Cerpen : Romantisme Cinta Part 09

“Kalau kalian tidak ingin memberi keterangan. Dengan terpaksa kami jadikan kalian tersangka utama!” Suasana langsung menegang. bahkan bibir Nia langsung bungkam. serasa ingin menyabut semua ucapan yang sudah ia lontarkan ke pada anggota DSI. Sedangkan Shakila, memilih tidak peduli. apalagi ia sudah berjanji pada ayahnya, tidak akan ikut campur lagi urusan DSI dan ia pun masih trauma akibat kejadian itu.

“Anda tidak bisa mengancam kami. Karena kalian pun tidak punya bukti, kalau kami adalah tersangka utama”sahut Shakila kembali berjalan pergi bahkan ia meninggalkan Nia di dalam ruangan seorang diri.

Dengan gugup Nia berbalik, kini ia kurang setuju dengan pendapat Shakila. Dari pada di sebut tersangka, Nia lebih baik memberikan informasi yang ia tahu. Ya..informasi, hanya informasi. dan ia tidak akan terjun lebih jauh lagi dalam membantu penyelidikannya.

Kepala Nia menunduk dalam. Tenggorokannya terasa kering, bahkan ia tidak yakin. Apa ia bisa menceritakannya” jadi..siapa itu Syifa?. Ceritakan secara detail apa yang kamu tahu” pintanya terdengar dingin dan menyelidik bagi Nia

“Namanya Syifa Anisa Rahma . Dia lulusan angkatan kemarin tapi dia masih aktif dalam organisasi sekolah. Dia juga pengawas atau kaki kanan pak Sulaiman. Jadi,kalau pak Sulaiman sibuk, kak Syifa akan menggantikannya”kepala Nia mendongkak” aku hanya mengetahui sampai situ” sambungnya gugup menggepal tangannya di atas paha

“Apa kamu kenal Hana?” Kini zio yang bertanya

Nia mengangguk “kami hanya saling kenal. Tapi tidak berteman”

“Apa dia aktif di organisasi?”tanya Malih dan langsung mendapat anggukan dari Nia

“Sebelumnya terimakasih,karena telah membantu kami. Dan titip salam juga ke pada sahabatmu, katakan salam dari DSI 5” sambung Malih tersenyum simpul.

(Kata DSI 1 salam juga buat pembaca  next)

Setelah cukup mendapat informasi. kini mereka tinggal mendata dan menyimpulkan beberapa hal yang mengganjal di setiap informasi yang sudah di berikan Nia. Ada beberapa hal yang mengganjal di pikiran Malih dan itu juga di rasakan zio

“1. kejadian tempat bunuh diri berada di tempat yang sama 2. Orang yang bunuh diri itu adalah orang-orang yang aktif dalam organisasi 3. Bungkusan permen yang mencurigakan

Kening zio mengerut,dengan cepat merebut kertas dari malih. Kemudian menghapus point ke tiga “kita tidak mungkin melaporkan bungkus permen” katanya tidak setuju dengan kesimpulan Malih

“Nyatanya bungkusan permen itu mencurigakan” rebut Malih kembali menulis poin tiga namun dengan cepat di rebut kembali zio

“Biar aku yang nulis!”putus zio menghalangi Malih yang ingin kembali merebut kertas laporan

Malih menghela nafas kasar, membiarkan zio menulis laporannya. Apalagi sebentar lagi,mereka harus kembali ke kantor untuk mengirimkan laporan.

Pesan Kaleng Untuk Shakila

Bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa-siswi sudah berhamburan ke luar kelas. Bahkan ada yang masih penasaran dan memilih kembali ke tempat kejadian. Mungkin hanya Shakila yang masih berdiam diri di dalam kelas, bahkan ia baru memasukan kembali buku-buku ke dalam tasnya.

Pletakkk

Suara lemparan batu terdengar,membuat kepala Shakila menoleh ke arah sumber suara. Jatungnya mulai berdebar ketika langkah kakinya mendekat ke arah batu yang di gulung kertas dan di eratkan dengan karet gelang merah.

Tangannya perlahan mengambil batu di lantai. Kemudian melepaskan ikatan gelang Karet dengan perlahan. Jantungnya semakin berdebar-debar, seiring membuka kertas putih dan bahkan batu itu sudah jatuh ke lantai menggelinding entah kemana

“Astagfirullah!!!!”kertas yang tadi di pegang Shakila sudah terlempar ke depan. Badannya langsung bergetar hebat saat aksara tulisan merah mampu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak

Wajahnya sudah pucat pasi,matanya tak bisa berkedip bahkan tangannya sudah bergetar

“Shakila!” Sapa seseorang. Sukses membuatnya langsung terlonjak kaget ke belakang

“Ma-malih”

Sebelah halis Malih menaik, hingga tatapannya langsung menangkap kertas putih dengan aksara merah ” DATANGLAH KE LANTAI DUA SHAKILA!!” . Ekor matanya melirik Shakila yang sudah gemetar ketakutan. Surat di tangannya cukup membuat Malih terkejut, untuk sementara Malih menyimpulkan kalau ini ada hubungannya dengan kejadian sebelumnya

“Kamu segera pulang. Pastikan jangan kemana-mana. Tunggu!,biar aku telepon paman untuk menjemputmu” pinta Malih segera mengambil hp nya di saku

Shakila masih diam. membeku. tidak mampu bergerak, bahkan berucap. Ia sungguh-sungguh ketakutan,dengan isi surat yang sudah benar-benar membuat jantungnya berhenti berdetak”malihh..”lirih Shakila gemetar,bahkan matanya sudah berlinangan air mata..

“Tenanglah Shakila. Ku pastikan kau akan aman, berdo’alah Kepada Allah” tenang Malih sambil menelepon paman berkali-kali namun masih belum mendengar jawaban

Pletakkk

Lagi-lagi batu di lempar membuat Shakila Kembali ketakutan. Bahkan Shakila sudah berjongkok takut, kedua tangannya menutup telinga, menghilangkan suara-suara lemparan batu yang terasa terus terngiang-ngiang di telinga.

Malih kembali membawa batu dan ia sudah mendapat tulisan yang sama yaitu DATANGLAH KE LANTAI DUA. Sudah jengah dengan siapa yang melempar ancaman, mata Malih mengedar ke sekeliling kelas yang terlihat sepi. di belakangnya sudah berdiri Shakila yang masih ke takutan

“Kalo Lo berani. keluar!. Gue tau Lo disini!!”teriak Malih tegas . Suara kursi terdengar bergeser, disusul dengan suara langkah lari yang cepat. Repleks, membuat Malih langsung menoleh ke belakang ingin mengejar

“Malih!!. Jangan tinggalkan aku!.” Cegah Shakila yang takut di tinggal sendiri. tangisnya semakin kencang, mengurungkan niat Malih untuk mengejar orang itu

“Point’ satu terjawab. Mereka di celakai, bukan bunuh diri”batin malih

Setelah terdiam dalam keheningan. Dengan pikiran masing-masing. Kepala Malih menengok ke arah Shakila yang masih menangis,bahkan tangisnya semakin menjadi-jadi. Dari dulu memang Shakila tidak bisa berubah, sedikit saja di ganggu maka tangisan jawabannya.

Niatan ingin pergi,apalagi Malih harus kembali ke kantor. tapi melihat Shakila, membuat ia menjadi menimang-nimang keputusan mana yang benar. Mengantar shakila, pasalnya hanya berdua dan Malih tidak ingin ada syaitan di antara mereka. Tidak mengantar shakila, melihat kondisi Shakila yang juga dalam bahaya membuat kepala Malih di buat pening.

“Biar ku antar!”putusnya dengan bismillah dalam hati. Berharap kalau Allah mau mengampuni dosanya, karena ia harus menjaga anak paman dan bibinya ini.

Kepala Shakila mengangguk kecil. menolak pun ia tidak bisa, karena ia benar-benar di buat takut dengan ancaman itu.

Shakila dan Malih

Mereka pulang menggunakan motor. Bahkan jarak duduk Shakila dan Malih bisa di tempati anak kecil satu orang. Sedari tadi Shakila diam. tidak ingin banyak bicara, bertambah Shakila malu karena sudah sangat kasar pada Malih pas di kantor guru tadi. Tapi, Malih masih mau menolongnya. mungkin juga bisa jadi..karena memang itu tugas Malih sebagai DSI.

“Terimakasih” ucap Shakila ragu-ragu. bahkan, terdengar malah seperti bisikan di telinga Malih

Kepala Malih hanya mengangguk. tidak menjawab. Seperti biasa ia akan terlihat dingin, bahkan baru saja Shakila memujinya dalam hati. namun sekarang, sudah berubah jadi gerutuan tidak jelas.

Bledakkkkkk

Ledakan kecil terdengar, hingga suara ban kempes perlahan terdengar tidak mengenakan di telinga keduanya. Tangannya segera menekan rem, setelah berhenti di pinggir jalan. Terdengar helaan napas berat, sebelum ia turun dari motor untuk mengecek keadaan motornya yang ia yakin dalam keadaan tidak baik.

“Apa yang terjadi?. Apa ban nya meledak!” panik shakila yang langsung di beri anggukan kecil Malih

Sejenak Malih menoleh ke belakang, melihat Shakila sedang memeluk tas ransel di pelukannya” aku akan mencari bengkel. Kamu tunggu di sini, dan pegang hp ku!. Kalau ada apa-apa telepon saja orang-orang yang ada di kontak hp, di sana ada banyak nomor DSI bukan nomor penggosip. Dan juga pulsa ku banyak,jadi kamu tidak perlu cemas”tutur Malih seperti sedang meledek Shakila yang hanya banyak menyimpan no telepon teman-teman wanita dan jujur saja dia juga paling malas isi pulsa.

“Kenapa aku merasa kau malah menyindirku!” Selidik Shakila kesal,tidak terima dengan penuturan Malih .

Malih mendengus kesal” pegang saja!. Jangan banyak bicara.” Hp Malih langsung di berikan pada Shakila, karena tidak ingin terus berdebat. Tidak banyak membuang waktu, Malih segera mendorong motornya.

Sedangkan Shakila masih terdiam di pinggir jalan, tatapannya melihat Malih yang sudah agak jauh. Jalanan terlihat sepi, bahkan sudah di kategorikan menyeramkan. Bagi Shakila,yang memang penakut!. Kepala Shakila menoleh kembali ke arah Malih, hingga ia memilih memutuskan berlari mengikuti Malih untuk ke bengkel.

Langkah Mali terhenti,ketika ia tahu ada yang mengikutinya”bukannya aku sudah bilang tunggu di sana!” Kesal Malih walau masih terlihat tenang .tapi, Shakila tau Malih sedang kesal karena perintahnya tidak di turuti.

Tangan shakila makin memeluk erat tasnya dengan takut”aku takut sendirian..” keluhnya kecil

“Tidak akan ada yang menculikmu di sana. Pencuri pun akan berpikir ulang, mencuri gadis cengeng sepertimu!”

Mata Shakila mulai kembali berlinang air mata” aku-takut hiks”isaknya mulai menangis membuat Malih menunduk pasrah pada akhirnya ia membiarkan Shakila mengikutinya dari belakang

“Berapa tahun kau menekuni tugas sebagai DSI?. Apa menyenangkan?. Atau menyeramkan?. Bagaimana cara kamu bisa masuk ke sana?. Apa____”

“Berhentilah bertanya!. Pertanyaanmu itu seperti petasan!,membuat telingaku jadi sakit!.”pinta Malih dingin. membuat Shakila mengerucutkan bibirnya kesal.

Di sepanjang perjalanan Shakila terus bertanya, membuat telinga Malih terasa terganggu. Apalagi pikirannya masih memikirkan solusi dari setiap konflik yang terjadi, dan mencoba menyambungkan setiap penjelasan hingga menjadi satu cerita yang utuh.

“Malih!” Panggil seseorang membuat Malih menghentikan langkahnya kemudian berbalik, begitupun Shakila

Bersambung ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *