Cerpen : Bidadari Bercadar Part 01

Aku tak mengenalmu, tak juga melihat parasmu. Tapi kenapa? Matamu mampu merobohkan pertahananku. Dan itu adalah kau, sang bidadari bercadar.. ( Khalid)

“Injak gas nya Niz! Mereka semakin mendekati mobil kita” panik seorang pria, melihat kaca sepion luar mobil. Di sana sudah terlihat satu mobil hitam yang masih mengejar mobil mereka dari tadi.

Kepala Nizar mengaguk, mempercepat laju mobilnya agar mobil di belakang tak bisa menyusul.

“Siapa yang mengemudi mobil di belakang Rai? Sepertinya dia sudah ahli menjalankan mobil” tanya Khalis menoleh kebelakang, melihat Raihan yang sedang menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang mengemudi mobil.

“Miysel” sahut Raihan membuat Khalid terhenyak.

“Gila! Kita bisa mati kalau wanita rubah itu yang menjalankan mobil” kini Nizar yang menyahut dengan cemas.

Pasalnya Miysel bukan wanita yang bisa di anggap remeh, walau wajahnya cantik tapi kemampuannya dalam menjalankan mobil tak bisa di ragukan. Di tambah dia sangat lihai, membuat mobil lawannya terbalik-balik dan pasti tak akan ada yang bisa selamat. Itulah sebabnya, kenapa Miysel sering di sebut rubah betina. Cantik tapi mematikan.

“Berdoalah semoga kita bisa selamat sekarang” ujar Khalid memejamkan mata, mengingat orang tuanya yang sedang menunggunya di rumah.

“Hallo DSI 1! Apa kalian masih selamat?” Suara dari earphone terdengar, menyadarkan Khalid dari lamunan.

“DSI 1, ada Bu” sahut Khalid sopan. Bagaimanapun yang menelepon merupakan tangan kanan pemimpin. Lebih tepatnya sekertaris kepercayaan pemimpin.

“Aulia kah yang menelepon?” Tanya Raihan semangat, selama ini ia sangat mengagumi sekertaris syar’i di kantornya itu. Dia sangat mengagumkan dan galak, untuk yang terakhir tak ada yang pernah berani untuk melawan Aulia.

Kepala Khalid mengangguk, membenarkan. Telunjuk tangannya, ia dekatkan di depan bibir menyuruh Raihan untuk diam. Apalagi Nizar masih fokus menyetir mobil,

“Dimana kalian sekarang?”

“Di jalan Bu. Kami sedang di kejar-kejar salah satu pengawal mafia” lapor Khalid kembali melihat kaca sepion mobil. Bahaya! Miysel sudah hampir menyusul mobil mereka sekarang.

“Lebih di percepat lagi laju mobilnya Nizar!” Instruksi Khalid ,

“Tidak bisa! Ini sudah cepat Khalid. Akan sangat berbahaya kalau laju mobil di percepat lagi. Bisa-bisa gue gak bisa menyeimbangkan mobil” tolak Nizar tanpa menutupi wajah paniknya karena Miysel sudah bisa menyeimbangkan kecepatan mobil mereka.

” Dia wanita atau pria. Menjalankan mobilnya, ngalahin pembalap yang bertanding di arena” cibik Raihan, melihat mobil Miysel dengan tampang tak percaya.

Source

Seorang wanita berhijab sedang berjalan di trotoar jalan. Hujan yang turun dengan deras, tak membuat wanita itu memilih meneduh. hujan yang membasahi tubuhnya sudah sangat membantunya untuk menutupi tangis,

Kenapa hidupnya harus sangat menyedihkan. Ayahnya tak lagi ada di dunia dan sekarang ia harus bersama ibu tiri yang selalu memukulinya tiap hari. Rasanya Zhahira ingin segera kabur dari kediaman rumahnya yang seharusnya adalah miliknya.

Tapi sayangnya, dengan tega ibu tirinya malah mengusirnya dengan mengancam akan membunuh adiknya Rasyid yang masih bayi. Allah.. bukan ia yang Zhahira khawatirkan tapi ia mengkhawatirkan Rasyid yang masih berusia dua tahun.

“Bantu aku ya Allah..” Zhahira tertunduk di trotoar, tak sanggup berjalan lagi, tangisnya benar-benar sudah pecah,

Byurrrrr

Semburan air langsung mengguyur tubuh Zhahira. Tubuh Zhahira mematung, matanya menyorot tajam ke arah mobil hitam yang melaju sangat cepat

“Hei________”

Byurrrrrr

Mulut Zhahira terkatup rapat. Kini kedua kalinya air mengguyur tubuhnya. Sudah menderita, kini di tambah guyuran air kotor, lengkap sudah penderitaannya hari ini.

Brakkkkkk

Suara tabrakan mobil terdengar. Kepala Zhahira menanggah, melihat mobil yang tadi ia sumpah serapah dalam hati sudah terguling-guling ketengah jalan,

“Astagfirullahaladzim!!” Teriak Zhahira berlari ke arah mobil yang sudah berbalik.

Di sana zhahira melihat seorang wanita berpakaian tuxedo hitam sedang melihat mobil dengan tenang, seakan ia merasa tak khawatir.

Namun itu tak lama ketika wanita itu menoleh, melihat Zhahira mendekat. Dengan cepat, ia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.

“Heiiii!!!” Teriak Zhahira, ke arah mobil yang sudah meninggalkan Zhahira dengan wajah panik.

“Ya Allah! Apa yang harus ku lakukan” panik Zhahira mendekat ke arah mobil.

Zhahira mengintip ke jendela mobil, memastikan apa mereka baik-baik saja atau tidak. Tangannya menutup mulut, ketika ia melihat dua orang pria sudah tak bergerak sama sekali, bahkan darah sudah memenuhi wajah, lengan dan baju jas hitam mereka.

“Tuk tuk tuk! Tuan?! Apa kalian baik-baik saja” Zhahira mengedor-ngedor kaca mobil, sesekali ia melihat sekelilingnya berharap ada orang yang datang.

Jalanan terlihat sepi, bahkan tak ada orang di sekelilingnya. Tentu saja, sekarang hujan sangat deras dan di tambah hari ini adalah hari Minggu. Siapa yang mau berjalan-jalan di cuaca buruk seperti ini.

Zhahira kembali mengintip kaca mobil di bagian sebelah. Seorang pria terlihat bergerak-gerak sedikit, walau wajah dan tangan dan jasnyapun sudah terlihat banyak bercakan darah. Tapi setidaknya ia masih hidup,

“Tuan! Tunggu lah!. Tolong bertahan!” Pinta Zhahira mencoba membuka pintu mobil yang sudah terlihat rusak.

“Bantu aku ya Allah” gumam Zhahira cemas, kembali memastikan pria itu masih hidup.

Beberapa menit berusaha membuka pintu mobil, akhirnya pintu mobil berhasil terbuka. Pria itu langsung terjatuh ke kanan, dengan cepat Zhahira menahannya agar tak membentur jalanan aspal.

Mata pria itu terpejam, namun tak lama saat matanya perlahan-lahan terbuka. Seorang wanita bercadar sudah tertangkap oleh rentina matanya. Mata lembut dan terlihat cemas bersamaan seakan mengurangi rasa sakit yang ia rasakan kini,

“Mohon tetap tersadar tuan! Saya akan menelepon ambulance” pinta Zhahira memastikan pria itu masih tersadar.

“Maaf tuan, saya akan meminjam ponsel anda” Tanpa ijin, Zhahira langsung memeriksa saku jas dan saku celana pria itu. Hingga ia mendapatkan ponsel yang ia cari,

Zhahira bernapas lega, langsung mengetikan nomor ambulance agar pria itu bisa cepat-cepat di selamatkan.

“To-tolong…” Khalid bersuara, terdengar pelan dan lirih. Kini kesadarannya sudah hampir akan menghilang.

“Tolong jangan bersuara tuan! Bertahanlah, ambulance akan segera datang”

Source

Setelah menelepon ambulance, Zhahira masih duduk di jalanan aspal, hujan masih mengguyurnya dengan deras. Kepala pria itu ia baringkan di pahanya, menjadikannya bantal agar kepalanya tak semakin terluka.

Sesekali Khalid membuka matanya perlahan, memastikan wanita itu masih ada di depannya. Matanya terlihat jernih dan lembut, seakan menyalurkan energi pada tubuhnya agar tetap kuat.

Senyum khalid terukir tipis. hingga perlahan-lahan kesadarannya menghilang bersamaan dengan suara ambulance yang datang.

Mata Khalid terbuka perlahan, mengerjap-ngerjap pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke rentina mata.

“Arrrrgghhhhh” Khalid memegang kepalanya yang terasa sakit.

Matanya berkeliling-melihat ruangan yang seperti ruangan rawat inap. Kemana gadis itu? Kenapa ia tak melihatnya sekarang. Pertanyaan-pertanyaan itu, sudah berputar-putar di benak kepalanya, tak peduli walau sekarang ia masih sakit, ia hanya ingin melihat wanita yang sudah menolongnya dari maut.

Khalid melepas paksa selang infus dan oksigen. Kepalanya mulai kembali terasa pening, tapi ia memilih tak peduli. Ia hanya ingin melihat bidadari bercadar itu, bidadari yang sudah membantunya dan memberikannya kekuatan untuk tetap bertahan hidup.

“Tuan! Tolong jangan banyak bergerak” cegah seorang suster melihat Khalid yang hendak turun dari ranjang.

“Aku ingin mencari bidadari bercadar itu. Apa suster tahu namanya?” Tanya Khalid masih memaksakan turun dari ranjang.

Suster memegang tangan Khalid untuk membantunya kembali duduk” wanita itu sudah pergi dua hari kemarin tuan Khalid” jelas suster,

Khalid terhenyak” jadi aku pingsan sudah dua hari” Khalid menatap suster tak percaya,

“Benar tuan Khalid. Tolong beristirahat kembali.. karena sekarang, tuan Khalid belum sembuh benar. Pemimpin DSI pun tadi sudah datang untuk memastikan kondisi tuan Khalid baik-baik saja”

Kepala Khalid tertunduk, hatinya merasa sangat kecewa karena tak mampu mengucapkan terimakasih pada wanita bercadar itu. Siapa dia? Dimana dia?. Khalid benar-benar ingin kembali bertemu denganya,

Hati Khalid terasa hampa, saat wanita bercadar itu pergi dan juga rasanya mata wanita itu terus berputar-putar di kepalanya. Entah kenapa mata lembut itu mampu membuat hati Khalid menghangat.

“Apa yang kurasakan ini” batin Khalid memegang dadanya yang mulai berdetak cepat.

“Bagaimana dengan kondisi teman-teman saya sus?” Tanya Khalid, mencoba menormalkan jantungnya karena mengingat wanita bercadar itu terus-menerus.

“Mereka meninggal tuan”

Mata Khalid melebar” APAA!!”

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *