Cerpen : Seperti Kera

“Abu, kadang kita seperti kera, suka mengedepankan seringai-mengancam terhadap orang. Kenapa begitu?”

“Itu tandanya kita sedang kesepian.”

“Dan, kadang kita suka bersikap arogan atau suka mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakkan terhadap orang. Nah, yang ini kenapa?”

“Itu tandanya kita sedang menderita batin. Atau, lebih tepatnya, kurang imajinasi.”

“Apa hubungan ‘seringai mengancam orang’ dengan ‘kesepian’, Abu?”

“Orang yang sedang kesepian akan melihat segala sesuatu di sekelilingnya sedang mengancam dirinya. Maka, lalat terbang di depan mukanya pun akan dia sambut dengan proteksi seringai ancaman darinya.”

“Lalu, apa hubungan ‘sikap arogan’ dan ‘kata-kata yang menyakitkan orang lain’ dengan ‘derita batin’ dan ‘kurangnya imajinasi’?”

“Orang yang menderita batin punya kecenderungan menimpakan derita yang sama pada orang lain, minimal dengan bersikap arogan dan kata-kata buruk atau ujaran kebencian. Seandainya dia orang yang punya imajinasi, dia akan lebih cenderung memulihkan derita batinnya sendiri dibandingkan dengan menimpakan derita yang sama terhadap orang.”

“Oya, sorry, Abu. Kebetulan, karena satu dan lain hal, hari ini saya berpuasa tanpa sahur. Dalam kondisi begini, tentu saya tak dapat menangkap makna sepersisnya jawaban-jawaban Abu. Maaf, jawaban-jawaban Abu membuat saya semakin bingung. Bolehkah saya meminta jawaban-jawaban yang telah disederhanakan?”

“Kebetulan juga, karena satu dan lain hal, hari ini saya pun berpuasa tanpa sahur. Jadi, jawaban-jawaban itu adalah hasil olah-pikir spontan orang yang berpuasa tanpa sahur. Dan, maaf, saya sendiri juga sangat bingung dengan jawaban-jawaban saya. Sorry, permintaanmu tidak sanggup saya penuhi. Puasa tanpa sahur membuat orang cenderung berpikir terlalu filosofis.”

Musmarwan Abdullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *