Cerpen : Romantisme Cinta Part 11

“Lo jangan liat luarnya aja. Siapapun bisa jadi tersangka. Gue emang sebangku ama vino, dia juga gak pernah ngelakuin macem-macem yang aneh. Tapi, ada beberapa hal yang buat gue masukin dia jadi tersangka” jelas Malih dengan tatapan menyelidik

“Apa yang buat Lo berpikir dia termasuk ke dalam tersangka?” Tanya zio yang sudah mulai penasaran

“Dia itu kan sering di bully sama sekelas, malah hampir satu sekolah jauhin dia. Dan lagi, rata-rata yang bunuh diri itu orang yang aktif organisasi. Saat gue nyelidikin dia lebih dalam, sebenarnya dia itu sakit hati sama orang-orang yang gak pernah ajak dia. Padahal dia itu anaknya aktif dan setia kawan” simpul Malih

“Jadi. Maksud Lo dia pelakunya?”

Malih menggeleng” ini masih perkiraan. Soalnya gue masih belum punya bukti yang kuat,kalau dia bersalah. Gue juga curiga sama Dimas. Lo tau juga kan?. Awal kita nyelidikin kasus ini kita curiganya sama Dimas. Hampir orang yang bunuh diri. Pernah bersama Dimas sebelumnya,terus gue masih curiga sama luka jari kelingking sama bungkus permen” sambung Malih mengeluarkan bungkus permen yang di masukan ke dalam pelastik

“Bukannya gue udah bilang..Jangan nyangkutin bungkus permen. Bisa aja itu bungkus permen orang lain. lagian permen itu banyak yang suka. Walau Lo tanya satu persatu pasti semua orang jawab “gue pernah makan,tapi gue gak inget kapan” sahutnya memperagakan orang yang tengah berpikir

Malih mendekatkan Bungkus permen ke wajah zio”Bungkus permen ini bisa kita selidiki” kemudian menurunkannya lagi. lalu menyimpannya dalam tas koper kecil yang berisi beberapa bukti

“Diselidiki apanya?. Sidik jari gak bisa di temukan di bungkus permen” sahutnya malas

Senyum simpul terukir”kata siapa?. Ini akan jadi bukti kuat kita untuk nyelesain masalah “Pembunuhan Lantai Dua”. “Balas Malih dengan penekanan di akhir kata

“Nada bicara lo sangat mengerikan”gidik zio ngeri

Koper kembali di tutup, kemudian ia berdiri. Kakinya melangkah ke arah lemari yang ada di ruangannya, di sana adalah baju dinas DSI dengan pangkat yang berbeda-beda. baju yang dulu ia pakai dari pangkat 7 sampai ke pangkat 5.

Tangannya mengambil jas lalu memakainya, terlihat ada 5 bintang kecil emas di dada bagian kiri, serta logo DSI 5 di kerahnya.

“Lo akan ke mana?” Tanya zio sambil memakai jasnya yang tadi ia sampirkan di kursi.

Setelah selesai mengancingkan jas. Tangan Malih mengambil sesuatu di tas “kita harus pergi ke dr.kania sekarang” sudah mendapatkan yang ia cari. Malih melenggang pergi ke luar kantor di ikuti zio di belakang

Hamidah dan Zio

Image Source

Pintu lift terbuka, di dalam lift sudah ada dua orang yang juga DSI sama seperti Malih dan zio namun hanya tingkatnya saja yang berbeda

“Hai Hamida” sapa zio mendekati Hamida yang sedang berdiri di belakang. Di antara semua detektif wanita, Hamida merupakan wanita yang berpakaian syar’i dengan pangkat DSI 4. Walau agak dingin kepada lelaki, tapi bagi zio itu tidak masalah… Ia malah sangat menyukainya.

“Kamu tugas juga?” Tanya zio mencoba mengakrabkan diri.

“Ya”

“Dimana?. Bagaimana kalau tugas di hatiku saja”godanya mengedipkan sebelah mata

“Kemarin aku sudah meretakan dua kaki sekaligus. Satu lagi ku rasa tidak masalah” sahut Hamida tenang

Wajah zio menekuk” aku sakit hati. Kamu mengatakan itu Hamida”keluh zio memegang hatinya seakan terluka

Mata Hamida berputar malas,mendengar ocehan zio yang memang sudah terkenal dengan rayuan mautnya.

Ting

Pintu lift terbuka. dengan cepat Malih ke luar, di ikuti zio yang melambaikan tangan terlebih dahulu pada Hamida. Namun nyatanya wanita itu enggan untuk membalas, bahkan untuk melihat wajah zio saja ia udah ogah.

***

Di kamar, shakila sedang duduk di meja belajar. sesekali ia melihat handpond. Tangannya mengetik sesuatu pada laptopnya. Yahh..iya sedang menulis catatan hariannya di laptop. semua catatan hariannya sudah hampir di penuhi dengan nama Malih. Tunggu!,bukan catatan kagum atau suka atau juga cinta dalam diam. Tidak!. Semua hampir catatan itu berisi kekesalannya pada malih.

Drrrttt Drrrttt Drrrttt

Handphone Shakila bergetar beberapa kali, sebelum mengangkat telepon, Shakila sempat melihat siapa nama yang tertera di sana. Namun di sana hanya ada nomor, nomor yang tidak di kenal Shakila sama sekali.

Berpikir kalau itu kakaknya yang di Mesir, Shakila mengangkatnya. Tidak ada suara. Tidak ada yang menyapa”assalamualaikum?”salam Shakila mencoba memulai pembicaraan terlebih dahulu.

Lagi-lagi tidak ada jawaban, semua masih sama seperti tadi saat ia mengangkat telepon” siapa ini?” Tanya nya ragu

“Datanglah…ke lantai dua…Sha-kila …..”halus. namun terdengar menyeramkan.

Mata Shakila terbuka lebar”si-siapa kau sebenarnya?” Tangannya mulai bergetar,jantungnya terasa di hentakan beberapa kali

“Datanglah kemari..atau aku yang datang ke sana, dan kau akan lihat percikan darah keluargamu di mana-mana . Ku tunggu sekarang…Tut Tut Tut”

Ponsel Shakila sudah terjatuh ke lantai, badannya bergetar. Wajahnya sudah menyiratkan ke takutan luar biasa. Dengan gemetar Shakila mengambil kembali handponya untuk menelepon seseorang di sebrang sana. Tangannya mencari nama di kontaknya, sudah di temukan. Dengan cepat Shakila meneleponnya, air mata sudah mengalir deras di kedua pipinya.

“Angkat Malih. Ku mohon angkat”panik shakila terus menelepon Malih beberapa kali namun tidak kunjung di angkat-angkat

“Ya Allah bantulah aku” mohon Shakila terus menggerakkan jari-jarinya di layar handpond

Nada tersambung terdengar”hallo Malih . Malih ku mohon bantu aku!!. Ku mohon” pinta Shakila berharap Malih mendengar suaranya

“Ada apa?”

“Dia. Dia!. Meneleponku Malih. Dia mengancam keluargaku. Bantu aku ku mohon..bantu aku!!”

Apa Yang Terjadi?

Image Source

Setelah telepon di matikan. wajah Malih langsung tergurat rasa cemas. Dr. Kania yang melihat mendekat ” apa yang terjadi?” Tanyanya heran karena sekarang mereka sedang berada di ruang mayat untuk memeriksa mayat Syifa .

“Aku harus pergi sekarang. Zio kamu urusi semuanya”perintah Malih segera berlari keluar.

Mobil melaju dengan kencang. Bahkan Malih tidak peduli dengan beberapa kelakson mobil yang bersuara, karena Malih menyelip mobil dengan cara berbahaya. Yang penting dia sampai di rumah Shakila dan memastikan keluarga Hisyam baik-baik saja.

Hp Malih kembali bergetar. di sana sudah terpampang nama kelinci. Tidak lain adalah nama Shakila di handpond malih. Handset sudah terpasang di telinga kiri” apa di sana aman?!” Tanya Malih langsung karena sudah panik

“A-a-aku ada di se-sekolah” sahut Shakila dengan suara gemetar takut

“Aapaa?!.” Teriak Malih keras.

Tangannya memukul setir”kenapa kau disana. Kau cari mati hah!” Marah Malih yang langsung mendengar Isak tangis Shakila di sebrang telepon

Kaki Malih semakin menancap gas. Bahkan kecepatan mobilnya sudah di ambang batas. Tangannya dengan lihai menyetir mobil, melewati beberapa mobil. Hatinya sudah tidak karuan karena tindakan bodoh Shakila yang memilih menuruti perkataan peneror hanya untuk menyelamatkan keluarga.

Malam sudah tiba. Sekolah terlihat gelap tanpa ada lampu yang menerangi seperti biasanya. Semua terasa hening dan terlihat kosong tanpa penghuni.

Mobil Malih berhenti di depan gerbang sekolah. Gerbang itu masih terkunci, membuat Malih kebingungan. Karena tidak mungkin shakila manjat hanya untuk masuk ke dalam sekolah. dan juga Shakila takut ketinggian jadi tidak mungkin.

Aaaaaaarrrrrrrrrgghhhhh

Teriakan itu Malih mengenalinya. Tampa berpikir panjang, Malih memanjat pagar kemudian meloncat kebawah

Mata Malih mengedar ke penjuru tempat” Shakila!!” Teriak Malih keras berharap ada jawaban yang bisa membuat ia menemukan lokasi shakila

“Malihhh!!!. Tolong akuuuu” teriakan itu kembali terdengar. membuat kaki Malih langsung berlari ke tempat yang terlihat gelap tanpa cahaya.

“Tunggu aku Shakila” ucap Malih yang sudah berkeringat dingin berlari semakin masuk ke dalam sekolah

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *