Cerpen : Romantisme Cinta Part 16

“Sudah ku bilang kan. Kau akan menyesal pada akhirnya” ujar seorang di belakang. Namun menimbulkan senyum simpul di bibir pemimpin

“Malih”

Mata Shakila mengerjap beberapa kali. Melihat pria berjas hitam tengah menyandarkan tubuhnya di pintu,tangannya bersedekap dengan kaki menyilang.

“Aku akan masuk DSI! . Ku mohon..berikan aku kesempatan dan berikan aku misi pertama” pinta Shakila bersungguh-sungguh. Apalagi di belakangnya ada Malih dan ia tidak ingin di cap gagal di matanya.

Pemimpin menghela napas gusar” tidak bisa Shakila. Kemampuanmu sangat kurang untuk menangani kasus di DSI , walau itu hanya misi pertama.” Jelasnya perlahan

Mata Shakila mulai berair”ku mohon..”pintanya memelas dengan mengatupkan bibirnya, menahan tangis

Jengah mendengar Shakila yang terus memohon. Malih menarik kursi Shakila yang berkaki tiga,kemudian mendorongnya keluar, bahkan Shakila terkejut karena kursinya di dorong Malih ke luar ruangan.

“Sudah cukup!. Kau tidak bisa masuk DSI” peringat Malih langsung menutup pintu

Blammmm

Dengan cepat Shakila berdiri dari kursi, kemudian menggedor-gedor pintu beberapa kali” pemimpin!!. Ku mohon beri aku kesempatan. Aku bisa mengatasinya. Sungguh!. Beri aku kesempatan” pinta Shakila semakin keras menggedor pintu

Perlahan pintu terbuka. Namun bukan pemimpin yang keluar tapi malih yang menatap Shakila dengan dengusan napas kasar” berhentilah mengedor pintu!” Jengkel Malih ingin menutup pintu kembali. Namun kalah cepat dengan Shakila yang langsung menerobos masuk

Brakkk

Kedua tangan shakila mengebrak meja kerja pemimpin. Bahkan pemimpin di buat terkejut” aku harus masuk DSI!” Tegas sahakila membuat pemimpin menelan selivanya

Tidak kalah akal. Tas Shakila sudah di tarik Malih ke luar ruangan, tentu Shakila ikut mundur ke belakang karena tas ransel nya di tarik Malih”lepaskan! Lepaskan! Aku harus masuk DSI” berontak Shakila namun tidak di dengarkan Malih

Blammmm cekleck

Pintu di kunci. Handset sudah ia pasang di kedua telinga Malih, membiarkan Shakila yang terus mengedor-ngedor pintu. Tawa pemimpin langsung pecah melihat tingkah Shakila dan Malih yang sama-sama keras kepala.

*******

Di jalan terlihat sepi,di sana Shakila sedang berjalan dengan lesuh. Alasannya, karena tidak ada angkutan umum yang melintas. Tentu saja tidak ada!. kantor cabang DSI terletak di tempat yang bahkan jarang ada kendaraan lewat. apalagi angkutan umum .

Shakila menyewa ojeg untuk mengantarnya ke kantor cabang DSI . Dan sekarang handponya mati, jadi dengan segala rasa ikhlas di hati. Shakila harus pulang dengan jalan Kaki. Setidaknya,ia punya kaki dari pada harus menyesot-nyesot di jalanan aspal karena kelelahan.

Source

“Semangat!. beberapa kilo lagi!” serunya menggepalkan tangan di dada. Walau matanya sudah berat ingin menangis karena kelelahan.

Tinnn tinnnn

Kelakson mobil terdengar berbunyi beberapa kali. Merasa itu serine bahaya. Shakila berjalan lebih cepat, lebih cepat lagi dan berakhiran dengan berlari kencang. Bahkan mobil itu masih mengikutinya dari belakang. Membuat Shakila menjadi panik

“Arrggggghhhh”teriak Shakila panik mempercepat larinya.

Sedang mobil itu terlihat santai mengikuti Shakila dari belakang. Bahkan Malih tidak berniat menyusul Shakila. punggung tangannya menutup mulut, menahan tawa. melihat Shakila yang terlihat berlari sangat kencang.

“Ada apa dengan anak itu?. Apa dia pikir aku penculik” gumamnya melihat Shakila yang masih berlari. Hingga ia melihat larinya semakin melambat mungkin karena kelelahan.

Mobil malih semakin memperlambat, masih ingin mengikutinya dari belakang. Kepala Shakila menoleh ke belakang melihat mobil hitam itu masih mengikutinya. tangisnya langsung pecah karena takut. namun ia juga tidak bisa berlari lagi, hingga tubuhnya sudah terkulai lemas jatuh ke aspal.

Halis Malih menaik sebelah” kenapa dia menangis?” Batinya heran. tapi ia juga tidak berniat turun untuk menanyakan ke adaan Shakila, ia lebih memilih melihat Shakila di dalam mobil.

Jatungnya sudah berdetak tidak karuan. Bahkan Shakila masih duduk di aspal. Antara lelah, takut, dan cemas, semua sudah bercampur aduk. Tangannya memeluk kedua lutut , membenamkan kepalanya di sana. Kepalanya tidak ingin menoleh lagi ke pada mobil hitam, karena ia tahu mobil itu masih di sana. Dan Shakila tidak tahu siapa orang yang berada di dalamnya, apa pencuri,penjahat atau apapun dan Shakila tidak peduli. Yang pasti Shakila sudah tidak mampu berlari lagi.

Beberapa menit shakila masih dalam ke adaan yang sama. Shakila enggan bergerak dari tempatnya, ia pun mulai tidak terlalu khawatir karena orang di dalam mobil tidak kunjung keluar. Mungkin dia bukan penjahat,

Tinnn tinnnn

Klakson mobil mulai berbunyi kembali. Tangan shakila menutup kedua telinga ,tidak ingin mendengarkannya”aku tidak dengar!. Dan jangan mendengarnya!” Katanya,sambil memejamkan mata dengan erat.

Pintu mobil terbuka. Malih ke luar mobil lalu bersedekap,menyanderkan tubuhnya di badan mobil. Kepalanya menggeleng kecil melihat Shakila yang terlihat mulai ketakutan kembali.

“Di kejar mobil saja sudah ketakutan!.ini mau masuk DSI “desisnya tidak percaya dengan akal jalan pemikiran Shakila.

“Hei!” Panggil Malih membuat tubuh Shakila menegang

Perlahan ia menoleh ke belakang” Malih!” Mulutnya menganga hingga tanduk mulai muncul di atas kepalanya”apa kau mengerjai ku!!” Shakila berdiri dengan sorotan tajam melihat Malih yang terlihat santai,seakan tidak merasa bersalah karena membuat Shakila ketakutan.

“Apa?” Sahutnya

“Dasaarrrrrrrrrrr”geram Shakila melepas sepatu lalu melemparkannya pada Malih tepat lurus pada wajahnya

Bukkk

Malih terperangah dengan sepatu yang sudah dengan indahnya menimpuk keningnya. Bahkan ini untuk pertama kalinya Malih tidak bisa menangkap sepatu yang dilemparkan orang padanya

“Kauuu____”

Drrrttt Drrrttt Drrttt

Source

Hampir saja Malih ingin memarahi shakila yang sudah lancangnya menimpuk keningnya dengan sepatu. Sebelum telepon Malih berdering meminta di angkat. Menahan emosi, tangan Malih mengambil handpond di saku dengan kesal lalu mengangkatnya

“Assalamualaikum!!” Salam malih dengan nada tinggi. Kelihatan Malih benar-benar kesal dengan perlakuan Shakila tadi

“Wa’alaikumsalam. Heii…kawan!!. Ada apa dengan Lo ” sahut orang di sebrang yang tidak lain zio

“Ada apa?!” Tanyanya langsung mencoba mengontrol emosinya.

“Baiklah..!, Langsung ke initi saja. Dimas sudah ada di kantor. Cepatlah datang!, Gue ingin cepat-cepat bergaya Detektif conan” pinta zio yang sudah gemas

Mata Malih berputar malas”gue ke sana sekarang. Assalamualaikum klik” telepon langsung dimatikan Malih.

Tidak memperdulikan Shakila yang menatapnya bersalah. Malih segera kembali masuk ke mobil, dan meninggalkan Shakila sendiri di sana. Mata Shakila mulai kembali berkaca-kaca hingga Isak tangis terdengar di bibirnya

“Bahkan dia meninggalkanku. Apa dia tidak tahu aku membutuhkan tumpangan” tangisnya semakin kencang, sambil berjalan dengan penuh harap ada seseorang yang memberi tumpangan seperti saat Malih meninggalkannya sendiri.

“Assalamualaikum” salam seorang gadis melambaikan tangan riang

Kepala Shakila menoleh masih sesegukan” wa’alaikumsalam” suaranya sangat serak di pendengar gadis cantik itu.

“Apa kamu habis menangis?” Kepalanya memiring melihat Shakila yang menunduk karena malu ketahuan menangis

Shakila menggeleng kecil. Membuat wanita itu mengangguk paham, tidak ingin memperpanjang pembicaraannya “ayoo!. Ikut denganku. Malih meneleponku tadi, menyuruhku untuk menjemput seorang wanita yang ada pinggir jalan dekat kantor DSI . Dan juga untuk mengantarmu pulang dengan selamat sampai rumah” ajaknya menepuk-nepuk jok motor agar Shakila mau menaikinya

Halisnya menaut bingung” memang kamu siapa?”tanyanya ragu

Senyumnya mulai melebar” aku Farah. Aku anggota Malih. Lebih tempatnya anak buahnya pak Malih. Tapi aku lebih suka menyebutnya Malih, karena dia lebih muda dariku”ujarnya cengengesan

Melihat Shakila masih diam di sana, Farah menarik tangan shakila untuk mendudukkan nya di jok motor. Motor sudah di hidupkan dan Farah langsung menjalankan motornya dengan santai.

“Kamu siapanya Malih?. Pacarnya yah??”tebak Farah penasaran. Karena jarang Malih menyuruh anggotanya untuk menjemput seseorang. Apalagi seorang wanita

Kepala Shakila menunduk dalam”dalam Islam tidak ada pacaran”sahutnya yang langsung di beri anggukan Farah

“Kalau begitu kamu tunangannya?”

Degg

Bibir shakila bungkam. Entahlah..Shakila ingin mengatakan kalau ia dan Malih di jodohkan. Ada perasaan bangga saat ia ingin mengatakan itu. Tapi di sisi lain, melihat sikap Malih padanya. Malih benar-benar tidak akan pernah menerima perjodohan orang tua mereka.

“Bukan” suaranya lebih kecil dari sebelumnya tapi Farah masih mampu mendengarnya.

Source

“Dia sudah ada di ruang interogasi?” Masker dan topi sudah di pakai Malih di luar ruangan

Satpam yang menjaga pintu introgasi mengangguk” dia sudah di dalam pak” menunjuk pintu masuk

“Baiklah. kalau begitu,apa zio sudah di dalam?”kini Malih menatap satpam yang terlihat masih muda di matanya mungkin umurnya sekitar 20-an ke atas.

“Pak zio sudah di dalam pak.”

Tampa ingin bertanya lebih. Malih segera masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruangan tidak ada apapun. Selain meja kayu dan kursi berkaki tiga untuk petugas yang melakukan introgasi. Di sana zio sedang berdiri, melihat Dimas dengan tatapan menyelidik. Ia benar-benar melakukan gaya detektif Conan untuk mengintrogasi Dimas.

“Selamat sore DSI 7. Dan selamat sore Dimas” sapanya kemudian duduk di kursi. Tatapannya menatap lurus ke arah Dimas “apa kami menganggu waktumu?”sambungnya menyanderkan tubuh di kursi

“Tidak. Sama sekali tidak” wajahnya terlihat biasa. Tidak ada guratan cemas atau takut di sana

Malih mengangguk” sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan padamu soal bunuh diri yang terjadi dua kali di sekolah”

Dimas berdecak”ckk. kalian membawaku kemari hanya untuk menanyakan soal bunuh diri. Bukankah kalian lebih pintar dariku?. Bukanya sudah jelas mereka bunuh diri, kenapa bertanya padaku” heran Dimas

“Benar kamu tidak tahu apapun” selidik zio curiga

“Aku sungguh-sungguh tidak tahu!. Kenapa kalian memaksaku untuk menjawab pertanyaan kalian?” Kesal Dimas mendelik sebal

“Siapa yang memaksamu. Kami hanya bertanya dimas”Malih menyeringai karena melihat Dimas mulai tegang.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *