Cerpen : Romantisme Cinta Part 14

“Mereka sudah jadi korban. Sudah ku bilang Malih,mereka pasti akan buat masalah lagi. Apalagi sekarang mereka membawa sekutu-sekutunya.” bisik Zio.

Malih terdiam, tidak menjawab. otaknya berputar untuk berpikir” mereka belum meninggal. Mereka hanya terluka parah” sahut Malih tenang walau dalam hati pun ia merasa ragu

Setiap ada yang terluka atau cedera pasti akan ada pengumuman dari pusat. Contohnya seperti kasus saat Malih dan zio melawan mafia saat mengubrak-abrik kantornya. Pengumuman akan langsung tersebar otomotis. Tidak ada yang tahu siapa yang selalu memberikan info tentang kegiatan Anggota para detektif. Karena selalu di rahasiakan oleh pusat.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” salam Hamida menghentikan perbincangan mereka

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab semua orang serempak

Sejenak Hamida terdiam melirik semua siswa-siswi yang ada di kelas. Hingga tatapannya sedikit berhenti di salah satu anak berkacamata yang sudah menjadi pusat perhatiannya. Dia memisahkan diri dan tidak bergabung. Pendiam, dan terlihat menikmati kehidupannya sendiri.

“Selamat siang . Ngomong-ngomong di sini ada yang tahu nama ibu?” Tanya Hamida melirik semua murid dengan tersenyum kecil

Semua orang diam karena tidak ada yang mengetahuinya. Terkadang ia harus berbasa-basi dulu ,agar orang tidak curiga. Salah satu tangan mengacung ke atas, membuat kepala Hamida menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan yang mengenalnya. Dan..tidak salah lagi itu adalah tangan zio. Bagus!. Pria bernama zio itu sudah merusak semua rencana yang telah ia susun.

“Siapa namamu nak?” Tanyanya dengan penekanan kata di akhir

“Jangan panggil aku nak. Gimana kalau kang mas?” Jawabnya yang langsung mendapat tawa dari semua orang

Pipi Hamida sukses langsung memerah malu” kang mas bakso dong” gurau Hamida yang juga membuat semua langsung tertawa

“Apapun yang ibu mau” sahutnya mengedipkan mata

Sudah tidak benar melanjutkan perbincangan dengan zio. Wajahnya kembali tenang lagi, bicara dengan anak itu memang harus memerlukan Extra kesabaran. Tatapannya kembali mengedar ke pada seluruh murid

“Sebelumnya ibu ingin bertanya, apa di sini ada yang aktif organisasi?. Coba acungkan tangan?” Tanya Hamida semangat

Mata malih ikut melirik beberapa siswa-siswi yang mengacungkan tangan. Dan yang lainnya memilih diam. Di meja baris dua pun Shakila ikut mengacungkan tangan dengan ragu, ekor matanya langsung melihat vino yang selintas melihat ke arah Shakila walau ia kembali menunduk

Di sebelahnya pun zio ikut menaikan tangannya. Bahkan ia sampai berdiri, agar Hamida melihatnya. Namun seperti menganggap patung, hamida tidak peduli

“sehen?. Es gibt einige Mauern, die dir im Weg stehen, die in jeder Nacht mit Gebet niedergerissen werden, damit beide sich in einer heiligen Verbindung treffen”

(lihatlah?. ada beberapa dinding yang menghalangi padanganmu,runtuhkan dengan do’a dalam setiap malam mu,hingga membuat keduanya bertemu dalam satu ikatan yang suci)

Tampa terasa ucapan itu keluar dari bibir zio. Semua orang hanya terdiam tidak mengerti. Kecuali Malih yang hanya mendesah pasrah dengan kelakuan zio.

Source

“Die Wand war zu hoch. und ich habe nicht vor, es zu besteigen”

(Dinding itu terlalu tinggi. Dan aku tidak berniat mendakinya)

“Emmzz maaf Bu. Apa yang kalian bicarakan?” Salah seorang murid yang sudah kebingungan memilih bertanya

“Dia bertanya di mana rumah ibu?”bohong Hamida tersenyum kecil

” ein süßer Lügner”sindir zio cekikikan
(Pembohong manis)

Pletakk

Sudah jengah dengan kelakuan zio. Tangannya sudah dengan suka rela memukul kepala zio dengan buku yang di gulung. Matanya menatap tajam zio,untuk memperingatkannya berhenti menganggu Hamida.

Tapi seperti tidak terjadi apa-apa mata zio masih terfokus ke depan”Was soll ich tun? Diese Lippen werden nicht aufhören, ihn zu loben. Möge Allah mir vergeben, denn mein Herz ist in seine Hände gefallen” katanya menghembuskan napas pelan

(Apa yang harus saya lakukan? Bibir ini tidak akan berhenti memujinya. Semoga Allah memaafkanku, karena hatiku telah jatuh ke tangannya)

“Lo pingin gue laporin sama pemimpin” ancam Malih yang sudah kesal dengan tingkah zio yang semakin menjadi-jadi

Bahu zio terangkat ”
Es ist mir egal”sahutnya cuek

(Aku tidak peduli)

Shakila yang memang sedikit mengerti bahasa Jerman menahan tawa. Pasalnya ia tahu kalau zio sedang merayu Hamida. Namun sebaliknya hamida yang memang notabene nya gak suka di gombal, membuat ia tidak memperdulikan keberadaan zio di kelas.

“Kenapa kamu tertawa?” Nia yang penasaran memilih bertanya

Kepala Shakila menoleh” owhh hanya lucu saja” jawabnya terkekeh

pembelajaran selesai, bersamaan dengan Bel waktu istirahat berbunyi. Semua siswa-siswi langsung berhamburan ke luar kelas. Di dalam hanya menyisakan Malih, zio dan Hamida. Sudah di pastikan Hamidah dengan segera membereskan buku, agar tidak banyak berbincang dengan zio.

“Sudah menerima pesan?” Langkahnya terhenti ketika Malih yang bertanya

Sejenak ia berbalik kemudian mengangguk kecil” mereka selamat” ucap Hamida yang tau arah pembicaraan Malih

“Sedang apa kau di sini?”

“Kau DSI 4. Tingkatannya lebih tinggi. Tidak mungkin mengambil konflik tingkat DSI 5″tambah Malih curiga

“Tidak. Ini sudah menyangkut DSI 2, beberapa petugas pun sudah banyak yang protes. Karena konflik ini seharusnya sudah jadi bagian mereka. Tapi pemimpin sudah mengatakan kalau tugas ini sudah di berikan langsung pemimpin pusat pada kalian” jelas Hamida mengatakan tentang kondisi petugas DSI 2 yang banyak protes karena tugas mereka di ambil alih.

“Jadi sebenarnya buat apa kamu disini?” Tanyanya lagi masih belum mendapat jawaban yang pas

“Aku akan membantu kalian memecahkan masalah ini”

Mata zio berbinar”benarkah?. Aku tahu kau pasti tidak bisa jauh dariku Hamida” katanya menaik turunkan halis

Source

Mata Hamida berputar malas saat mendengar ucapan zio yang memang dari awal tidak pernah berubah. Selalu menggoda wanita, yang menurutnya memang menarik di mata. Dan jangan lupakan!!. Mulutnya yang manis tapi beracun, harus di garis bawahi jangan sampai terperosok jatuh ke dalam gombalannya. Nanti malah sakit hati!.

“Apa kamu sudah mendapatkan hal yang mencurigakan?” Suara malih agak memelan agar tidak ada orang yang mendengarnya

Kepala Hamida mengangguk sekali”hanya dugaan. Seperti yang kita tahu detektif hanya bisa mengkritik setiap kesalahan, tapi jangan sampai su’udzon apalagi tampa ada bukti yang kuat. Jadi aku hanya menduga-duga”jelasnya mengingat tentang siswa yang berkacamata tadi yang sering di kenal vino

“Baiklah. Sepertinya kita punya pemikiran yang sama. Aku sudah pernah lihat pelakunya” tangan Malih mengeluarkan sesuatu di saku celananya dan itu bungkus permen” ini!. Lihatlah lebih teliti?. Walau zio mengatakan ini tidak mencurigakan, tapi aku menemukannya lagi saat aku menolong Shakila waktu itu. Dan permennya bermerek sama. Berarti tidak lain, mungkin kita bisa menemukan pembunuhnya dengan memberi dua pilihan permen” jelas Malih santai

“Jadi maksudmu kau ingin menyodorkan kepada setiap orang dua bungkusan permen?”

Malih menggeleng” bukan seperti itu” bantah Malih

“Maksud Malih. Kita memberikan dua pilihan permen hanya kepada yang di curigai saja. Kalau kita beri semua orang permen, hanya membuat orang curiga”timbal Hamida karena zio yang tidak kunjung mengerti dengan maksud Malih. Padahal dia sudah jelas, dan sebagai detektif seharusnya dia lebih peka dan mudah mengerti dengan setiap perkataan.

*****

Di kantin terlihat ramai. Langkah Shakila agak ragu untuk pergi kesana,apalagi dia tidak terlalu suka keramaian. Dan ia akan memilih berdiam diri di kelas, lalu mencorat-coret belakang bukunya hingga penuh dengan garis-garis yang tidak jelas. Tapi sepertinya Nia terlalu bersemangat, sampai tangan shakila pun tidak ia lepas. Baiklah..Shakila hanya bisa pasrah menuruti kemauan sahabatnya

“Kita duduk di sana,okhe!.” Tunjuk nya ke salah satu meja di pojok. Meja panjang dan dua kursi panjang yang menghimpitnya. Setelah itu Nia pergi untuk memesan makanan

Menuruti kemauan sahabatnya. Langkah Shakila mendekati meja itu, bahkan kakinya sedikit berlari. Berhati-hati saja jika ada yang menempatinya seperti kelakuan Malih waktu itu. Merasa aman Shakila mendesah lega, kemudian duduk di kursi

“Ini tempat ku” kata seorang pria berkacamata yang sudah duduk di kursi.

“Tidak bisa ini tempatku!”kukuh Shakila keras kepala. Tidak akan ia biarkan ada yang merebut tempatnya lagi”kamu bisa ambil tempat yang lain”kukuh Shakila sebal

Pria itu terdiam hingga ia mengangguk dan pergi dengan lesuh”baiklah…”ucapnya berjalan pergi. Tiba-tiba Shakila merasa tidak enak hati, tapi dia sudah duluan di mejanya dan tidak boleh ada yang merebutnya.

Setelah mendapatkan kursinya, dengan cepat Shakila duduk di tempatnya. Matanya tidak sengaja menangkap tulisan merah di meja makan “MATI” tulisan merah dan terlihat seperti di tulis oleh tangan itu
Membuat Shakila benar-benar di buat syok.

Source

“A-apa i-ni!” Matanya membulat seakan sulit untuk berkedip. Berdiri, melangkah mundur kebelakang dengan takut. “Siapa yang berani melakukannya?. Tatapannya mengedar meihat sekeliling ,bahkan Shakila mencurigai semua orang. Hingga akhirnya kakinya lebih memilih berlari, meninggalkan katin dengan ketakutan yang ia bawa.

Kaki Shakila terus berlari, ia tidak peduli bila harus bertabrakan dengan orang-orang. Sekarang ia hanya ingin pulang ke rumahnya, bersembunyi di balik pelukan sang ibu agar tidak ada yang berani menyakitinya.

Brukkk

Badan Shakila terjengkal ke belakang, matanya sudah menangkap sesosok dimas yang sepertinya usai latihan karate. Karena ia menggunakan baju karate, terlihat keringat bertumpuk di keningnya walau keringat itu tidak terjatuh.

“Apa kamu baik-baik saja?. Maaf. Kamu berlari dan tidak melihatku ada di sini” ucap Dimas seakan mengatakan kalau ialah yang salah

Kepala Shakila menunduk”aku. Yang salah”sesalnya menautkan jari-jari tangannya gugup

“Owh okhe. Tidak masalah” terdengar kekehan kecil dari bibirnya.

“Shakila!”panggil Malih dari arah belakang membuat gadis itu menoleh seketika

Bibir shakila ingin berkata, memberitahukan kejadian semuanya pada Malih. Namun ia masih sakit hati dengan penolakan Malih soal perjodohan. Biasanya wanita yang akan menolak, tapi dalam catatan hidupnya dia lah yang di tolak lelaki. Itu sangat menyakitkan..!

“Baiklah. Kalau begitu aku pergi . Jangan lupa datang berlatih Malih!” katanya tersenyum, melambai kan tangan hingga ia berlalu pergi meninggalkan kebisuan di antara tiga orang itu.

“Kenapa kamu berlari?. Dan terlihat ketakutan” tidak ingin berbasa-basi Malih sudah menanyakan hal yang ingin ia tanyakan

Shakila tampak ragu, dan gengsinya pun terlalu tinggi untuk mengatakan kalau ia mendapat ancaman. Jangan salahkan Shakila? Memang wanita itu memang begitu bukan?. Meminta pertolongan kepada lelaki yang tampa berdosanya mengatakan “jangan karena aku sering menolong bukan berarti aku akan menerima perjodohan” siapa yang tidak sakit hati?.

“Jujur saja. Ini kasus DSI bukan kasus menyangkut hal pribadi”ujarnya terdengar seperti sindiran. Karena Malih pun tahu Shakila terlalu gengsi untuk menceritakan semuanya padanya

Bibir shakila masih bukam. Kepalanya menunduk dalam” baiklah..”Hembusan napas pasrah terdengar” Hamida yang akan menanyakan langsung padamu. Kalau begitu aku pergi assalamualaikum”pamitnya berlalu bersamaan dengan kepala Shakila yang terangkat,melihat punggung Malih yang hilang di balik dinding.

*******

“Ada masalah apa Lo dengan Shakila?”

Pura-pura tidak mendengar Malih memasangkan handset di kedua telinga. Menceritakan hal pribadi ke pada orang lain memang bukan kebiasaan Malih. Ia akan memilih duduk di atas sajadah dan mengeluhkan semua keluh kesahnya ke pada sang khalik , atau bersila memegang tasbih dan berdzikir.

“Malih! zio!” Panggil Hamida dari arah belakang

Badan zio langsung berbalik mendengar panggilan Hamida” allah wird die beiden Wesen wieder zusammenbringen, wenn sie dazu bestimmt sind, zusammen zu sein” katanya membuat Hamida langsung berdecak mendengarnya

(Allah akan menyatukan kembali kedua insan ketika mereka ditakdirkan untuk bersama)

Pletakk

“Awww” kini zio benar-benar meringis dengan jitakan keras di kepalanya

“Kenapa menjitak gue” protesnya kesal

Tidak peduli, mata Malih lebih fokus melihat Hamida” ada apa?”

“Aku menemukan sidik jarinya. Dan aku mendapatkannya di meja kantin” lanjutnya menunjukan foto yang ia ambil saat ia meneliti sidik jari tangan dengan taburan bubuk putih

Bersambung ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *