Cerpen : Romantisme Cinta Part 17

“Siapa yang memaksamu. Kami hanya bertanya dimas”Malih menyeringai karena melihat Dimas mulai tegang

Ruangan langsung terasa hening. Dimas pun tidak berbicara,entah apa yang di pikirannya.

“Keluarkan semua bukti. zio” suruh Malih tenang.

Semua bukti di keluarkan dari dalam tas koper kecil. Tangan Malih membuka laptop, kemudian menunjukan nya pada dimas”bukankah ini sidik jari tanganmu?

“Iya. Tapi bukan aku pelakunya” ujarnya mulai tidak nyaman dengan tatapan menyelidik Malih

Ujung bibir Malih terangkat”memang siapa yang menuduhmu?” Malih kembali menyandarkan punggungnya pada kursi. Tangannya bersedekap, menatap Dimas dengan penuh selidik ” kenapa diam?” Tanya nya lagi melihat Dimas yang terlihat mulai banyak bergerak. Seperti tidak nyaman dengan tempat duduknya.

Malih tersenyum simpul”dari kata” bukan aku pelakunya” Sepertinya kamu tahu ini kasus pembunuhan dan bukan bunuh diri. Katakan “tidak” bila aku salah” tambah Malih.

“Aku sungguh-sungguh tidak tahu!” Timbalnya dengan tangan mulai gemetar dan itu tidak lepas dari perhatian Malih.

Kepala Malih mengangguk” baiklah ku simpulkan kau tidak tahu. Terus kenapa sidik jari tanganmu ada di meja kantin. Di mana!. di meja itu ada tulisan “MATI”. bisa kamu jelaskan?”

” aku hanya ingin makan di kantin. Tidak lebih”Bola matanya bergerak-gerak resah,

“Setelah Shakila duduk di sana. Tidak ada lagi yang datang ke sana, bahkan yang duduk sama persis seperti Shakila” timbal Malih yang sukses membungkam bibir Dimas untuk tidak bicara

“Kamu mengenal ini?” Sodor malih. Menyodorkan bungkus permen yang di bungkus plastik.

Dimas mengangguk” itu permen green”

“Apa kamu menyukainya?”

“Iya. Tapi aku memakannya saat seseorang memberikan ku permen itu beberapa kali. Bila tidak, aku tidak akan memakannya” jujurnya

“Jadi ada yang memberikanmu permen itu?” Kini zio yang mulai bertanya

Kepala dimas mengangguk membenarkan” siap namanya?” Tanya lagi zio mulai bertambah penasaran

“Vino”

“Terimakasih sudah memberikan informasi. Kami tidak pernah bermaksud untuk tidak sopan. Kami hanya memerlukan informasi” kata Malih berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Dimas ikut berdiri menghela napas lega karena pertanyaan Malih tidak berlanjut,kemudian membalas uluran tangan Malih dengan hati lapang.

Setelah Dimas pergi. Ruangan mulai kembali hening. Malih sibuk dengan pemikirannya tentang dimas. Sedangkan zio ia memilih duduk di kursi. Keputusan Malih membebaskan Dimas benar-benar tidak masuk akal.

“Kenapa Lo bebasin dia. Udah jelas dia tersangka” kata zio heran dengan pemikiran Malih yang tidak ia mengerti

Malih melirik zio” siapa yang membebaskannya. Gue juga tahu dia sedang berbohong” lanjut Malih sambil membaca kembali data-data di map biru

“Lalu..” lanjut zio yang masih tidak mengerti

Source

“Saat gue bertanya,matanya tidak menatap wajah gue itu karena dia takut. Telapak tangannya berkeringat karena dia sedang gugup. Dan dia juga tidak bisa diam karena dia sedang resah”jelas Malih mengingat-ingat pergerakan Dimas” dan Lo ingat?. Saat gue nanyain sidik jari jawabnya benar-benar tidak sesuai sama pertanyaan gue. Seharusnya dia tinggal bilang”ya” atau “enggak ” simpelkan?.”

“Benar juga. Gue hanya fokus sama jawabannya aja” sahut zio cengengesan” tapi ngomong-ngomong. Di lihat dari penjelasan Lo kayanya Lo belajar psikolog yah?”

“Hanya membaca”

Mengetikan jari di wajah malih”tapi Lo hebat. Bisa cepat langsung memahami. Lahh..gue susah, “keluhnya mendesah pasrah

Kepala Malih menanggah”Gue punya sya’ir buat Lo” kata Malih

“Asal jangan syai’ir cinta aja”gidiknya

Malih berdecak walau pada akhirnya membacakannya”

Imâm asy-Syâfi’i rahimahullâh berkata dalam syairnya:

“Barangsiapa belum pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat ** Ia kan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya” kata Malih sambil menatap zio yang terlihat tersindir

“Apa Lo nyindir gue?”selidiknya curiga.

Kedua bahu Malih terangkat” menurut loh!” katanya yang memang sedikit di setujui zio. Selama ini zio memang paling sulit belajar, apalagi membaca buku. Rasanya bisa terhitung jari, paling pas sekolah baru mau baca.

Tidak mau membahas nya lagi karena tersindir. Zio memilih bertanya hal lain”Kenapa orang berbohong. Tangannya selalu berkeringat?”

Halis Malih menaut”Lo bertanya?” Tanyanya balik yang di beri anggukan zio

Menghela napas

“Saat seseorang berbohong akan ada perubahan tingkat metabolisme tubuh yang tidak bisa diatur, itu semua terjadi secara otomatis dan berada di bawah alam sadar orang itu sendiri. Alasan lainnya adalah dimana seseorang yang berbohong detak jantungnya akan mulai meningkat. Anggap saja seperti sedang bekerja berat.

Dalam biologisnya manusia yang sedang mengalami detak jantung maka akan mulai berkeringat dari telapak tanga, kemudian bisa menyebar ke yang lain atau sampai berkeringat di bagian dahi. Selain itu tangan juga bisa dijadikan bagian untuk dideteksi oleh alat pendeteksi kebohongan yang disebut detektor poligraf” jelasnya yang langsung di beri anggukan paham zio

” Gue baru tahu. Semenjak lama gue pingin tahu kenapa telapak tangan sering berkeringat” kata zio terkekeh

“Bisa jadi telapak tangan berkeringat karena gejala Palmar Hyperhidrosis” sahut malih. Tangannya menulis sesuatu di kertas yang terjepit papan berjalan.

Kening zio mengerut”apa itu penyakit?”

Tangan Malih menunjuk setumpuk kertas di ujung meja”Tolong ambilkan itu”pinta Malih menghiraukan pertanyaan zio. Dengan kesal zio mengambilnya lalu menyimpannya di depan Malih

“Hyperhidrosis pada dasarnya bukan merupakan suatu penyakit, hanya saja suatu kelainan pada jaringan kelenjar keringat pada bagian tubuh tertentu (bersifat lokal, tidak terjadi pada seluruh bagian tubuh).” Sambung Malih karena melihat zio yang murung karena ia memilih tidak menjawab

Wajah zio berubah cerah”jadi bukan penyakit?” Yakin zio karena Malih mau menjawab rasa penasarannya

Source

“Tapi bisa saja ini adalah gejala awal dari suatu penyakit tertentu, namun semua itu harus didasari dengan pemeriksaan yang lebih mendalam dan juga harus disertai gejala-gejala lain yang mungkin timbul” sahutnya cepat.

Zio bertepuk tangan kagum dengan kepintaran Malih. Semua orang sudah mengakui kepintaran Malih, tapi zio tidak tahu kalau Malih sepintar ini.

“Terbuat dari apa sih otak loh. Kok encer banget yah” herannya

Kegiatan Malih terhenti, kepalanya menanggah menatap zio”Lo pingin tahu rasahasianya?” Halis Malih menaik ke atas

“Apa rahasianya?” Sahut zio semangat

“Berdoa dan usaha” singkat dan jelas. Berdiri kemudian melenggang pergi meninggalkan zio yang cuma bisa cengo dengan jawaban malih

******

Di dalam kamar shakila sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar yang putih. Kejadian hari ini sungguh sangat melelahkan,dia juga lelah karena harus terus menerus menagis karena Malih. Terkadang Shakila memang mengakui kalau dia memang agak cengeng. Agak. Bukan cengeng,harus di garis bawahi.

“Kenapa pulang telat?”

Kepala Shakila menoleh. Melihat ufairah yang berjalan ke arahnya lalu duduk di pinggir ranjang” aku pergi ke kantor cabang DSI” jujur Shakila membalikan tubuhnya menjadi tengkurap.

Tangan ufa mengelus rambut putri nya lembut” untuk apa?”

“Aku mau masuk DSI”

Ufa tercengang tentu saja. Seandainya Hisyam tahu pasti Shakila sudah terkena marah habis-habisan”masuk DSI!. Kenapa mau jadi DSI?” Tanya ufa heran. Setau dirinya putrinya tidak pernah tertarik dengan hal yang berbau selidik me nyelidik.

“Karena Malih” balasnya lesuh

“Memang kamu bertengkar lagi sama Malih?”

Kepala Shakila mengangguk”dia menyebalkan!” Kesalnya. Bahkan bantalnya sudah menjadi korban gigitannya karena geram.

Ufa terkekeh” sudahlah terima saja perjodohannya. Kalian akan jadi pasangan yang cocok” rayu ufa yang sudah gemas ingin melihat putrinya bersanding dengan Malih

“Ummiii!!!”keluh Shakila kesal. Karena ia tahu Malih tidak akan menerimanya

“Kenapa?. Kamu cocok dengan Malih. Yang satu anaknya cengeng yang satu lagi pendiam. Kalian akan cocok”

Bibir shakila mengerucut” dia tidak akan menerimanya” balasnya membenamkan kepalanya di bantal.

Mencium aroma-aroma aneh dengan jahil ufairah mencolek perut Shakila” ah..sepertinya ada yang jatuh hati. Obatnya cuman ada satu loh” ledek ufairah melihat Shakila semakin membenamkan wajahnya di bantal

“Aku tidak jatuh hati ummi” bantah Shakila mendengus sebal


وأضمّ اسمـكِ في الدعاء شوقاً وحُباً

kuhimpun namamu dalam doa sebagai ungkapan rindu dan cinta.”sindir ufa membuat Shakila makin memelas

Source

“Ah ada lagi. Abimu biasanya merayu ummi dengan sya’ir cinta seperti ini

“ku ingin memeluknya di saat hati sedang merindukan
adakah kedekatan setelah kami saling berpelukan
kucium mesra agar kerinduan itu sirna
keinginan untuk bertemu semakin membara
kobaran di hati belum jua terobati
kecuali setelah dua hati saling mengisi”pipi ufa bersemu merah ketika membayangkan Hisyam di pikirannya

Merasa jengkel dengan ufa,Shakila menoleh” ummiii.. jangan ceritakan itu padaku”keluhnya kesal karena ummi dan Abi nya selalu sukses membuat anak muda seperti Shakila di buat iri.

********

“Baru pulang?!” Tanya Adam melihat Malih baru memasuki ruang tamu.

Mendengar teguran Adam. Langkah Malih mendekati Adam dan Sarah yang sedang duduk di ruang tamu” Assalamu’alaikum. Ayah. Ibu” Malih menyalami ke dua orangtuanya lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Adam dan Sarah.

“Apa kamu sudah makan?”pertanyaan pertama yang di lontarkan Sarah. Itulah seorang ibu, walau ia tahu putranya sudah besar. Tapi bagi seorang ibu mereka masih sama seperti seorang bayi yang manis.

Kepala Malih mengangguk ” boleh aku masuk kamar”pamit Malih yang sudah benar-benar lelah.

“Apa kamu sudah mengambil keputusan?”

Malih mendongkak”keputusan apa?”keningnya berkerut bingung

“Perjodohan kalian. Kami benar-benar sudah menunggu jawaban dari kemarin” balas Adam terlihat tenang

Malih mendesah”ayah..aku baru 3 SMA. Tunggulah sampai aku lulus sekolah” keluh Malih karena sudah bosan dengan pertanyaan Adam yang terus berulang-ulang

“Jadi kamu menerimanya?”simpul adam cepat

Bersambung…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *