Cerpen : Semoga Berjodoh

Dinginnya malam membuat seorang gadis bergerak tak nyaman. Rania membuka matanya perlahan

Gelap.

Hanya diterangi oleh lampu tidur di sisi ranjang. Rania menggeliat, namun napasnya tertahan ketika menyadari ada lengan kokoh yang memeluk pinggangya.

“Astagfirullah …”

Rania memekik kaget, tangannya dengan refleks menyalakan lampu tidur, lalu segera menutup mulutnya ketika pada detik berikutnya, ia sadar siapa pemilik lengan itu.

“Kenapa, Dek?”

Raffa terbangun dari tidurnya ketika sisi ranjangnya bergerak-gerak mengusik. Matanya masih tertutup rapat.

Rania mengatur napas dan menggeleng. Matanya berkelana saat menyadari ruangan asing yang ia tempati. Bukan kamarnya di rumah Papi. Bukan pula kamar Raffa di rumah Papa. Lantas, ini dimana?

“Kita dimana?” tangannya mengguncang lengan Raffa yang masih dalam mode mengantuknya.

Pikiran Rania tiba-tiba kacau. Bagaimana jika ternyata Raffa membawa dirinya ke Singapura karena merasa ada dua tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara bersama? Jika begitu, bagaimana dengan kuliahnya? Organisasinya? Ah, Ya Allah … Rania menyesal karena sempat meneror Raffa untuk segera pulang.

“Sudah jam tiga?” bukannya menjawab segala gelisah dalam benak istrinya, Raffa malah balik bertanya dengan mengusap wajahnya, lalu menyalakan lampu kamar. Ia kembali duduk di atas ranjang. Matanya masih menunjukan kantuk yang luar biasa beratnya. “Kamu kenapa?” tanyanya menyadari air mata Rania seolah siap ditumpahkan.

“Kita dimana?” suaranya meninggi. Kedua tangannya sudah senantiasa menutup wajah. “Kakak bawa aku kemana?” tangannya yang terkepal memukul dada Raffa. Lelaki itu terbatuk.

Rumah Di Lereng Bukit

“Udahan dulu nangisnya,” Raffa mengusap dadanya, mengenyahkan tangan Rania beserta air mata yang mengganggu penglihatannya.

Rania menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dia melakukan itu selama berulang-ulang hingga merasa tenang.

“Kita ada di rumah-”

“Rumah siapa?” suaranya masih melengking. “Ini bukan kamar aku di rumah Papi, ataupun kamar Kakak di rumah Papa!”

“Kakak sengaja culik aku, ya?”

Mata Raffa membola. Subhanallah sekali pemikiran istrinya ini. “Ya nggak, Dek. Masa iya aku culik istriku sendiri?”

“Trus?”

“Kita ada di kamar kita sendiri.”

“Gak ngerti.”

Raffa menceritakan kronologis kejadian kemarin malam. Tentang rencana kejutan berupa rumah yang telah siap huni. Semua orang sudah menunggu di rumah ini untuk acara syukuran kecil-kecilan, namun apa mau dikata ketika yang ingin diberi kejutan malah tertidur pulas di mobil.

“Begitu ceritanya,” ujar Raffa.

“Ini masih daerah Jakarta, kan?”

Raffa mengangguk.

Hembusan napas Rania terdengar lega. Beberapa saat matanya memicing. “Kakak gak minta persetujuan aku dulu. Atau harusnya Kakak bertanya lebih dulu sama aku, mau gak tinggal di rumah yang sudah aku siapkan?”

Rumah Di Tepi Sungai

“Di mana-mana, yang namanya bikin kejutan gak ada acaranya tanyain persetujuan dulu, Dek.”

Bibir Rania yang mengkerucut di jepit Raffa. “Gimana, kamu terkejut, kan?”

Rania mendengus. Jemarinya mengusap rambut. RAMBUT? Kemana khimarnya?

“KAK RAFFAAA JANGAN LIATIN AKUUU!”

Raffa tergelak riuh ketika Rania menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. “Halal ini.” tangan jahilnya mengenyahkan selimut. “Ayo ambil wudhu, kita ambil jatah qiyamul lail.”

Rania bergeming.

“Ayo, Dek.” Raffa menarik lengan Rania hingga gadis itu duduk lebih tegak. Dari jarak dekat, ia bisa melihat bagaimana semburat merah itu menguasai wajah istrinya.

Rania menggeleng. “Kakak duluan.”

“Kamu gak mau siapin air hangat buat aku mandi, gitu?”

Mata Rania mengerjap. “Mandi?” anggukan kepala Raffa dibalas tatapan horor oleh Rania. Gadis itu meraba bajunya. Masih sama. Berarti masih aman, dan alhamdulillah.

“Kamu mikirnya kejauhan.” ujar Raffa dengan senyum jahil.

“Aku gak mikir sampe sana, kok.”

“Enggak apa enggak?”

“Enggaaak!”

Raffa tergelak lagi. Sementara Rania mulai beringsut menuju kamar mandi dengan bibir yang tak hentinya menebar ucapan kecil yang entah kenapa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *