Cerpen : Romantisme Cinta Part 08

“Sekarang waktunya menyelidiki” seringai Malih kembali berjalan. Orang-orang semakin banyak berkumpul di halaman sekolah. Kepala nya menanggah ke atas,sinar mentari cukup menghalangi padangannya, hingga ia mengangkat tangannya agar bisa melihat dengan jelas lantai dua tempat korban terjatuh. Atau mungkin juga bunuh diri. Yang pasti belum ada yang tahu, sebelum Malih bisa ke lantai dua dan memeriksa langsung ke TKP.

Langkah kakinya semakin mendekat ke arah kerumunan, membelah kerumunan menjadi dua bagian. Disana sudah terpasang garis polisi membatasi sekitar daerah tempat korban jatuh, dan juga garis putih yang menggambar seorang manusia sedang tengkurap, mungkin untuk melihat posisi korban agar mudah menyelidikinya. karena tidak mungkin harus membiarkan mayat dalam posisi sama tampa ada pertolongan.

“Maaf. Anda tidak boleh melewati batas polisi”tahan salah satu polisi yang terlihat gendut, ketika langkah Malih semakin mendekat ke lokasi

Tangan Malih merongoh saku,kemudian menunjukan tanda pengenal sebagai petugas dari DSI. Masih belum yakin, polisi itu mengambil kartu Malih,kemudian menunjukannya pada atasannya yang sedang berdiri,dengan tatapan yang masih fokus melihat tempat korban jatuh.

“Lapor pak!. Petugas DSI sudah datang ke lokasi, beliau menunjukan kartu ini sebagai bukti” lapor petugas polisi

Polisi itu menoleh,kemudian melihat kartu yang di sodorkan ” Dia DSI, biarkan dia masuk” jawabnya cepat tanpa ada jeda di setiap perkataanya

“Silahkan masuk pak. Ini kartu bapak”sodor polisi muda itu sopan.

Tanpa banyak bicara. Malih segera mengangkat pembatas polisi, lalu menundukan kepala untuk masuk ke dalam. tatapan nya kembali melihat lantai dua lalu turun ke bawah, ke gambar yang di lukis polisi

“Assalamualaikum detective. Apa anda mau menyelidiki lokasi kejadian?” Tanya salah satu polisi yang terlihat sudah tua. terlihat dari uban-uban yang tidak bisa membohongi umurnya walau wajahnya tidak banyak memiliki kerutan.

“wa’alaikumsalam”balas malih “dari jam berapa bapak ke sini?”tanya Malih memasukan dua tangan ke saku jaket

Polisi itu terlihat berpikir” kami datang sekitar jam 05.30″ kemudian melihat rekannya”benarkan?. Kita datang jam 05.30″ tanyanya lagi,karena ia tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

“Siapa yang melapor?”

“Ada seorang petugas kebersihan yang melapor kepada kami dengan suara yang terdengar panik. Dan kami segera datang ke tempat lokasi”

Kepala Malih memangut-mangut” apa dia tahu detail bagaimana jatuhnya korban?”

“Tidak. Petugas kebersihan itu hanya mengatakan “saat saya baru datang ke sekolah pagi-pagi untuk membersihkan halaman sekolah,saya sudah menemukan korban sudah jatuh dengan ke adaan mengenaskan” jelas kepala polisi itu sambil mengingat-ingat percakapannya

“Seperti apa ciri-cirinya?”

Menyelidiki Pelaku

“Badannya kurus, agak tinggi mungkin sekitar 150 cm. Rambutnya agak keriting, dan kulitnya sawo matang” sekarang polisi di sebelahnya yang menjawab pertanyaan Malih.

“Apa dia punya tahi lalat di dagunya?” Tunjuk Malih ke tempat di mana tahi lalatnya berada

Sejenak polisi itu terdiam sebelum mengangguk membenarkan” yah..kalau tidak salah dia punya tahi lalat di dagunya, letaknya sama seperti itu”

Sudah mendapat jawaban yang ia inginkan. Kaki Malih mendekati tempat jatuh korban, kemudian berjongkok. Di sana masih terlihat bercak darah yang belum di bersihkan,

“Gue udah meriksa di lantai dua gak ada yang mencurigakan” ujar seorang di belakang Malih membuatnya berbalik

Penyamaran bagus!. Zio memakai masker, jaket panjang selutut dan topi yang menutupi wajahnya. dia seperti detektif Conan . ” Gimana penampilan gue?. Setelah pemimpin memuji gue. Buat gue ingin memaksimalkan pakaian gue supaya seperti detektif” katanya sambil bergaya ala detektif dengan tangan kanan memegang topi dan tatapan seperti menyelidik

“Lo yakin gak ada bukti sama sekali. Coba Lo cari lebih teliti, gue yakin ada sidik jari yang bisa jadi bukti” alih Malih tidak peduli dengan ocehan zio. Wajah zio berubah masam melihat respon Malih yang tidak peduli

Dengan malas zio ikut berjongkok” tapi coba deh Lo liat, dari gaya dia jatuh, agak kurang wajar. kalau emang dia bunuh diri dia gak akan tengkurap kaya gini. Okhe mungkin bisa aja tengkurap. Tapi lihat tangannya juga kaki kanan dan kaki kirinya yang ngangkang ,kalau bahasa gue yah..kaya dia gak mau jatuh aja”

“Di dorong”lanjut malih yang di beri anggukan zio

“Gue juga berpikir ke sana. Yang gue pikirin sekarang, kenapa alumni siswi itu jatuh di tempat yang sama kaya Hana . Dia jatuh disini dan itu pas disini” tunjuk Malih ke arah gambar

“Gue belum nanya sama polisi siapa namanya?. Katanya alumni sekolah kita” tambah Malih mencatat hal-hal penting di ingatannya

“Namanya Syifa dia alumni tahun kemarin”

Bagai kode Malih langsung menoleh ke arah zio, ingatannya berputar pada beberapa hari yang lalu saat dia di ruangan karate” gue tahu. Dia mana kita bisa mendapat informasi secara jelas” sahut Malih berdiri di ikuti zio yang malah bingung

***

Suasana di kelas terdengar ramai. bahkan yang di bicarakan mereka, seputar alumni siswa yang jatuh tadi pagi. Sedangkan Shakila memilih melihat ke luar jendela, hati Shakila yakin kalau Malih dan zio sedang menyelidiki kasus bunuh diri

“Kenapa kak Syifa bunuh diri. Aku rasa itu gak masuk akal” pikir Nia yang ikut penasaran dengan Syifa yang sempat mereka temui di ruang karate

Shakila menoleh” polisi sedang menyelidikinya. Sebaiknya kita gak usah banyak mikirin kejadian aneh di sekolah”peringatan Shakila mengingat ia sudah kapok dengan kejadian kemarin

“Gini yah. Kemarin siswi kelas sebelah ada yang bunuh diri di lantai dua. Dan sekarang juga ada yang bunuh diri di lantai dan tempat yang sama. secara logis aja yah, kalo aku mau bunuh diri kenapa gak di atas gedung aja sekalian. kenapa harus di lantai yang sama dan tempat yang sama. Iya kan?” Jelas Nia panjang lebar” jangan-jangan tuh lantai ada hantunya”gidik Nia ngeri membuat mata Shakila berputar jengah

“Shakila,Nia kalian di panggil ke ruang guru” Ucap seorang wanita berambut pendek. Sudah menyampaikan amanat, wanita itu kembali berjalan pergi.

“Apa kita buat masalah?”panik Nia menangkup ke dua pipinya cemas

“Sebaiknya kita ke ruang guru. Sebenarnya..aku juga penasaran, kenapa kita di panggil”ajak Shakila menarik tangan Nia untuk pergi ke ruang guru.

Kami Yang Memanggil Kalian

Di ruang guru terlihat sepi. Tidak ada tanda-tanda orang di dalam. Dengan keberanian Shakila masuk ke dalam, hingga ia berhenti di salah satu meja, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat yang tidak ia temukan sesosok orang yang memang ingin menemui mereka.

“Kurang asem kita di kerjain!!” Dumel Nia menggebrak meja kesal, membuat Shakila menoleh

Telunjuknya di tempelkan di bibir”diamlah!. Mungkin guru sebentar lagi datang” ucap Shakila karena mendengar Nia yang terus menggurutu kesal

“Datang dari mana!. Kita udah dari tadi di sini”sewot Nia melotot tanpa sadar pintu ruang guru sudah terbuka

“Kami yang memanggil kalian” kata seseorang membuat keduanya langsung menoleh

Sebelah halis Shakila terangkat”aku tahu mereka Malih dan zio. Buat apa mereka memanggil kami?” Batin Shakila heran

Tubuh Malih sudah duduk di salah satu meja kursi guru. Wajah Nia masih mengguratkan rasa penasaran, karena memang ia tidak mengenali siapa orang di hadapannya. Alasannya karena Malih memakai masker dan topi yang menutupi sebagian wajahnya

“Kami dari DSI 5 dan 6. Kami ingin bertanya sesuatu pada kalian?” Malih sudah mulai pembicaraan, membuat keduanya menatap Malih

“Anda tidak bertanya. Apa kami mau bicara dengan anda atau tidak” kini shakila yang bicara dengan sorotan mata tak suka

“Kalian jangan menyulitkan kami. Dan kami sangat berharap kalian mau bekerja sama. Supaya kami bisa memecahkan kasus ini dengan cepat” timbal Malih melirik Shakila yang terlihat enggan untuk berlama-lama diam di kantor untuk bicara dengan Malih

Mereka memilih diam, bahkan dua kursi yang di sediakan zio tidak membuat kedua gadis itu ingin mendudukinya. Sekedar untuk duduk menghilangkan pegal karena terus berdiri.

“Kami tidak ingin berurusan dengan hal apapun. Dan kami tidak ingin memberi keterangan apapun” balas Nia kukuh yang menyetujui sahabatnya yang juga tidak ingin berlama-lama.

Mereka berdua berbalik ingin pergi. Zio yang sejak tadi diam akan berdiri untuk mencegahnya sebelum Malih menghalanginya dengan sebelah tangannya

“Kalau kalian tidak ingin memberi keterangan. Dengan terpaksa kami jadikan kalian tersangka utama!”

Bersambung…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *