Cerpen : Menghitung Umur Melalui Perang

Beberapa orang tua di kampung saya suka menghitung umur dengan perang. “Usiaku sudah tiga kali perang,” kata salah satu. “Prang Cumbok, Prang DI-TII, dan Prang Aceh-Jakarta.” Ini bermakna usianya lebih kurang sudah 70-an tahun.
Tapi ada juga yang menghitung umur berdasarkan jumlah kali pergantian gubernur. Misalnya, “Umu lon mulai dari Ali Hasjmy sampee hat Zaini-Mualem. Lakee do’a beuna watee bacut teuk (umur saya mulai dari Ali Hasjmy sampai Zaini-Mualem. Semoga masih ada waktuku hidup beberapa saat lagi).” Ini berarti orang tersebut sudah berusia lebih kurang 60-an tahun.

Jika ada yang mengidentifikasi usia seseorang dari gubernur ke gubernur, misalnya, “Umu aneuk keumuen lon dari Pak Hadi Thayeb sampee Pak Abdullah Puteh.” Itu berarti masa hidup mendiang keponakannya itu lebih kurang 19 tahun.

Nah, bila ada yang menisbahkan usia, misalnya, “Berarti umu sinyak lon dari Irwandi sampee Irwandi,” ini agak membingungkan. Memang kita bisa menghitungnya dari Februari 2007 (periode pertama Irwandi Yusuf Gubernur Aceh) hingga kemarin, Juli 2017 (sebagai periode kedua—idem).
Tapi, menurut saya, untuk membuat penanda waktu “antara Irwandi ke Irwandi”—agar tidak membingungkan—lebih baik mengikutsertakan Wakil. Begini, “Berarti umu sinyak lon dari Irwandi-Nazar ka sampee u Irwandi-Nova.” Berarti si anak yang diceritakan itu sudah berusia lebih kurang 10 tahun.

Yach…, begitulah. Usia seseorang bisa dihitung dengan apa saja; tergantung suka-sukanya si pemilik, tergantung dengan cara bagaimana dia merasa lebih sensasional membuat penanda atas jumlah umurnya atau umur orang-orang yang dicintainya.
Oya, bila ada yang menandai usia keponakannya dengan, misalnya, “Umu aneuk keumuen lon dari Zaini-Mualem akur-akur saja sampee Zaini-Mualem tidak akur lagi.” Ini bermakna masa hidup keponakannya lebih kurang hanya dua tahun, yakni di periode awal Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf duduk sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.

Semoga periode Gubernur Aceh kali ini antara Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, eh, maksud saya, antara Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah tidak sampai membuat rakyat sempat menandai waktu dalam interval yang bikin bingung itu.
– Musmarwan Abdullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *