Cerpen : Azzahra dan Damian

Hari ini hujan turun dengan deras. Inilah kondisi yang paling aku sesalkan karna saat hujan tiba, caffe ku akan jadi sepi. Seperti sekarang, caffe ku hanya di kunjungi beberapa orang dan itu juga karena mereka sekedar menumpang untuk bereteduh, dan sama sekali tak memesan. Tapi sudahlah..biarkan ini menjadi pahala untuku dan seluruh pegawaiku.

Tengg

Tengg

Tengg

Suara lonceng bel pintu terdengar beberapa kali. Namun itu sama sekali tak membuatku menoleh ke arah siapa pelanggan yang datang berurutan itu. Perhatianku masih fokus melihat catatan pengeluaran dan pemasukan yang sudah di salin dalam buku tebal oleh pegawaiku.

Di caffe ku memang terdapat dua lonceng kecil yang di gantung di depan pintu. saat pintu caffe terbuka maka lonceng akan berbunyi. Bagi ibuku bunyi lonceng itu selalu meramaikan suasana. Karena itulah sebabnya kenapa ibuku menaruh lonceng di depan pintu.

Teng teng teng teng

Lagi-lagi lonceng berbunyi beberapa kali, membuat kosentrasiku sedikit terganggu. Memang terdengar tidak biasanya lonceng berbunyi secara berututan. Namun karena tak mau ambil pusing dan tak ingin menoleh. Seperti tadi aku hanya menghiraukannya.

“Boss. Ada yang terus menyembunyikan lonceng di depan pintu” Lapor karyawanku,membuat perhatianku menoleh ke ambang pintu.

Di sana sudah ada laki-laki manis yang sedang berdiri di ambang pintu masuk. Seketika itu juga aku mendengus jengkel. Ini sudah keberapa kalinya pria itu menggangguku dengan tingkah konyolnya.

Dengan cuek aku mengabaikannya dan kembali ke reunitasku. Namun sepertinya pria itu tak mudah menyerah, terbukti dia terus menggoyangkan lonceng pintu kembali, membuat pelangganku terganggu.

Takkk

Bolpoint yang semenjak tadi ku genggam ku lempar jengkel di atas meja. Pria bernama damian itu sudah benar-benar mengganggu caffe ku. Baru saja dua hari yang lalu dia melempar petasan di depan caffe,membuat semua pengunjungku berlari ke luar tampa membayar. Dan aku juga masih ingat, saat dia mengirim lima badut untuk masuk ke caffe dan mengganggu seluruh pengunjung dan itu juga berhasil membuat semua pelangganku lari terbirit-birit.

Kalau damian terus mengganggu caffe ku terus-menerus seperti ini. bisa-bisa aku harus gulung tikar karena tak mendapat penghasilan. Lagian ada apa dengan pria menyebalkan itu!. Apa perusahaannya sudah bangkrut hingga terus-menerus mengganggu caffe ku, ini benar-benar sudah tak bisa di biarkan! Laki-laki bernama damian harus ku beri pelajaran.

“Zuii” panggilku sedikit meninggikan suara.

Teng

Pelayan yang semenjak tadi duduk memperhatikan damian, menoleh padaku. karena namanya yang di panggil. Dengan cepat gadis berambut pendek itu menemuiku dengan tergesa-gesa.

“I-iya Boss” jawabnya menunduk sopan.

Mataku melirik tajam ke arah pria yang terlihat tenang menyembunyikan lonceng pintu masuk. Seakan tak peduli dengan tatapanku, pria itu malah membalasku dengan tatapan menantang. Ingin sekali rasanya ku lempar dia keluar caffe, biar saja dia basah kuyup.

“Zuii kamu usir dia dari caffe. Kemudian kamu tutup pintunya dengan rapat. kalau bisa, kamu diam di depan pintu, berjaga-jaga saja bila dia memaksa masuk” perintahku menunjuk damian” Dan ini. Kalau dia marah-marah padamu atau mengancammu. Kamu pukul saja dengan raket nyamuk.” Saranku memberikannya pada zuii,

Zuii menganga melihathatku tak percaya” Ta-tapi Boss dia pelanggan” tolak zuii tak enak.

Source

Mataku berputar malas,lalu melirik zuii kesal “Boss nya itu aku. Sekarang kamu lempar dia dari caffe. pokonya aku tak mau pria itu ada di caffe ku” titah ku tidak mau di bantah “Sekarang, juga!” lanjutku dengan penuh penegasan.

Tatapanku terus melihat zuii yang semakin mendekat ke arah damian dengan raket nyamuk di tangan kanannya. Tak butuh beberapa lama, wajahku berubah lesuh saat melihat zuii sudah berlari ketakutan. Entah apa yang di lakukan pria menyebalkan itu pada karyawanku, ini benar-benar sangat menjengkelkan.

Menahan geram karena melihat kelakuan damian. Membuat kakiku memilih melangkah mendatangi damian yang sudah memunculkan senyum simpulnya. Tanganku rasanya sudah gatal untuk melemparnya ke luar caffe atau memukul wajahnya dengan tanganku yang kecil.

“Dengan penuh hormat. Aku memintamu pergi dari caffe ku” pintaku sopan menunjuk ke arah pintu ke luar ceffe,

Tengg

“Aku bukan pria bodoh yang akan keluar, saat di luar sedang hujan” balasnya cuek.

Aku berdecak meliriknya jengkel” Pokonya aku mau kamu ke luar dari sini! Kedatanganmu itu, membuat caffeku jadi sepi”ucapku kesal “Dan satu lagi jangan sekali-kali lagi kamu masuk ke caffeku. Pintu caffe ini tertutup rapat untuk pria sepertimu ” peringatanku yang sudah geram dengan sikap tak bersalahnya,

“Tidak bisa!” balasnya kembali membunyikan lonceng.

Mataku melontot dan tanganku sudah mengacak pinggang” Heii! Ini caffe ku dan semua peraturan di sini, aku lah yang membuatnya” jelasku padanya supaya dia bisa mengerti dengan aturan-aturan caffeku.

Dengan entengnya mata pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan caffe dengan tatapan remeh “Ckk, Caffe kecil seperti ini, pasti sangat murah untuk ku beli” ledeknya

Kepalaku sudah memanas karena mendengar setiap ucapan-ucapannya yang mengesalkan. Dengan kesal aku berbalik pergi, menghadapinya hanya membuat emosiku terus meluap-luap.

*****
Damian Pov

Setelah dari caffe zahra aku kembali ke kantor. Seperti biasanya, semua orang menyambut kedatanganku dengan ramah. Karena tak ingin membuang waktu berlama-lama sekedar menyapa, aku segera masuk ke dalam lift. Tanganku menekan tombol lantai 20 yang berada paling ujung kantor, karena disanalah ruangan kantorku berada.

Ting

Pintu lift terbuka. Kedatanganku sudah di sambut sekretaris ku Sisi yang sedang duduk di meja yang berada di depan ruangan kantor. Seperti tadi, aku enggan untuk membalasnya bahkan untuk melirik gadis seksi itu. Tanganku membuka kenop pintu. Tapi aku urungkan, saat sebuah pikiran mengagumkan melintas di otaku.

Kepalaku menoleh ke arah sisi yang sedang mengetik” Sisi, warna bunga apa yang paling disukai wanita?” tanyaku dengan wajah datar,

Kepalanya menoleh dan menampangkan wajah terkejut karena pertanyaanku” Bi-bisa bapak ulangi?” tanyanya sopan

“Kamu suka warna apa?” tanyaku mulai malas dengan kinerja otaknya yang lambat, untuk mencermati setiap perkataanku tadi

“A-aku?” tanyanya ragu menunjuk dirinya sendiri.

“Katakan saja! Jangan banyak bicara” sentakku jengkel dengan tingkahnya

“Pu-putih” balasnya cepat

“Besok kirimkan 10 buket bunga putih. Tidak tidak 20 saja, emmzz 40 saja. Yahh, 40 kirimkan ke caffe Rosalia. Jam 3 pagi jangan telat! Atau kau akan ku pecat” pintaku di akhiri ancaman padanya ” Ah ya, satu lagi. Kamu ruksak-ruksak bunga-bunga itu, lalu kamu taburkan di depan caffe nya. Kamu akan dapat point plus kalau bisa menaburkannya di dalam caffe”lanjutku dengan smirk kemenangan.

Source

Pria itu terlihat fokus dengan laporannya. Namun tak lama saat seorang pengawal masuk dan langsung membuyarkan semua rencana-rencana perusahaanya yang sudah ia susun rapih di otaknya.

“Ada apa?” tanyanya mencoba untuk menahan emosi.

“Kami gagal untuk menculik nona shakila bos” lapor pengawal menunduk takut

Brakkkk

Damian langsung menggebrak meja, lagi-lagi selalu informasi kegagalan yang ia dapatkan saat menyangkut shakila. Sudah beberapa hari dia memulai rencananya kembali, tapi lagi-lagi rencananya itu selalu gagal dan itu semua karena ketidak becusan pengawalnya dalam bertindak.

Damian menggertakan giginya geram” Sekarang kau pergi dari ruanganku! Atau ku tembak mati di sini” ancamnya membanting vas bunga yang berada di atas meja.

“Sial! Lagi-lagi Malih mengganggu rencanaku” cibik damian marah menghempaskan semua barang-barang di atas meja

“Arrrrggggghhhhhh.. Br*eng*k” teriaknya marah.

******
Keindahan itu bukan hanya saat melihat pemandangan laut, bukan juga hanya melihat indahnya pantai, bukan juga hanya melihat indahnya pegunungan. Jadi, apa keindahan itu?. Yaitu melihat keluarga yang selalu tertawa dan bahagia di setiap waktu, saling melengkapi saat salah satu di antaranya memiliki ke kurangan. Yahh itulah yang di pikirkan Malih untuk istrinya shakila.

Istri yang selama ini menemaninya dalam suka dan duka. Yang selalu senantiasa mendukungnya dalam setiap langkahnya, dan selalu menjadi ibu tabah bagi anak-anaknya. Dialah bidadari yang di kirimkan allah untuk menemaninya, menjadi obat saat rasa lelah menyentuh hatinya.

“Kamu adalah bidadari surgaku, maukah bunda selalu menemani mas dalam setiap suka dan duka?” tanya malih menggenggam tangan shakila lembut.

Senyum tulus itu terukir dari wajah istrinya” Kenapa mas harus bertanya? Aku akan terus menemani mas apapun yang terjadi. Seperti khadijah yang selalu menemani rasulullah, dan seperti fatimah yang selalu mencintai ali”balasnya lembut “Maafkan aku, karena tak bisa mengingat lagi semua kenangan-kenangan kita di masa lalu” sesal shakila menunduk sedih.

 

Perlahan tanganya mengangkat dagu shakila, membuat wanita itu mendongkak menatap suaminya lekat” Kehadiranmu dalam hidupku, itu sudah cukup. Mas tak perlu dengan semua kenangan-kenangan di masalalu. Mas hanya ingin kita buat kenangan-kenangan baru untuk kita di hari ini dan seterusnya” kata Malih memeluk istrinya erat.

Tatapan Malih tertuju pada ombak yang saling berkejaran ke arah pantai. Pandangan nya menatap luas laut biru di sore hari. Seandainya saja cintanya bisa di uraikan maka tidak akan habis di tulis dalam seribu buku, seandainya cintanya bisa di ukur, maka tidak akan terhitung dengan banyaknya air di laut.

*******
Pagi hari sudah menjelang, semua orang sudah kembali melakukan Aktivitas seperti biasa. Pedagang koran yang menaiki sepeda, melemparkan koran-koran ke setiap rumah. Dan pengamen musik jalanan yang sudah memainkan musik indahnya untuk menyambut hari pagi yang cerah.

Seperti seorang gadis berbaju gamis syar’i yang sudah turun dari mobil hitamnya. Perhatiannya langsung tertuju ke caffe nya yang sudah ramai di kunjungi orang. Ini adalah kali pertamanya banyak orang yang menunggu caffe nya buka.

Karena penasaran, membuat gadis itu mendekati kerumunan orang-orang yang sedang berbisik-bisik.

“Boss!” tegur salah satu karyawan membuat zahra langsung menoleh

“Boss, bahaya! Di depan caffe kita, sudah banyak sekali taburan bunga-bunga mawar putih. Hampir di seluruh area luar dan ruangan caffe di penuhi mawar putih yang berserakan di mana-mana” jelas karyawannya panik

Mata Zahra melebar “A-apa?” balasnya syok.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *