Cerpen : Syahdu Part 03

Isya sudah berlalu. Makan malam pun sudah selesai beberapa menit yang lalu. Kini, waktunya berkumpul di ruang keluarga. Tanpa ponsel, laptop, atau pekerjaan lainnya.

“Dek, Ayah lihat tadi sore di depan sekolah kamu ada yang pasang spanduk, ada acara apa?” tanya Ayah yang menerima segelas teh madu hangat yang diberikan Bunda.

“Acara bakti sosial, Yah. Kumpulin sumbangan buat daerah rawan banjir.” jawab Asmara, adik Ainun dan Akbar.

“Kamu ikut partisipasi?”

Asmara menunjukkan sederet giginya yang putih bersih. “Ikut. Setiap hari ‘kan Rara sisain uang jajan buat disumbangin ke kotak donasi yang ada di depan kelas.”

Ayah mengulas senyum. “Alhamdulillah.” diusapnya puncak kepala si bungsu. “Tapi maksud Ayah bukan itu.”

“Apa dong?”

“Maksud Ayah, kamu ikutan gak lihat kondisi daerah rawan banjir itu?”

Asmara menggeleng. “Kan udah ada anak OSIS yang wakilin, Yah.”

“Iya. Tapi alangkah lebih baik lagi kalau kamu ikut. Sesekali lah.”

“Males, ah!” bibir Asmara memberengut. “Anak OSIS di sekolah itu pada jutek, apalagi anggota ceweknya. Nanti kalau Rara ikutan, mereka pasti bakal bilang inilah-itulah, Rara males harus dengerin mereka.”

“Ya gak usah didengerin.” ucap Akbar. “Terkadang, jika ingin melakukan kebaikan, kita juga memerlukan jurus pura-pura tuli, pura-pura hilang ingatan, dan pura-pura yang lainnya.”

“Kok begitu?”

Mendengar pembicaraan mereka, Bunda dan Ainun yang duduk bersebelahan mengukir senyum.

“Jelasin, Nun!” titah Akbar.

“Lho, kok Ainun?”

“Kamu belum kasih suara malam ini.”

Ayah terkekeh, disusul Bunda. Sedang Ainun mendelik, walau tak urung turun dari sofa dan ikut bergabung di karpet bulu milik Bunda.

Di luar perkiraan, Ainun malah melempar bantal kecil tepat di kepala Akbar. “Abang yang ngasih muqodimah, Abang juga yang seharusnya menyampaikan isi!”

Akbar tergelak. Kedua tangannya menutupi kepala yang sedari tadi menjadi sasaran Ainun. “Iya, iya. Abang sampaikan isinya.” barulah, Ainun duduk dengan tenang di sebelah Asmara. “Baiklah Ayah, Bunda, dan adik-adikku sekalian.” pembukaannya terlihat menyebalkan di mata Asmara yang sudah tak sabaran mendengar jawaban atas pertanyaannya.

“Buruaaan!” pekik Asmara karena Akbar malah memasang senyum—pertanda senang sekali menjadi bahan perhatian seluruh keluarga kecilnya.

Source

Ayah menggelengkan kepala tak habis pikir. Semua anaknya sama saja. Sama-sama senang membuat kesal satu sama lain. “Mungkin inti yang mau disampaikan Bang Akbar, pura-pura tuli itu dibutuhkan supaya kita gak kapok dalam beramal.” suara Ayah dapat membuat ketiga anaknya diam terpaku. “Maksud Ayah begini. Setiap orang, memiliki cara pandangnya tersendiri. Beda kepala pasti beda pemikiran. Ada saja orang yang mencibir niat baik kita. Kita sedekah mereka meradang, meradang di sini memiliki arti gatal ingin mencibir. Ada ‘kan yang begitu?”

Para anak-anak mengangguk.

“Nah, kita butuh jurus pura-pura tuli itu. Anggap saja suara-suara yang berlalu lalang itu sebagai angin lalu.”

“Jadi begitu, Yah?” tanya Asmara. “Jadi seharusnya, Rara gak usah dengerin ucapan siapa pun, ya?”

Ayah mengangguk.

“Ya udah, besok Rara mau pura-pura tuli, ah!”

“Pura-pura tuli yang bagaimana?” selidik Ainun.

“Ya Rara gak akan dengerin nyinyiran-nyinyiran dari orang-orang itu. Seperti kata Ayah tadi, anggap suara-suara yang berlalu lalang itu sebagai angin lalu.”

“Sip!” Ainun mengangkat kedua ibu jarinya. “Rencananya, kapan pihak sekolah kamu mau datang ke sana?”

“Hari senin. Sepulang sekolah.”

“Di kamar, Kakak ada beberapa baju yang masih layak pakai tapi udah gak muat buat Kakak sendiri. Kamu bawa, ya?”

“Kayaknya Rara juga ada, Kak.”

“Ya udah, satuin kalau begitu.”

Dengan semangat penuh, Asmara menganggukkan kepala. Dia dan Ainun ‘kan memang rada kompak dengan hal-hal seperti ini.

“Bunda, inget gak sama pedagang tissue di depan komplek?” Akbar beralih pandang pada Bunda.

Bunda mengangguk. Ia ingat pada penjual tissue yang sudah berumur sekitar kepala enam itu. “Iya. Kenapa?”

“Kita juga bisa meringankan beban beliau.” ucap Akbar, “dengan beli dagangan beliau, meskipun gak butuh-butuh amat, tapi ‘kan dengan begitu, kita secara gak langsung mengangkat beban hidup beliau dan membangkitkan semangat beliau walau hanya setitik.”

Kepala Asmara sampai dimiringkan untuk melihat abangnya. Ya, Akbar walau pun tengil, tapi sebagian besar ucapannya mampu diterima akal.

“Nah, bagus itu.” puji Bunda pada anak sulungnya.

“Tapi bisa kali, tissuenya dibagi-bagi, gak di sembunyiin di bawah tumpukan baju.” celetuk Ainun. Ia ingat hal itu saat mengambil sesuatu di lemari abangnya.

Semua tergelak, minus Akbar yang wajahnya sudah memerah. Terbongkar sudah rahasianya selama ini.

“Widiiiihh … kok Rara baru tau, Kak?”

Akbar mencebik. “Abang ini lagi berusaha menerapkan jurus pura-pura hilang ingatan. Supaya gak keinget terus kalau Abang udah berbuat baik sama seseorang.”

“Nah, Ayah suka pemikiran Abang.” Ayah menepuk-nepuk bahu sulungnya. “Tapi alangkah baiknya, tissue itu Abang berikan ke orang yang lebih membutuhkan.”

“Iya, Yah, nanti Abang berikan sebagian ke Rara, dia ‘kan cengeng, tukang nangis. Jadi lebih membutuhkan tissue itu.”

“Abaaangggg!” Asmara meradang, memukul kencang lengan Akbar tanpa ampun. Suasana riuh kembali, gelak tawa menguar hangat sebelum Ainun tiba-tiba bersuara. “Topik malam ini bikin Ainun bersyukur.”

Semua mata beralih pandang.

“Dengan hilangnya ingatan ini, bukankah Ainun jadi abai dengan kebaikan yang Ainun amalkan? Ya, kan? Ternyata Allah maha baik.”

Mata Bunda berkaca-kaca, tangannya mengelus sayang puncak kepala Ainun.

“Ketetapan-Nya memang begitu ‘kan, Bunda? Terkadang sulit diterima namun faktanya itulah yang terbaik.”

Bunda mengangguk, mengenyahkan buliran yang mengganggu pandangannya. Bunda sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak meratapi kehendak-Nya yang satu ini.

Source

Ilham menghempaskan tubuhnya di ranjang. Kejadian tadi siang merupakan ujian baginya. Berduaan dengan Ainun bukan sesuatu yang baik untuk hatinya sendiri. Ilham berguling, hingga matanya tertuju pada kotak beludru merah di atas nakas, ia meraih benda itu. Ada kilau indah saat kotak terbuka, senyum di bibir Ilham terukir. Mendapatkan cincin yang tengah digenggamnya tidaklah mudah. Ilham harus terjatuh, diseret, dan kemudian berusaha bangkit ketika semangat kembali berkobar di dadanya.

“Abang gak mau berjuang lagi?”

Sebuah suara menginterupsi Ilham untuk mengangkat kepala. Azkiya, adiknya yang seumuran dengan Asmara berada di ambang pintu.

“Belum waktunya.”

“Terus kapan?” Azkiya mendekati Ilham, meraih kotak beludru itu dan menatapnya disertai senyum tipis. Azkiya memang masih bocah ingusan, masih limabelas tahun, namun dirinya sudah bisa mengerti dengan baik tentang apa saja yang terjadi di sekitarnya.

“Gak belajar?” Ilham mengalihkan pembicaraan, dilihatnya Azkiya yang mencebikkan bibir.

“Kiya tuh masuk sekolah jam tujuh pagi, pulangnya jam dua, pelajaran tambahan dua jam, apa masih kurang?”

Ilham terkekeh. “Pasti pusing, ya? Mau jalan-jalan?”

Barulah Azkiya tersenyum cerah, kepalanya mengangguk antusias. Abang satu-satunya ini memang paling bisa menyenangkan hati. “Kiya gak pernah berhenti bersyukur, selain tampan dan mapan, Abang juga paling bisa bikin orang lain senang.”

Ilham terkekeh lagi, “hari minggu, ya?”

Azkiya mengangguk. Dua hari lagi berarti, “nanti ajakin Asmara, ya, sama Kak Ainun.”

“Kita pergi berdua.”

“Kalau berdua gak seru. Abang itu tipe-tipe orang yang garing kalau diajak becanda.”

“Pokoknya pergi berdua, kalau kamu ajak yang lain, Abang batalin.”

“Abang gak seru!” bibir Azkiya mengerucut, “pokoknya berempat!”

“Berdua, Abang ada uang cuma buat jajan dua orang.”

“Abang tau sendiri kalau bohong itu dosa.”

Ilham bungkam.

Makanan yang tersaji di depannya tak menarik sama sekali. Bukan karena tak lezat, namun karena degup dadanya yang sedari tadi berdetak tak karuan. Ia kehilangan selera makan.

Ilham berusaha tidak mengangkat kepala. Sosok itu ada bersamanya, tengah duduk diapit oleh kedua remaja labil. Seharusnya, tadi pagi ia pergi berdua dengan Azkiya, namun apa dayanya ketika adiknya itu merengek meminta Ilham menjemput Ainun dan Asmara, jadilah mereka pergi berempat. Menghabiskan waktu seharian ini di Dufan, menjelajah setiap wahana yang berdiri kokoh. Dan berakhir di sebuah tempat makan saat perut mereka meminta jatah.

Gelak tawa sedari tadi tak pernah terhenti. Asmara masih saja asyik menceritakan kejadian-kejadian konyol dengan Ainun dulu, ditambah Azkiya yang juga ikut menuturkan cerita tak kalah riang.

“Kak Ainun suka antar-jemput Kiya sama Rara. Setiap hari, kami selalu nebeng mobilnya Kak Ainun. Kalau Rara sih wajar karena adiknya Kakak, lha, Azkiya? Bang Ilham mana pernah perhatian!”

Ilham menoleh saat suara Azkiya bergema, menusuk telinganya begitu saja. “Kamu tau sendiri kalau Abang sibuk.”

Azkiya mencebik, “efek patah hati memang berakibat fatal ya, Bang?” celetuknya ringan.

“Kamu kalau ngomong suka gak nyambung.”

Asmara tergelak, “Azkiya ‘kan tulalit, Bang.”

Bibir Azkiya mengerucut, menit berikutnya ia merapatkan kaki. “Ra?”

Source

“Hm?”

“Mendadak aku mau buang air.”

Asmara mengalihkan pandangan mata, berdecak setelah paham lemparan kode dari Azkiya yang meminta tolong untuk diantar, “males ah!”

“Ayolah, sebentar kok.”

Mau tak mau Asmara bangkit, mengikuti langkah Azkiya yang sudah terbirit lebih dulu. Sedangkan Ilham berusaha menjaga matanya sendiri.

“Ainun!”

Merasa dipanggil, Ainun memutar tubuh, lantas terpaku saat seorang perempuan seumurannya memeluk tubuhnya erat. “Kangen tau!”

Ainun masih terpaku, matanya tertuju pada Ilham, menanyakan siapa gerangan yang tengah memeluknya memalui isyarat mata.

“Maaf, kamu siapa?”

Perempuan itu mengurai pelukannya, matanya memicing kesal pada Ainun. “Kamu apa, deh? Jangan mentang-mentang aku gak datang ke nikahan kamu waktu itu, kamu jadi begini sama aku.”

“Nikah? Maksudnya apa?”

“Masya Allah, Ainun, istighfar ah! Masa pura-pura lupa di depan suami sendiri, sih!” cerocos perempuan itu sambil melirik Ilham yang mematuh dengan wajah pucat seketika.

“M-maaf, saya beneran gak paham dengan ucapan kamu.” Ainun meringis.

Perempuan itu duduk di sebelah Ainun, “jangan becanda, ah! Ngomong-ngomong, sudah isi belum?” ia berbisik.

Ilham meneguk salivanya susah payah. Mata Ainun penuh dengan kabut kebingungan. “K-kamu siapa?”

Perempuan itu berdecak, “aku Wanda, masa lupa? Baru beberapa bulan aku tinggal kamu udah tulalit begini.” matanya beralih pada Ilham, “Bang Ilham, ini istrinya dikasih makan apa sih sampai jadi begini?”

Ainun makin tak mengerti. Istri? Maksudnya apa?

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *