Cerpen : Apa Yang Kamu Pikirkan

Di sudut meja kerja milik seorang kawan, belasan buku tindih-menindih hingga meninggi. Lama kutatap sususan buku itu sampai akhirnya si kawan bertanya, “Apa yang kaupikirkan?”

“Di atas buku ada buku,” jawabku. Dia diam menunggu lanjutan jawabanku. Tapi sepertinya itu sia-sia. Aku sudah lama berhenti mengambil kesimpulan-kesimpulan terhadap apa pun yang bersentuhan dengan pancaindraku.

“Apa yang kaumaksudkan dengan ‘di atas buku ada buku’?” tanya dia akhirnya.

“Tidak ada makna lebih dari sekadar mendeskripsikan fakta,” jawabku.

“Menurutmu, buku yang paling bawah mengindikasikan apa?” pancingnya.

“Itu buku yang paling awal kaubaca,” jawabku.

“Yang paling atas?” cecarnya, bersemangat seketika.

“Itu buku yang baru saja kaubaca,” jawabku lagi.

“Ya, itu buku paling terakhir yang kubaca.”

“Tidak ada ‘buku terakhir’,” ketusku.

“Maksudmu?” tanya dia dengan mata mendelik, seperti orang terkejut—mungkin tidak meyangka aku bisa seketus itu.

“Selagi kau masih terus membaca, maka buku di urutan teratas itu adalah buku yang ‘baru habis’ kau baca; sama sekali bukan ‘buku terakhir’ yang kaubaca. Masih akan ada buku lagi yang akan menindih di atasnya.”

“Ooo, sekarang aku tahu apa yang kaumaksud tadi dengan, ‘Di atas buku ada buku.’”

“Kau mulai tampak lebih cerdas dariku,” kataku mohon permisi sambil memboyong semua buku itu untuk kupinjam.

“Tapi tampaknya kau selalu lebih cerdas dariku,” katanya sarkastis mengingat semua bukunya yang kupinjam di waktu-waktu yang lalu, belum satu pun kukembalikan. “Harap kautahu, kadang aku butuh mengulang-ngulang beberapa buku yang pernah kubaca!” teriaknya di belakang pintu ruang kerjanya yang sudah kututup, seakan sebagai pengganti peringatan bahwa buku-bukunya yang kupinjam, harap segera kukembalikan.

“Mengulang-ngulang buku yang pernah kaubaca akan membuatmu semakin tak mungkin mengejar untuk menyamai jumlah buku yang kubaca!” teriakku sambil menyalakan mesin sepeda motorku.

“Kau selalu memiliki beberapa kalimat untuk membuatku ikhlas menerima kezaliman demi kezaliman yang kautimpakan atasku!” teriaknya lagi dengan nada agak marah dan geram.

“Itu seni tempur yang membuat diri kita mencapai kemenangan di atas kekalahan musuh yang tak pernah kita hancurkan!” balasku seperti panglima perang yang meninggalkan bekas kawasan pertempuran sambil memboyong harta pampasan.

“Aku selalu ingin memutuskan tali persahabatan denganmu, tapi aku selalu tak mampu!” teriaknya lagi.

“Musuh yang dapat mengalahkanmu dengan terhormat adalah lebih baik, dibandingkan koalisi yang diam-diam melemahkanmu dari dalam!” balasku seraya menekan pedal gas sepeda motorku meninggalkan sang teman.—-

-Musmarwan Abdullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *