Cerpen : Romantisme Cinta Part 15

“Aku menemukan sidik jarinya. Dan aku mendapatkannya di meja kantin” lanjutnya menunjukan foto yang ia ambil saat ia meneliti sidik jari tangan dengan taburan bubuk putih

“Bagus!. Kita bisa menemukan tersangka dengan cepat. Kita bagi tugas sekarang. Kamu pergi ke kantor polisi untuk segera menyelidiki sidik jari ini. Ku harap tersangka sudah terdaftar e-KTP, karena Mambis hanya bisa menyelidiki yang sudah terdaftar saja” jelas Malih melihat Hamida yang sudah mengangguk mantap

MAMBIS atau Mobile Automatic Multi Biometric Identification System, alat hitam yang bentuknya seperti mesin gesek kartu kredit. Alat tersebut dapat mengidentifikasi data diri seseorang kurang dari satu menit, asalkan orang yang diambil sidik jarinya sudah terdaftar di elektronik KTP atau e-KTP. Alat ini terintegrasi dengan basis data e-KTP. Alat ini hanya dimiliki jajaran polres ke atas.

“Kalau begitu aku berangkat sekarang. Assalamualaikum” pamit Hamida langsung berjalan pergi

Badan Malih berbalik ke arah zio” sekarang kamu zio?!. Kamu beli dua permen yang berbeda. Kamu berikan ke pada Dimas dan vino,biarkan mereka memilih permen mana yang mereka suka. Jangan sampai juga buat mereka curiga. bersikaplah sebiasa mungkin”perintah Malih dengan menunjuk,dan mata menyipit tajam

“Baiklah. Baiklah. Hanya memberi permen kan?”sahutnya malas. Karena menurutnya tugasnya tidak menarik

Setelah semua mengejarkan tugas masing-masing. Malih pun harus menulis laporan dengan kesimpulannya. kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan. Karena bila tugas ini mampu Malih selesaikan, jabatan Malih akan bertingkat menjadi DSI 1 pusat. Karena seleksi Laila saat itu, membuat Malih dan zio di tawarkan bertingkat beberapa jabatan sekaligus. Dan itu jarang terjadi di DSI.

“Malih..” suara yang terlihat kaku dan ragu itu menghentikan langkahnya. Malih tahu siapa orang itu, tapi yang Malih tidak tahu untuk apa dia memanggilnya

“Ada apa?” Dingin. Itulah Malih.

Shakila semakin menunduk”biarkan aku membantumu. Ini karena aku kan. Maaf.. Hamida sudah menjelaskannya” jelasnya dengan suara kecil

Badan Malih berbalik” apa yang di jelaskan Hamida padamu?” Heran dan bingung, Malih khawatir mereka tahu perjodohan dan alasannya menolak.

“Kalau kamu gagal misi ini, kamu akan jadi DSI 7 kan?”

“A-apa?”

“Hamidah tadi berbicara padaku. Kalau misi ini akan menyangkut paut dengan jabatan kalian di DSI. Maaf. Aku sungguh tidak tahu,kalau kalian akan di ancam turun jabatan bila misi ini tidak berhasil.”

Tidak ada jawaban . Antara lega dan heran membuat Malih hanya memilih diam.” Aku akan membantu kalian” tambahnya lagi

“Tidak bisa!” Tolak Malih membuka suara.

“Kenapa?”

“Kamu pikir ini mudah. Lupakan!. Kamu tidak boleh ikut campur. Lagian kamu bukan DSI!. Apalagi kamu wanita cengeng, ini akan sangat berbahaya bagi kami selaku yang bertugas” tutur Malih amat tajam dan menusuk. Wajah shakila termenung mendengar penjelasan Malih yang pass menusuk relung hati kecilnya

Shakila terhenyak”tapi…”

Source

“Jangan ikut campur. Ini hanya tugas anggota DSI!” Ucap Malih penuh penekanan

Matanya mulai berlinang air mata” aku pun bisa jadi DSI!. ” Sahut Shakila marah,

“Ckk. Bila kamu jadi DSI , maka semua anggota pasti sudah mati terbunuh” Ledeknya bahkan sebenarnya Malih hanya sekedar mengelak agar Shakila tidak ikut campur, karena misi yang berbahaya

“Aku akan buktikan. Aku bukan wanita cengeng Malih!!”

Tangan Malih mengibas tidak peduli”sudahlah. Bila kamu masuk DSI. Maka aku yang pertama kali mencegahnya” balasnya dingin kemudian berlalu pergi.

*******

Gedung bertingkat tinggi itu sudah ada di hadapan matanya. Sejenak ia ragu, tapi dengan penuh keyakinan ia melangkah masuk ke dalam dengan hati-hati. Orang-orang berpakaian rapih terlihat hilir mudik di hadapannya. Tidak seperti dulu, ruangan ini terlihat menyeramkan. Sekarang lebih rapih dan terlihat seperti sewajarnya ruangan kantor.

“Pagi nona. Selamat datang di Kantor Cabang DSI. Bisa saya bantu?” Salam ramah seorang satpam menunduk hormat

Mengehela napas” aku ingin bertemu pemimpin DSI ” sahutnya menghembuskan napas lega,karena ia mampu mengucapkannya

” Boleh saya tahu nama anda?” Tanya nya lagi tidak menghilangkan senyum dari wajahnya

Kepalanya mengangguk”Shakila. Namaku Shakila” balasnya mengulang

“Boleh saya menemui beliau?” Pinta Shakila ragu

Tangan satpam itu menunjuk jajaran kursi” silahkan tunggu di sana nona. Saya akan memberitahu pemimpin dulu” balas pria itu.

“Baiklah” kepalanya mengangguk kecil. Mengikuti sesuai yang di arahkan, Shakila duduk di salah satu kursi yang berada di belakang.

Tatapannya mengedar melihat sekeliling kantor. Bahkan ia dapat melihat anggota DSI yang hilir mudik di sana, bahkan ada juga yang sedang duduk di salah satu meja tunggu. Sampai sekarang, Shakila masih penasaran apa yang membuat orang berniat masuk DSI?. Padahal tidak ada yang menarik yang bisa membuat hatinya tertarik untuk melangkah ke sana.

“Hai!” Seorang wanita berambut pendek sebahu menyapa, membuat Shakila langsung menoleh

Badan Shakila meringkuk” Assalamu’alaikum” salamnya balik.

“Wa’alaikumsalam. Maaf aku tidak mengucapkan salam terlebih dahulu”malunya tidak enak hati

“Tidak papa”

“Apa yang kamu lakukan di sini?. Kamu mau mendaftar DSI juga?” Tebaknya yang langsung di beri anggukan kecil

Senyumnya melebar” kita bisa jadi rekan. Aku juga sama” sahutnya semangat, terlihat jelas dia sangat menginginkan bisa berada di DSI

“Benarkan?”

Kepalanya mengangguk”tentu saja. Semua orang berharap bisa masuk DSI. Tapi tidak semua orang bisa, karena semua tidak lolos dalam misi pertama ” wajahnya berubah murung dan Shakila hanya diam melihat ekspresi nya yang sering berubah-ubah, sesuai dengan ucapannya yang sering bahagia lalu sedih mendadak.

Source

“Jadi kamu benar-benar dengan ucapanmu”

Badan Shakila berbalik ke belakang, di sana terlihat berdiri Malih, zio dan Hamida. Tatapan Malih sungguh sangat dingin bahkan lebih dingin dari biasanya.

“Aku akan mendapaftarkan diri jadi DSI” balasnya cuek kembali melihat ke depan tidak memperdulikan keberadaan ke tiga orang itu.

Mulut zio menganga “DSI !!!” Kemudian melihat Malih” dia bisa langsung meninggal dalam misi pertama, kalau masuk DSI! “panik zio ke arah Malih

Wajah shakila memerah padam. Bagaimana mungkin semua orang meragukan ke ahliannya?. Walau ia tidak bisa bela diri. Bukan berarti mereka dengan terang-terangan meremehkannya. Bahkan di hadapannya sekarang.

“Kau tidak akan berhasil. Keluarlah!. jangan pernah meninjakan kaki di DSI” perintah Malih tegas

“Aku tidak mau!. Aku akan ikut DSI “kukuhnya tanpa melihat malih,zio dan Hamidah.

Perlahan Hamida mendekat, kemudian duduk di sebelah Shakila” Malih berucap seperti itu karena di khawatir padamu” ucapnya melirik malih yang terhenyak

“Aku tidak khawatir!. Wanita cengeng sepertinya, tidak akan berhasil masuk di misi pertama. Kalau dia kenapa-kenapa, pasti aku juga yang turun tangan!. ” Timbal Malih yang sukses membuat Shakila menohok sakit

Tangannya menggepal di bawah paha. Dia sudah berjanji dalam hati tidak akan menangis lagi” aku akan berhasil masuk dalam misi pertama” yakinnya melihat Malih tampa gentar

“Sebaiknya kita segera rapat. Kita biarkan dia dengan misi pertamanya. Nanti juga dia akan menyesal pada akhirnya” balas Malih sekenanya meninggalkan semua orang yang hanya bisa terdiam

Melihat Shakila yang semakin terpuruk, tangan Hamida merangkul pundak shakila” kamu tahu sendiri kan sikapnya. Dia sungguh-sungguh khawatir kepadamu” jujur Hamida. Kemudian Berdiri dan meninggalkan Shakila sendiri

Sekarang hanya Shakila sendiri di ruang tunggu. Air matanya sudah menumpuk di pelupuk mata. Ingin menangis pun ia malu. Apalagi, kalau di lihat Malih dan Shakila tidak akan membiarkan Malih menganggapnya lemah dan cengeng.

*******

“Aku sudah mendapatkan data dari kepolisian” ujar Hamidah mengeluarkan laptop di tas. Kemudian menyimpannya di meja yang terlihat panjang dengan beberapa kursi di sisinya

Malih hanya terdiam tidak menjawab juga tidak menoleh. Keputusan Shakila benar-benar sudah menganggu kosentrasinya. Apa dia pikir DSI itu tempat mainan yang bila sudah lelah bisa di lepaskan begitu saja. Dan lagi apa dia mau menaruh nyawa, dengan tidak punya keahlian bela diri.

“Malih!” Sentak zio yang sedari tadi memanggil Malih dan tidak di responnya sama sekali.

“Ah. Ya. ” Balasnya sedikit terhenyak. Namun segera menghela napas dan kembali menfokuskan pikirannya dengan pekerjaan

Kening zio mengerut”sebenarnya ada apa denganmu?. Ini tidak biasanya”selidiknya curiga dengan sikap Malih yang lebih banyak melamun.

“Tidak ada” singkat dan jelas “Jadi jelaskan datamu Hamida” perintah Malih mencoba mengalihkan suasana agar tidak memfokuskan ke pada dirinya. Dan cara itu berhasil,zio sudah kembali serius dengan hasil data yang Hamida bawa

Laptopnya di arahkan ke Malih dan zio, tangannya menunjukan data yang sudah muncul” lihat!. Ini adalah orang yang sudah membunuh Hana dan Syifa”

 

Zio tercengang, sedangkan Malih masih terlihat tenang” bagaimana dengan mu zio?” Kini zio jadi pusat perhatian

“Saat aku bertemu Dimas. Dan aku berbicara padanya cukup lama dan memberikan dua permen dia memilih permen green dari pada permen kacang. Dan, saat aku bertemu vino dan menawarkan permen, dia pun memilih permen green” jelas zio

Permen green adalah permen yang di temukan Malih di tempat kejadian. Dan Malih sudah menemukan dua kali bungkus permen sama di TKP . Itu juga yang membuat Malih kukuh menjadikan bungkus permen itu sebagai bukti.

Malih memangut-mangut,lalu menunjuk laptop “Disini pelakunya adalah Dimas. Berarti kita interogasi dia.” Simpul Malih menunjuk laptop. Lalu melihat Hamida “Perintah anak buahmu untuk membawa Dimas Hamidah”

“Akhirnya gue bisa introgasi orang. Gue akan melakukan gaya detektif Conan” serunya yang mulai bergaya Conan

“Aku akan mengeluh ke pada pemimpin. Bila dia menjadi rekanku lagi” keluh Hamida mendengus kesal

Wajah zio berubah murung” kau membuatku kecewa. Hamida” sedihnya yang tentu tidak di pedulikan Hamidah.

*******
Ruangan yang terlihat besar dan juga rapih. Di sana terdapat meja dan kursi yang biasa di gunakan pemiliknya untuk bekerja. Dan juga terdapat lemari arsip di dekat jendela, di sana terdapat banyak arsip yang sudah memenuhi lemari.

Seorang pria terlihat duduk dengan nyaman di kursi, tatapannya melihat Shakila yang hanya menunduk sedari tadi “jadi kamu mau mendaftar di DSI?” Tanya pria itu mencoba meyakinkan gadis muda yang terlihat kukuh untuk masuk ke dalam DSI

“Bukanya kamu teman dari zio dan Malih?” Selidiknya yang ia ingat saat penyerangan mafia. Wanita di hadapannya ada bersama laila

“A-a-aku ____”

“Ku putuskan kau temanya”simpulnya karena Shakila tidak menjawab pertanyaannya” apa orang tuamu mengijinkanmu untuk masuk DSI?”

Degg

Kepala Shakila semakin tertunduk. Ia tidak pernah berpikir ke sana”ti-tidak” jujurnya. Pemimpin tersenyum tipis

“Apa alasanmu masuk DSI?”

Lagi-lagi Shakila terdiam membuat pemimpin sudah bisa mengambil keputusan” kami adalah DSI , kami bekerja untuk memecahkan masalah orang. Jadi sekarang, aku akan memecahkan masalahmu.”katanya melihat gerak-gerik Shakila yang terlihat tidak duduk dengan nyaman

“Begini Shakila.. bila kau ingin mengerjakan sesuatu tanpa ridho orang tua, walau kau sudah bekerja keras itu tidak akan menimbulkan berkah. Dan juga, kamu tidak memiliki alasan pasti, pirasatku ada sesuatu yang membuat hatimu terbebani, karena awal aku bertanya sampai seterusnya. Kamu akan menjawab bila ku tanya ingin masuk DSI. Tapi, tidak menjawab bila pertanyaan yang lain. Dan itu membuktikan kalau hatimu sedang terbebani sesuatu. Atau kamu mengambil keputusan secara mendadak dan tidak berpikir secara matang,hingga kamu tidak punya alasan untuk setiap jawabanku” simpul pemimpin dan itu memang benar adanya.

Saat Malih mengatakan itu. Shakila ingin membuktikan kalau ia bisa, bahkan ia mengambil keputusan tampa memikirkan dampak selanjutnya. Ia hanya memikirkan egonya sendiri, dan hatinya pun sangat terbebani karena rasa marah kepada Malih.

“Sudah ku bilang kan. Kau akan menyesal pada akhirnya” ujar seorang di belakang. Namun menimbulkan senyum simpul di bibir pemimpin

“Malih”

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *