Cerpen : Syahdu Part 05

Ainun masih saja tergelak mendengar guyonan Akbar dan Asmara. Sekarang, ia hanya menjadi pendengar setiap keluh kesah abang dan adiknya. Hari ini entah mengapa hatinya berbunga sekali, ia sudah menceritakan semuanya pada Ayah dan Bunda. Reaksi mereka? Tentu saja mendukung sepenuh hati.

“Bang Akbar mana pernah berani nembak cewek,” celetuk Asmara ringan. Kepalanya dihadiahi ketukan spesial dari Akbar.

“Jangan tembak-tembakkan, itu tuh gak gentle,” semprot Akbar, keki. “Mending langsung datangi walinya, lebih mulia, lebih indah.”

Asmara berekspresi pura-pura muntah dengan lidah yang menjulur keluar. “Sampai sekarang, mana? Belum ada hasilnya tuh!”

“Ya, sabar. Menemukan sesuatu yang istimewa itu jalannya gak mudah, pasti penuh liku.”

Baru saja Asmara hendak menimpali, pintu kamar diketuk, menampilkan Bunda dengan senyum mereka di bibirnya.

“Kak, sini.”

“Ainun, Bunda?” tunjuk Ainun pada dirinya sendiri. “Iya,” jawab Bunda, “ayo, Kak, buruan.”

Ainun beranjak, mengikuti langkah Bunda menuju ruang tamu, sudah ada Ayah di sana dengan buku tebal di tangan.

“Tunggu sebentar,” ucap Bunda.

“Memangnya ada apa?”

“Tunggu sebentar.” Bunda mengucapkan kalimat yang sama.

Ainun bersandar, memainkan kuku-kukunya yang telah ia potong pendek pagi tadi.

Ayah berdeham, menyimpan bukunya di kolong meja. “Ini tentang ucapan kamu tadi sore. Serius, kan?”

Ainun mengangguk. Sudah berpuluh kali Ayah bertanya hal yang sama padanya, dan jawaban Ainun pun akan tetap sama walau dengan anggukan kepala.

“Kamu tau, Kak, kenapa dulu Ayah menerima pinangan Ilham?”

Nah, barulah Ainun menggeleng. Rasa penasarannya tiba-tiba memuncak.

“Saat itu Ayah ingat salah satu hadits Rasulullah, beliau bersabda; “Jika seorang (datang) kepadamu untuk melamar (anak perempuanmu), yang (ia telah) engkau ridhai agama dan akhlaknya, maka (segera) nikahkanlah ia. Jika tidak, (maka) akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.””

Source

“Ayah melihat bagaimana Ilham tumbuh dengan baik,” lanjut Ayah. “Keshalihan dia, kesopanannya, segalanya, Ayah tau, karena dia tumbuh di depan mata Ayah.” tangan besar Ayah mengusap puncak kepala Ainun. “Sudah mantap, kan? Jangan berubah pikiran, ya?”

Ainun menggaruk pipinya lantas terkekeh kecil, “iya, Ayah. Ainun sudah mantap, insya Allah. Tapi kenapa Ayah terus-terusan bertanya hal yang sama?”

Belum menjawab, seseorang lelaki jangkung yang berdiri di ambang pintu depan menjadi jawabannya. “Assalamu’alaikum.” di sampingnya ada sepasang suami istri. Ainun mematung. Ia tahu siapa mereka.

“Wa’alaikumussalam,” Ayah beranjak, “ayo, masuk.” beliau menyilakan ketiga orang itu untuk masuk dan duduk di sofa, tepat di depan Ainun. Sedangkan Bunda masuk ke dapur.

“Ayah,” bisik Ainun dengan mata membulat, bibirnya seolah bertanya ‘maksudnya?’.

Ayah tak menjawab. Beliau malah asyik melempar tanya pada Abi Ilham, lelaki paruh baya yang tak lain merupakan adiknya sendiri. Mendadak semua suara menjadi samar di telinga Ainun. Ia tak mendengar apa pun. Detak jantungnya sibuk dengan pacuan yang amat cepat.

“Bagimana, Kak?”

Ainun mengerjap, usapan Bunda di pundaknya berhasil membuat Ainun menoleh. Sejak kapan Bunda kembali duduk di sebelahnya? Sejak kapan seluruh tatapan mata tertuju padanya penuh arti? Dan sejak kapan abang beserta adiknya mengintip di celah lemari kaca sana? Ya, Allah. Sejak kapan Ainun menjadi terlihat bodoh?

“Ayo, Ham, lebih baik kamu yang mengutarakan langsung,” ucap Abi menyadari sikap Ainun.

Ilham berdeham, tersenyum tipis untuk melebur guguupnya. “Ainun, bersedia menerima kembali pinangan Abang?”

Lidah Ainun makin kelu. Apakah dulu juga begini? Detaknya berpacu cepat dan kepalanya mendadak kosong seketika. Apakah dulu juga begini? Kupu-kupu seolah melayang-layang di perutnya, menimbulkan percikan hangat yang menyenangkan.

“Ainun mau menikah dengan Abang?”

Lelaki di depannya bertanya lagi. Napas Ainun sudah terasa sesak. Ia tak menyangka Ilham akan bergerak secepat ini, baru saja mereka membicarakan semuanya tadi sore, dan sekarang? Lihatlah. Ilham membawa kedua orangtuanya ke hadapan Ainun.

Entah sudah berapa menit berlalu, Ainun hanya menautkan jari-jarinya. Jawaban pasti sudah ia genggam erat, namun lagi-lagi bibirnya teramat kelu. Matanya terpejam sesaat. Bismillah, ucapnya dalam hati. Dan kepalanya mengangguk kecil. Membuat semua bibir mengucap hamdalah bersamaan.

“Nah, untuk maharnya, kamu menginginkan apa?” Ayah bertanya.

“Sebelum ini Ainun minta apa?” tanyanya polos. Semua bibir terkekeh kecil, Ainun menunduk lagi. Malu.

“Al-waqi’ah.” beritahu Ilham.

Ayah terkekeh melihat wajah putrinya yang memerah, begitu pula dengan Bunda yang sedari tadi mengulum senyum.

Source

“Kalau begitu, Ainun tetap meminta al-waqiah sebagai maharnya.”

Kini Abi terkekeh pelan, “Al-Waqiah masih diluar kepala ‘kan, Bang?” beliau berbisik. “Kalau sudah blur, bisa-bisa dipending lagi.”

Kini Ilham yang memerah, pandai sekali Abinya mengulas tanya. Ia mengangguk. “Insya Allah, al-waqiah masih aman, Bi.”

“Jadi kapan pernikahannya bisa dilaksanakan?” kini Ummi bertanya, air mukanya menegaskan kalau beliau sudah tak sabar menjadikan gadis di depannya sebagai menantu.

“Kalau Ilham terserah pada Ainun. Kapan pun Ainun siap, Ilham juga siap.” Ilham melayangkan pancingannya

Semua terkekeh. Tangannya disenggol Ummi.

“Sekarang juga boleh.” perkataan Ayah sukses memancing tatapan protes dari Ainun. “Bagaimana?”

Bibir Ainun sudah mengerucut. Ia berpikir. “Menurut Bang Ilham, baiknya kapan?”

“Sekarang pun baik.” malah Abi yang menjawab dengan gelak tawa. Tapi ucapannya serius.

Ilham hanya mengangguk mantap.

“Bagaimana, Kak?” Bunda angkat suara, gemas karena Ainun hanya menunduk.

Ayah berdeham, “begini saja, bagaiamana kalau seminggu lagi? Supaya persiapannya tidak ada yang terlewat.”

“Jangan seminggu!” Ainun mengangkat kepala, ia menggeleng tegas.

Semua tergelak.

“Tiga hari lagi?” tanya Abi.

Mata gadis itu membelalak. Maksudnya, ia ingin diberi kelonggaran, dua atau tiga minggu misalnya? Tapi kenapa semua orang tidak mengerti?

“Ilham setuju, Bi, tiga hari lagi!”

Gadis itu terdiam. Mulut Ilham minta dipelintir sepertinya. Apa tidak terlalu cepat? Batinnya. Tapi … bukankah pernikahan adalah salah satu hal yang harus disegerakan? Ia menarik napas, melafalkan basmalah dalam hatinya, semoga Allah meridhoi jalannya. Ainun mengangguk kecil, masih dengan kepala yang masih menunduk.

Semua serempak mengucap hamdalah. Ilham itu tersenyum lega, hatinya menghangat saat melihat senyum itu terpatri di wajah calon istrinya. Aahh … calon istri? Ilham terkekeh dalam hati. Allah … semoga Engkau ridho dengan langkah yang ia tempuh. Ilham hanya berharap semoga ia mampu menjadi imam yang baik untuk istrinya kelak. Tak membuat setetes air mata pun jatuh di mata bidadari surganya.

Suasana malam ini seolah mencengkram jiwa seorang lelaki yang duduk di atas sajadah dengan tangan kanan yang memegangi mushaf kecil.

Jodoh itu misteri,

Rahasia Allah,

Tidak ada yang bisa menebak alurnya,

Tidak ada yang bisa menahan datangnya,

Sama seperti kematian.

Jodoh dan kematian itu dua hal yang berbeda rupanya, namun terasa sama jalannya.

Penuh misteri.

Source

Ilham menutup mushafnya, menyimpannya di atas nakas lalu melipat sajadah. Terkadang ia berpikir keras, mengapa harus Ainun yang tak lain adalah adik sepupuya sendiri?

Kini matanya termenung. Ulasan beberapa jam lalu tak mau sirna dari pikirannya. Jujur, hatinya melonjak bahagia, detaknya menjadi irama yang amat merdu untuk dirasa.

Namun kini, marilah berbicara soal rasa.

Ilham masih menyimpan apik rasa untuk Ainun. Tapi apakah gadis itu menyimpan hal yang sama. Mungkin dulu seirama, tapi kini? Entahlah.

Kecelakaan itu memberi trauma yang cukup besar bagi Ilham. Jika hujan turun disertai dengan angin kencang, pikirannya selalu tertuju pada Ainun. Ilham tidak bisa mengeyahkan kejadian itu. Rasanya seolah ia yang mengalami, seolah ia yang bersimbah darah, seolah ia yang berbaring di bangsal rumah sakit. Seolah ia yang merasakan kesakitan Ainun pada saat itu.

Apakah cintanya untuk Ainun berlebihan?

Kadang Ilham berpikir begitu. Mungkin ini semua efek dari bertahun-tahun ia berjuang, meyakinkan semua orang dan meyakinkan dirinya sendiri untuk melangkah pasti. Saat gayung mulai bersambut, bahagialah hatinya. Tapi apa kehendak yang Allah beri? Pahit sekali untuk dicecap.

Tapi kini, Ilham harus berbalik, mengenyahkan rasa takut itu, dan mulai membuka lembaran baru yang lebih berwarna. Bagaimana pun ketetapan Illahi-nya, bukankah itu yang terbaik? Buktinya ada pada hari ini. Siapa sangka Ilham akan melewati sore yang indah seperti tadi?

Astagfirullah…

Ilham mengusap wajahnya. Jam di nakas mengingatkan waktu tidurnya. Ilham mulai berbaring, berdoa pada Allah semoga harinya setelah ini akan baik-baik saja.

Di tempat lain, Ainum masih asyik bercinta dalam doanya. Mencurahkan seluruh rasa yang bercampur aduk di hatinya.

Dalam hidupnya, Ainun tak pernah berpikir akan melewati masa ini. Masa perjuangannya dengan Ilham yang diiringi luka dan air mata.

Sedetik setelah menutup aduannya, Ainun kembali diingatkan akan lelaki yang telah berani mengambil langkah beberapa jam yang lalu. Ya, lelaki itu tak pernah main-main dengan ucapannya.

Ilham Ash-Shiddiq.

Abang sepupunya. Seorang lelaki yang entah mengapa menaruh hati padanya. Ainun terkekeh kecil jika mengingat itu, kadang ia juga berpikir keras, mengapa harus Ilham? Mengapa bukan laki-laki lain yang tidak berada dalam satu keluarga besar dengannya? Ah, tapi itu bukan masalah. Bunda bilang sepupu itu bukan mahram, dan mereka tidak terikat hubungan sepersusuan, jadi diperbolehkan jika melaksanakan pernikahan.

Ilham Ash-Shiddiq.

Lagi-lagi nama itu berputar di otaknya bagai bianglala. Sepertinya Ainun harus cepat-cepat memejamkan mata. Sebab pikirannya sudah jauh berkelana.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *