Cerpen : Syahdu Part 01

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Aku hamba Allah, yang memikul sejuta mimpi di pundakku, yang menaruh sejuta harap di pelupuk mataku, yang menyimpan setitik cinta di hatiku.

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Pernahkah kamu jatuh cinta? Pernahkah merasakan perasaan itu hingga membuatmu sesak bernapas dan membuatmu serasa mengelilingi dunianya saja?

Aku pernah…

Bodoh sekali bukan rasanya? Ditarik tanpa sadar, hingga pada akhirnya semakin dekat pada dia, namun nyatanya makin jauh pada Dia?

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Bolehkah aku bertanya? Bagaimana rasamu jika ternyata ada seseorang yang selama ini mencintaimu dalam diam? Bagaimana rasamu jika seseorang itu adalah yang paling dekat denganmu? Yang setiap harinya berusaha untuk tidak menatapmu? Bagaimana rasamu? Bagaimana reaksimu?

Kepada kamu, yang telah menemukan secarik kertas ini di pertengahan…

Marahkah kamu jika aku mengatakan bahwa namamu terukir dalam hatiku? Marahkah kamu jika aku selalu menyebut namamu dalam sejuta doaku? Marahkan kamu jika aku selalu mengenang bayangmu?

Marahkah kamu jika seorang Ilham Ash-Siddiq menaruh hati padamu? Pada Ainun Ash-Siddiqiyah?

Marahkah?

Sejak kejadian itu, Ainun tak pernah mengingat apa pun, kepalanya kosong. Berbagai kenangan mendadak hilang begitu saja. Ainun merana, apalagi ketika orang-orang datang menjenguk dan menatapnya iba, seolah ia adalah orang paling asing di dunia ini. Semua orang membicarakan badai angin itu, kecelakaan beruntun yang membuatnya tak mampu membuka mata untuk waktu yang tak sebentar. Apalagi ketika ia melihat mata lelaki itu .. seolah sendu, seolah menyimpan banyak kata yang ingin ditumpahkan saat mata mereka bertemu.

***

Ada sesak yang kembali menyapanya. Ini qodarullah, Ilham. Suara lembut di kepalanya membuat Ilham menghela napas panjang. Ya, ini qodarullah. Ilham mengingatkan dirinya sendiri.

Allah mempunyai maksud dan tujuan dibalik kejadian yang mampu membuatnya terpukul ini. Ilham harus ikhlas. Ilham harus menerima apa yang sudah terjadi. Dan Ilham harus tetap berdiri dengan kedua kakinya, melanjutkan hidup seperti sebelumnya.

“Jadi Bang Ilham ini atasannya Ainun?” suara gadis itu menginterupsi Ilham untuk mengangkat kepala dan mengalihkan pandangan. “Sebelum kecelakaan itu Ainun kerja di sini, Bang?”

“Iya, sebelum kecelakaan kamu kerja di sini. Dan Ilham ini atasan kamu.” ucap Akbar—abang Ainun.

Ainun mengangguk-angguk. Matanya berkeliling menjelajahi setiap dekorasi restoran. Ia tak menyangka kalau lelaki yang menjenguknya di hari saat matanya terbuka dan mengenalkan diri sebagai kakak sepupu adalah atasannya. “Ainun kerja di bagian apa?”

Akbar menggaruk kepala, matanya memberi kode pada Ilham, namun lelaki itu malah tidak bergeming sama sekali. “Biar Ilham yang jelasin ya? Abang harus ke kantor.”

Ilham membulatkan mata, melayangkan tatapan protes sedangkan Akbar malah melengos begitu saja, meninggalkannya dengan Ainun di meja tepat berada di tengah restoran.

“Jadi, Bang, Ainun kerja di bagian apa?” tanya Ainun setelah beberapa waktu keheningan menyelimuti mereka berdua.

“Dapur.”

Ainun mengerjap. Kepalanya dimiringkan dengan alis yang berkerut. “Dapur?” tanyanya memastikan.

Ilham mengangguk. “Kamu koki di sini.”

“Tukang masak?”

Ilham mengangguk lagi.

“Kapan Ainun bisa langsung kerja lagi?”

“Kalau kamu sudah benar-benar pulih.”

“Ainun sudah sembuh.”

Source

Ilham menggeleng, bibirnya mengatup sebentar sebelum berkata, “kamu belum sembuh.” ujarnya disertai mata berkabut yang ia sembunyikan. “Silakan kamu pulang, Abang ada urusan lain.”

Ainun melongo. “Dokter bilang Ainun sudah sembuh. Bunda juga ga bilang begitu. Kata Bunda, Bang Ilham kasih waktu cuti satu bulan, dan ini sudah satu bulan semenjak Ainun kecelakaan itu.”

“Kamu belum sembuh. Dan kamu bisa pulang.”

“Bang Ilham gak bermaksud mecat Ainun, kan?”

“Nggak.”

“Tapi beneran, Bang, Ainun sudah sembuh.”

“Belum. Kamu belum sembuh.”

Ainun menggaruk punggung tangannya. Matanya sudah memohon pada Ilham, tapi atasan sekaligus sepupunya itu hanya memandangnya tanpa ekspresi berarti. “Masya Allah, Bang.” Ainun kehabisan akal.

Ilham menghela, “Abang kasih kamu satu pertanyaan, kalau kamu bisa menjawab, kamu boleh masuk lagi.”

“Boleh. Silakan Bang Ilham mau tanya apa, insya Allah Ainun bisa jawab dengan baik.”

Ilham kembali menghela. “Siapa Abang?”

Ainun mengulum senyum sebelum menjawab, kerutan di dahinya membuat Ilham juga ikut mengulum senyum. “Abang atasan Ainun.” jawabnya percaya diri dengan senyum yang masih melengkung. Sementara Ilham mengerjap dan menelan salivanya, pancaran sendunya tak sengaja dilihat Ainun.

“Kamu belum sembuh.” ucap Ilham dan berlalu begitu saja.

Kini Ainun yang mengerjap, mengekori Ilham sampai ke pintu depan restoran. “Lho, Bang Ilham memang atasan Ainun, kan? Jawaban Ainun benar. Sebagai atasan Bang Ilhan gak boleh dzolim. Bang Ilham harus amanah.” tangan Ainun menutup pintu mobil Ilham saat lelaki itu membukanya.

Ilham berbalik. Ekspresi datarnya membuat Ainun mundur selangkah. “Abang bilang kamu belum sembuh, Ainun.” Ilham kembali membuka pintu mobilnya, namun matanya melirik sekilas Ainun yang kini tengah menunduk. “Kamu harus pulang, istirahat di rumah dan setelah kamu tau jawaban yang benar atas pertanyaan Abang, kamu boleh balik lagi ke sini.”

“Kasih Ainun kesempatan.”

“Gak bisa.”

Wajah Ainun berubah murung. “Kenapa Bang Ilham bersikukuh bilang kalau Ainun belum sembuh? Apa sewaktu Ainun kerja, Ainun pernah buat kesalahan fatal?”

Ilham mengalihkan matanya dari sosok Ainun. Ia menutup sejenak matanya untuk menetralkan kembali rasa yang kian menggebu dalam hatinya itu. “Pulang, Ainun.”

“Bang Ilhan ngusir Ainun?”

“Pulang, Ainun.”

Ainun menghela napas. Sedikit merutuki lelaki di depannya. “Ainun gak tau jalan pulang.”

Ya Allah .. Haruskah Ilham yang mengantarkan gadis ini?

“Abang pesankan taksi.”

“Gak usah,” Ainun tersenyum tipis, “Ainun bisa telepon Bang Akbar.” kepalanya menunduk sebentar, “Ainun pamit kalau begitu. Assalamu’alaikum.”

Ilham mengusap wajahnya setelah Ainun berjalan beberapa meter di depan matanya. “Wa’alaikumussalam.” jawabnya lirih.

Baru saja menyalakan mesin mobil, Ilham mendecakkan lidah karena matanya melihat Ainun naik angkutan umum dengan arah yang salah. Aduh, Ya Allah …

Source
Ainun masih tak habis pikir dengan sikap lelaki yang menjadi atasannya itu. Jawaban yang Ainun berikan seharusnya benar, bukan? Lelaki itu atasannya. Lalu apa yang salah? Tak ada. Itulah menurut Ainun. Sama sekali tak ada yang salah dengan jawabannya.

Tangannya merogoh ponsel di saku jilbabnya. Menekan tombol daya pada ponsel namun hal ganjil terjadi. Ponselnya tidak menyala sama sekali. Ainun menekan tombol yang itu berulang, hingga ia tersadar bahwa ponselnya belum ia charge selama dua hari ini. Innalillah. Musibah kecelakaan hingga hilang ingatan itu membuatnya abai pada benda kotak yang baru dibelikan Ayah dua minggu yang lalu.

Ainun menggigit bibir bawahnya. Matanya menyapu seluruh mata yang berada di dalam angkot. Tiba-tiba dirinya dirayapi gugup. Innalillah .. Ainun tidak membawa uang sepeserpun dan ia tak tau kemana arah menuju rumahnya.

Laa haula wa laa quwwata illa billaah … Laa haula wa laa quwwata illa billaah … Laa haula wa laa quwwata illa billaah …

Bibirnya terus melantunkan dzikir. Hingga angkot yang ia tumpangi berhenti dan matanya terbelalak karena sosok Ilham sudah bediri di samping angkot. Lelaki itu tengah sedikit berbincang pada si kenek angkot.

“Ayo turun.”

Ainun mengerjap sebentar. Badannya masih kaku dan tak bergerak sama sekali. Matanya menatap Faris dengan ekspresi tak percaya.

“Kamu mau turun atau Abang tinggal?”

Ainun kembali mengerjap. Tanpa diminta lagi, Ainun menurut, turun dari angkot. Ia mencoba menyusul langkah Ilham. “Em, Bang Ilhan ngikutin Ainun?”

“Nggak.”

“Terus ken-”

“Di mobil Abang lihat kamu di angkot sana. Heran karena arahnya beda sama rumah kamu, Abang berhentiin angkotnya.”

“Bang Ilham tau di mana rumah Ainun?”

Ilham mengendikkan bahu. “Lain kali jangan ceroboh.” ucapnya abai pada pertanyaan Ainun. “Jangan buat orang lain khawatir.”

Ainun mengulum senyum. Ada kupu-kupu beterbangan di perutnya. “Bang Ilham khawatir?”

Ilham mengangkat kedua alisnya dengan kekehan kecil. “Nggak.”

Ainun ikut terkekeh. “Jangan bohong. Mata Bang Ilham bicara lain.” ucapnya percaya diri. “Khawatir pun gak papa, mungkin sewaktu Ainun kerja di restoran, Ainun karyawan teladan, atau bisa jadi saya karyawan kesayangan Bang Ilham.” gadis itu mengikik, mengabaikan Ilham yang ikut terkekeh.

“Sekali tengil tetep aja tengil!”

Ainun menoleh, menajamkam pendengarannya. Ilham bilang apa? Tengil? “Memangnya dulu Ainun tengil?”

Tanpa sadar Ilham mengangguk, kekehan di bibirnya tak juga mereda. “Kamu hobi banget bikin tensi darah orang naik.”

“Aduh.” Ainun tergelak. “Berarti Ainun bukan karyawan kesayangan Bang Ilham, dong?”

“Bukan.” jawab Ilham spontan. “Mau pulang gak? Abang antar. Tapi kamu harus duduk di belakang.”

“Ainun naik umum aja. Kalau berdua nanti khalwat, setau Ainun begitu.”

“Belajar dari kesalahan sebelumnya, Ainun. Kamu mau salah naik lagi?”

“Ainun gak akan salah lagi, ada Bang Ilham yang bakal ikutin Ainun di belakang. Ya, kan?”

“Abang gak akan ikutin kamu, Abang banyak kerjaan.”

“Jangan bohong. Ainun tau Bang Ilham gak akan biarin Ainun pergi gitu aja.”

Ilham tertegun. Ainun tau Bang Ilham gak akan biarin Ainun pergi gitu aja. “Abang banyak kerjaan.”

Bibir Ainun mengerucut. “Ainun yakin Bang Ilham bakal ikutin Ainun di belakang.”

“Gak akan.”

Bibir Ainun makin mengerucut. Ia merasa kalau Ilham mengerjai dirinya, tapi ekspresi lelaki itu masih datar. “Bang Ilham lelaki bertanggung jawab.”

“Abang tau.”

Aduh! Ainun mendecakkan lidah, dan Ilham terkekeh di buatnya.

“Ya udah, katanya mau naik umum?”

“Ainun gak punya ongkos.”

Source

Ilham tergelak dan Ainun tertegun. Ada yang aneh dengan lelaki di depannya, tapi apa?

“Abang ikutin kamu dari belakang.” ucap Ilham setelah tawanya mereda.

“Tuh, kan! Ainun bilang apa?!”

Ilham mengulum senyum. Mengikuti Ainun dari belakang setelah menitipkan terlebih dahulu mobilnya di sebuah parkiran. Biarlah ia tinggalkan mobilnya itu, Ainun lebih penting. Atau mungkin sedari dulu gadis itu adalah yang terpenting baginya? Ah, Allah …

“Bus warna biru.” ucap Ilham saat Ainun hendak menaiki bus berwarna merah. Gadis itu menoleh dan menunjukkan sederet giginya yang tersusun rapi.

Lima belas menit menunggu, bus yang mereka tunggu tak kunjung datang. Ainun melirik sebentar lelaki yang berdiri sekitar dua meter dari tempatnya. Ainun makin merenung, ada yang aneh dengan Ilham. Ia mencoba mengingat, nihil, tak ada satupun yang mampir di kepalanya tentang Ilham.

Sedangkan Ilham menetralkan detaknya. Berkali-kali ia meneguk salivanya, menghembuskan napas perlahan setelah menariknya tak kalah perlahan. Kilasan satu bulan lalu berputar di kepalanya.

-FLASHBACK;

“Assalamu’alaikum.” Ilham mengucap salam dengan sumringah, hatinya berbunga mendapati kabar bahwa gadis itu telah sadar dari komanya.

Bukannya menjawab salam, gadis itu malah terdiam kaku, wajahnya dihiasai bingung yang luar biasa dalam. “Maaf, kamu siapa?”

Ilham menatap semua orang yang ada di ruangan tersebut, lalu matanya menatap gadis itu, kali ini lebih dalam, “kamu gak ingat Abang, Nun?”

Gadis itu menggeleng, pekatnya bingung makin menjadi saat tak ada seorang pun yang memberitahunya siapa lelaki tampan yang kini berwajah sendu itu.

“Ainun kenapa, Tan?” Ilham bertanya pada Bunda, matanya mendesak jawaban, tapi Bunda malah menggeleng dengan air mata yang merembes di pipi, yang lain pun sama. Ilham mengalihkan lagi perhatiannya pada gadis itu, ia harus benar-benar memastikan, siapa tahu, keluarganya mengerjainya, kan? Siapa tahu ini hanya tipuan untuk membuatnya kesal, kan? “Ainun lupa sama Abang?”

Gadis itu menggeleng, “bukan lupa, tapi saya memang tidak mengenal kamu.” Ainun memegang kepalanya yang terasa mau pecah, “saya juga tidak tahu siapa sebenarnya saya, saya benar-benar bingung.”

Allah .. kenapa ini? Kenapa dengan Ainun? Kenapa gadis itu tak mengingatnya sama sekali?

“Bang,” ia menoleh pada Akbar, yang diangguki lelaki itu. Inalillah .. benarkah ini? Ingatan Ainun hilang? Memori tentang dirinya juga hilang? Allah .. mengapa jadi begini?

“Jadi, kamu siapa?” cicit gadis itu agak tak enak hati.

Di sebelahnya, Bunda menghela nafas sambil membelai puncak kepala Ainun yang tertutupi khimar. “Dia Ilham.”

“Ilham?”

Ilham mengangguk pahit. Bolehkah ia luruh sekarang? “Saya sepupu kamu.”

Semua mata menatapnya penuh tanya. Terlebih Ayah, lelaki berkacamata itu menatapnya tajam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang sudah ia tebak pasti.

Biarlah.. Biarkan Ainun dengan ingatannya yang ini. Ilham tak ingin memaksa. Biarlah.

– Annisa Hawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *