Cerpen : Ada Apa Dengan Penulis?

Abu, di negeri maju, penulis sangat dihargai.”

“Ya. Di negeri yang tidak maju, penulis justru ditakuti.”

“Menurut Abu, bagi mereka para penulis, siapa lebih enak, dihargai, atau ditakuti?”

“Penulis di negeri maju lebih suka dihargai; sedangkan penulis di negeri yang tidak maju lebih suka ditakuti.”

“Eh, gawat. Kenapa begitu, Abu?”

“Karena, menghargai penulis akan membuat sebuah negeri menjadi maju; sedangkan takut kepada penulis akan membuat penguasanya terus maju, sekalian sama penulisnya.”

“Bingung Anak Muda nih. Maksud Abu bagaimana?”

“Di negeri maju, penulis dihargai oleh publik. Di negeri yang tidak maju, penulis dihargai oleh penguasa.”

“Berarti, di negeri yang tidak maju, rakyat kalah cepat dalam memberikan penghargaan kepada penulis, dibandingkan penguasa, begitu ya.”

“Ya, begitulah.”

“Penghargaan apa yang diharapkan seorang penulis dari publiknya?”

“Membaca. Membaca buku. Tak harus membaca buku karya si penulis itu. Pokoknya membaca buku. Jadikan membaca buku sebagai budaya keseharian; dengan itu setiap penulis akan merasa dihargai–meski buku mereka sendiri susah ditemukan di pasaran.”

“Sedangkan selama ini apa yang terjadi?”

“Selama ini hanya penguasa yang terus merangkul penulis agar hasil-hasil karya mereka senantiasa dalam kualitas yang membuat publik tak punya alasan untuk menghargainya.”

“Berarti, diam-diam, selama ini, penghargaan penguasa terhadap penulis justru untuk tetap menjinakkan mereka ya.”

“Ya, begitulah.”

“Bagaimana kalau besok-lusa, misalnya, tiba-tiba penguasa tidak lagi menghargai penulis?”

“Mungkin saat itulah akan lahir karya-karya berkualitas dari mereka, karya-karya bebas tanpa intervensi penguasa, karya-karya merdeka.”

“Tetapi, ini maaf, Abu. Sehemat saya, selama ini pun penguasa tidak terlalu takut dan sekaligus juga tidak terlalu menghargai penulis, namun toh tidak ada karya-karya mereka yang membuat publik menghargai, gitu.”

“Itu kembali ke perihal di atas. Publik memang tidak membaca; lantas apanya yang mau mereka hargai. Yang kedua, oleh karena publik tidak akrab dengan buku, penguasa pun tak perlu takut kepada penulis sekaligus tak perlu menghargainya. Jadi, di negeri yang kawulanya tidak akrab dengan buku, ongkos politik para penguasa pun lebih murah. Maka, di sini, tinggal kita ucapkan saja, ‘Selamat memelihara kebodohan, semoga semuanya serba murah di negeri ini.’”

“Tapi, Abu, ternyata tak juga sih begitu. Kenyataannya, semua serba mahal sekarang.”

“Nah, berarti itu tadi; kalau rakyat mau segalanya serba murah, tinggal menerapkan budaya gemar membaca dalam kesehariannya.”

“Segampang itu ya, Abu.”

“Ya, begitulah. Makanya Allah Ta’ala mewahyukan pertama-tama, ‘Iqrak–bacalah,’ agar segalanya serba murah dalam setiap perjuangan

Musmarwan Abdullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *