Cerpen : Syahdu Part 04

“Harusnya kita bicara sejujurnya pada Ainun,” Bunda menghela, duduk gelisah di sofa. Bunda dibuat kelabakan dengan pertanyaan Ainun saat pulang tadi. Putrinya itu bertanya ada hubungan apa antara dirinya dengan Ilham. “Kalau suatu hari Ainun sembuh, dia akan kecewa kenapa kita menyembunyikan fakta yang sebenarnya.”

“Ayah setuju dengan pemikiran Bunda, tapi bagaimana dengan Ilham? Ini semua bukan hal mudah untuk Ilham.”

Akbar memijat pelipisnya. Ia juga ditodong pertanyaan beruntun oleh Ainun, adiknya itu terus mendesak meminta jawaban pasti. Tapi Akbar bisa apa? Ia tak punya kuasa untuk membeberkan semuanya.

“Telepon Ilham, Bang, kita harus selesaikan masalah ini secepatnya.”

Akbar mengerjap, lantas mengangguk patuh.

Sedang Ainun mendengar semuanya dengan jelas. Rasa penasaran di benaknya makin menjadi. Bagimana kalau ternyata apa yang dikatakan perempuan bernama Wanda tadi adalah suatu kebenaran? Ah, Allah … Ainun menggigit bibirnya, ia tidak memiliki kesiapan untuk mengetahui fakta yang sebenarnya.

Langkahnya terayun seringan angin menuju kamar, menutup pintunya rapat-rapat. Ainun tak mau mendengar apa pun. Ia duduk di kursi belajar, mengetukkan kepalanya ke meja berkali-kali, berharap suatu keajaiban terjadi malam ini. Namun bukannya keajaiban yang menghampiri, kepalanya malah terasa mau pecah. Pening sekali rasanya.

“Kak?” Asmara membuka pintu.

Ainun mendongak, “kamu tau sesuatu ‘kan?”

Remaja itu bergeming.

“Kakak yakin kalau kamu tau semuanya.”

“Kalau pun tau, Rara gak bisa jelasin, Rara gak punya hak.”

“Kamu gak mau bantu Kakak menyelesaikan semua ini?”

Asmara kembali bergeming.

“Kamu gak kasihan sama Kakak yang selalu kebingungan di hadapan semua orang? Ayolah, Dek, mereka semua terus ngomongin hubungan Kakak dengan Bang Ilham.”

“Rara akan kasih tau sesuatu, tapi Kakak janji gak akan pernah kecewa dengan sikap Bang Ilham.”

Ainun mengangguk walau dalam hatinya bimbang seketika. Asmara mengeluarkan sesuatu di balik bajunya, memberikannya pada Ainun yang menegang seketika.

Source
Dari banyaknya tempat, Ilham sangat menyukai bagian rooftop garden perusahaan keluarga besarnya, Ash-Shiddiq Group.

Dengan al qur’an kecil di tangan kanannya, juga segelas kopi dingin, Ilham berjalan dengan langkah kecil, tidak terburu-buru karena menikmati semilir angin yang berembus lembut, membelai setiap inci wajah juga sedikit memporak-porandakan rambut gelapnya.

Ilham memilih bersila menghadap ke arah kiblat. Tangannya membuka al qur’an, sedikit mengulang kembali hafalannya subuh tadi. Biasan jingga membuat suasana yang indah di sana, seorang pemuda dengan kitab sucinya, juga suara merdunya yang terdengar lirih. Bukankah terlihat indah?

Sejak menginjak jenjang SMA, Ilham mencoba mencari jati diri yang sebenar-benarnya. Bersama Farhan dan Faris, mereka getol mengikuti kajian sekolah maupun di luar sekolah. Mereka tidak mengerti pada awalnya, saat kedamaian itu dengan mudah mereka dapatkan di sana, namun lambat laun mereka menyadari, dan pada akhirnya memahami.

Hingga saat ini, Ilham sudah mulai terbiasa dengan alur hidupnya yang berubah sejak masa itu. Jika kebanyakan remaja memilih menghabiskan waktu nongkrong di cafe, maka lain halnya dengan Ilham dengan para sepupu—meski terkadang mereka juga memilih suatu tempat untuk sekedar nongkrong—namun tetap saja, acara nongkrong itu akan berubah menjadi obrolan bermanfaat jika disisipkan berbagai pemahaman yang mereka dapatkan di tempat kajian.

Farhan yang lebih banyak diamnya akan berubah menjadi orang yang banyak bicara. Faris dan Akbar dengan berbagai celetukan mereka akan menambah suasana makin hangat juga terasa nyaman. Dan Ilham, dengan segala sikap sebagai pendengar yang baik—alias sama dengan irit bicara—akan mengikuti bagaimana alur pembicaraan, sesekali menimpali jika memang diperlukan.

Menyadari matahari yang nyaris tenggelam di sisi barat, Ilham menutup mushafnya, mengecupnya singkat. Yang dilakukannya kini hanya menyesap kopi dingin pahit, salah satu minuman andalannya jika menyendiri seperti ini. Perlahan, rasa pahit juga sedikit asam itu menempel di lidahnya, menyisakan rasa yang sangat familiar.

Tentang kejadian kemarin, ia benar-benar dibuat mati kutu. Runtuyan pertanyaan Ainun masuk ke dalam telinganya namun sama sekali tak bisa dijawab bibirnya. Ilham hanya diam saat itu. Matanya bisa melihat sorot kecewa di mata Ainun.

Bukan inginnya menjadi pengecut, namun hati mana yang tak akan terluka jika dihadapkan dengan peristiwa yang dialaminya? Hati mana yang tak akan hancur jika dihadapkan dengan … ah! Tak seharusnya Ilham meratap.

“Kenapa Bang Ilham gak pernah cerita sama Ainun?”

Ilham berbalik, matanya membola. Ada Ainun di hadapannya. Gadis itu berdiri dengan air muka yang sendu, jilbab dan khimar yang dikenakan Ainun ikut menari bersama terpaan angin sore. Ilham berdiri kaku.

“Kenapa Bang Ilham gak pernah bicara tentang ini?” Ainun mengangkat selembar undangan berwarna emas, namanya dengan Ilham terukir indah di sana. Bisa Ilham lihat walau samar, ada embun di mata Ainun.

Jika saja kejadian kemarin tak pernah ada, mungkin Ainun tak akan mendesak semua orang untuk berkata jujur. Mungkin Ainun akan abai dengan perasaan lelaki di depannya. Tapi untunglah, salah satu sahabatnya dulu menjadi kunci dari segala rahasia ini. Ketidaktahuan Wanda tentang kecelakaan yang menimpa Ainun juga pernikahannya yang tak pernah terjadi membuat gadis itu melayangkan rentetan tanya.

Source

“Apa karena kecelakaan itu? Atau Bang Ilham terlalu lelah memperjuangkan Ainun?” matanya memanas. Sedang lelaki di depannya tetap mengunci mulut. “Kenapa diam?” suara Ainun bergetar. “Ainun memang lupa segalanya, tapi Bang Ilham gak boleh melakukan ini.” embusan angin membuat matanya tertutup sejenak, membuat gumpalan air matanya jatuh begitu saja. “Seharusnya Bang Ilham jujur kalau kita … hampir menikah.”

Ilham mengusap permukaan mushaf kecilnya dengan ibu jari, sekedar mengalihkan seluruh pikirannya dari Ainun. Suasana di atap gedung ini sepi, hanya ada dirinya dengan Ainun, meski di tempat terbuka, ini jelas bukan hal yang baik. Tapi rasanya ingin sekali Ilham berlari dan mengenyahkan buliran itu, namun apakah Ilham bisa?

Sakit sekali hati Ainun, ia dibiarkan terlunta sendirian, ia dibiarkan kebingungan sendirian. Tak ada seorang pun yang mulai bicara tentang rencana pernikahannya dengan Ilham. Mereka semua menutup mulut rapat-rapat. Ulah siapa? Ainun yakin ini semua permintaan Ilham!

“Kalau Abang bicara jujur, apa kamu akan menerima?” matanya berusaha tak memandang gadis yang berada sekitar tiga meter dari tempatnya. “Saat kamu bangun dari koma, dan gak ingat apa pun, apa Abang bisa mengatakan kalau kita hampir menikah? Apa Abang bisa mengatakan kalau kamu adalah calon istri Abang?”

“Abang menyerah?” dua tanya yang Ainun lontarkan, berhasil memporak-porandakan perasaan Ilham. Lelaki itu malah tersenyum tipis. Bayang-banyang kejadian itu terus menghantuinya. Rasa yang ditentang Abi, hadirnya yang tidak diterima keluarga, perjuangannya meyakinkan Ainun, lamarannya, acara pernikahan yang tinggal sehari, kecelakaan itu, Ainun yang tak kunjung bangun, hingga pada saat gadis itu membuka mata, apa yang terjadi? Remuk sudah harapan Ilham. Namun apakah pernah Ilham berkata menyerah? Tidak pernah. Ilham tidak pernah mundur dari sesuatu yang telah diperjuangkannya mati-matian.

“Maaf.”

Ainun menggeleng tak percaya, “Bang Ilham menyerah?”

“Kamu ingin Abang bagaimana?” tanya Ilham sedikit gusar. Kalaulah Ainun tahu, perasaan Ilham untuknya tak pernah berubah sedikit pun.

Ainun menunduk, merasakan air matanya melalui pipi, “berjuang untuk Ainun.” ucapnya ditemani embusan angin. ”

Ilham mematung, tubuhnya makin kaku. Gadis di depannya tidak tahu arti dari ucapannya sendiri. “Jangan main-main, Nun.”

Source

 

“Kenapa?” Ainun mendongak, “Bang Ilham menyerah?” tanya itu kembali melayang, menampar Ilham secara telak. “Apa perasaan itu sudah hilang?”

Ilham menghela, “jangan bicara tentang perasaan di sini.”

Ainun menunduk lagi, lelaki itu berkata sangat datar, tanpa ekspresi, tapi suaranya terdengar dingin.

“Kita bukan mahram, Nun. Terlalu lancang kalau kita bicarakan semua ini berduaan.”

“Bang Ilham benar-benar menyerah, kan? Bang Ilham gak mau terima kekurangan Ainun, kan?”

“Terka hati kamu sendiri, Nun, apa kamu siap membina pernikahan dengan keadaan seperti ini?”

Ainun sudah menerka berulang. Memang tak ada setitik kenangan yang ia ingat tentang Ilham, namun kenapa hatinya terasa condong pada lelaki itu saat mengetahui kebenaran yang ada? Dadanya berdegup kencang ketika membayangkan bagaimana Ilham menahan kesakitan itu sendirian.

“Ingatan tentang Abang kosong, Nun.”

“Kita bisa memulai semuanya dari awal kalau Bang Ilham mau, Ainun akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengingat semuanya.”

Ada buncahan hangat sebenarnya, namun Ilham mencoba menekan semua itu. Semua ini jelas bukan perkara yang mudah. Bagaimana saat mereka memutuskan menikah, dan perasaan Ainun tak lagi hadir untuknya?

“Pulanglah, akan Abang bicarakan ini dengan Abi dan Ummi.”

Ainun mengerjap, menatap Ilham dan mencari kesungguhan di mata lelaki itu. Namun yang Ainun dapatkan malah sorot mata yang datar. Napasnya berembus kecewa.

“Kalau kamu sungguh-sungguh, tolong yakinkan Ayah dan Bunda, sedangkan Abang akan meyakinkan kembali Abi dan Ummi. Kita berjuang sama-sama seperti dulu.”

Tubuh Ainun terasa melayang di udara, otaknya beku seketika. Berjuang seperti dulu?

“Sekarang kamu pulang, sebentar lagi maghrib.”

Ainun mengangguk, dan berbalik cepat. Ketipak langkahnya masih menapak dengan baik, tapi kenapa Ainun merasa melayang?

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *