Cerpen : Romantisme Cinta Part 21

Terik sinar mentari terasa menyengat. Padahal jam sudah menunjukan pukul 14.30 WIB,seharusnya tidak akan terlalu menyengat karena waktu semakin sore. Zio dan Malih sedang berada di depan gerbang. Satpam pun ada di sana, dia sedang menyesap coffe nya yang ia simpan di atas kursi panjang, bewarna biru.

Selesai dari perpustakaan,Malih berniat langsung pulang. Tapi ia memberikan kunci mobilnya terlebih dahulu kepada zio, karena ia memilih berjalan kaki.

“Lo yakin akan jalan kaki?”tanya zio meyakinkan akan keputusan Malih

“Gue akan jalan kaki. Lo bawa mobil gue. Awas kalo ampe nabrak, gue pukul Lo pake raket nyamuk” ancam Malih membuat zio begidik

“Tega amat,pukul temen sendiri. Nanti, kalau gue meninggal gi mana”

“Kalau meninggal ya di kubur”balasnya sekenanya membuat zio mendelik sebal

” Ngomong-ngomong kita udah berapa hari gak lanjutin penyelidikan?”

“Dua hari mungkin”

“Kita harus segera nyelesain kasus ini. Sebelum DSI 1 turun tangan” wajah zio berubah cemas. Pasalnya ia tidak ingin kesempatan emas ini terbuang sia-sia saja.

“Gue udah nemuin tersangka beserta alasannya ” senyum simpul terukir di bibir Malih

Zio tercengang” bagaimana bisa?. Apa Lo nyelidikin kasusnya sendiri?”kata zio. ada nada tidak suka saat zio berucap. Mereka berdua adalah tim,apalagi sekarang di tambah Hamida, jadi seharunya mereka bersama-sama untuk menyelesaikan kasus

“Gak juga. Hanya kebetulan “Sahutnya tenang

“Kebetulan gimana?. Memang masih ada kebetulan jaman sekarang”

“Bila Allah sudah berkehendak. Semua bisa terjadi”

zio terlihat masih kesal dan malih yakin zio masih berpikiran buruk padanya”Lo jangan berburuk sangka dulu. Nanti gue jelasin pas udah di kantor” kata Malih menghembuskan napas pelan”kalau gitu gue pergi dulu. Assalamualaikum” pamit Malih melenggang pergi meninggalkan zio yang terdiam

“Wa’alaikumsalam”

” Gue, khawatir sama Lo Malih. Segala sesuatu Lo lakuin sendiri. Karena gak mau bikin orang lain repot”gumam zio karena ia pun tahu, Malih selalu menyelidiki kasus berbahaya sendiri dan hasilnya akan Malih bagi buat bersama. “Lo luar biasa” kagumnya yang tidak bisa zio ungkapkan dengan kata-kata.

Bagi zio mempunyai sahabat seperti Malih adalah suatu keberuntungan. Walau ia dingin, tapi sebenarnya ia selalu memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Ia akan lebih banyak bertindak dari pada berbicara.

Malih sedang berjalan di trotoar. langkahnya terhenti ketika melihat pengemis tua. bajunya terlihat lusuh,dan juga terdapat banyak robekan di sana. Walau badannya masih normal, kaki dan juga tangannya pun masih utuh.

Merasa lelah berjalan. Malih,memilih menghampiri pengemis. tidak ingin memberi, ia malah ikut duduk di dekatnya, menyilang kan kaki sambil melihat ke jalan yang di penuhi mobil-mobil yang berlalu lalang.

Pengemis itu tersentak dengan perlakuan Malih” adek gak mau memberi uang” wadahnya ia sodorkan ke arah Malih.

Source

Tanpa menoleh,Malih menggeleng” aku pun sama miskinnya seperti bapak” ujar Malih membuat pengemis itu mengerut bingung

Melihat dari tampilan Malih sudah jelas Malih bukan orang tidak punya. Pakaian baru,sepatu baru. Jadi tidak ada yang mencerminkan kalau anak muda di depannya bisa di bilang miskin.

“Apa yang membuatmu merasa miskin. Kau seperti orang yang punya” kata pengemis heran. Tatapannya ikut melihat ke jalan.

Baginya kehadiran malih tidak mengganggu, walau ia tahu hari ini ia tidak akan mendapatkan uang karena ada malih. Tapi bagi pengemis itu, malahan ini menjadi momen terbaik. Ada orang yang mau berbicara dengannya.Tampa malu, kalau orang di sekitar akan memperhatikan. Padahal sebenarnya ia pun sama manusia.

“Aku miskin ilmu agama”kata Malih singkat,padat dan jelas.

Pengemis menoleh”Pergilah ke pesantren”sarannya kemudiam terkekeh karena mendengar jawaban Malih yang terdengar aneh di telinga. sangat jarang anak muda sepertinya mau bicara soal agama.

“Sudah. Dan itu masih kurang. bahkan bila aku mencari ilmu sampai mati pun. Ilmu itu masih kurang”

“Kau mau belajar ilmu apa?” Pengemis itu mulai penasaran dengan Malih

“Aku tidak bisa menyebutkannya. Ilmu Allah terlalu banyak. Ilmu yang kita pelajari hanya seujung kuku, bahkan itu belum ada apa-apanya”

Pengemis menghembuskan napas berat

“Kamu membuat bapa berpikir lebih jernih nak. Bapak sudah menyerah mencari pekerjaan. Di jaman sekarang sulit bagi seumuran bapak mencari pekerjaan. Terkadang bapa berpikir menjadi mengemis jalanan adalah jalan yang terbaik” ucap pengemis itu menunduk,mengingat semua keluarga dan anak-anak nya yang membutuhkan makan

“Pengemis juga pekerjaan. Bapa duduk di sisi totoar. Kepanasan dan kehujanan ,bapak juga merasakan lelah. Jadi tidak ada bedanya”

Kepala pengemis menggeleng”pengemis bukan pekerjaan nak. Kami hanya meminta-minta”

“Kalau begitu bapak cari pekerjaan”saran Malih membuat pengemis itu termenung

“Tidak ada yang mau menerima bapak bekerja”

“Apa yang bapak sukai?” Tanya Malih melihat pengemis itu

Senyum terlukis di wajah lusuhnya”dari dulu bapak suka mengukir ”

“Bapa punya pohon besar di depan rumah?” Kata malih yang di beri anggukan pengemis

“Ada pohon rambutan. Bapak berniat untuk menumbangkannya, karena tidak pernah berbuah, lalu kayunya akan bapa jual”

“Jangan di jual. Kayu rambutan bisa di ukir, bapak bisa mengukir kayunya. Anggap saja sepeti kerajinan tangan”larang Malih

“Memang bisa?”

” kayu rambutan memiliki serat yang sedikit lebih halus dan tidak terlalu padat. Selain itu kayu rambutan juga tidak begitu berat, sehingga sangat cocok untuk digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kerajinan. “jelas Malih tenang

“Apa yang harus bapak buat?.”

Source

“Bapak bisa membuat boneka kayu, bangkiak, sandal wanita, asbak, hingga patung kayu. Selain karena ringan dan mudah dibentuk, kayu rambutan juga lebih ekonomis” sambung Malih kemudian berdiri

“Aku harus pergi dulu. Assalamualaikum”pamit Malih langsung berjalan pergi meninggalkan pengemis yang mencoba berpikir saran Malih.

Apa yang di katakan Malih memang benar. Bila kita mempunyai keahlian sesuatu, alangkah lebih baik kita mempergunakannya dengan sebaik mungkin. Karena kelebihan adalah anugrah yang di berikan allah dan kita sebagai hambanya harus mempergunakan nya dengan sebaik mungkin.

Dan juga Allah selalu membuka Rizki bagi setiap hambanya, tapi hambanya sendiri yang selalu mempersulitnya. Padahal Rizki sudah Allah tetapkan, tinggal kitanya saja yang mencarinya.

******

Ruangan kantor terlihat sepi, mungkin karena kebanyakan orang sudah menyebar untuk melakukan tugas masing-masing. di ruang rapat terlihat Malih,zio dan Hamida, Mereka akan membahas masalah kasus bunuh diri yang belum juga menemukan titik temu.

“Ini semua laporan dan bukti yang kutemukan” map biru sudah di sodorkan Malih di hadapan zio dan Hamida

“Kau menyelidikinya sendiri?” Hamidah mulai bersuara

Kepala Malih menggeleng kecil”sudah kubilang ini hanya kebetulan”

Saat Malih di perpustakaan pun. Ia tidak berniat untuk menyelidiki apapun. Tapi karena vino ada di sana dan sedang membaca novel, membuat Malih penasaran. Dan memilih menyelidiki vino, karena sebenarnya awalnya Malih cuman ingin membaca novel yang di berikan Haikal.

“Lihat dan baca.” Perintah Malih yang di beri anggukan setuju zio dan Hamida

“Aku tidak sengaja bertemu vino di perpustakaan. Dia sedang membaca novel berjudul “Jadilah Sinar Pagi”. Novel itu menceritakan kisah cinta. tapi yang perlu kita garis bawahi di sini, di sana banyak kata-kata, bagaimana mengerti perasaan wanita. Dugaanku dia membunuh para siswi itu karena mencintainya. Tapi, karena tidak ada balasan jadi vino membunuhnya”

Halis zio terangkat sebelah” bagaimana kau tahu. Hanya gara-gara di tolak, dia sampai membunuh Hana dan Syifa?”kata zio masih belum paham

“Orang yang patah hati bisa mengalami dampak psikologis. Dan gue curiga kalau vino mengalami depresi atau penolakan”

“Depresi?” Kini Hamida berucap. Ia agak setuju dengan kata-kata depresi karena bisa bersangkutan.

Penderita yang mengalami depresi, dimana dia merasakan ketidak mampuan, kesia-siaan, hal yang tidak berguna, frustasi, penyesalan yang mendalam. Hati yang berusaha menerima keadaan tidak menerima keadaan tersebut. Tingkat kedepresian beraneka ragam, karena hal yang lebih parah patah hati dapat menyebabkan kematian karena shock mengalami kehilangan seseorang secara mendadak.

“Gue setuju sama kesimpulan Lo. Bisa jadi dia depresi, apalagi kita tahu kan vino di kucilkan di sekolah” sahut Hamida senang karena mereka sudah menemukan titik temu.

Source

“Lalu gi mana sama Dimas?. Sidik jari itu milik Dimas kan?”sambil menunjuk kertas yang terlihat foto Dimas di sana dengan sidik jarinya

“Kita tanyain sama vino langsung. Seperti biasa Hamida. Sekarang suruh anggotamu untuk membawa vino ke kantor” kata Malih tenang. Kepala Hamida mengangguk langsung beranjak pergi ke luar ruangan

Setelah Hamida pergi. Tangan zio mengambil beberapa lembar kertas dari map biru yang tadi Malih sodorkan” gue harap ini cepat berakhir. Sebenarnya gue ngerasa mereka kaya lagi mempermainkan kita. Apa mereka buat rencana buat ngerjain kita?” Kata zio karena dari awal sampai akhir penyelidikan mereka seperti di ajak berputar-putar.

“Kalau penjahat bisa dengan mudah di tanggani. Maka gak akan ada namanya detektif”

“Ah!. Benar juga kata lo. Kalau gitu kita gak ada kerjaan dong hahaha” tawanya namun hanya di anggap angin lalu oleh malih.

******

“Shakilaaaaaa” teriak ufairah berlari-lari ke atas tangga untuk menemui putrinya yang sedang tertidur seperti kebo. Masalahnya Shakila memang susah bangun jadi ufa menyebut putrinya,putri kebo. Salahkan?

Setelah masuk ke kamar dan benar!. Shakila sedang tertidur dengan nyamannya memeluk guling.

“Shakila!. Bangun nak!. Banguunnnnnnnnnn!!” teriak ufairah di telinga Shakila. Membuat Shakila langsung membuka mata dan terlonjak kaget

“Ummiii” keluh Shakila memelas. Karena ufa selalu membangunkannya secara tidak wajar.

Mata ufa terlihat berbinar-binar. Terlihat sekali ia sedang bahagia “kamu ingin dengar apa yang ingin ummi ucapkan?” Tanya ufa perlahan untuk membuat Shakila penasaran. Namun nyatanya Shakila malah menutup matanya karena mengantuk

“Malih!. akan melamarmu-setelah lulus sekolah!” Sorak ufairah yang sukses membuka mata Shakila

“APAAA!!”

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *