Cerpen : Romantisme Cinta

Terkadang apa yang kita cintai, belum tentu ingin kita memiliki. Seperti Shakila, mengagumi sesosok pria yang selalu menjadi dambaan sekolah,ahlak yang luar biasa dengan kepintaran di ambang batas.

Terkadang Shakila berpikir, pria tampan dengan wajah dingin itu merupakan keturunan dari Albert Einstein, tapi kenyataannya dia adalah buah hati dari paman dan bibinya yang ia kenal sebagai teman dekat Ayah dan ibunya. Yah..siapalagi kalau bukan Malih, buah hati dari Adam dan Sarah, yang di kenal semua orang dengan kelebihannya. Ia mempunya kepintaran lebih dari anak sebatas usianya.

Harapan dan cinta bagi Shakila adalah hal yang luar biasa . Baginya ia akan terus mencintai dan mengagumi sesosok yang selalu ada, selalu membantu, selalu hadir di saat ia sedang terpuruk. Memang kadang-kadang pria itu menyebalkan dengan sikap dinginya seperti sedingin es kutub. tapi di manapun ia mengelak nya, nyatanya Shakila memang benar-benar jatuh hati. Tapi..tunggu dulu, inilah permasalahannya. walau Shakila mencintainya ia tidak ingin memilikinya. Kenapa?, Karena ia ingin memilikinya dengan jalur yang sah dan halal, seperti ayah dan ibunya. Tapi sayangnya pria itu cukup dingin untuk menyadari kehadirannya..

“Cinta itu memang teka-teki. Benar kata ummi” itu lah yang di pikirkan Shakila tentang perkataan ummi dan abinya tentang cinta.

***

Di ruangan kantor, Hisyam masih fokus memeriksa semua file yang menumpuk di atas meja. Bahkan sesekali ia menghela nafas berat. merasa sudah lelah,tangannya mengambil ponsel yang sudah dua jam ini tidak ia lihat.
Senyumnya menyungging ketika melihat ufairah mengirimnya pesan #istriku.

Mass ku sayang, manis tampan . Abinya Abyan sama Shakila. kalau pulang kerja,jangan lupa beli bawang putih,bawang merah, minyak goreng, sayur bayam, sama daging ayam 1 kg. Makasih sayang, aku akan selalu menunggumu di rumah.
Halis hisyam menaik sebelah “apa ufa sedang bercanda?.”
Ting
dengan semangat Hisyam kembali membuka pesan dari ufa
#istriku
Owh iya,jangan lupa juga beli panci nya sayang. Maaf merepotkan.. aku sedang membantu Sarah di rumah, untuk membantunya membuat kueh. Selamat bertemu di rumah sayang.
Hisyam berdecak kesal. Kemudian dengan kesal mengetik balasan untuk protes. tapi ia urungkan,mengingat betapa lelahnya ufa mengurusi rumah tangga. Ia hanya meminta Hisyam membeli barang, masa iya ia harus mengeluh
“Iya sayang . Jangan lupa bikin kueh juga buat mas. mas mau brownis ” dengan senyum Hisyam kembali mengirim pesan buat ufa
Telunjuknya di ketukan beberapa kali di atas meja, menunggu pesan ufa yang belum muncul di layar handponya
Ting
#istriku
“Iya sayang. Tumben pengertian hehe”
Dahi Hisyam mengerut. Memang sejak kapan ia tidak pengertian dengan ufairah. Wajahnya berubah kesal sambil mengetik balasan
” Kapan mas tidak pengertian sama ummi” Hisyam kembali mengirimnya.
Ting
#istriku
Kemarin saja di suruh beli sayur ke pasar gak mau
Hisyam mendesah kesal,bagaimana mungkin ia mau ke pasar buat beli sayur, yang harus saling berhimpitan dengan ibu-ibu yang menawar harga. Membayangkannya saja, membuat Hisyam begidik ngeri
“Ngeri” balas Hisyam kemudian terkekeh kecil
Ting
#istriku
Ngeri kenapa?
“Lihat ibu-ibu yang sedang menawar harga”
Beberapa menit tidak ada balasan dari ufa. sambil menunggu, Hisyam kembali membaca semua laporan. sesekali ia mendesah karena ada beberapa point yang tidak ia mengerti
Ting
Mendengar detingan handpond. dengan segera Hisyam membukanya
#istriku
Jadi mas ngeri sama ufa . Ufa kan sering nawar harga
“Bukan begitu sayang, kamu tidak mengerikan kok. Malah kamu terlihat manis” balas Hisyam cepat karena takut ufa berpikir macam-macam
Ting
#istriku
Owh ya udah kalau gitu . Jangan lupa pesenan ummi sayang. Love you”Kirain lupa sama pesanan. Masih ingat ternyata” gumam Hisyam terkekeh


Bel pulang sekolah berbunyi. semua siswa-siswi sudah berhamburan keluar gerbang sekolah. Hanya ada beberapa siswa-siswi yang masih berada di sekolah. Di antaranya mereka yang punya jadwal ekskul di sekolah.
“Lo ikut ekskul karate kan Malih?” Ujar seorang siswa yang sudah berpakaian karate, dengan sabuk hitam yang melingkar di pinggang.
Malih yang tadi sedang duduk di kursi menoleh, melihat orang yang sedang bicara padanya” gue gak bisa!. Lain kali aja” tolak Malih kemudian berdiri untuk pergi
“Lo ikut kita aja. Badan Lo kan bagus, tinggi pula. Lo ikut ekskul basket aja” ajak yang lain sambil memegang bola basket.
“Ini kesempatan bagus, kalo Lo ikutan ekskul kita. Mening ikutan ekskul futsal” kata yang lainnya lagi membuat Malih menghela nafas berat
“Gue gak bisa. Maaf. assalamualaikum”pamit Malih memilih pergi namun langkahnya terhenti ketika ia melihat teman sebangkunya yang ia kenal sebagai vino.
“Sebenarnya saya takut, kalau kamu akan menolak. Tapi..ini keinginan tim marawis sekolah. Mau ikut bergabung bersama kami?” Ajak vino gugup sekaligus takut. Apalagi semua orang yang tadi mengajak Malih sudah menatapnya remeh.
“Heh cupu!. Apaan masuk grup gituan, mening masuk ke tim kita, yang selalu di banggain semua siswa-siswi sekolah” kata pria itu terkekeh sinis yang langsung di setujui semua orang “lagian..Malih mana mau ikut tim Lo !”tambahnya nya lagi dengan nada remeh
“Baiklah..”balas pria itu menunduk lesuh kemudian berbalik
“Vino!” Cegah Malih membuat vino berbalik.

“Gue ikut. Kapan latihannya?” Tanya Malih tenang, yang tidak memperdulikan semua orang yang menatapnya tidak percaya.

Malih berjalan bersama vino. Seperti biasa Malih terlihat tenang tidak banyak bicara. Merasa penasaran dengan alasan Malih,membuat vino memilih bertanya

“Siswa-siswi di sekolah SMA Tuna Bangsa,selama ini tidak ada yang tertarik dengan ekskul marawis. Karena menurut mereka tidak menarik,jadi mereka memilih ekskul musik. Kamu yang yang terbilang orang populer di sekolah, kenapa memilih ikut?” Heran vino dengan suara kecil, takut menyinggung Malih

“Lo di paksa kan?” Tanya balik Malih yang membuat vino tersentak

“Ti-tidak” elak vino menggeleng kecil.

“Lo bukan tim marawis. Setahu gue Lo gak pernah ikut tim apa-apa, karena Lo gak pernah di ajak” jelas Malih apa adanya namun cukup menyentak hati vino. Kepala vino semakin menunduk dalam

“gue gak akan ikut,kalau Lo gak ikut.” Tambah Malih enteng. membuat vino mendongkak melihat Malih heran

“Kenapa?”

“Karena Lo sahabat gue.”jawab Malih melirik vino yang terperangah”Dimana tempatnya ,kenapa belum sampai juga?” Tanya Malih mencairkan suasana

Senyum mengembang di bibir vino” itu tempatnya. Ayoo masuk”ajak vino semangat ,berjalan paling depan.Ujung bibir Malih terangkat lalu ikut vino dari belakang.

***

“Duhh kan telat. Ayoooo Shakila kita harus cepat-cepat ke ruangan marawis” panik Nia berlari-lari sambil menarik tangan shakila

Nafas Shakila tidak teratur karena terus berlari. Apalagi Nia mengajaknya berlari tanpa berhenti.

“Niaaa aku lelah..” keluh Shakila sambil memegang dadanya yang sudah tidak bernafas normal.

“Sampai!!”riang Nia merentangkan tangan bahagia.

Tubuh Shakila menunduk, beberapa kali dia mencoba mengatur nafasnya agar bisa teratur kembali. Sahabatnya yang satu ini memang selalu sukses membuatnya tidak bisa bernafas tenang

“Ayo masuk”tarik Nia semangat, membuat wajah Shakila kembali lesuh

Beberapa orang sudah berkumpul. Di dalam, sudah terhampar karpet hijau. Di sebelah kanan jajaran wanita yang berjumlah 10 orang dan di sebelah kiri laki-laki dengan jumlah 15 orang.

Kebanyakan yang ikut marawis adalah santri – santriwati, begitupun Shakila ia adalah santri rumahan yang tentu jadi gurunya adalah ayahnya. Toh dulu ayahnya pernah mengajar di Mesir,jadi tidak bisa di ragukan lagi ilmunya.

“Assalamualaikum”salam Nia kemudian ikut duduk di jajaran wanita. Semua orang langsung melihat Nia dan secara tidak langsung melihat Shakila yang ada di belakang Nia.

“Wa’alaikumsalam” jawab semua orang serempak

Suasana langsung hening ketika semua orang sudah berkumpul. Seorang lelaki tua memakai sorban maju ke tengah ia adalah guru grup marawis.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” salam pria itu melihat semua siswa-siswi.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”

Pria bernama pak Arif, menjelaskan beberapa perihal tentang marawis. Dari mulai sejak berdiri hingga beberapa penghargaan yang sudah di dapat.

Di paling tengah, Malih memilih menunduk, memejamkan matanya. seperti biasa ia akan memulai hafalan Al-Qur’an nya lagi. Telinganya mendengar pak Arif namun pikirannya hanya pada hafalan.

“Tau gak, katanya grup marawis mau di bubarin” bisik seorang pria pada temannya

“Gak papa juga sih kalau di bubarin. Lagian gue juga mau ke luar, tapi pas lihat Malih datang. gak jadi deh gue keluar. Semua orang pun gak jadi memundurkan diri. Gue yakin..kalau ada Malih, pasti anggota marawis makin banyak.”sahut sahabatnya berbisik namun masih terdengar di telinga Malih.

telinga Malih memang agak tajam dari pada orang pada umumnya. jadi tidak salah,ia masih bisa mendengarnya. mungkin itu juga kelebihan yang Allah berikan padanya.

Malih menggeleng kecil mendengar niat mereka yang menurutnya kurang baik.

“Kita sekarang punya anggota baru namanya Malih . Pasti di antara kalian sudah mengenalnya” sambut pak Arifin menunjuk Malih. membuat semua orang langsung melihat Malih. Bahkan di antara wanita sudah meleleh melihat ketampanan malih

“Apa kamu mau ikut bergabung Malih?” Tanya pak Arif tersenyum

“Sebenarnya aku hanya ingin melihat saja. Maaf tidak bermaksud menganggu” sesal Malih menunduk. Awalnya Malih ingin ikut, namun karena mereka hanya ingin menggunakan Malih untuk pancingan membuat Malih memilih mengurungkan niatnya.

Shakila hanya menganga tidak percaya melihat Malih yang juga ikut dalam tim marawis”aku tidak akan ikutan, bila ia juga ikut” gerutu shakila, membuat Nia menoleh kaget

“Tidak bisa gitu. Kamu sudah aku daftarkan ” larang Nia tidak terima kalau Shakila keluar grup

******

Setelah kumpulan selesai. semua orang sudah keluar dari ruangan dengan kecewa. alasannya, karena Malih memilih tidak ikut.

“Bukanya kamu bilang akan ikut?” Tanya vino mengejar Malih yang berada di depan

Malih diam tidak menjawab perkataan vino” padahal aku sangat berharap kau bisa ikut” kata vino lagi dengan raut kecewa

“Semua orang mengharapkanmu masuk grup marawis” tambah lagi vino kecil

Langkah Malih terhenti,sejenak ia menghela nafas berat” bila mereka semua menerimamu dalam grup marawis, semata-mata untuk belajar bersama dan untuk jalinan silaturahmi. Makan ikutlah” kata Malih dingin, kembali berjalan pergi meninggalkan vino yang lansung mencelos

“Mereka hanya memanfaatkan Malih. Agar anggota marawis semakin banyak” gumam vino yang mengerti maksud Malih.

Selama ini mereka memilih yang pintar-pintar saja,bahkan sebagiannya hanya menjadi penonton. Seperti vino, sudah lama ia ingin menjadi anggota tetap,namun tidak pernah ada yang mengajaknya. Hingga membuatnya, hanya menjadi penonton di balik layar.

***

“Assalamualaikum !!. Ummiii”panggil Shakila masuk ke dalam rumah, langsung mencari ufairah

“Apa ummi di dapur” gumam ufa segera berlari ke dapur.

Dan yahh..disana sudah berdiri ufairah sedang memaksak kue bersama Sarah.Mereka terlihat tertawa sesekali, membuat Shakila langsung berlari mendekati mereka

“Ummiii”panggil riang Shakila memeluk ibunya. Suatu kebiasaan manja Shakila yang tidak hilang sampai ia dewasa.

“Ini Shakila?” Seru Sarah semangat melihat gadis cantik di hadapannya

Shakila menoleh, kemudian mengangguk semangat” bibi!!” Riang Shakila langsung di peluk sarah

“Owhh lihatlah dia sangat cantik dan manis. Bagaimana kalau bibi jodohkan dengan Malih” aju bibi bahagia membuat sahakila langsung tersedak

“Uhuk “batuknya karena terkejut dengan perkataan Sarah

Wajah Sarah berubah cemas”apa kamu sakit?”

“Dia hanya terkejut karena kamu menyebutnya akan di jodohkan dengan Malih. Anakmu itu terlalu sempurna untuk Shakila” tolak ufa tersenyum tidak enak

Shakila mendengus mendengar penuturan ibunya. Bagaimana bisa ibunya terang-terangan berkata seperti itu dan itu jelas membuat Shakila malu.

Sarah tertawa kecil kemudian melihat jamnya” wah..sepertinya Malih sudah pulang. Sepertinya aku harus kembali”

“Kenapa kembali. Ajak saja Malih kesini, aku juga mau melihatnya” sahut ufa semangat

“Ummi kan udah tua. Kok masih suka sama anak muda” kata Shakila ngasal membuat ufa menjitak nya kesal

“Ummiii”keluh ufa mengusap kepalanya sakit. Namun malah membuat Sarah tertawa

“Ini Malih” tunjuk Hisyam membawa Malih bersamanya untuk masuk dapur

Sepontan Shakila menoleh, matanya terbelalak kaget dengan kedatangan Malih

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *