Cerpen : Romantisme Cinta Part 18

Jadi kamu menerimanya?”simpul adam cepat

“Ini terlalu cepat untuk memutuskan. Beri aku beberapa hari lagi” pinta Malih mengacungkan satu jari di depan wajah

“Maksudmu 1 Minggu, 1 bulan atau 1 tahun” wajah Adam mulai berubah kesal, karena melihat putranya paling susah menurut

“Begini ayah. Aku tahu ayah cemas padaku di khawatirkan aku akan berjalan dalam cinta yang tidak benar. Aku bisa mengerti”desahnya paham” tapi..seorang lelaki harus jadi imam yang baik untuk keluarga. Secara tahapan pendidikan di bawah usia 20 tahun seseorang belum siap menikah. Dan aku masih berusia 18 tahun, cara berpikirku masih ingin bersenang-senang. Setelah lulus kuliah mungkin cara berpikirku akan lebih dewasa lagi, untuk bisa membina rumah tangga yang harmonis” jelas Malih

Perdebatan antara ayah dan anak itu memang sudah terdengar biasa di telinga Sarah. Bukanya ia tidak ingin menengahi kedua orang yang di cintainya itu. Terkadang mereka memerlukan waktu bicara berdua, untuk menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Dan ia akan menjadi penonton dan menyimak perbicangan antara keduanya.

Tidak mau kalah, Adam kembali bersuara” pikiranmu sudah cukup dewasa. Sekarang kamu bahkan sudah meninjak DSI 5. Itu berarti kamu sudah bisa di andalkan di kantor. Dan juga kamu sudah bisa menghasilkan uangmu sendiri,itu sebagai bukti kamu sudah meninjak masa dewasa.” Simpul Adam membuat wajah Malih langsung menekuk

Untuk pemuda seusianya. Malih memang sudah bisa menghasilkan uangnya sendiri. Bahkan ia sangat jarang meminta uang kepada Adam dan Sarah. Alasannya, karena gajih dari DSI cukup untuk membiayai semua keperluannya.

“Jadi bagaimana?. Kamu menerimanya?” Tanya lagi adam.

“Baiklah!. Tapi setelah lulus sekolah” pasrah Malih menyandarkan tubuh nya dengan lesuh di kursi.

Keinginan Adam memang sangat sulit di tolak. Dan Malih mengakui perkataan ibunya kalau Adam memang pandai membungkam mulut orang. Dan sifat itu menurun padanya.

“Bagaimana dengan kasusmu di DSI. Apa sudah selesai?”kini Sarah yang berbicara. Karena keheningan yang terjadi membuat suasana jadi tidak enak.

Kepala Malih menggeleng,ia masih betah memejamkan matanya untuk mengumpulkan semua energi yang sudah terkuras habis hari ini.

“Mening ikut ayah saja ke Mesir. Kamu bisa bawa Shakila kalau sudah menikah”ujar Adam hanya untuk menggoda putranya

“Berhenti menggodaku ayah” decak Malih kesal membuat Adam tertawa. Melihat keduanya akur kembali Sarah tersenyum tipis,itulah hubungan antara Adam dan malih, mereka tdak berucap tapi mereka mampu merasakan lewat hati.

Malih menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Beberapa kali dia mencari posisi nyaman untuk tertidur, nyatanya ia masih belum biasa merasakan kenyamanan itu. Pada akhirnya dia memilih berjalan keluar balkon. Helaan napas lembut terdengar, bersamaan dengan matanya menatap langit yang hitam karena gelap. Tangannya bersedekap di atas balkon, matanya tidak teralihkan dari langit yang kosong itu

“Aku tidak pernah berpikir bisa menjadi DSI. Dan ini hal yang sangat luar biasa”gumamnya

Semenjak kecil Malih sudah punya ketertarikan lebih akan menyelidiki sesuatu yang membuatnya penasaran. Mungkin ini juga jalan Allah untuk menuangkan semua ketertarikannya. Dan itu menjadi seorang DSI.

Source

“Belum tidur?” Ujar seorang dari arah belakang. Sarah mendekati putranya kemudian ikut berdiri di sampingnya

Tampa mengalihkan perhatiannya dari atas langit. Malih tersenyum “aku tidak bisa tidur” balasnya

Senyum tipis terlukis di bibir Sarah,ia ikut melihat langit yang tampak kosong”langit itu sangat kosong. Kamu harus mengisinya dengan beribu bintang. Hingga semua orang bisa melihatnya dan ikut bahagia dengan hasil karyamu di langit” kata Sarah membuat kepala Malih menoleh

Ia mengerti dengan perkataan Sarah. Langit kosong itu bagai kehidupan. Kediaman dan tidak pedulinya orang ke pada sesama. Itu sama halnya, seperti langit yang kosong. Saat kita melakukan satu kebaikan, maka langit akan memunculkan satu bintang, dan lebih banyak lagi melakukan kebaikan, maka langit akan banyak lagi di taburi bintang. Dan itu akan membuat orang bahagia karena kebaikan yang kita beri.

“Aku sedang mencobanya. Memunculkan bintang-bintang di langit”senyuman yang manis. Dan itu selalu tersembunyi dari balik sikap dinginya, tapi tidak untuk ibunya.

Perlahan tangan lembutnya mengusap pipi putranya. Sekarang Sarah sadar, ternyata putranya sudah tubuh menjadi seorang pria dewasa dan juga tampan seperti adam. Tidak terasa, serasa baru kemarin dia malahirkan putranya dengan susah payah , dan sekarang putranya sudah menjadi dewasa saja. Apa semua ibu mengalami hal yang sama?. Atau hanya ia saja.

Senyum itu semakin merekah, tangannya memegang tangan ibunya yang masih mengusap-usap pipinya dengan linangan air mata yang Malih yakin ibunya tidak sadar” aku sungguh tidak pandai dalam berkata-kata manis. Tapi aku sungguh-sungguh menyayangi ibu. Ibu segala-galanya untukku”kata Malih memeluk ibunya,mengutarakan semua kasih sayangnya pada sesosok ibu yang sudah menjaganya dari semenjak ia bisa menghirup udara dunia.

*******

Entah apa yang terjadi hari ini. Awan terlihat mendung, bahkan sudah mengeluarkan rintik-rintik air hujan yang semakin deras berjatuhan ke bumi. Udara dingin pun terasa mulai menggigit kulit, hingga Shakila merapatkan jaketnya lebih erat pada tubuhnya. Sesekali matanya menatap langit hingga dengusan kesal terdengar dari bibirnya

“Aku pasti akan telat lagi. Seharusnya tadi aku ikuti perkataan Abi,untuk ikut naik mobil” sesalnya karena sudah menolak ajakan Hisyam untuk mengantarnya berangkat sekolah

“Benar kata pepatah. Perkataan orang tua memang selalu benar” tangannya menepuk-nepuk dahinya pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Berdiri di depan gerbang ber jam-jam sambil menunggu waktu istirahat. Pasti akan sangat membosankan!

Mobil hitam berhenti cukup jauh dari arah Shakila sedang berdiri. Yah itu mobil Malih, ia menghentikan mobilnya hanya untuk melihat Shakila yang sedang berjongkok di halte bis. Padahal di sana ada kursi, tapi gadis itu memilih berjongkok di sana. Dengan kepalanya yang terkadang menanggah ke langit. Mungkin memastikan kalau hujan akan cepat berhenti.

Tangannya mengambil handpond yang ia simpan di sampingnya. Setelah menemukan nomor yang ia cari,jarinya mengklik nomor yang ada di layar untuk meneleponnya. Handpon ia tempelkan di telinga, tidak memerlukan waktu lama, nada tersambung terdengar

“Assalamualaikum Malih” suara seorang wanita sudah terdengar di telinganya

“Wa’alaikumsalam. Farah apa kau tidak sibuk?”

Hening, hingga Farah kembali bersuara”tidak. Apa ada yang penting?”

“Tolong kamu temui aku sekarang. Nanti ku kirim sharlok di wa” pinta Malih masih terdengar dingin di telinga Farah.

Source

“Baiklah aku ke sana sekarang”sahutnya menyetujui

“Assalamualaikum klik”

Setelah telepon di matikan. Mata Malih kembali melihat Shakila yang terlihat jelas ia sudah bosan menunggu hujan yang tidak kunjung berhenti. Terkadang senyum tipis terukir di bibirnya melihat tingkah Shakila yang tidak bisa diam. Untunglah di sana tidak ada siapa-siapa jadi tidak ada yang melihat tingkah konyolnya yang akan mampu membuat orang langsung tertawa terbahak-bahak.

Tuk tuk tuk

Jendela pintu mobil terdengar di ketuk beberapa kali. Di luar ada gadis sedang memegang payung untuk menglindunginya dari derasnya air hujan yang jatuh,matanya masih melihat orang yang ada di dalam mobil. Berharap pria itu cepat membuka jendela kaca mobilnya. Dan ya, tidak lama Malih membuka jendela mobil

“Kamu bawa mobilku. Dan jemput gadis yang ada di sana”perintah Malih dengan nada tinggi, karena suara hujan mampu menenggelamkan suaranya . Tanganya menunjuk Shakila yang sedang berjalan bulak-balik dengan resah

“Untuk apa?”bukanya menyetujui. Farah malah heran karena ini yang sudah kedua kalinya ia mengantar gadis itu “apa kamu tunangannya” tebak Farah menggoda Malih.

“Iya.” Balasnya sekenanya dengan cepat.

Matanya membulat”benarkah!. Kenapa tidak mengundangku bila kalian sudah bertunangan”sahutnya dengan wajah kecewa

Bukanya menjawab Malih memilih menghindari pertanyaan”Cepat berikan motormu. Bawa mobilku dan antarkan dia”perintah Malih memberikan kunci mobil ke pada farah yang sudah kebingungan

“Kau akan kehujanan?”

“Sudahlah jangan banyak bicara!. Mana motormu! “kesal Malih karena Farah terlalu banyak bicara.

Melihat Malih yang sudah kesal. Farah memilih menurut,mengambil kunci di saku, lalu memberikannya pada Malih. Setelah mendapatkan kunci motor farah, pintu mobil di buka. Telapak tangannya ia jadikan penghalang hujan,agar tidak menghalangi pandangan matanya. lalu segera berlari untuk menuju motor farah. Walau pada akhirnya semua tubuhnya jadi basah juga

Kepala Farah menggeleng kecil melihat tingkah Malih” kalau mau perhatian kenapa tidak langsung saja”sindir Farah yang ia tahu malih memang selalu pandai menyembunyikan perasaannya pada orang lain.

Tinnnn tinnn

Kaca jendela mobil di turunkan. Di sana Farah sudah melihat Shakila yang juga menatapnya”masuklah!. Aku antarkan kamu ke sekolah”ajak Farah

“Apa Malih yang menyuruhmu?”ragu. Tentu saja. apa ia tidak terlalu PD mengharapkan Malih yang menyuruh Farah untuk mengantarnya berangkat sekolah.

“Ku jawab. Bila kamu sudah masuk mobil”sahutnya tersenyum yang di beri anggukan Shakila.

Jaket yang di pakai Shakila ia lepas,lalu di simpan di atas paha. Sekarang udara tidak sedingin tadi, malah terasa hangat. Karena sekarang ia sudah duduk di dalam mobil.

Source

“Malih menyuruhku untuk mengantarmu berangkat sekolah” jawab Farah. Tatapannya masih fokus melihat jalanan,karena ia sedang mengemudi.

“Benarkah?” Ada percikan bahagia di sana. Di dalam hati kecilnya saat Farah menjelaskannya. Namun setelah ia sadar. ia tahu, percikan itu akan sangat berbahaya bila tidak di tempatkan semestinya. Kalau kata ufairah hanya satu obatnya yaitu menikah.

“Benar. Dia sampai hujan-hujanan,karena ingin memintaku mengantarmu berangkat ke sekolah. Sepertinya dia khawatir padamu”simpul Farah terkekeh

Kepala Shakila tertunduk. Ia juga merasa tidak yakin bila Malih bisa melakukan hal itu untuknya” dia tidak pernah seperti itu” sela Shakila tersenyum miris.

Rasanya Shakila merasa di permainkan oleh malih. Dia selalu ada untuknya tapi sikapnya terlalu dingin hingga membuat Shakila tidak mengerti apa yang sebenarnya di pikirkan pria berwatak es itu.

“Dia itu memang dingin. Tapi percayalah!. cinta itu di rasakan bukan di ucapkan . Perkataan bisa berbohong, tindakan bisa menipu. Tapi hati, dia terlalu jujur untuk bisa mengungkapkan kebohongan.”

“Tapi cinta pun ada penempatannya. Bukan cinta namanya bila tidak mempunya tindakan yang tegas untuk menikahinya” timbal shakila. Dimana ia tidak pernah mengenal kata cinta selain pria itu bisa menanggung resiko dengan menikahi gadis yang di cintainya.

قلب المراة إلى من يدق عليه كثيرا

Hati wanita akan terbuka untuk ia yang mengetuknya berkali-kali.”

Farah terdiam. Saat Shakila mengucapkan syair. Dimana ia pun mengalami seperti yang di alami Shakila. Hati seorang wanita akan terbuka, bila pria itu terus mengetuknya beberapa kali. Mungkin itu sebabnya Shakila kesal dengan tindakan Malih, karena Malih terus mengetuk pintu hatinya tapi tidak pernah mau mengunjungi rumahnya.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *