Cerpen : Romantisme Cinta Part 10

“Malih!” Panggil seseorang membuat Malih menghentikan langkahnya kemudian berbalik, begitupun Shakila

Mata Shakila menyipit melihat pria itu berjalan sudah hampir dekat dengan mereka. Yah..Shakila mengenalnya. Siswa yang selalu jadi bahan olok-olok di kelas. Terdengar kasar, tapi memang begitu adanya. Dia terlalu pendiam,hingga semua orang menganggapnya lemah.

“Assalamualaikum”salamnya ramah

“Wa’alaikusalam. Ada ada?” Tanya Malih langsung, karena ia pun memang sedang terburu-buru

“Kenapa tidak ke ruangan karate dulu. Padahal aku ingin melihatmu berlatih karate lagi” ujarnya dengan raut kecewa

Entah hanya Shakila yang merasakannya atau juga Malih merasakannya. Perkataannya sedikit membuat Shakila agak begidik ngeri, bahkan selintas Shakila berpikir kalau vino menyukai Malih. Mungkin..itu hanya pirasatnya saja. Lupakan!.

Halis Malih menaut heran”memang kenapa?. Berlatih atau tidaknya, itu gak ada bedanya bagi gue” sahut Malih lalu mengangkat kedua bahu cuek “ya udah gue pergi dulu. Assalamualaikum”pamit Malih kembali mendorong motornya dan tentu Shakila masih mengekor di belakang.

“Malih..jangan-jangan vino menyukaimu” entah keberanian dari mana Shakila berani mengungkap kata-kata pantangan itu

“A-apa?!”balasan yang cepat dari perkiraan Shakila

Wajah shakila berubah kikuk” ah..ti-tidak!. Lupakan”elaknya mengibaskan tangan kemudian kembali menunduk

Tidak lama mereka sudah sampai di bengkel, yang terlihat tidak besar atau bisa di bilang sederhana. motor malih sudah di standar dua. Dan Malih menunggu dengan duduk di kursi, sedangkan Shakila yang merasa tidak nyaman memilih berdiri diluar .

Ingatan Malih mengingat kejadian saat pertemuannya dengan vino di jalan. Ada selintas rasa heran saat vino menanyakan itu, walau ini bukan satu kalinya vino menanyakan hal yang sama. Beberapa hari yang lalu pun vino menanyakan hal yang sama. ia ingat, saat di ajak ke grup marawis dan ia memilih menolaknya,karena mereka hanya memanfaatkan Malih. Terlihat vino juga kecewa, karena malih tidak bisa ikut serta dalam anggota grup.

Lalu ingatannya tiba-tiba berpindah pada Dimas. Terakhir kali Malih melihatnya kemarin,Dimas dan Syifa di panggil pak teguh untuk datang ke kantor. Pak teguh adalah guru BP sekolah, jadi tentu,pasti ada masalah yang menyangkut ke dua orang itu. Tapi Malih masih tidak tahu masalah apa di antara kedua orang itu dan Malih harus segera mencari tahu.

Ingin Bertanyaa Sesuatu

Image Source

“Shakila!” Panggil Malih membuat shikala berbalik

“Apa?”

“Gue ingin bertanya sesuatu”

Kening Shakila berkerut kemudian menggeleng” tidak boleh!”tolaknya langsung tanpa ingin mendengar pertanyaan Malih

“Kemarin gue ke lantai dua. Di sana tidak ada cctv. Lo tahu alasannya?” Tanya Malih tanpa peduli penolakan Shakila

“Kan aku sudah bilang,kamu tidak boleh bertanya. Aku tidak akan jawab!” Tegas Shakila kukuh dengan pendiriannya

Malih menyeringai”kalau begitu pulangnya Lo jalan kaki.”balasnya menang membuat Shakila berdecak

“Aku tidak tahu. Kamu tanyakan aja sama satpam”balasnya ketus

“Besok kamu tanyakan sama satpam”

“Yang butuh informasi siapa?. Kok jadi aku yang terlibat. Aku gak mau lagi berurusan ama kamu Malih. Terakhir kali aku ikutin kamu, hampir saja aku ke akhirat” cerocos Shakila menolak keras perintah Malih.

“Kalau gitu gak akan gue bantuin. Kalau ada yang ngancem Lo lagi” balas Malih santai,bersedekap. Menyanderkan tubuh di kursi, tidak peduli dengan Shakila yang mulai risau

Mengambil napas..

“baiklah.. “menghembuskan perlahan” untuk yang ini aku bantuin kamu. Tapi kamu harus bantuin aku. Kenapa surat ancaman itu malah tertuju padaku” tawar shakila mencoba bernegosiasi

Kepala malih mengut-mangut”oke gue setuju.”setuju Malih

Langkah dua orang berlari terdengar, hingga mereka terlihat jelas di mata Malih. Sepontan Malih langsung berdiri,apalagi ia melihat logo DSI di kerah satu orang berpakaian formal. Tampa banyak berpikir,Malih ikut berlari mencoba membantu rekan sesama DSI untuk menyelesaikan tugasnya.

“Bagus!. Gue butuh banget satu orang rekan kerja” ujar lelaki itu melihat Malih yang sudah bergabung untuk mengejar buronan

“Lo kejar di belakang, gue akan cegat mereka di depan” suruh Malih yang langsung di beri anggukan anggota DSI

Malih segera berbelok dan anggota DSI masih mengejar dua buronan dari arah belakang. Terlihat keyakinan teguh di wajahnya, karena ini adalah misi pertamanya di DSI dan ia tidak ingin mengecewakan semua orang yang sudah mendukungnya. Bahkan langkah larinya di percepat untuk semakin mengejar buronan

Dari arah lain Malih langsung berbelok bersamaan dengan dua pria yang hampir menyusul langkahnya.

Pletakk

Pletakkk

Terima Kasih Telah Membantu

Image Source

Dua lemparan sepatu milik Malih sudah mengenai sarasaran,hingga langkah lari mereka memelan. Cara ampuh menangani buronan untuk memperhambat mereka untuk kabur. Dan ya!, Cara itu berhasil. DSI 7 sudah bisa menangkap mereka walau harus dengan cara berkelahi,kemudian memborgol tangan mereka. dan Malih hanya melihatnya membiarkan DSI 7 itu mengatasi misinya sendiri.

DSI 7 menunduk” Terimakasih sudah membantuku. Saya bisa menyelesaikan misi pertama. karena anda” ucapnya berterimakasih bahkan senyumnya terlihat lebar

Setelah menyelesaikan urusan yang menyebabkan ia harus kejar-kejaran. Malih segera kembali ke bengkel, mungkin ban nya sudah selesai sekarang. Bahkan sejenak Malih lupa,kalau ia membawa Shakila

“Bisa gak sekali ini aja. Kamu gak bertindak membahayakan yang juga akan membawaku dalam bahaya”kesal Shakila yang sudah melihat kedatangan malih

“Terus?”sahut Malih tidak peduli. kemudian menghampiri orang yang sudah membenarkan motornya. Kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang di saku

“Makasih de” montir mengambil uang yang di sodorkan Malih,kemudian membereskan semua peralatan yang terlihat berantakan.

“Malih!. Aku akan laporkan kamu sama paman, kalau kamu sering buat masalah” ancam Shakila membuat kepala Malih menoleh

Sejenak Malih terdiam”laporin aja!” Timbalnya menghidupkan motor. kemudian menjalankannya meninggalkan Shakila yang cuma bisa menganga

“Malihhh!!!!!..tega kamu yah..”teriak Shakila menendang angin kemudian menangis,karena sekarang ia bingung pulang dengan menaiki apa. Handpond tidak di bawa, uang gak ada, akhirnya Shakila memutuskan berjalan kaki sambil menangis.

“Neng!”panggil seorang bapak-bapak menaiki motor,membuat kepala Shakila menoleh

Tangannya semakin erat memegang tali ransel nya” jangan takut. Tadi mas-mas itu, nyuruh bapak buat anterin neng pulang”sambung pria itu menjelaskan, namun masih menimbulkan ragu di hati Shakila

“Lihat?. Bapa di kasih uang 100.000 buat nganterin neng”sodor pria itu mengeluarkan selembar uang yang di kasih Malih,agar ia mau mengantarkan Shakila sampai kerumahnya.

Tangis Shakila langsung berhenti kemudian melihat ke arah Malih yang sudah pergi” dia itu memang gak bisa di tebak” batinnya. Kemudian memilih naik motor,karena ia pun tidak akan sanggup bila harus jalan kaki sampai ke rumah. Anggaplah Shakila sedang menurunkan egonya karena dalam ke adaan mendesak.

Ada Apa Dengan Vino


Zio terlihat sedang duduk di kursi kantor, terkadang ia akan memejamkan mata lalu membukanya lagi, berdiri dan duduk kembali. Wajahnya sudah terlihat jenuh, karena menunggu Malih yang belum kunjung datang.

“Assalamualaikum”pintu kaca itu terbuka memperlihatkan Malih yang langsung duduk di kursi

“Lo ingin buat gue jadi jamuran yah!”

Kepala Malih menoleh. Namun tidak lama hingga ia kembali melihat tasnya untuk mengambil semua data-data yang sudah mereka catat di ruang guru”pak angry bird udah datang?” Tanya Malih,tidak merespon ucapan zio

“Belum!.”sahut zio masih menampangkan wajah kesal

“Gue udah nemuin beberapa orang yang gue curigai adalah pelakunya” jelas Malih mengeluarkan data-data yang sudah ia kumpulkan di atas meja

Merasa mulai serius,zio pun ikut menyimak apa yang akan di bicarakan Malih. Matanya melihat data-data yang Malih kumpulkan tampa sepengetahuannya.

Maklum,Malih tidak akan menyia-nyiakan waktunya begitu saja. Jadi tidak salah, dalam waktu dua tahun. Malih sudah berada di tingkat DSI 5. Apalagi pemimpin pusat sudah memuji kemampuannya. Bisa jadi, dalam waktu tiga tahun Malih mampu menaiki tingkat DSI 2.

“Lo lihat data-data ini. Ini data Dimas. Ini data Vino dan ini data dua korban “tunjuk Malih ke arah kertas di hadapannya

“Kenapa vino di bawa-bawa?”heran zio karena vino tidak mungkin jadi tersangka kalau jadi korban zio percaya

“Lo jangan liat luarnya aja. Siapapun bisa jadi tersangka. Gue emang sebangku ama vino, dia juga gak pernah ngelakuin macem-macem yang aneh. Tapi, ada beberapa hal yang buat gue masukin dia jadi tersangka” jelas Malih dengan tatapan menyelidik

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *