Cerpen : Romantisme Cinta Part 03

Brakkk

Dengan marah Shakila menyimpan tas di atas meja dengan kasar. Wajahnya masih mengguratkan rasa marah. Hidungnya bahkan sudah kembang kempis saat ingatannya mengingat kejadian saat ia di hukum guru BP untuk membersihkan toilet. Nia yang tahu dengan kondisi sahabatnya sedang tidak baik, memilih melanjutkan permainannya. Walau ia bertanya, dikhawatirkan gunung berapi itu akan meletus, dan ia akan terkena laharnya.

Matanya mulai menyipit tajam, saat ia melihat Malih dengan tenang masuk ke dalam kelas. Bahkan Malih sekilas melihat Shakila. Namun dengan cuek ia tidak memperdulikannya, ia memilih segera duduk di tempatnya. Tidak lama guru masuk ke dalam kelas. Di tangannya memeluk beberapa buku tebal, lalu menyimpannya di atas meja.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” salam guru melihat seluruh muridnya yang duduk dengan rapih. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh” balas semua siswa-siswi serempak

Guru Gian berbalik, lalu menulis sesuatu di white bor ‚ÄúSTRUKTUR SOSIAL MASYARAKAT” setelah menulis judul pembelajaran. Gian kembali melihat semua siswa-siswi, terutama Malih yang juga ikut memperhatikannya. Kejadian tanya jawab kemarin masih membuat Gian penasaran untuk menguji lebih lanjut kecerdasan Malih.

“Oke murid-murid sekarang saya akan menjelaskan secara ringkas. apa itu struktur sosial masyarakat”

Gian mulai menjelaskan, beberapa point penting tentang materi yang dipelajari. Semua siswa-siswi dengan cepat menulis, walau ada beberapa orang yang memilih melihat kepada temannya karena bingung untuk menyimpulkan secara ringkas, apa yang Gian uraikan.

“Sudah. Sekarang bapak akan test kalian satu persatu” kata Gian membuat semua siswa-siswi jadi tegang. Bahkan yang baris belakang ada yang menunduk di balik punggung teman agar tidak terlihat oleh Gian.

“Jelaskan struktur sosial masyarakat menurut George C. Hombas. Vio ayo jawab!” Tunjuk Gian pada gadis yang semenjak tadi terlihat tenang

Vio celingak-celinguk melihat semua orang sudah menatapnya penuh harap. Berharap semoga bisa menjawab pertanyaan, Jadi tidak perlu lagi dilempar ke orang lain.”a-aku tidak tahu pak” tunduk Vio menutup wajahnya dengan buku hingga hanya terlihat mata

“Kalau begitu kamu Dion!” Tunjuk lagi Gian. Membuat Dion tersentak

“Apa jawabannya?” Tanya Dion panik menanyakan ke temanya yang berada di sebelah.

“Aku tidak tahu” bisiknya yang ikut bingung. Karena ia pun tidak keburu menulis semua penjelasan yang diuraikan Gian

Merasa tidak ada yang bisa menjawabnya, membuat Gian menggeleng kecil” siapa yang bisa ayo jawab” pinta Gian melirik semua siswa-siswi “kalau tidak ada yang bisa jawab. Bapa akan membuat ulangan dadakan hari ini?!” ancam Gian membuat siswa-siswi langsung panik

“Saya bisa menjawabnya pak” unjuk Shakila meninggikan tangan kanan ke atas

Gian menoleh lalu tersenyum “silahkan jawab”

“Menurut George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.”

Struktur Sosial Menurut Para Ahli

Gian mengangguk, membenarkan penjelasan Shakila. Hal itu membuat semua orang bernafas lega” sekarang coba sebutkan menurut para ahli di Indonesia?. Siapa yang tahu boleh acungkan tangan, jangan kalah dengan Shakila” kata Gian kembali melihat semua muridnya

“Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi Struktur sosial adalah keseluruhan hubungan antara unsur-unsur sosial yang pokok, yaitu lembaga-lembaga sosial, kaidah-kaidah sosial atau norma-norma sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial.” Jelas Malih melihat Gian yang langsung tersenyum, karena pancingannya sudah dimakan

“Ada lagi?”

“Pengertian struktur sosial menurut Abdul Syani yaitu suatu tatanan sosial dalam kehidupan bermasyarakat yang merupakan jaringan dari unsur-unsur sosial yang pokok atau dasar”

“selanjutnya adalah Pengertian struktur sosial menurut D. Hendropuspito struktur sosial yaitu suatu skema penempatan nilai-nilai sosio-budaya dan organ-organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai, agar organisme masyarakat berfungsi sebagai suatu keseluruhan, dan demi kepentingan tiap-siap bagian untuk jangka waktu yang cukup lama.” Jelas nya kemudian langsung terdiam. Karena semua siswa-siswi di kelas, hanya mampu melongo tampa bisa berkata apa-apa

“Aku membaca di buku tadi” tambah Malih mengangkat buku membuat semua orang langsung berdecak,berfikir kalau Malih memang menjawabnya tampa melihat buku

Gian terdiam, tidak mudah percaya dengan apa yang di ucapkan Malih. Saat menjelaskan, mata Malih terlihat tidak berada dalam satu titik.

Bila memang Malih membaca buku ,maka matanya akan fokus melihat satu titik. terkadang ia akan melirik ke kanan atau ke kiri,itu membuktikan kalau Malih tidak membaca buku. Walau kepalanya tidak bergerak, tapi matanyalah yang bergerak.

“Pak boleh saya permisi” ijin Malih berdiri yang di beri anggukan Gian.

Dengan langkah cepat malih keluar kelas, jatungnya sudah berdetak cepat. Lagi-lagi ia sudah kebablasan menjawab semua pertanyaan. melihat tatapan Gian tentu Malih bisa menyimpulkan ada tatapan menyelidik di setiap tatapannya. Dan itu benar-benar membuat Malih khawatir.

“Kenapa Lo di luar kelas?”sapa zio menepuk pundak Malih

“Gue menjawab semua pertanyaan pak Gion . Kelihatan banget dia curiga sama gue” panik Malih, kemudian berjalan pergi di ikuti zio di sisinya

Bahu zio terangkat “kalau menurut gue itu bukan masalah. Udahlah..biarin semua orang tahu kepintaran elo. Walau Lo menyembunyikannya, pasti akan ketahuan juga” saran zio enteng, namun malah membuat Malih bertambah cemas

Yang selama ini Malih khawatirkan terjadi juga, semua orang mulai menyadari kelebihannya. Selama ini, Malih menyembunyikannya dari semua orang. Alasannya karena ia tidak ingin di manfaatkan, itulah yang menyebabkan Malih pilih-pilih saat mencari teman.

Apalagi setelah malih ikut kedalam Detektif Swasta Indonesia. membuat ia tidak terlalu banyak bergaul dengan semua orang, khawatir akan ada orang yang mengenalinya lebih jauh, dan itu akan menghambat pekerjaanya hingga sulit mendapatkan informasi.

Yah..Malih adalah seorang detektif, semenjak dua tahun yang lalu. Saat itu seorang pria tua menawarkan pekerjaan kepada Malih. karena melihat kemampuan Malih saat membantu kasus bunuh diri di sekolahhnya. Cara berpikir yang cepat, dan selalu menalisis dengan tepat apa-apa yang mencurigakan yang masih berkaitan, membuat pria tua itu langsung menawarkan pekerjaan tampa berpikir ulang.

“Lo pingin permen gak, gue punya satu lagi buat Lo” zio mengeluarkan sesuatu dari saku, kemudian memberikannya pada Malih

Bukanya menerima malih malah melihatnya dengan tatapan menyelidik” gue gak akan racunin elo!” Kata zio agak tersinggung dengan tatapan Malih

“Lo inget, kita pernah nemuin bungkus permen di sekitar tempat kejadian?” Ucap Malih sambil mengambil bungkusan permen lalu memegangnya,

“Lo pernah bilang yang terakhir datang ke tempat kejadian adalah Dimas anak kelas 12 C. Lo yakin dia yang terakhir kali datang ke sana?, Mungkin ada lagi orang yang datang ke sana selain Dimas”tanya Malih tidak yakin

Zio mengusap dagunya, mencoba berpikir lagi. Sudah 1 Minggu lamanya dia nangkring dekat tempat kejadian,namun ia tidak ingat siapa lagi yang datang selain dimas.

Selalu Saja Ngeselin

Waktu pelajaran sudah selesai. semua siswa-siswi sudah pulang sejak tadi. Kecuali, siswa-siswi ekskul dan shakila yang sedang berjalan di koridor sekolah. Di tangannya membawa setumpuk buku

Brukkk

Wajah Shakila menekuk melihat bukunya yang berceceran,kemudian mendongkak melihat siapa yang sudah menubruknya.

Seketika wajah Shakila berubah masam “kau lagi!” Pekik Shakila kesal, melihat Malih dengan wajah tanpa dosa

Tidak ingin menangapi Shakila, Malih berjongkok, kemudian membereskan semua buku “Maaf. Assalamualaikum” ucapnya memberikan buku. kemudian kembali berjalan,membuat Shakila hanya di buat geram

“Bibi ngidam apa ya, pas dia bayi!!. kayanya bibi ngidem asem Jawa,pantes wajahnya aja udah asem. kaya papan lagi,lurus kaya gak punya ekspresi!”gerutunya kesal sambil melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ruang guru.

Suara hitungan keras di dalam ruangan karate, terdengar ramai. Beberapa orang sedang berlatih karate, dan beberapa orang lagi Memilih beristirahat. Perlahan kaki Malih masuk ke dalam ruangan, semua orang sudah melirik malih dan ia sekarang sudah jadi pusat perhatian

“Assalamualaikum”salam seorang pria, yang kemarin pernah ngajak Malih untuk bergabung.

“Wa’alaikumsalam”

Senyum terlihat tersungging di bibirnya” gue seneng Lo mau datang kemari. Sebagai ketua, gue masih berharap Lo mau gabung” kata Dimas yang tidak lain ketua karate

“Mungkin gue bisa ikut latihan”balas Malih santai namun langsung di setujui semangat Dimas

Setelah berganti baju, Malih langsung berdiri di atas matras. Semua orang sudah melihat dengan kagum ke arah Malih, pasalnya para gadis berpikir kalau Malih selalu pas memakai pakaian apapun, apalagi baju karate terlihat gagah

Kedua orang sudah berada di arena. Tidak ada gurat khawatir di wajahnya, hanya ketenangan untuk melihat setiap detail gerakan yang di gunakan Dimas nanti. Tatapannya berhenti ketika melihat jari kelingkingnya di balut handsaptlast. perhatiannya kembali mulai fokus saat pertandingan akan di mulai

Setelah keduanya menunduk ,mereka langsung mengambil ancang-ancang

“Mulai!”

Dimas sudah mulai menyerang. Namun dengan mudah Malih menghindarinya. Hingga saat ada peluang. Malih langsung memutar tangan Dimas kebelakang,lalu menjatuhkannya ke matras. Sukses gerakan itu membuat dimas tidak bisa bergerak. Apalagi lutut Malih sudah menekan punggungnya,sesekali Dimas mencoba melepaskan diri, namun tetap saja tidak bisa

Semua orang langsung bertepuk tangan heboh, ini adalah pertarungan tersingkat yang mereka lihat. Apalagi Dimas terbilang sudah jago dalam bela diri karate

“Ya Allah itu mas Malih. Kok pintarnya gak ketulungan yah, Dimas aja ampe kalah”heboh Nia yang baru masuk ruangan dengan Shakila dan tidak sengaja melihat pertandingan Malih dan Dimas.

Wajah shakila terlihat biasa. ia sudah tidak heran melihat malih yang jago bela diri. Karena pas Malih berumur 8 tahun saja Malih sudah menguasai beberapa jenis keahlian bela diri

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *