Cerpen : Romantisme Cinta Part 24

Semua orang terlihat bahagia, senyuman terpancar di wajah setiap orang. Dan itu pun membuat Shakila ikut bahagia,melihat semua orang bahagia karena pernikahannya dan Malih. Pria dingin yang sudah mengetuk pintu hatinya.

Dan jangan lupakan!. Bagaimana, sahakila harus jatuh bangun karena menunggu pria dingin itu. Rasanya seperti berada di roller coaster. Menakutkan,melegakan , semua perasaannya benar-benar di campur aduk.

“Minumlah”

Kepala Shakila menanggah, melihat Malih menyodorkan satu botol air mineral padanya.

Wajahnya melihat ke arah lain dengan tangan kirinya ia masukan ke dalam saku. Seperti dugaan Shakila, pria pengetuk pintu hatinya itu, tidak akan mudah langsung bisa akrab dengannya. Sepertinya, Shakila harus memerlukan beberapa metode untuk mencairkan es yang sudah lama membeku itu.

“Apa seperti itu memberi minuman ke pada seseorang”bukanya menerima Shakila malah bertanya,

“Aku akan menyimpannya di sini”katanya menyimpan botol di sebelah Shakila” minum lah. Jangan biarkan dirimu jadi dehidrasi”

“Berikan padaku. Aku akan meminumnya bila kamu memberikannya langsung padaku”

Sejenak Malih terdiam walau akhirnya memberikannya pada Shakila” eisttt, tunggu dulu. bukakan dulu tutup botolnya. Tanganku memakai sarung tangan pasti akan sulit membukanya”pinta Shakila menahan geli,dengan mengacungkan dua tangan nya yang tertutupi sarung tangan berwarna putih

Tampa menolak, Malih membukakan tutup botol. Kemudian memberikannya pada shakila “ada lagi?” Sepertinya Malih tahu Shakila sedang mengerjainya itu sebabnya Shakila langsung terkekeh geli

“Minumlah bersamaku” entah keberanian dari mana Shakila menarik tangan Malih untuk duduk di kursi pelaminan.

Setelah yakin Malih duduk dan tidak beranjak pergi. Shakila meminum botol mineral yang di berikan Malih, tentu ia harus sedikit menyingkapkan bawah cadarnya. Dan itu tidak luput dari perhatian Malih,

“Memperhatikanku yah?” Selidik Shakila setelah selesai meneguk air mineralnya sedikit.

“Tidak”kilahnya membuat Shakila lagi-lagi harus menahan tawanya

Kepala Shakila memangut-mangut. Walau sebenarnya ia tidak yakin. Jelas-jelas tadi Malih memperhatikannya, dan dengan pandainya ia membantah.

“Kenapa anggota DSI tidak satu pun yang datang?” Heran Shakila. karena semenjak tadi hanya tamu orang tua mereka yang datang dan juga sahabatnya Nia. Yang bahkan dengan terang-terangan mengeluh karena berhasil menaklukan hati Malih.

“Kita akan mengadakan resepsi yang ke dua. Dan itu khusus untuk semua anggota DSI”

Mata Shakila terbelalak” benarkah?. Kenapa tidak sekalian saja” tanya Shakila bingung

“Harusnya kau lebih pintar untuk tidak perlu meminta penjelasan” ejek Malih tenang menyandarkan tubuhnya di kursi

“Apa kamu sedang mengejek” halis shakila menaik sebelah, agak kesal dengan ejekan Malih.

Pletakk

Source

Tampa berdosa Malih menyentil kening Shakila” aku akan mengajarimu dari pelajaran 1 SD. Sepertinya tidak ada satupun pelajaran yang bisa kau pahami” kata Malih.

Shakila mengusap-usap keningnya kesal”Aku sudah cukup pintar untuk tidak mengulangi pelajaran”

“Benarkan?”

“Tentu saja!” Sewot Shakila kesal karena Malih selalu meremehkannya.

Malih mengusap-usap dagunya, seperti sedang berpikir”nanti malam aku akan memberikan ulangan untukmu dari kelas 1 SD sampai SMA”

Shakila hanya bisa melongo. Bagaimana tidak?. Seharusnya malam pertama mereka di gunakan untuk hal sewajarnya dan Shakila cukup malu untuk mengucapkannya pada Malih. Bisa-bisa Malih langsung meledeknya habis-habisan.

Seperti inilah resiko yang harus ia terima bila menikahi orang cerdas. Bahkan Shakila sudah membayangkan hari-harinya hanya di penuhi buku-buku pelajaran. Dalam kurun waktu dua tahun kepalanya pasti langsung botak.

Setelah berpamitan ke pada seluruh keluarga Adam dan keluarga Hisyam. Mereka langsung pergi ke apartemen Malih yang berlokasi di Jakarta.

Sepanjang di perjalanan Shakila terus diam, pasalnya ia benar-benar di buat kesal. karena tampa bertanya lebih dulu,Malih langsung memutuskan untuk tinggal di apartemennya.

“Kamu marah” katanya tenang tampa mengalihkan pandangannya dari jalan

“Menurutmu?”balasnya ketus

“Owh”

Kepala Shakila langsung menoleh ke arah Malih. Hanya”owh”, setidaknya Malih merayunya seperti novel-novel yang ia baca, bila istri marah suami akan meranyunya dan mengajaknya bercanda. Oh astaga, Shakila tidak percaya dengan respon yang di berikan malih

“Hanya itu?”yakin ufa menyipitkan mata ke arah Malih

Mali begedik cuek”memang aku harus apa?”tanyanya balik yang sukses membuat Shakila berdecak

“Seharusnya kau merayuku, lalu mengajakku bercanda. Setidaknya kata-katamu lebih panjang dari pada kata owh saja.”cerocos Shakila kesal

Setir mobil di belokan ke kanan, kemudian ia menginjak rem. mobil di hentikan di sisi jalan. Sejenak Malih terdiam kemudian melihat Shakila dengan tatapan dalam. Bahkan sangat dalam hingga rasanya Shakila ikut masuk kedalam tatapan Malih

“Rayuan seperti apa yang kamu inginkan. Seperti ini?” tanya Malih semakin mendekatkan wajahnya ke arah Shakila, bahkan pipi Shakila sudah terasa panas. Matanya terpejam rapat saat hembusan napas Malih terasa sudah menyapu wajahnya

“Sudah cukup.! Aku tidak pandai merayu” posisi Malih berubah semula. Bahkan sebenarnya ia sedang menahan tawa karena ekspresi Shakila yang benar-benar gugup

Wajah shakila benar-benar sudah memerah padam” kau mengerjai ku!” Sengit Shakila geram. Bahkan jantungnya seakan berhenti karena perilaku malih.

Tangan kiri Malih menggenggam tangan shakila erat. Tentu Shakila langsung bungkam. Bahkan rasanya ada aliran aneh yang menjalar pada seluruh tubuh. Membuat tubuhnya beku seketika.

“Aku tidak bisa jadi pria romantis. Tapi aku bisa menjadi pendengar yang baik” sambung Malih tersenyum manis

Source

Senyuman itu?. Kenapa terasa indah, bagai petir yang langsung menyambar hatinya. Apa Shakila masih bisa bernapas?. Semoga ia tidak ke rumah sakit setelah ini. Senyuman itu,senyuman yang jarang di tampakan ke pada semua orang. Dan ia adalah satu wanita beruntung yang mendapat senyuman tulus Malih.

Malih menempelkan keningnya di kening Shakila. Bahkan jarak mereka sangat dekat, hingga Shakila dapat merasakan napas Malih di wajahnya. Semoga pipinya tidak kembali memerah karena perbuatan Malih.

“Pipimu sangat memerah. Dan kamu berharap aku bersikap romantis. Aku tidak yakin, akan jadi apa wajahmu nanti” ledek Malih, terkekeh. Kemudian kembali menjalankan mobilnya dengan tenang.

“Apa kamu mengerjaiku lagi ” sengit Shakila kesal.

Shakila langsung memukul bahu Malih beberapa kali.

“Hey! hey. Hentikan. Aku sedang menyetir mobil “protes Malih karena Shakila terus memukul-mukul bahunya

“Aku tidak peduli!. Kejahilanmu tadi sungguh sangat tidak lucu”

“Aku hanya bercanda. Hentikan Shakila” pinta Malih. Dan berhasil. Shakila langsung diam, karena ia pun masih ingin hidup masih lama. Apalagi pernikahannya masih baru, terasa tidak menarik kalau pernikahan mereka malah berujung kematian. Shakila begidik ngeri memilih mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil.

Tidak kunjung 1 jam di perjalanan , mereka sudah sampai di depan apartemen yang memang cukup mewah. Sepertinya Malih memang termasuk ke dalam kategori pemuda sukses. Buktinya, ia sudah mampu membeli apartement dari hasil jerih payahnya sendiri. Masya Allah ,bertambah kagumlah Shakila pada Malih. Ah tidak tidak, maksudnya suaminya sendiri.

“Sampai kapan kamu berdiri di depan pintu mobil”tegur Malih.

“Apa ini hasil dari gajih DSI?” Tanya Shakila berdecak kagum.

“Iya”

“Apa aku akan tinggal di sini juga?”

Malih mendengus pasrah. Tentu saja Shakila tinggal di apartemen nya. Mana mungkin Malih menyuruhnya tidur di luar.

“Kamu lihat di sana?” Malih membalikan tubuh Shakila, Tangannya menunjuk ke arah parkir

“Kamu tahu itu apa?”

Kepala Shakila menganguk” itu tempat parkir”

“Nah. Kamu tidur di sana. Jadi, sekarang aku mau masuk dulu ke apartemen. Kalau ada apa-apa telepon aku saja” jelas Malih meleos pergi meninggalkan Shakila yang hanya mematung

Bukanya mengikuti,Shakila malah menangis. Sepertinya ia banar-baenar menganggap serius ucapan Malih.

Bahkan Shakila malah berjongkok di depan mobil Malih. Tentu Malih yang melihatnya terperangah. Malih sampai berpikir, apa Shakila tidak bisa membedakan yang serius dan tidak.

“Aku tidak mau tidur di tempat parkir…”kata Shakila yang bahkan masih belum mengehentikan tangisnya.

Untung saja suasana sedang sepi, kalau tidak mungkin Malih sudah terkena imbasnya.

Tangannya mengacak rambut gusar” aku tidak serius dengan ucapanku” jelas Malih yang ikut berjongkok di depan shakila

Perlahan tangis Shakila berhenti berubah jadi senyuman”benarkah?” Tanyanya riang. Lalu berdiri”kalau begitu. Kita segera masuk ke apartemen. Apalagi bawaanku sangat banyak” kata Shakila yang membuat Malih benar di buat terheran-heran.

Source

“Ini apartemenku”

Lagi-lagi Shakila di buat terkagum-kagum. Apartement Malih terlihat bersih dan rapih. Bahkan di lemari pajangan terdapat banyak buku-buku yang tersusun rapih.

“Pantas saja kamu pintar. Hampir di lemari semua terisi buku” puji Shakila sambil mengikuti Malih di belakang untuk menuju dapur

“Kamu bisa duduk di kursi. Tidak perlu mengikutiku ke dapur” kata Malih sambil membawa minuman mineral di kulkas

“Mau minum?” Tawar Malih

Kepala Shakila menggeleng. Kepalanya tertunduk malu” Malih” panggil Shakila membuat Malih menoleh.

Cup

Tubuh Malih membeku, bahkan botol mineral sudah terjatuh ke lantai. Jangan tanyakan Shakila, ia sudah berlari ke ruang tamu. Apa Shakila baru mencium pipinya?. Tangannya berpegangan pada meja,bahkan napasnya tidak beraturan hanya karena ciuman singkat. Dan seumur-umur belum pernah ada wanita yang menciumnya selain ibunya

Pipi Shakila terasa panas. Terbilang nekat, tapi Shakila harus melakukannya agar Malih mengerti perasaannya. Pria dingin itu harus dicairkan, agar tidak dingin lagi.

“Ya ampun. Berani sekali aku melakukan itu padanya” kata Shakila memukul-mukul kepalanya yang merasa sudah bertindak ceroboh.

Kaki Shakila terasa tidak menapak pada lantai saat Malih mengangkat tubuhnya di pangkuannya. Jantungnya semakin berdebar-debar, saat wajah Malih melihat ke arahnya hingga tatapan mereka bertemu. Tenang namun tidak dingin, itu yang ia baca dari ekspresi Malih padanya.

“Ma-ma___”

“Diamlah. Aku bisa menurunkanmu sekarang bila kamu bicara” potong Malih yang terus berjalan. Sebenarnya Malih pun merasakan hal yang sama, bahkan melebihi debaran jantung Shakila.

Pintu kamar terbuka, perlahan Malih menurunkan Shakila dari pangkuannya.

“Aku tidak pandai berkata-kata romantis untuk bisa merayu. Bila kamu bersedia, maka aku akan menunaikan kewajibanku. Bila tidak, itu tidak apa-apa” kata Malih perlahan,tidak ada nada tuntutan di sana.

Apa yang harus Shakila ucapkan?. Kebahagian yang tiada kira saat Malih mau menerima dirinya. Kepalanya semakin tertunduk dalam kemudian mengangguk kecil. Malih bernapas lega.

Tangannya memegang ubun-ubun Shakila seraya mengucapkan doa.

“Bismillahirrahmanirrahim” dalam hati Malih berdoa untuk kebahagiaan istrinya di dunia dan akhirat. Dan menjauhkannya dari segala kejahatan. Kemudian ia mengucapkan doa yang di aminkan Shakila dalam hati.

Kepala Shakila tertunduk, Air mata sudah tidak mampu ia tahan. kebahagiaanya sungguh tidak bisa ia hitung dengan nilai dan angka. Ya Allah, tiada hal yang paling membuat seorang wanita merasa sempurna, selain mendapatkan seorang suami Sholeh yang mampu membimbing keluarganya di jalan Allah, semoga Allah selalu memberkahi keluarganya.

Kepala Malih menunduk melihat mata Shakila yang berlinangan air mata.

Tangan shakila perlahan memegang pipi Malih, senyum terukir di bibirnya” Maaf. Bila aku sering membuatmu marah. Aku sungguh-sungguh mencintaimu malih, mencintai suamiku sendiri” Isak tangis terdengar di bibirnya membuat Malih memeluk Shakila erat

“Bila aku mengatakan cinta. Apa kau percaya?”tanya Malih menenggelamkan wajahnya di pundak shakila

“Jangan katakan cinta. Kau bukan pria romantis” ledek Shakila terkekeh

“Jadilah dirimu sendiri. Karena aku mencintaimu apa adanya”sambung Shakila “aku akan marah. Bila kamu mengungkapkan cinta”tambahnya berpura-pura kesal.

“Terimakasih”

TAMAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *