Cerpen : Syahdu Part 02

Ainun menggaruk hidungnya berkali-kali, mengirim kode pada Ilham agar lelaki itu sudi menoleh. Namun nyatanya, Ilham tak sedikit pun melirik, tangan kanan lelaki itu berpegangan pada gantungan atap bus.

Lelah tak ada respon, Ainun berdecak kesal, memilih menjauh dari seorang bapak yang berdiri di sisinya. Baru selangkah, kondektur bus berteriak-teriak agar sang sopir menghentikan lajunya. Beberapa penumpang baru menaiki bus. Keadaan semakin sesak. Tak ada ruang untuk Ainun bergerak, di depannya ada seorang ibu bertubuh tambun, sedang di belakangnya ada seorang perempuan dengan rok hitam selutut. Asap kendaraan bercampur dengan asap rokok. Beberapa penumpang terbatuk, juga mengibaskan tangannya ke udara. Panas yang menyengat, disertai padatnya jalanan menambah kesan luar biasa di dalam bus.

Ainun menutup sebagian wajahnya menggunakan khimar. Kombinasi asap itu benar-benar mengganggu pernapasannya. Para tersangka yang menyulut rokok berada di kursi paling belakang, mereka pemuda yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak. Suara yang tak merdu sama sekali itu benar-benar memekakkan telinga.

“Kita berhenti di halte depan.”

Ainun menoleh, alisnya bergerak naik lalu turun pada detik berikutnya. “Sudah sampai?”

“Belum, masih jauh.”

Baru saja hendak berkata, Ilham melangkah lebih dulu ketika bus berhenti di halte. Lelaki itu sama sekali tidak membantu Ainun mencari jalan keluar. “Kalau masih jauh kenapa turun di sini?”

“Gak papa.”

“Terus kita pulang naik apa?”

“Abang pesankan ojek online.” Ilham merogoh ponsel di saku celana.

“Tapi Bang Ilham yang bayar, kan?”

Source

Ilham mengangguk, fokusnya masih pada ponsel di tangan. “Tapi gak akan minta Ainun gantiin, kan?” barulah Ilham menoleh, “gak akan.”

Ainun tersenyum penuh, meninggalkan jejak lesung pipit di kedua pipinya. Ilham berusaha tak memandang. Dadanya berdetak kurang ajar. Ilham menghela napas, mengambil jarak dari posisi Ainun.

Ojek online yang di pesan sudah datang. Kening Ainun mengernyit, “kita naik bertiga, gitu?”

Si pengemudi ojek yang ternyata mengenakan hijab terkekeh kecil. “Saya cuma terima penumpang perempuan, Mbak,” beritahunya, membuat pipi Ainun bersemu. Bodoh sekali pemikirannya.

“Terus Bang Ilham gimana?”

“Abang mau ambil mobil di tempat tadi, kamu naik ojeknya, gak usah khawatir kesasar, Abang udah kirim alamat rumah ke Mbaknya.”

Ainun ber-oh, ia menerima helm, “makasih, ya, Bang, ngerepotin jadinya.”

“Gak papa.”

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Motor yang ditumpangi Ainun sudah melaju, meninggalkan Ilham yang terpaku. Sampai kapan akan begini, Nun? Tanyanya dalam hati.Bunda mengernyit heran ketika Ainun turun dari motor.

“Assalamu’alaikum, Bunda.”

“Wa’alaikumussalam.” Bunda menyimpan mematikan selang dan menggulungnya rapi. “Kok udah pulang?”

“Ainun di suruh pulang sama Bang Ilham.”

“Lho, kenapa?”

“Gak tau, Ainun belum sembuh katanya.”

Kening Bunda makin mengernyit, “Ilham bilang apa aja?”

“Bilang kalau Ainun bisa kerja lagi setelah Ainun benar-benar sembuh, tapi ‘kan prosesnya lama, Bunda.” keluh Ainun. “Padahal Ainun udah seneng banget bakal punya kegiatan.”

Bunda menepuk-nepuk bahu Ainun, “terus kamu bilang apa?”

“Ya Ainun bilang kalau Ainun sudah sembuh, tapi Bang Ilham gak percaya. Dia kasih pertanyaan.”

“Pertanyaan apa?”

Ainun berdeham, “siapa Abang?” tuturnya mengikuti ekspresi Ilham ketika bertanya seperti itu padanya, “terus Ainun jawab, Abang atasannya Ainun. Bang Ilham malah kelihatan kesel, Bunda, makin kekeuh bilang Ainun belum sembuh.”

“Ilham ada benarnya, kamu memang belum sembuh, Kak.”

“Iya, Ainun tau, tapi badan Ainun sudah sehat, Bunda, gak lemes, gak suka pusing-pusing juga.”

Bunda tersenyum simpul, mengiringi langkah Ainun menuju rumah.

“Ainun pengin punya kegiatan. Kalau masuk kuliah ‘kan gak mungkin, satu-satunya yang bisa Ainun raih ya kerja sama Bang Ilham.”

“Assalamu’alaikum!” Rania melongokkan kepala, tersenyum lebar kepada Bunda juga Ainun. Ia berjalan dengan langkah lebar, membuat kedua wanita yang berada di depannya menahan napas.

“Itu hati-hati!” seru Ainun. Matanya melotot ketika Rania sampai di depannnya. Sedang Rania hanya terkekeh tanpa dosa, tangannya mengelus perut yang mulai terlihat besar. “Kalau kepeleset gimana?!”

Lagi, Rania hanya terkekeh, ia menyalami Bunda. “Salamnya Rania belum dijawab, lho.”

“Wa’alaikumussalam,” ujar Bunda, agak geli dengan kelakuan ibu hamil yang satu ini. “Bunda tinggal ke dapur, ya.” Ainun mengangguk.

“Gimana, Nun, lancar?” tanya Rania setelah menyamankan posisi duduknya.

“Aku disuruh pulang.”

Source

“Lho?” gerakkan tangan Rania yang hendak membuka toples kue terhenti, “kenapa?”

“Bang Ilham bilang aku belum sembuh.”

Mata Rania membola, “Bang Ilham benar, secara keseluruhan kamu memang belum sembuh.”

“Iya, sih,” Ainun termenung, “tapi aku bingung, kalau menungguku sembuh, butuh waktu berapa lama?”

Rania mengendik, “aku akan bantu kamu sedikit-sedikit.”

“Caranya?”

“Mungkin ceritain tentang keseharian kamu sebelum kecelakaan itu.” Rania mengunyah pelan biskuit cokelat, “tapi kalau kamu udah ngerasain pusing, jangan dipaksa.”

“Kapan bisa dimulai?”

“Nantilah.”

“Kenapa gak sekarang?”

“Aku gak mood.”

Ainun mencebik, dilihatnya isi toples. “Memangnya kalau hamil nafsu makan itu tinggi, ya?”

Kunyahan Rania terhenti, “gak tau juga, tapi nafsu makanku akhir-akhir ini gila, rasanya pengen ngunyah terus.”

“Sebelum hamil berat badan kamu berapa?”

“Gak jauh bedalah sama berat badan kamu yang sekarang. Ngomong-ngomong, kenapa jadi tanya-tanyain aku?”

Ainun terkekeh, “gak papa, seneng aja gitu lihat badan kamu y-”

“Jangan mulai deh, Nun, nanti kamu yang aku kunyah karena ngomong-ngomongin berat badan.”

Ainun tergelak. Ah, ia merasa tak ada beban di benaknya. Hidupnya terasa ringan. Semenjak sadar dari koma, Ainun tak hentinya menerima limpahan kasih sayang dari keluarga besarnya. Semua sepupu bergantian menjaganya di rumah sakit. Berharga sekali rasanya.

“Ngomong-ngomong lagi, tadi subuh kamu bilang di kampus ada kuis, ya?”

“Ibu hamil gak boleh banyak pikiran, nanti nafsu makannya berkurang, ‘kan memengaruhi dedeknya juga.” Rania mengelus perutnya.

Ainun kembali mencebik. Tangannya memainkan renda khimarnya, “sebelum kecelakaan itu, aku pernah jatuh cinta, Ran?”

Rania urung memasukkan biskuit ke dalam mulutnya. “Gak tau, masing-masing dari kita gak pernah curhat-curhatan tentang cinta.”

“Masa sih?”

“Kamu sendiri, kapan pertama kali jatuh cinta?”

Rania menunduk, menatap remah-remah biskuit di jilbabnya. “Rahasia.” ucapnya pelan, “udahan ah, ganti topik dong, jangan cinta-cintaan.”

“Terus apa?” Ainun menyentuhkan punggungnya di sandaran kursi, kepalanya mendongak menatap langit-langit. “Terkadang aku capek ketika ketemu orang-orang. Mereka nyapa tapi aku gak bisa bales, aku cuma bisa diem kayak orang bodoh.”

“Semuanya butuh proses.”

“Hm, tapi proses itu gak akan mudah. Mengingat semua yang pernah aku lalui jelas bukan hal yang mudah. Aku selalu mikir, gimana kalau ada hati yang aku sakiti? Ada orang yang aku kecewakan? Ada janji yang belum terbayarkan?”

“Ada cinta yang kamu abaikan.”

Ainun menoleh, “katanya jangan bahas cinta-cintaan!”

Rania tergelak, ia berdeham sebelum berkata, “efek ngemil, tenggorokanku jadi kering.”

“Bilang aja butuh minum, Neng.”

Rania tergelak lagi. Sepupunya walau sakit begitu selalu paham dengan kodenya.

– Annisa Hawa

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *