Cerpen : Tanpa Ku Sangka-sangka

Sejak memperoleh suaka politik pada penghujung konflik bersenjata Aceh-Jakarta belasan tahun lalu di sebuah negeri di Eropa, temanku itu suka mengirim celana jeans buatku tiap menjelang Idul Fitri. Aku pun acap mengirim dia rempah-rempah dapur khas Aceh yang sudah dikeringkan.

Kemarin malam, via pesan messenger ia bertanya, “Ukuran pinggangmu masih seperti biasa, kan?”

“Tidak. Sekarang tiga-empat,” tulisku.

“Kok bisa! Biasanya kan tiga-enam?” herannya.

“Setahun terakhir, tamparan kehidupan telah membuat segalanya di tubuhku menciut,” jawabku apa adanya.

“Segalanya?” ulang dia.

“Ya, segalanya,” ulangku.

“Tidak sampai mengganggu kelanggengan rumah tanggamu?” tanya dia dalam spektrum konteks yang melebar tanpa kusangka-sangka.

“Seirama dengan menciutnya segala ‘kelebihan’ di tubuhku, sepertinya itu juga yang terjadi pada ruang-ruang tertentu di tubuh istriku,” jawabku tanpa kusangka-sangka aku akan menjawab seperti itu.

“Berarti, sepanjang perjalanan kehidupan dan usia sebuah rumah tangga, alam selalu menyeimbangkan segala yang ada di tubuh suami dan istri, begitu ya,” katanya.

“Iya,” jawabku.

“Tetapi kenapa juga semakin berumur sebuah rumah tangga, semakin tinggi keinginan si istri untuk melirik lelaki lain, dan semakin tinggi keinginan si suami mau kawin lagi?” tanya dia—tanpa kusangka-sangka.

“Semakin tua usia suami-istri, semakin liar fantasi genital mereka,” jawabku—entah bagaimana aku sampai menjawab begitu; heran juga.

“Tapi rumah tangga kalian baik-baik saja, kan?” tanya dia, sepertinya agak prihatin.

“Alhamdulillah,” jawabku. “Syariat Islam yang berlaku di Aceh membuat perselingkuhan tidak begitu mendapat tempat di sini.”

“Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *