Cerpen : Romantisme Cinta Part 05

Suara langkah kaki terdengar bersusulan manaiki tangga. Lantai bawah tempat biasanya di datangi beberapa orang terlihat sepi dan hening. hanya ada suara kertas yang berterbangan ke bawah lantai. Kursi,meja sudah tidak berjajar dengan rapih, semua berantakan dengan percikan darah yang terlihat mewarnai lantai.

“Berpencar!. Kalian ke kanan dan kalian ke kiri. Sisanya cari orang-orang yang masih bersembunyi!!” Perintah salah seorang atasan dengan senapan yang mampu menembus jantung dalam satu tembakan.

Semua anggota mengangguk,kemudian segera berpencar ke arah yang sudah di tunjukan. Ketua itu berjalan perlahan dengan tatapan mengedar ke sekeliling tempat, memastikan kalau masih dalam situasi aman.

Di kolong meja terdapat dua orang yang sedang bersembunyi, terlihat percikan darah pada kemeja putihnya. wajahnya sudah di penuhi keringat yang sudah bercucuran,raut cemas dan tegang terlihat jelas, jantungnya bahkan sudah berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Apa yang harus kita lakukan”bisik wanita itu yang juga terlihat cemas

Kepala pria itu menyembul ke luar,sekedar mengintip kalau situasi aman. Hingga helaan nafas lega terdengar,karena ruangannya sudah aman”kita tunggu bantuan dari tim pusat. Lagian..sebentar lagi Malih,zio dan Laila akan kembali ke kantor” jawab pria itu tidak kalah berbisik

Mobil hitam berhenti cukup jauh dari kantor, yang memang terdapat di tempat yang tidak banyak penduduk. Apalagi sekelilingnya di kelilingi pohon rindang, sehingga kantor besar itu tidak terlihat.

Sengaja mereka membangun kantor di tempat yang sepi. Selain karena untuk menjaga rahasia dan juga karena sering terjadi kedatangan musuh yang tidak terduga, dari pada meresahkan warga jadi kantor itu memilih berada di tempat yang bersembunyi.

“Kenapa berhenti?”tanya zio melihat Malih yang terlihat fokus menatap lurus ke arah kantor

Tidak ada jawaban,Malih masih terdiam” ayoo jalan. Kita harus segera balik ke kantor”kini Laila yang bersuara dengan suara lemah. badannya di sandarkan di tubuh Shakila karena tidak bisa duduk dengan tegak.

“Sepertinya terjadi penyerangan dadakan” ucap Malih membuat zio menoleh kaget” lihat?. Keadaanya lebih sepi dari biasanya” tambahnya lagi menunjuk sekeliling kantor.

“Benar juga tidak biasanya sesepi ini” setuju zio” apa yang harus kita lakukan?”tanya zio panik

Malih meninjak gas secara perlahan, membuat mobil berjalan dengan pelan di pinggir jalan “bagikan senjata yang kita punya dalam mobil. Termasuk Shakila” suruh Malih dingin, yang langsung di setujui zio

“Aku tidak bisa berkelahi lagi. Badanku sudah lemah”sahut Laila memegang lengan kananya yang sudah di perban oleh Shakila

Merasa situasi tidak mengenakan,Shakila memilih bertanya” Ada apa ini?”tanyanya kecil, sedikit was was melihat Malih dan zio yang terlihat tegang

Zio menoleh ke belakang lalu memberikan senjata”Kamu pegang ini. Kalau ada sesuatu, tembakan dengan menekan pelatuknya. Tapi hati-hati,pistol ini akan mampu membunuh orang dalam sekali tembak” jelas zio membuat tangan Shakila sukses bergetar

“Un-tuk apa?” Tanyanya gemetar hebat

Suasana Kritis

“Terjadi serangan mendadak di kantor. Kami juga harus membawa Laila untuk di obati, jadi kamu harus bisa menjaga diri” balas zio pelan

“Dia ikut gue . Lo bawa Laila aja ke ruang kesehatan” putus Malih Tanpa ingin di bantah

“Dia akan menaruh nyawa,kalau ikut sama Lo !”tolak zio tidak setuju

Sesaat mereka terdiam hingga Malih kembali membuka suara” Kalau dia meninggal. Gue juga ikut meninggal” sahut Malih membuat Shakila di buat syok

“Itu sebabnya gue gak mau ajak dia. Sekarang Lo ngerti!” Kata Malih sedikit tegas, membuat Laila tertunduk bersalah

“Maaf Shakila. Ini semua karena ku” sesal Laila bersalah dan Shakila hanya diam. ia tidak mengerti dengan situasi apa yang ia hadapi sekarang

Mobil berhenti di pinggir jalan dekat kantor. Malih tidak memparkinkan mobil di area parkir karena sangat berbahaya. Mata Malih melirik kantor yang sudah jelas ia lihat dan tebakannya benar sudah terjadi penyerangan. suasana kembali tegang, apalagi tubuh Shakila sudah bergetar takut,bahkan ia tidak bisa memegang pistol dengan baik.

“Kalian bawa mobil. Shakila dan gue akan turun di sini” perintah Malih sambil membawa senapan yang ia simpan di dekat kursi

Badan zio tidak bergerak,kepalanya menoleh ke arah Malih” gue tau Lo khawatir sama shakila. Mening Lo sama gue aja yang turun”saran zio karena kurang setuju dengan pendapat Malih

“Mereka udah Ngepung kita. Kalau kita balik lagi, mereka udah jaga di ujung jalan. Kalau gitu sama saja kita bunuh diri” jelas Malih

“Di sini yang bisa bela diri cuman tiga orang gue,Lo sama Laila. Lo lihat sendiri kondisinya sedang lemah, gak mungkin Laila bisa melawan mereka” sambung Malih melihat Laila yang sedang merintih sakit

Zio terdiam, bagaimana pun kedua keputusan itu sangat beresiko “kita turun bareng kalau gitu. Gak ada penolakan!” Putus zio membuat Malih mendesah sabar

“Lo mau Laila bunuh diri. Kan gue udah bilang kalau Laila gak bisa berkelahi. Atau gini aja biar gue sendiri yang turun. Lo sama sahakila dan Laila pergi dari sini” perintah Malih yang langsung turun dari mobil tidak memperdulikan panggilan zio yang khawatir

“Dia pergi?” Tanya Laila lemah.

Zio mengangguk” dia akan lakuin apapun,asal sahabatnya selamat. Lo tahu juga kan” sahut zio

“Lo pergi aja ama Malih. Kalau ngemudi mobil, gue masih bisa” saran Laila. Kemudian berdiri lalu melangkah ke depan, tangannya sudah memegang setir mobil

“Lo yakin?” Ragu zio yang langsung di beri anggukan yakin laila

Badan Malih bersembunyi di balik dinding. di halaman parkir,disana sudah ada dua orang yang sedang berjaga di tempat parkir. Senapannya ia masukan ke saku, setelah mengambil napas Malih langsung berjalan ke depan.

Melihat kedatangan Malih, pengawal langsung mengambil ancang-ancang. Melihat pengawal yang ingin mengambil senapan dengan segera Malih berlari, kemudian menendang dadanya membuat salah satunya langsung terkapar, dan saat itu juga langsung terjadi adu hantam. Bahkan pengawal yang tadi terkapar ikut menyerang Malih.

Tidak butuh waktu lama membuat dua pengawal itu sudah terkapar. Dan tidak lama juga muncul lagi lima orang pengawal bersenjata. Dengan cepat Malih mengambil pistol di saku, kemudian menodongkannya ke depan. Para pengawal ikut menondongkan senapan ke arah Malih dengan jarak agak jauh

“Gue gak akan bisa melawanya kalau gini”batin Malih was was

Dorr dorr dorrrr

Tiga pengawal tumbang ke tanah,karena tembakan pada kaki mereka. Di arah sebrang zio datang dengan senyuman miring, merasa sudah mendapat bantuan, dengan cepat Malih berlari untuk menyerang

Bugg satu pukulan sudah ia berikan, pengawal itu kembali melawan dengan memukul wajah Malih namun dengan cepat Malih menunduk hingga pukulan itu hanya meninju udara kosong.

Bugg bledaggg dengan tinju tangan dan kaki Malih kembali menumbangkan satu pengawal ke tanah. Melihat Malih fokus dengan salah satu pengawal. di belakang tubuhnya pengawal sudah ingin meninju Malih,namun dengan gerakan karate dengan cepat Malih membanting tubuh itu ke tanah

Nafas Malih terengah-engah,melihat zio yang juga baru menumbangkan salah satu pengawal “kita masuk ke dalam!” Ajak Malih kemudian berlari ke dalam di ikuti zio di belakang

“Pegangan Shakila!!. Mereka mengejar kita!” panik Laila melihat ke kaca mobil ada beberapa mobil yang mengejarnya

Keadaan Semakin Rumit

Shakila mengangguk paham,wajahnya sudah pucat pasi bahkan ingatannya hanya berputar pada ummi dan Abi nya di rumah “ummi aku takut” Isak Shakila membuat Laila jadi bertambah bersalah

Melihat tikungan,Setir mobil di belokan ke kanan ,membuat mobil berbelok tajam. Kaki Laila semakin kuat meninjak gas,karena mobil di belakang hampir mendekat. Merasa percuma terus mengemudi mobil, dan lagi di depan sana semakin banyak yang menghadang mereka. Dengan cepat Laila meninjak rem, lalu membuka sabuk

“Buka sabuk. kita akan keluar dari mobil!”suruh Laila yang langsung di teruti shakila

Dengan cepat mereka ke luar mobil. dan juga dengan kesakitan luar biasa laila berlari ke dalam hutan sambil menarik tangan shakila. Tentu para pengawal ikut mengejar mereka. Sesekali Laila menoleh ke belakang memastikan kalau jarak para pengawal masih jauh.

“Aku takut Laila…”Isak Shakila semakin keras, menyesali perbuatannya karena sudah berurusan dengan malih

Mereka makin masuk ke dalam hutan. Bahkan suara burung dan binatang sudah terdengar di telinga mereka. Tentu Shakila makin ketakutan, apalagi saat ia mendengar suara ular yang sedang bergelantung di pepohonan.

“Lailaaa” lirih shakila takut membuat Laila berbalik

Setelah yakin tidak ada lagi yang mengejar, dengan lemas Laila menjatuhkan tubuhnya di rerumputan lalu menyandarkan tubuhnya di bawah pohon rindang. Shakila ikut berjongkok,merapatkan tubuhnya dengan Laila.

Mata Shakila melihat sekelilingnya yang hanya ada pepohonan” Laila hutan apa ini?” Tanya Shakila sambil sesegukan karena sudah lelah menangis.

“Shakila tenanglah. Kita aman di sini, tolong ambilkan itu untukku” tunjuk Laila ke arah daun singkong

“Untuk apa?”tanya Shakila walau ia berdiri lalu memetik beberapa daun singkong

“Tolong kamu haluskan dengan batu” suruh Laila sambil membuka perban perlahan,karena sudah di penuhi dengan warna merah

Shakila mengangguk lalu menghaluskannya dengan batu, kemudian ia memetik daun yang agak lebar untuk wadahnya “seperti ini?” Sodor Shakila memperlihatkannya

Kepala Laila mengangguk”kemarikan. Aku akan menggunakannya untuk mengobati lukaku”pinta Laila kemudian mengambilnya lalu menempelkannya pada luka

“Aargg”jerit Laila kemudian merapatkan bibirnya agar tidak berteriak

“Apa kamu yakin baik-baik saja?” Tanya Shakila cemas yang di beri senyum kecil oleh Laila

Suasana kantor terlihat sangat berantakan. Bahkan terdapat bercak darah di lantai. Jantung Malih sudah berdetak cepat, dengan keringat bercucuran di pelipisnya. Langkahnya berjalan pelahan sambil mengawasi sekitar takut ada ancaman yang tiba-tiba datang

“Awassss malih!!” teriak zio membuat Malih langsung berbalik

Dorrrr

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *