Cerpen Eh Tiba-tiba Terkenang Lagu Bimbo

Dilantik untuk suatu jabatan, dan, di-“lantak” dari suatu jabatan, atau—kalau disingkat dengan frasa—“dilantik untuk” dan “dilantak dari”, adalah dua hal yang, kalau dipikir-pikir, sama saja. Dua-duanya diiringi plus-minus dari berbagai sisi.

Dilantik untuk suatu jabatan akan membuat orang itu bertambah popularitasnya, bertambah pendapatannya, tapi semua itu diiringi oleh bertambahnya beban kerja dan tanggung jawab. Begitu juga yang dilantak, berkurang popularitasnya, pendapatannya, tapi juga diiringi dengan pembebasannya dari beban kerja dan tanggung jawab.

Tapi—mungkin dalam kebudayaan mana pun—orang tetap memandang dua hal itu dengan cara berbeda. Yang “dilantik” dilihat sebagai “kelahiran”, dan yang “dilantak” dilihat sebagai “kematian”. Dan, yang lebih tidak enak, ada yang memandang “dilantik” sebagai hal membanggakan, sementara “dilantak” sebagai hal memalukan.

Contohnya begini: kemarin, dalam pelantikan sejumlah Pejabat Eselon II di lingkungan Pemerintahan Aceh, seorang kawan saya mengajak temannya yang baru “dilantik” foto berdua untuk diposting di media sosial. Dengan senang hati, sang pejabat baru itu, mau. Kemudian kawan saya itu mengajak temannya satu lagi yang kebetulan baru kena “lantak” untuk foto berdua, mau diposting di media sosial juga. Dengan sopan-santun yang dingin, sang teman, tidak mau.

Padahal kalau ia mau, itu cukup cantik. Nanti di foto ia tulis saja, “Terima kasih atas segala kepercayaan yang pernah diberikan. Semoga pengganti saya bisa membuat Dinas ini lebih maju di hari-hari mendatang,” begitu–misalnya. Namun kenyataannya, Anda tampak begitu kehilangan, seakan-akan jabatan itu warisan, sehingga wajar jika akhirnya publik berpendapat, “Anda rupanya memang pantas ‘dilantak’.”

Itulah mungkin ya—makanya hari ini di beranda FB kita melulu lewat foto figur yang baru “dilantik”, tak ada yang baru kena “lantak”. Itu—sekali lagi—karena kita memandang “dilantik” sebagai sesuatu yang membanggakan, dan “dilantak” sebagai memalukan. Padahal, yang “dilantik” hari ini, suatu waktu juga akan “dilantak” lagi, dan yang “dilantak” hari ini, kelak mungkin akan dilantik lagi juga. Begitulah.

Hal itu juga sama seperti dalam hal rumah tangga dan perkawinan. Saat anak baru lahir, kita upload foto bayi yang menggemaskan itu di sosial media, diiringi keterangan berat badan segala; tapi saat kakek kita meninggal, kita cuma bikin status, “Innalillahi wainna ilahi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah kakek kami—dan seterusnya [tanpa foto].”

Demikian pula saat di pelaminan, kita memosting foto keberduaan di FB. Sedangkan ketika bercerai, kita diam seribu bahasa. Atau, paling maksimal, kita cuma bikin status yang bunyinya, “Sendiri…., kini aku…., sendiri laaaaaaa-gi….”

Musmarwan Abdullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *