Cerpen : Romantisme Cinta Part 20

“Kamu suka pada Shakila?” Selidik haikal curiga

” aku lebih suka melihat kucing berbulu lebat . Terkadang aku ingin memotong bulunya untuk ku anyam lalu ku jadikan sarung bantal”

“Bukan suka seperti itu. Seperti suka kepada seorang wanita, seperti perasaan cinta”

“Cinta?” Halis Malih mengerut” aku belum pernah membaca bukunya. Mungkin, seperti novel-novel tentang cinta. Aku pernah melihatnya tapi tidak niat membacanya”jujur Malih mengingat beberapa novel yang pernah ia lihat di toko buku

Saat langkah pertama ia meninjakan kaki di toko buku. Bukan novel yang ia cari, tapi buku yang bisa menambah wawasannya. Seperti psikologi contohnya.

“Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziah: cinta adalah luapan hati dan gejolaknya saat dirundung keinginan untuk bertemu dengan sang kekasih.”

Kepala Malih memangut-mangut. Mulai paham dengan definisi apa itu cinta?. Dan ia berpikir kalau cinta adalah kerinduanku yang mendalam bila kita jauh dengan sang pujaan hati. Mungkin itu juga yang menyebabkan Malih tidak bisa jauh dari ibunya dan itu karena ia mencintai sang ibu.

“Seperti cinta ke pada ibu. Saat jauh maka kita akan merindukannya,selalu ingin menatap wajahnya dan memastikan agar ia selalu baik-baik saja” simpul Malih yang di beri helaan pasrah haikal

“Bapak akui kamu pintar dalam segi ilmu. Tapi kamu kurang pintar dalam masalah cinta”

Kini rasa penasaran nya mulai meluap. Bahkan Malih berpikir untuk membeli beberapa buku agar ia bisa memahami arti keseluruhan kata cinta. Mungkin memang ada beberapa hal yang Malih tidak mengerti, selama ini pikirannya hanya berpusat pada wawasan saja. Tidak terlalu tertarik dengan yang berbau romantis.

“Mungkin aku akan membeli beberapa buku. Untuk menjawab semua rasa penasaranku” ujar Malih beranjak dari tempat duduknya untuk pergi ke luar

“Mungkin ini bisa membantumu” saran Haikal menyodorkan novel ke pada malih

Malih menunduk melihat novel yang di sodorkan Haikal” cover nya sangat menarik. Mungkin aku akan meminjamnya. Besok akan ku kembalikan. Terimakasih pak Haikal”

“Kamu tidak bisa membacanya dalam satu hari” selanya tersenyum

“Kenapa?”

“Karena novel ini spesial. Bila hatimu sudah tenang ,bacalah. Kamu akan langsung mengerti arti kata cinta yang sesungguhnya” sambungnya kemudian menyerahkan novel itu pada Malih

“Baiklah’. Sepertinya menarik. Kalau begitu aku pergi. Assalamualaikum”pamitnya berjalan pergi keluar ruangan Haikal.

Kepala Haikal menggeleng-geleng, pasalnya ia baru tahu kalau Malih memang tidak mengerti sama sekali tentang arti cinta. Sudah terlihat jelas kalau Malih memang tidak tertarik dengan yang berbau romantis.

Source

Shakila baru selesai memasukan buku dalam tasnya. Kelas sudah kosong,hanya ada Shakila dan Nia di dalam kelas. Semenjak setelah kejadian yang menerornya, rupanya membuat Shakila benar-benar engan sendirian untuk berada di kelas. Apalagi pelakunya juga belum temukan. Ia akan berpikir 1000 kali bila ingin diam di kelas sendiri,dan mengulangi hal yang sama. Itu mengerikan!.

“Bagaimana setelah pulang sekolah kita jalan-jalan sebentar. Di sebelah sekolah ada warung makan yang baru buka. Kata orang sih enak. Kita coba, yuk!”ajak Nia semangat. Sepertinya Nia benar-benar berharap Shakila menyetujui ajakannya.

“Maaf. Aku tidak bisa Nia” sesalnya,kemudian memakai ranselnya

Wajah Nia berubah murung”padahal aku ingin ke sana loh Shakila. Apa benar-benar kamu tidak bisa?” Tanyanya lagi berharap Shakila mau merubah ke putusannya.

Kepala Shakila menggeleng

“Owhh..ayolah!. Kau sahabatku. satu kali ini saja. Kita makan ke sana yah?. Plisss” mohon Nia membuat Shakila heran

“Sebenarnya ada apa denganmu?” Tanyanya heran” terlihat, mencurigakan!” matanya menyipit melihat Nia penuh selidik

Wajah Nia berubah kesal”Berhenti menatapku seperti itu!. Tatapanmu membuatku seperti seorang tersangka”

Merasa tidak ada yang mencurigakan Shakila berjalan pergi,meninggalkan Nia dari belakang. Bukanya ia tidak mau menerima ajakan Nia. Tapi ia benar-benar tidak bisa sekarang,apalagi ia mempunyai janji dengan abinya. Jadi sudah jelas, Shakila harus meluangkan waktu untuk keluarga.

“Shakila ngomong-ngomong , tidak ada kabar lagi soal dua detektif itu?” Langkah nia mencoba di sejajarkan dengan langkah Shakila yang terlihat cepat

“Lupakan saja Nia!. Itu tidak penting. mening kita urusi ujian kita yang sebentar lagi datang”

“Tapi aku benar-benar penasaran. Apa benar mereka bunuh diri atau…”

“Nia!” Nada Shakila meninggi saat Nia masih saja membahas perihal kejadian bunuh diri.

Sudah beberapa hari ini Shakila mulai tenang. Tidak ada lagi peneror atau apapun yang mengganggu harinya. Mendengar Nia terus membicarakan tentang kejadian korban bunuh diri. Pasti!. Membuat Shakila marah,apalagi ia pernah hampir menjadi korban pembunuhan dan itu masih membuat Shakila trauma.

“Jangan bahas lagi masalah itu!. Aku tidak ingin mendengarnya. Apapun itu!. Sungguh!. bantu aku untuk tidak mengingatnya!” Pinta Shakila merapatkan telapak tangannya di dada. kepalanya menunduk “jadi tolong!. Jangan katakan apapun tentang masalah bunuh diri itu lagi” tambahnya berlalu pergi meninggalkan Nia yang termenung

Di perpustakaan terlihat sepi. Terlihat seorang wanita berkerudung tengah membaca buku. Dia adalah petugas perpustakaan sekolah. Kulitnya terlihat putih. Dengan lipstik yang terlihat natural di bibirnya. Walau umurnya sudah tidak muda lagi, tapi wajah ya masih terlihat masih muda,yah..setidak nya dua tahun lebih muda dari umurnya yang sudah meninjak 47 tahun.

“Assalamualaikum. Bu Cahyati , saya mau meminjam buku ini. Kalau 1 Minggu boleh tidak?” Tawarnya karena vino tidak mungkin membaca buku tebal itu hanya dalam jangka waktu dua hari.

Cahyati menoleh. Melihat buku yang di pinjam vino” Wah, maaf vino!. Buku itu tidak boleh di pinjam, ini sudah keputusan sekolah. Mungkin kamu bisa membacanya esok hari” tolaknya halus.

“Baiklah’. Mungkin aku akan datang lagi esok hari. Bolehkah buku ini di khususkan olehku. Ada beberapa halaman yang aku lipat” pesan vino yang di beri anggukan setuju Cahyati

“Ibu akan menyimpannya di rak berbeda”

Source

“Terimakasih Bu. Besok aku akan datang lagi. Assalamualaikum”tangannya melambai, senyumnya terlihat lebih riang dari biasanya. Hingga tubuhnya menghilang dari ambang pintu.

“Boleh saya lihat buku nya” kini Malih yang datang, tatapannya tidak lepas dari buku yang di pegang Cahyati.

Sedari tadi malih sudah memperhatikannya dari jarak jauh. Memperhatikan vino dari mulai membaca, hingga ia berdiri. Ada beberapa hal yang membuat Malih curiga saat vino terlihat melipat salah satu halaman. Entah itu membahas tentang apa. Kemungkinan juga, ia hanya ingin menandai buku supaya ia bisa membaca keesokan hari.

“Baiklah. Tapi lipatan nya jangan di buka, karena vino akan membacanya lagi”peringat Cahyati .

Buku sudah di atas meja. Terlihat Malih sudah mulai membaca halaman-perhalaman buku yang menurutnya agak kurang menarik. Buku itu tidak lain adalah novel, dengan judul “Jadilah Sinar Pagi” menceritakan tentang seorang gadis yang selalu di olok-olok. Tapi semua itu berubah ketika ada seorang pria yang datang dengan membawa 1000 mawar. Dan menawarkan gadis itu menjadi sinar paginya.

“Ish’. Sepertinya ini novel cinta. Tapi kalau di lihat dari ceritanya agak mirip sama kisah vino sih. Di olok-olok,tidak punya teman. Bedanya cuman 1 dia di bebaskan oleh seorang pria dengan menawarinya pernikahan. Kalau vino tidak ada. masih terlihat sama. Sampai sekarang..”simpulnya sambil berpikir.

Sekarang Malih sudah berada di halaman akhir, karena dari tadi ia hanya meloncat-loncat,tidak benar-benar membaca semua perhalaman di novel. Hingga satu halaman jadi pusat perhatiannya, saat ia berada di salah satu halaman yang di tandai lingkaran bulat kecil tinta merah . Mungkin untuk menandainya

“Pujangga ‘Arab berkata :
المرأة تكتم الحب أربعين سنه ولا تكتم البغض ساعة واحده
wanita itu mampu menyembunyikan cintanya empat puluh tahun namun tidak mampu menyembunyikan kemarahannya satu jam saja.” Tiba-tiba Malih mengingat shakila. Saat shakila marah ia akan langsung seperti petasan meledak, bahkan emosinya tidak bisa di tahan dan terkadang itu membuat telinga Malih jadi berisik.

“Perempuan itu, pada mulanya takut untuk mendekatimu, namun pada akhirnya, ia menangis saat engkau menjauh darinya .. sedikit sekali orang yang memahaminya”

Dari arah sebrang Shakila sedang berjalan di koridor sekolah. Pulangnya terhambat karena pak Gian menyuruhnya menemui Bu Cahyati untuk membawa buku. Akhirnya ia menuruti walau dengan wajah lesuh

“Perempuan itu tipu daya besar atau cinta agung, dan engkau lah yang menentukannya wahai lelaki..jika engkau membuat makar atasnya, diapun membuat makar kepadamu, dan jika engkau mencintainya, ia pun kasmaran terhadapmu.”

Langkahnya sudah memasuki ruang perpustakaan. Hingga tatapannya berpusat pada Malih yang sedang serius membaca buku. Keningnya mengerut,karena ini pertama kalinya Shakila melihat Malih di perpustakaan.

Source

“Perempuan itu mengobati, padahal dia sedang demam, membantu, padahal dia susah, begadang, padahal lelah, dan..berduka terhadap seseorang yang tidak dikenalnya.”

“Perempuan itu takut dikhianati, takut kehilangan, takut tiada

“Assalamualaikum”

“dan tidak mudah melupakan seorang yang tiada yang dicintainya. terus menerus mengawasinya dari jauh.””

Kepalanya menanggah ,bersamaan dengan kata-kata yang sudah selesai ia baca dari novel. Di sana Shakila hanya bungkam, kepalanya tertunduk dalam, karena kata-kata Malih di akhir. terasa pas menyentuh hati shakila. Entah memang kebetulan atau ia datang dalam waktu yang pas.

“Kata bu Cahyati buku “Jadilah Sinar Pagi” ada padamu. Pak Gian menyuruhku untuk membawanya” kata shakila. Bahkan rasanya napasnya jadi sesak, hatinya berdebar-debar, kakinya ingin cepat-cepat berlari untuk menghilangkan semua kondisi aneh dalam tubuhnya.

Malih mengangguk” ini bukunya” sodor malih tenang, kemudian beranjak dari duduknya untuk pergi.

Sebelum pergi sejenak ia diam”Bila kamu mendengar suara orang-orang mulai ramai bersorak. Dua hari setelahnya akan ada satu keluarga yang mengetuk rumahmu. Assalamualaikum” Setelah mengucapkan hal itu Malih kembali berjalan pergi meninggalkan Shakila yang termenung.

“Apa maksudnya?” Herannya dengan kata-kata Malih yang tidak ia mengerti.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *