Cerpen : Romantisme Cinta Part 19

Hati wanita akan terbuka untuk ia yang mengetuknya berkali-kali.”

Farah terdiam. Saat Shakila mengucapkan syair. Dimana ia pun mengalami seperti yang di alami Shakila. Hati seorang wanita akan terbuka, bila pria itu terus mengetuknya beberapa kali. Mungkin itu sebabnya Shakila kesal dengan tindakan Malih, karena Malih terus mengetuk pintu hatinya tapi tidak pernah mau mengunjungi rumahnya.

“Sampai…!!” Seru Farah memecahkan keheningan yang sempat terjadi.

“Eh!. Sudah sampai yah..” terkurung dalam lamunan membuat Shakila tersentak. Bahkan Shakila tidak sadar, mereka sudah berada di parkiran sekolah. Terlihat mobil berjajar rapih,walau masih bisa di hitung jari .

“Maaf sudah merepotkan mu. Seharusnya kamu tidak perlu mengantarkanku sampai kesini” kata Shakila tidak enak hati

Tangan Farah meninju pundak shakila pelan. Kemudian terkekeh”santai saja. Aku senang mengantarkan tunangan pak dingin itu” timbal Farah tersenyum lebar memperlihat giginya yang berderet rapih

“Tunangan?”kening Shakila mengerut bingung

“Tentu saja tunangan. Kata Malih kamu tunangannya” sahutnya semangat

Blussss pipi Shakila terasa mulai memanas. Dan jangan tanyakan kondisi Shakila sekarang. Jantungnya berdetak kencang. Bahkan Shakila merasa ada aliran hangat yang menjalar pada seluruh tubuhnya.

“A-apa dia berkata seperti itu?” Gugup. Salah tingkah, bahkan Shakila tidak ingat bagaimana cara duduk dengan tenang di kursi.

Melihat Shakila yang gugup Farah tertawa” kenapa sih. Biasa aja kali ..”

“Ah i-iya. Aku mau turun dulu” kepala Shakila tertunduk malu, dengan cepat tangannya membuka pintu. Baru saja ia ingin berdiri, ia sudah kembali duduk.

Tawa Farah sukses langsung pecah” aduh neng sabuk pengamannya aja belum di buka” kata Farah yang sukses membuat Shakila bertambah malu

“Ya Allah. Kenapa aku jadi gini sih!. bikin malu aja..”gerutu shakila dalam hati dengan segera membuka sabuk pengamannya. Kemudian membuka pintu,ingin segera cepat-cepat pergi karena sudah sangat malu

“Eh’. Shakila..jaketmu”teriak Farah melihat Shakila sudah berlari memayungi kepalanya dengan tas ransel

“Ya sudahlah.”ucapnya begedik bahu tidak peduli “ku simpan saja di mobil. Biar Malih yang memberikannya” gumamnya kemudian menghidupkan mobil

********

Malih dan zio berjalan di koridor sekolah. Rambut Malih terlihat basah bahkan sesekali dia membenarkan rambutnya dengan ke dua tangan,karena satu helai rambutnya selalu turun ke wajahnya.

“Para gadis udah liatin Lo dari tadi. Kayanya seragam gue Kebagusan kalo Lo yang pake” gurau zio tertawa memasukan tangannya ke saku celana. Malih mencibik tidak peduli ia masih fokus membenarkan rambutnya.

Source

“Hai malih…”sapa seorang wanita yang Malih tahu pernah ia tolak dan marah padanya

“Assalamualaikum”salamnya yang terdengar dingin bagi ke tiga gadis yang selalu mengejar-ngejar Malih.

“Tidak biasanya kamu telat. Padahal aku udah nunggu kamu dari tadi loh”

Wajah Malih melirik zio”gue pernah nyuruh mereka nunggu gak?” Tanyanya pada zio.

Kepala zio menggeleng”kayaknya enggak deh..”sahutnya

Gadis bernama Keyla itu berdesis melihat perlakuan Malih yang masih tidak peduli dengan nya. Padahal baru kali ini gadis bernama Keyla mengejar seorang laki-laki untuk menjadi pacarnya. Gadis berparas cantik, dengan mata bulat bening itu selalu menjadi dambaan. Namun sepertinya ada pengecualian untuk Malih..

“Mending sama gue aja key”timbal zio mengedipkan mata yang malah membuat gadis itu begidik

“Gue sama elo. Enggak deh!” Tolaknya enggan kemudian melenggang pergi meninggalkan zio dan Malih.

“Perasaan gue gak jelek-jelek amat deh” katanya mengusap-usap dagu karena bingung dengan semua gadis, yang terlihat selalu berjaga jarak bila berdekatan dengannya “malahan kata mamah gue suka bilang gini “duhh.. ini kok anak mamah. Gantengnya kebangetan yah”sambungnya menyertakan expresi mamahnya yang selalu memuji.

“Kalo udah selesai bicara. Susul aja gue di kelas” kata Malih tenang sambil meleos pergi meninggalkan zio yang mendengus sebal

Di kelas terlihat hening, tidak ada suara selain suara hentakan sepatu yang berjalan. Seorang guru wanita berkacamata dengan rambut di gulung ke atas, terlihat fokus menatap semua murid-murid yang ia lewati. Pendengarannya di tajamkan serta penglihatannya menelisik setiap murid, mengawasi bila saja ada yang mencontek karena sedang ulangan.

“Sha!. Sha!” Panggil seorang wanita dari arah belakang Shakila. Tidak ingin mendengarkan Shakila pura-pura tidak mendengar. Pasalnya ia tahu mereka akan meminta jawaban

“Sombong banget sih Lo!. Ulangan aja gak mau bagi-bagi” cecar wanita tadi,yang di setujui teman sebelahnya.

“Dia kan emang gitu orangnya. Gak di temenin baru tahu rasa!” Cibiknya kesal

“Hei!. Kalian berdua!. Kenapa ribut terus” Tegur guru wanita itu melotot tajam ke arah dua siswi yang terlihat langsung meringkuk karena ketahuan

“Dia yang cari masalah duluan Bu!.”tunjuk salah satu siswi ke arah Shakila. Tentu Shakila tercengang.

“Tidak Bu!. Sedari tadi Shakila diem aja. Mereka aja noh!. Yang gak bisa diem” sela Nia geram menunjuk ke dua siswi yang sudah seenaknya nuduh Shakila

Suasana kelas mulai ricuh karena Nia dan Bella sudah saling tuduh menuduh. Guru itu pun mulai pening di buatnya”sudah cukup!” Pinta guru itu geram”sekarang kalian ber empat pergi ke ruang BK” perintah guru bernama Jeny itu menunjuk pintu keluar

Semua langsung diam. Bahkan Shakila yang sedari tadi diam benar-benar harus terkena imbas” tapi Bu..”wajah shakila mulai memelas karena ia pun merasa tidak salah tapi harus terkena imbasnya juga.

“Tidak ada tapi-tapian. keluar sekarang!” Tegasnya Tampa ingin di bantah

“Aku sudah selesai mengerjakan tugas. Boleh aku keluar” Malih sudah berdiri, mengalihkan perhatian semua orang menjadi ke arahnya.

Source

Sejenak Jeny menghela napas, kemudian mengangguk kecil” simpan saja di atas meja ibu. Yang lainnya!, kerjakan kembali tugasnya. Dan kalian ber empat pergi ke ruang BK”Merasa tidak ada gunanya menolak, mereka berempat mengangguk pasrah.

Seorang pria terlihat fokus membaca buku di atas meja. Terkadang keningnya berkerut karena ada hal yang tidak ia mengerti.

Tuk tuk tuk

“Assalamualaikum. Boleh saya masuk?”ijin Malih menyembulkan kepalanya di balik pintu

Pria yang terlihat fokus membaca mendongkak, kemudian mengangguk “wa’alaikumsalam. Ada apa Malih?. Bapak yakin kamu tidak akan buat masalah” ucap pria itu terkekeh. Badannya terlihat agak gemuk, dengan tubuh tidak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang dengan halis tebal.

Sudah mendapatkan ijin masuk, Malih duduk di kursi. Tatapannya langsung tertarik pada buku yang sedang di baca haikal ” bapa suka baca buku psikologi?” Tanya Malih melihat buku yang sudah terbuka dan berada di halaman terakhir. Mungkin haikal sebentar lagi akan menamatkan buku yang tengah ia baca.

“Hanya menyukai saja. Ini sangat menarik”balasnya kemudian menutup buku untuk fokus berbicara dengan Malih

Malih mengangguk” saran saya bapa bisa membaca buku Outliers: The Story’ of Success. Karangan Malcolm Gladwell. Itu pasti akan membantu bapak untuk membuat pemikiran bapak lebih matang dan mencapai tingkat keberhasilan lebih tinggi, tidak peduli apakah bapak seorang atlet, musisi, atau apapun “saran Malih tenang

Bapa berdecak kagum” astaga!. Kamu juga membaca buku itu”

“Hanya membaca” sahutnya tenang

“Kamu tahu Malih?. Malcolm Gladwell telah menulis banyak buku yang sangat mencengangkan para pembaca buku dan mengubah paradigma pembaca mengenai kesuksesan. Diantaranya adalah buku, The Tipping Point, Blink, The Dog, dan Outliers, yang mana menjadi buku yang dapat membuka mata kita tentang hal-hal yang bahkan belum pernah kita lihat. Bapak sangat menyukai buku-bukunya” ceritanya. terlihat Haikal sangat bersemangat menceritakan tentang Malcolm Gladwell

“Gladwell: “Gagasan kita tentang jenius pastilah salah. Seorang jenius ilmiah bukanlah orang yang bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain; namun, dia adalah seseorang yang bisa melakukan apa yang dibutuhkan orang lain untuk dilakukan. Seorang jenius bukanlah sumber wawasan yang unik; tapi dia hanyalah sumber wawasan yang efisien” sahut Malih mencoba mengingat-ingat kata-kata Gladwell dalam bukunya.

“Kamu juga mengetahui kata-katanya dengan sangat baik, Malih. Oh, astaga!. kamu sangat jenius.”puji Haikal menepuk pundak Malih bangga

“Aku bukan jenius tapi cerdas. Jenius terlalu tinggi untuk di sematkan pada saya” sahut Malih terkekeh kecil

Source

Kening Haikal mengerut”bukankah itu sama saja?”

“Orang cerdas tidak terpaku pada teori namun lebih terhadap pemahaman / konsep, jadi jika buku berkata A, Orang cerdas lebih tertarik pada alasan kenapa bisa A, serta berdasarkan fakta dan pengetahuan. Pengetahuan hanya sebagai ‘cover’ senjata utamanya yaitu Logika. ”

Sejenak Malih terdiam hingga ia kembali melanjutkan penjelasannya”Orang jenius memiliki gangguan otak bernama LLI (Low Latent Inhibitation). Dimana penderita ini menerima segala informasi dengan cepat dari orang biasa, dan pola pikir yang tidak biasa. Senjata Orang ini adalah Imajinasi+Logika+pengetahuan”

Haikal terdiam tidak mampu berucap. Penjelasan Malih cukup membuat guru sepertinya menjadi malu. tapi ia juga,tidak bisa mengungkit . Kalau ia merasa bangga kepada murid yang selalu di banggakan seluruh guru ini.

“Assalamualaikum” salam Shakila membuka pintu.

“Wa’alaikumsalam”sahut Malih dan Haikal bersamaan

“Ada apa?” Tanya Haikal dengan tersenyum. Sekarang hatinya benar-benar sedang baik karena Malih

“Kami melakukan kesalahan. Dan kata guru Jeny kami harus menerima hukuman” kepala Shakila tertunduk karena masih merasa enggan mengakui kalau ia salah

“Tidak ada hukuman untuk hari ini!. Bapa sedang bicara dengan Malih. kalau tidak ada yang di tanyakan, Kalian bisa pergi” balas Haikal ramah membuat Shakila tersenyum lebar

“Benarkah?”

“Tentu saja!”

Ujung bibir Malih terangkat ketika Shakila sudah pergi dengan wajah riang” aku akan membantumu. Selagi aku bisa”batin malih. Karena sebenarnya ia hanya ingin membebaskan Shakila dari hukuman yang seharusnya tidak di terimanya. Itu sebabnya ia pergi ke ruang BK

“Kamu suka pada Shakila?” Selidik haikal curiga

Bersambung…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *