Cerpen : Romantisme Cinta Part 23

Dua hari kemudian

Pintu itu masih terlihat sama, tidak ada perubahan bahkan tidak ada pergerakan sama sekali. Ah ya, pintu adalah benda mati,mana mungkin bisa bergerak. Namun kenyataanya, Shakila begitu mengharapkan pintu itu bersuara,suara ketukan yang akan merubah ke hidupannya.

Ujung matanya melirik jam yang sudah menunjukan pukul 20.30 WIB. Bukankah ini sudah waktunya?. Searusnya mereka sudah datang.

Tangannya memeluk lutut. ia sekarang berada di bawah tangga. Menunggu seseorang yang sudah berjanji membuka pintu. Tapi sampai sekarang pintu itu masih tertutup.

“Sudahlah nak. Mungkin mereka tidak akan datang hari ini” kata ufa mengelus punggung putrinya, ada rasa sedih di balik perkataan nya. Melihat Shakila yang sedari tadi duduk di bawah tangga, mengawasi pintu.

“Mereka pasti datang. Malih sudah berjanji. Dia tidak akan mengingkari janjinya” jawab Shakila semakin menenggelamkan kepalanya di lekukan lutut. Ragu. Iya pun ragu untuk sekarang,hanya bermodalkan ucapan Malih. Apa itu bisa di percaya?

********

“Astagfirullah!!!….Malihhh” syok Sarah. tangannya memegang jok mobil dengan was-was

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya. bahkan Malih tidak memperdulikan kelakson mobil yang sudah beberapa kali memperingatinya. Bahkan Adam tidak kalah was-was dengan Sarah, do’a do’a sudah ia lafalkan untuk keselamatan mereka.

“Ini sudah telat ayah. Dia pasti menungguku”

Adam menoleh, wajahnya sudah pucat pasi” fokus saja menyetir mobil. Untuk tindakanmu sekarang ayah mendukungmu” ujar adam menelan selivanya saat ia kembali melihat ke depan.

Rumah dua tingkat dengan halaman luas terlihat. Perlahan mobil sudah berjalan dengan pelan, bersamaan hembusan napas lega keluar dari Sarah dan Adam. Semenjak tadi mereka harus benar-benar menahan napas karena perlakuan Malih.

Tugas mendadak yang di lakukan nya di DSI, membuat Adam membatalkan jadwal lamaran. Namun siapa sangka, Malih dengan keras kepalanya tidak ingin memundurkan jadwal lamaran,hingga akhirnya mereka berakhiran di jalan dengan mobil yang di jalankan layaknya sedang balapan.

Mereka turun dari mobil, bahkan sarah harus di bantu Adam karena tubuhnya yang lemas”aku tidak ingin melakukan itu lagi”keluh Sarah memegang tangan Adam kuat

“Ini demi anak kita” tenang Adam tersenyum, mengusap-usap tangan Sarah yang ia gandeng karena khawatir dia akan terkulai lemas di halaman.

“Ketuk pintunya malih”suruh Adam.

Kepala Malih mengangguk”Bismillahirrahmanirrahim”

Tuk tuk tuk

Suara ketuk pintu terdengar beberapa kali. Mata Malih terpejam rapat, menahan rasa gugup dan tegang bersamaan yang sekarang sudah menguasai tubuhnya. Hingga perlahan matanya terbuka seiring pintu rumah yang juga terbuka dan memperlihatkan Hisyam yang tersenyum menyambut keluarga Adam.

Source

“Assalamualaikum”salam Malih

“Wa’alaikumsalam” balas hisyam membuka pintu lebih lebar agar keluarga Adam bisa masuk.

Di balik dinding Shakila bersembunyi, air mata perlahan menetes jatuh di pipinya dan dengan cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan. senyum manis sudah menghiasi wajahnya.

“Aku tahu dia tidak akan mengingkarinya”

Bahagia,lega. Rasanya kedua rasa itu sedang menenangkan hatinya karena sempat terpuruk tadi. Menunggu pengetuk hati itu memang harus memerlukan kesabaran ekstra.

Tadi bersedih sekarang Shakila merasa malu. Hingga ia memilih menaiki tangga untuk bersembunyi di kamar.

Tangannya membuka kenop pintu, dengan cepat ia masuk ke dalam kamar,menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Senyum kian melebar, dengan napas nya yang tidak teratur.

Tangannya memukul kepala malu”ah..selalu saja seperti ini. Tenang..Shakila. jangan buat dirimu malu hanya karena Malih sudah datang” tenangnya mengatur napas. Tapi sepertinya tidak berhasil, kakinya sudah berlari dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Selimut sudah menutupi seluruh tubuhnya. Ada hal yang ingin di lakukan Shakila sekarang, berteriak dan menjerit histeris karena bahagia.

Keluarga Adam sudah duduk di ruang tamu.

Pendiam. Itulah Malih. bahkan sampai saat ia masuk, belum ada sepatah kata apapun yang keluar dari bibirnya. Hanya anggukan dan senyuman yang ia beri untuk menjawab semua pertanyaan. Ufairah sangat memaklumi sipat Malih, karena dulu ibunya pun bersikap sama, akan berbicara bila memang perlu. Ternyata buah jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya, terbukti dari sikap Malih yang menuruni sikap Sarah yang dingin.

“Kami sangat terkejut kalian mau datang hari ini. Kenapa tidak besok saja?. Saya khawatir, karena hari sudah malam” kata ufa melihat Sarah yang juga sama sedari tadi diam. Pasalnya ia diam karena seluruh nyawanya belum terkumpul akibat perjalan tadi.

“Tidak papa. Kami sudah berjanji datang hari ini” balas Sarah tersenyum

“Apa kami benar-benar tidak menganggu. Karena datang malam-malam seperti ini?” kini Adam yang bertanya karena tidak enak hati sudah menganggu.

Hisyam terkekeh”tentu saja tidak. Kalau Malih tidak datang hari ini, ada satu gadis yang sudah menangis di kamarnya” ungkapnya yang lebih untuk mengungkap kondisi Shakila yang terpuruk karena Malih belum datang.

Halis Malih menaut. Apakah itu Shakila?. Apa dia benar-benar menunggu kedatanganya?. Pertanyaan itu berputar-putar di otaknya. Karena selama ini Malih berpikir kalau Shakila memang tidak menyukainya, itu juga sebab Malih menolak perjodohan.

“Jadi mungkin semuanya sudah jelas. Keinginanku hari ini kita memusyawarahkan kapan mereka menikah?” Kata Hisyam melirik Adam dan Malih bergantian.

Sedangkan ufa dan Sarah jangan di tanya?. Mereka malah membahas anak-anak mereka nantinya. Perlengkapan yang harus dibawa. kasur yang seperti apa?, Warna Kursi,meja, semuanya Tampa terkecuali. Bahkan Malih berpikir, sepertinya ibu-ibunya lah yang paling bersemangat untuk menyiapkan keperluan, seakan-akan merekalah yang akan menikah.

Source

Teng teng teng

Panci di pukul beberapa kali terdengar menggema di seluruh ruangan kamar. Bahkan Shakila di buat terlonjak kaget dengan perlakuan ibunya, yang sedang memukul-mukul panci dengan riang.

“Bangun. Bangun. Ini waktunya kamu mandi lalu bereskan kamar,siapkan makanan, bebersih rumah, berbersih halaman rumah. Semuanya..” kata ufa sambil menarik selimut Shakila.

“Ada apa dengan ummi?” Ujarnya bingung dengan sikap ufa yang jadi lebih cerewet dari biasanya, walau memang umminya sudah cerewet dari dulu. Abinya pun menyutujui ucapannya.

Ufa mengacak pinggang” tiga hari lagi kamu menikah!. Jadi kamu harus mulai belajar dari sekarang. Dan itu semua di mulai dari sekarang pruittttttt” ufa meniup peluit seperti seorang komandan yang sedang memperintahkan prajurit.

“Ummi.. ini masih jam tiga pagi” keluh Shakila dengan wajah memelas.

Mata ufa melotot” jam tiga pagi itu sudah jam maksimal seorang istri bangun tidur. Apalagi kalau kamu sudah menikah, akan banyak begadang semalaman. Jadi cepat bangun” pinta ufa menarik tangan shakila yang masih betah duduk di atas ranjang

Wajah shakila memerah padam. Apa umminya sadar dengan apa yang di ucapkannya.

“Ummi….”Umminya ini memang paling pandai membuat Shakila kehabisan kata-kata.

Seperti yang sudah di perintahkan komandan, hampir selalu jam tiga pagi Shakila sudah bangun. Bahkan dalam hal memasak, membereskan rumah semua sudah jadi urusan Shakila. Hisyam yang melihat kelakuan ufa hanya bisa geleng-geleng kepala. Terkadang istrinya punya cara tersendiri untuk mengajari anak-anak nya agar bisa menjadi istri baik di rumah suaminya nanti.

“Kasihan Shakila, bila kamu suruh dia seperti itu” kata Hisyam melihat ufa sedang mencicipi masakan yang di buat Shakila. Sedangkan Shakila sudah berlari keluar membersihkan halaman rumah

Kepala ufa menoleh” ini urusan seorang ummi” kata ufa mengingatkan membuat Hisyam terkekeh

“Terus kalau urusan Abi?” Tanya Hisyam mengedipkan sebelah mata membuat ufa langsung mencubit pinggang Hisyam kesal

*******

Mata yang bening,bulu mata yang lentik, serta wajah yang cantik. Ya Allah, begitu indah wanita di hadapannya ini. Bahkan Shakila berpikir apa itu benar-benar dirinya?,kenapa sangat berbeda.

“Kamu putri ummi yang cantik” tangannya mengangkat dagu Shakila, melihat keseluruhan wajah putrinya dengan kagum.

“Ummi pasti kehilanganmu Shakila. Apa ummi bisa?” Mata ufa mulai berkaca-kaca membuat Shakila memeluknya erat untuk menenangkan.

“Aku tidak akan kemana-mana ummi. Aku akan tetap bersama ummi”

Pelukan ufa semakin erat mengantarkan kesedihan serta haru yang sudah bercampur jadi satu pada hatinya.

“Ummi jangan menangis” keluh seorang pria tinggi dengan berpakaian tuxedo hitam yang membuat ia tampak dewasa,dengan wajah tampannya.

Tangannya mengusap air mata Shakila”sudah, kamu tidak boleh menangis. Nanti riasan mu luntur” peringat ufa terkekeh membuat Shakila berdecak

“Ummi”keluhnya yang kemudian tersenyum “kalau begitu ummi juga tidak boleh menangis” sambungnya mengusap air mata ufa yang tersisa.

“Ah aku merasa terharu” kata Abyan memeluk ufa dari belakang yang sedang duduk di depan Shakila..

Source

Ufa terkekeh mengusap-usap tangan Abyan” setelah ini kamu yang harus menikah” kata ufa membuat wajah Abyan mengerut seketika

“Setelah Shakila melahirkan, aku akan secepatnya menikah” balas Abyan membuat Shakila langsung menimpuk Abyan dengan bantal kursi. Sukses itu membuat Abyan langsung tertawa.

“Kepada pengantin wanita bisa keluar sekarang” kata seorang wanita kemudian kembali menutup pintu.

Jantung Shakila mulai berdebar-debar, kepalanya tertunduk. Kenapa terasa cepat?,rasanya baru tadi ia selesai di dandani.

“Jangan lupakan niqab mu. Jangan biarkan pria lain melihat kecantikan mu selain suamimu” ufa memasangkan niqab pada Shakila. Merasa sudah cukup, ufa membantu Shakila berdiri. Bahkan Ufa tahu pakaian pengantin shakila, sedikit menganggu langkahnya untuk berjalan.

******

Tubuh malih membeku ketika melihat langkah Shakila semakin mendekat ke arahnya. Entah apa yang terjadi padanya, bahkan Malih tidak bisa mendeskripsikan apa yang ia rasakan. Hantinya berdebar, napasnya terasa berat seiring langkah Shakila yang mendekat ke arahnya yang di temani hisyam dan ufa.

“Ku serahkan putrimu padamu. Jagalah dia sebaik mungkin. Apabila dia melakukan suatu kesalahan tegurlah ia dengan baik. Hatinya sangat mudah rapuh, jadi bapak harap kamu bisa menjaga hatinya. Bimbinglah ia di jalan Allah, ku percayakan putri bapak kepadamu Malih” kata Hisyam tersenyum. Mengalihkan tangan shakila kepada Malih.

“Untuk kedua kalinya dia memegang tanganku. Saat menolongku, dan saat menikahiku. Ya Allah..begitu indah rencanamu. Engkau memberikanku sesosok pendamping yang sempurna. Dia lebih indah dari emas dan lebih mahal pula dari berlian. Jadikan aku istri yang baik untuknya”doa Shakila dalam hati hingga kecupan hangat di keningnya membuat matanya terpejam.

Dan kecupan singkat itu adalah sebagai langkah awal dari perjalanan hidupnya yang baru.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *