tersentak, tiba-tiba saja Ilham mengangkat kepala dan menoleh padanya. Dari dekat, Ainun bisa melihat empat helai jenggot tipis di dagu Ilham. Kenapa terlihat begitu manis dengan bibir yang tipis? Aish! Ainun melantur.

“Baik-baik aja, kan?” punggung tangan Ilham mulai berani menyentuh kening Ainun. Lelaki itu terlihat biasa, berbanding terbalik dengan Ainun yang berusa menetralkan detaknya sendiri. “Suhu badan kamu normal.”

Bibir Ainun sedikit mengerucut. Ayolah, lelaki di sampingnya pasti heran dengan sikapnya yang tiba-tiba menjadi pendiam seperti ini.

Ilham kembali tenggelam pada jemari yang digenggamnya. Ia menimang, membalikkan beberapa kali sebelum mengelus punggung tangan Ainun dengan ibu jarinya. Ada rasa hangat memenuhi rongga dadanya. Ya, Ilham bahagia walau saat ini ia hanya berani menggenggam tangan Ainun. Bukankah ini hal yang luar biasa? Ilham harus berjuang, bersabar, menyerahkan mahar, dan mas kawin agar bisa berduaan dengan Ainun seperti ini.

Ilham mendongak, kini memilih menyentuh dagu Ainun agar gadis itu balik mentapanya. Matanya melihat wajah Ainun bersemu. Cantik sekali. Apalagi saat ia mulai menelisik lebih jauh setiap garis wajah Ainun. Ilham hapal betul semua ekspresi Ainun. Tawanya yang selalu dihiasi kedua lesung pipit, wajah masamnya jika kesal, matanya yang akan berputar jika sudah merasa jengah. Ah, Ilham benar-benar hapal, mereka tumbuh bersama.

“Mau sholat sunnah sekarang?”

Aiiih, tawaran itu begitu manis dan lembut. Ainun merasakan lagi sesuatu yang panas menyapa seluruh wajahnya, tanpa sadar ia tersenyum malu. Ilham menyentuh kedua lesung pipit itu dengan kedua ibu jarinya. Ia terkekeh kecil saat Ainun kembali menunduk.

“Bang Ilham duluan, Ainun siapkan sajadahnya.” tanpa menunggu jawaban, Ainun melepaskan kedua tangan Ilham dari wajahnya. Gadis itu tak menyangka dengan sikap Ilham yang begitu manis di matanya. Aih! Lelaki itu pandai sekali memainkan irama malam ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *