Cerpen : Romantisme Cinta 06

“Awassss Malih!!” teriak zio membuat Malih langsung berbalik

Dorrrr

Badan Malih memiring ke kiri dengan bersamaan peluru yang melesat melewati depan wajahnya. “Are you okay?” Tanya Zio kemudian mendekat yang di beri acungan jempol Malih

Tatapan mereka kembali mengedar ke sekeliling ruangan kantor lantai bawah. Mencari siapa sosok yang sudah dengan baik hati menyambut mereka dengan tembakan.

“Gue kalo udah nemuin tuh yang nembak. Gue kasih hadiah lima peluru” sewot zio kesal kembali melihat sekelilingnya yang masih tidak ada pergerakan.

Suasana masih terasa hening,tidak ada suaranya yang bisa mereka dengar. Keheningan langsung pecah saat terdengar suara peluru di isi. Kepala Malih langsung menengok ke arah meja yang sering di gunakan untuk pendaftaran.

Dorrr dorrr

Dua tembakan di berikan Malih sebagai pancingan agar mereka keluar dari tempat persembunyian. Dan berhasil. Dua orang langsung berdiri kembali membalas tembakan Malih. Membutuhkan tempat berlindung. Malih berlari dan berpencar dari Zio, Suara tembakan mengiringi langkah mereka. Hingga mereka mendapat tempat sembunyi dari balik dinding.

Nafas Malih sudah memburu, tangannya memegang erat pistol yang ia bawa. Jam terdengar berdetik di dinding. Sejenak kepalanya menoleh, memastikan waktu masih cukup banyak untuk ia bisa menunaikan kewajibannya untuk beribadah. 16.47 WIB ,waktu yang sebentar untuk kegiatannya yang panjang. Untunglah dia sholat ashar di perjalanan,jadi tidak ada kegundahan dalam hatinya

Tidak bisa menunggu karena belum juga ada pergerakan. Malih melirik zio yang masih dapat ia lihat. Tangannya mengibas-ngibas ke depan untuk memberikan tanda agar maju. Malih dan zio keluar dari persembunyian dan kembali memberikan tembakan beberapa kali. Dua pengawal kembali membalas tembakan Malih dan zio. Beberapa kali mereka mencoba menghindar dari peluru yang melesat sangat cepat,beruntunglah mereka masih bisa menghindarinya.

Dorr

Peluru malih sudah melesat cepat di dada pengawal, seketika membuatnya langsung tumbang

Dorr

Kali ini peluru Zio yang menyusul menumbangkan satunya lagi. Mereka bernapas lega, karena dua pengawal sudah bisa mereka tumbangkan. Setelah mengambil napas, kemudian mereka kembali menyusuri ruangan kantor.

Di Dalam Hutan

Suara-suara hewan terdengar bersusulan. Terkadang Shakila berpikir mereka tengah berlomba lari. Rasa takutnya masih belum kunjung hilang, hatinya masih berdebar bahkan terkadang ia tersentak berkali-kali karena suara hewan yang baru ia dengar. Apa begini suasana hutan?

Kepalanya menoleh, melihat Laila masih menyandarkan badannya di pohon. terlihat raut wajah kelelahan dan mata yang tidak terpejam rapat. seakan dia tidak tenang, hingga membuat tidurnya tidak nyaman.

“Apa kamu masih terjaga?” Tanyanya kecil. Ragu, takut akan membuat Laila terganggu.

Perlahan matanya terbuka, sinar mentari dari celah-celah dedaunan menyorot Laila, membuat mata itu terlihat bening dan indah . Kecantikan yang tersembunyi di balik sikap tomboy” ya..”balasnya singkat namun masih terdengar halus

Plukk

Benda jatuh terdengar dari arah samping Shakila. Dengan takut-takut Shakila menoleh ke arah pundaknya

“Aaaarrrrrrrrgggggggg ulat bulu!!!!!” teriaknya keras,berdiri. Bahkan ia hanya bisa berteriak tanpa ingin menyingkirkan ulat bulu yang terlihat nyaman merangkak di pundaknya.

“Hahahaha” keheningan itu pecah seketika,ketika tawa Laila terdengar. seakan lukanya sudah terobati hanya melihat Shakila yang terlihat panik

“Ya Allah… ini ulat bulu kok ngeri yah!!” Ucap shakila yang enggan melihatnya, bahkan tangannya masih mengibas-ngibas mencoba mengusirnya. Seakan tertantang ulat bulu itu semakin merangkak, membuat wajah Shakila bertambah panik.

Merasa kasihan. Tangan laila mengambil ranting kecil,kemudian berdiri untuk membantu Shakila yang masih ketakutan. Terlihat wajah Shakila berubah lega, tangannya mengusap dada beberapa kali.

“Kita keluar dari sini saja Laila” rengek Shakila yang sudah tidak betah dengan suasana hutan.

“Tidak bisa Shakila ..” tolak Laila tidak enak hati” diluar sana masih belum aman” kalau sudah aman kita akan keluar dari hutan”jelas Laila perlahan agar membuat Shakila mengerti

Shakila langsung menangis, menjadi-jadi “aku takut Laila…bagaimana kalau ada harimau, bagaimana kalau ada monyet,bagaimana kalau ada hewan lainnya yang punya taring…”takutnya tanpa menghentikan tangis, yang membuat Laila semakin merasa bersalah

Kabar Duka

Langkah mereka di perkecil ketika mereka sudah sampai di lantai tiga. Sama dengan lantai-lantai sebelumnya, semua terlihat berantakan. Bahkan Malih memikirkan ke adaan semua orang. Apa mereka selamat?. Atau mereka di sekap. Pertanyaan itu berputar-putar di otaknya,khawatir kejadian buruk akan menimpa semua rekan kerjanya.

Mata zio terbelalak melihat rekannya sudah terkapar di lantai dengan luka tembak di perut. Langkahnya melebar bahkan langsung berlari mendekati mayat,

“Abraham!!” Zio segera berjongkok mendekati Abraham yang sudah tidak bernyawa.

Malih hanya menundukan kepala, karena lagi-lagi harus kehilangan rekan kerjanya. karena tadi di bawah pun ia melihat Musa yang juga sudah meninggal. Resiko memang akan di tanggung dalam setiap pekerjaan. Tapi ..untuk kematian rasanya terlalu mengenaskan.

“Tega yah tuh orang!”pekik zio emosi kemudian berdiri

“Kita harus tenang. Emosi hanya akan membuat kita lemah” sahut Malih yang mencoba tenag

Suara langkah kaki terdengar, mengalihkan perhatian Malih dan juga zio. Wajah mereka menegang serta cemas bersamaan. Dari suara langkah kaki yang terdengar, mereka yakin. bukan satu orang yang datang ,tapi hampir beberapa orang yang datang dari lorong kantor

“Malih, apa yang harus kita lakukan?” Tanya zio melihat Malih yang juga sama tegangnya dengan zio

Perlahan Malih menghela nafas, kemudian kembali mengisi pistolnya” Jangan sia-siakan pengorbanan mereka. Kita lawan mereka sekarang!!” Seru Malih tegas terlihat tidak mengguratkan rasa takut di wajahnya

“Mereka tidak sedikit Malih!”

Kepala Malih menengok”lalu apa masalahnya?. Kita punya Allah buat apa takut. Percaya sama gue!” Yakin Malih membuat zio berdiri ikut mengisi pistolnya dengan peluru

“Karena Lo udah bicara gitu. Ayoo!!. Kita adakan adu tembak”

“Kalo Lo meninggal duluan. gue orang pertama yang akan baca yasiin buat Lo ” sambung zio membuat Malih tersenyum simpul

“Tapi kalau kita selamat.” Sejenak zio terdiam walau tidak yakin” aku akan masuk pesantren ” sambungnya nyengir walau Malih tahu seringaian itu palsu,hanya untuk menutupi rasa cemas dan takutnya.

Langkah orang-orang itu semakin mendekat, dan tampa gentar Malih dan zio masih berdiri di sana dengan todongan pistol yang bahkan bagi mereka pun mustahil untuk melawannya.

“Gue hitung sampai tiga. Dimulai….dari sekarang.” kata Malih semakin mengenggam dengan kuat pistol di tangannya

Satu….

Dua….

Ti…

Ga.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *